Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dewa perang yang Agung

Dewa perang yang Agung

Narberal | Bersambung
Jumlah kata
67.9K
Popular
100
Subscribe
28
Novel / Dewa perang yang Agung
Dewa perang yang Agung

Dewa perang yang Agung

Narberal| Bersambung
Jumlah Kata
67.9K
Popular
100
Subscribe
28
Sinopsis
FantasiFantasi TimurRajaPerangDewa Perang
Hujan deras mengguyur medan perang saat seorang pria bernama Victor Argawinata berdiri sendirian menghadapi ribuan musuh. Dengan pedang di tangannya, ia membantai para prajurit tanpa rasa takut, hingga dijuluki monster medan perang.Namun di balik kekuatannya, Victor memiliki satu kelemahan terbesar: kesombongan.Sebuah kelalaian membuat dirinya tumbang di tangan seorang jenderal misterius berikat kepala merah. Di ambang kematian, sesuatu yang aneh terjadi dan mengubah takdir hidup Victor selamanya.Dari sinilah legenda Kaisar Theros dimulai.
BAB 1 : Masa lalu

"Haahahaaa... Berani sekali kalian, para manusia hina, ingin mengalahkanku? HAHH!?"

Tawa Victor menggema, penuh dengan arogansi dan kegelapan. Matanya menyala dengan emosi yang tak terbendung, menatap rendah pada musuh-musuh di hadapannya.

"Jangan sombong dahulu, anak muda! SEMUANYA MAJU! KALAHKAN ANAK SOMBONG INI!" teriak seorang Jenderal perang dengan wajah merah padam karena amarah.

"URRAAAAAAA! MAJUUUUU!"

Teriakan ribuan prajurit membelah udara. Dengan senyuman tipis yang dingin, Victor menyambut gelombang serangan tersebut. Ia bergerak lincah, namun setiap serangannya dilancarkan dengan keji dan brutal, tanpa ampun.

"Hanya segini kah kekuatan kalian? Huh, memang lemah... Mwahahaha..." Gelak tawa Victor menghina, merendahkan martabat para prajurit yang terjatuh satu per satu.

Namun, kelalaiannya datang dari arah yang tidak ia duga. Dari kejauhan, derap kaki kuda terdengar semakin kencang. Sebelum Victor sempat bereaksi, seekor kuda perang melompat tinggi dan menabrak tubuhnya dengan kekuatan penuh.

BAM!

Victor terpental jauh, tubuhnya membentur tanah dengan keras. Napasnya tersengal, tenaganya seolah terkuras habis oleh benturan itu. Ia terbaring lemah, tak berdaya.

Sang Jenderal turun dari kudanya, langkah kakinya berat mendekati Victor yang tergeletak. Dengan kasar, Jenderal itu menarik kerah baju Victor, lalu melayangkan tinju bertubi-tubi ke wajahnya. Buk! Buk! Buk! Setiap pukulan adalah luapan kekesalan atas kehinaan yang dirasakan pasukannya. Victor akhirnya terhuyung-huyung, kesadaranannya perlahan memudar hingga gelap total.

Di ambang ketidaksadaran, saat rasa sakit fisik mulai menjauh, pikiran Victor terseret mundur... jauh ke masa lalu. Ke masa di mana ia bukan seorang pejuang yang kejam, melainkan seorang anak laki-laki yang baru belajar arti kehilangan.

FLASHBACK: 20 TAHUN YANG LALU_______________

Victor lahir di tengah api dan darah. Ia adalah putra dari Arga Saitya, Kaisar Kerajaan Theros, dan Mila, permaisuri yang lembut. Namun, kelahirannya bertepatan dengan momen paling kelam dalam sejarah kerajaan: Kudeta Sembilan Kaisar Immortal.

Sembilan mantan bawahan Kakak Arga, Kaisar Yin Saitya, berbalik menghianati tahta. Dipimpin oleh Kaisar Suryo—sosok terkuat dan paling kejam di antara mereka—mereka mendeklarasikan perang total.

Selama masa pertumbuhan Victor, sosok ayah hampir selalu absen. Arga Saitya sibuk di garis depan, mempertahankan sisa-sisa wilayah kerajaan. Meski jarang bertemu, Victor tahu bahwa di balik zirah besi itu, ayahnya menyimpan cinta yang mendalam.

Perang tak kunjung usai hingga Victor menginjak usia sepuluh tahun. Kabar buruk datang seperti petir di siang bolong: Paman Tao dan Bibi Kristina, saudara kandung Arga, ditangkap dan dieksekusi mati oleh Kaisar Suryo.

Mendengar kabar itu, Arga murka. Ia meninggalkan singgasananya, mengenakan zirah perang untuk terakhir kalinya. Sebelum berangkat, ia memeluk Victor dan Mila erat-erat.

"Aku akan kembali, Victor," janji Arga, suaranya tegas namun hangat. "Aku akan membawa kemenangan, dan kita akan hidup damai lagi."

Arga berangkat bersama pasukan elitnya, didampingi oleh sahabat setianya, Raja Neo. Hari-hari berlalu dengan cemas. Hingga suatu sore, rombongan pasukan kembali. Namun, suasana mereka tidak layaknya pemenang. Mereka berjalan lambat, menandu sebuah usungan tertutup kain putih.

Raja Neo berjalan di samping usungan itu, wajahnya suram. Victor, didorong rasa penasaran yang menggelitik, berlari menghampiri. Ibunya, Mila, dengan tangan gemetar, membuka penutup usungan tersebut.

Dunia Victor seketika runtuh.

Di sana, terbaring jasad Arga Saitya. Ayahannya telah gugur di medan perang.

"ARGAAAAA!!" Jeritan histeris Mila memecah keheningan sore itu. Ia menangis, meratapi kepergian suaminya, tubuhnya lunglai dipeluk oleh para dayang.

Victor hanya berdiri mematung. Air matanya tidak keluar, namun dadanya sesak oleh rasa sakit yang tak terlukiskan. Untuk pertama kalinya, ia memahami arti kata 'kehilangan'. Besoknya, di bawah guyuran hujan lebat yang seolah ikut menangis, jenazah Arga dikremasi. Victor menatap abu ayahnya yang terbang terbawa angin, merasa kosong.

Raja Neo menghampiri Victor, meletakkan tangan besarnya di bahu kecil anak itu.

"Sebelum ayahmu menghembuskan napas terakhir," bisik Raja Neo, "ia berpesan bahwa ia sangat mencintaimu. Ia berharap kau akan tumbuh menjadi pria yang hebat, melebihi dirinya, dan membawa nama Kerajaan Theros harum di seluruh penjuru dunia."

Kata-kata itu menyalakan kembali api di hati Victor. Kesedihannya berubah menjadi tekad. Ia ingin mewujudkan impian ayahnya.

Malam harinya, rapat agung diadakan di balai istana. Para menteri dan bangsawan berkumpul untuk membahas suksesi. Banyak yang mengusulkan Victor, meski masih kanak-kanak, untuk langsung dinobatkan. Namun, Raja Neo berdiri dan menentang keras.

"Tidak! Aku tidak setuju!" suara Raja Neo bergema di aula. "Aku tidak mau melihat Victor hancur tertekan oleh beban kerajaan di usianya yang masih hijau. Aku mengusulkan agar pemerintahan sementara diserahkan kepada Ratu Vivian, ibu dari Almarhum Arga, hingga Victor cukup umur."

Hening menyelimuti ruangan. Setelah berdiskusi, semua pihak setuju. Vivian, nenek Victor, seorang wanita yang masih terlihat muda dan cakap dalam strategi ekonomi, dinobatkan sebagai Kaisar Perempuan pertama Kerajaan Theros.

Di bawah kepemimpinan Vivian, Theros bangkit. Ia memperbaiki ekonomi, membuka jalur dagang dengan benua lain, dan memperkuat pertahanan. Dalam dua tahun, Theros bukan hanya pulih, tetapi menjadi kerajaan adidaya yang menguasai seluruh Benua Theros. Pedagang dari berbagai negeri berdatangan, membawa kekayaan dan kemakmuran.

Namun, takdir berkata lain. Dua tahun kemudian, penyakit kronis yang diderita Vivian kambuh. Ia menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang, dikelilingi oleh Victor yang kini telah beranjak remaja dan Raja Neo.

Takhta pun jatuh ke tangan Victor.

Dengan didampingi oleh Raja Neo sebagai penasihat utama, Victor dinobatkan sebagai Kaisar V. Ia bukan lagi anak kecil yang menangis di bawah hujan. Ia adalah penerus darah Arga Saitya, pewaris kebijaksanaan Vivian, dan pelindung Kerajaan Theros.

Victor bersumpah di hadapan altar leluhur: Ia akan melakukan perubahan besar. Ia akan memastikan bahwa tidak ada lagi air mata akibat perang sia-sia. Namun, ia juga tahu, untuk menjaga perdamaian, terkadang ia harus siap untuk berperang.

Lanjut membaca
Lanjut membaca