Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pewaris Batu Kecubung

Pewaris Batu Kecubung

Faty Rose | Bersambung
Jumlah kata
44.9K
Popular
1.4K
Subscribe
194
Novel / Pewaris Batu Kecubung
Pewaris Batu Kecubung

Pewaris Batu Kecubung

Faty Rose| Bersambung
Jumlah Kata
44.9K
Popular
1.4K
Subscribe
194
Sinopsis
18+PerkotaanSupernatural21+Kekuatan SuperSupernaturalPewaris
Perjalanan seorang pemuda bisu, yang mewarisi cincin batu kecubung ayahnya, sejak saat itu kejadian - kejadian aneh mulai terjadi, menyeretnya ke dalam dunia gaib yang akan merubah takdir hidupnya.
Bab 1 : Bagas dan ayam goreng

“Hei! Apa yang kau lakukan di situ?” bentak pemilik rumah makan tiba-tiba dengan suara keras.

Bagas terkejut dan menoleh. Pemuda dua puluh lima tahun itu, menatap pria gemuk yang berdiri di balik meja kasir itu, lalu dengan gugup mengangkat tangannya. Ia menunjukkan uang dua puluh ribu yang ia pegang, kemudian menunjuk ke arah etalase tempat beberapa bungkus nasi tersusun rapi. Dengan gerakan tangan sederhana, Bagas mencoba menjelaskan bahwa ia ingin membeli satu bungkus nasi.

Pemilik rumah makan itu mengerutkan kening. Ia baru menyadari bahwa pemuda di hadapannya tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Gerakan tangan Bagas yang kaku membuatnya mengerti bahwa pemuda itu adalah seorang bisu. Namun bukannya merasa iba, pria itu justru tampak semakin tidak senang.

“Tidak… tidak bisa di sini. Pergi sana! Cari warung lain saja!” bentaknya sambil melambaikan tangan dengan kasar.

Tatapan pemilik rumah makan itu jatuh pada pakaian Bagas yang kumal dan lusuh. Ia tidak ingin tempat makannya terlihat kotor oleh seseorang seperti pemuda itu. Beberapa orang yang sedang duduk makan di dalam warung ikut menoleh. Sebagian memandang Bagas dengan sinis, sebagian lagi langsung memalingkan wajah seolah tidak ingin melihat pemandangan yang dianggap memalukan itu.

Bagas berdiri terpaku beberapa detik. Wajahnya perlahan memucat. Matanya sempat menatap ke arah potongan ayam goreng yang tersaji di atas nampan. Itu adalah makanan kesukaan ayahnya. Dengan susah payah ia menelan rasa kecewa yang menyesakkan dada.

Suara bentakan dari pemilik warung kembali terdengar, membuat Bagas tersadar. Ia menundukkan kepala pelan, lalu berbalik pergi. Langkahnya terasa berat. Setiap langkah seolah dipenuhi rasa malu dan sedih yang menekan hatinya.

Ia berjalan menyusuri jalan kecil di depan deretan toko. Uang dua puluh ribu itu masih tergenggam erat di tangannya. Ia hanya ingin membeli satu bungkus nasi untuk ayahnya yang sedang terbaring lemah di rumah. Namun ternyata bahkan hal sederhana itu pun terasa begitu sulit baginya.

Belum lama Bagas berjalan, tiba-tiba ia merasakan tepukan lembut di bahunya.

Langkahnya terhenti. Ia menoleh perlahan.

Di hadapannya berdiri seorang wanita muda. Wajahnya cantik dengan mata yang lembut. Tubuhnya mungil, dan senyum tipis di bibirnya terlihat hangat. Wanita itu menatap Bagas dengan pandangan penuh iba.

Tanpa banyak bicara, wanita itu mengulurkan tangannya. Di tangannya terdapat sebungkus nasi yang masih hangat.

Bagas terdiam, sedikit terkejut.

Wanita itu mengambil tangan Bagas yang masih menggenggam uang dua puluh ribu, lalu dengan lembut menutupnya kembali.

“Tidak perlu dibayar,” ucapnya pelan. “Ini untukmu.”

Mata Bagas membesar. Ia menatap wanita itu dengan bingung sekaligus terharu. Di dunia yang sering memandangnya dengan sinis, kebaikan sekecil itu terasa begitu besar.

Wanita itu hanya tersenyum tipis, lalu berbalik dan berjalan kembali ke rumah makan tadi, seolah apa yang ia lakukan hanyalah hal biasa.

Bagas menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh. Di dalam hatinya ia berjanji, jika Tuhan memberinya kesempatan suatu hari nanti, ia ingin membalas kebaikan wanita itu.

Dengan hati yang sedikit lebih hangat, Bagas akhirnya berbalik pulang. Ia menyusuri trotoar yang dipenuhi debu dan kendaraan lalu-lalang. Tangannya memeluk erat bungkusan nasi itu, seolah itu adalah sesuatu yang sangat berharga.

Tidak lama berjalan, akhirnya ia sampai di rumahnya.

Sebuah rumah kecil berdinding papan yang berdiri di pinggir kali yang airnya keruh. Rumah itu sudah tampak tua, beberapa papan bahkan terlihat mulai lapuk dimakan usia. Namun bagi Bagas dan ayahnya, rumah sederhana itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang mereka miliki.

Bagas segera menuju ke belakang rumah untuk mencuci tangannya. Setelah itu ia meletakkan karung besar yang ia bawa sejak pagi. Karung itu berisi botol-botol plastik bekas yang ia kumpulkan dari tempat sampah dan pinggir jalan. Nanti sore ia akan menjualnya ke penadah barang rongsokan.

Setelah itu Bagas melangkah menuju pintu rumah.

Ia mendorong pintu kayu yang sudah mulai rapuh itu perlahan.

Begitu pintu terbuka, Bagas menundukkan kepala sejenak. Bibirnya bergerak tanpa suara, mengucapkan salam seperti yang selalu dia lakukan setiap kali pulang.

Di dalam rumah terasa sangat sepi.

Bagas melangkah masuk sambil membawa bungkusan nasi tadi. Matanya langsung tertuju pada dipan kayu di sudut ruangan, tempat ayahnya biasanya berbaring karena sakit.

Ia mengangkat tangannya dan melambai pelan, memberi isyarat bahwa ia sudah pulang.

Namun tidak ada jawaban.

Langkah Bagas perlahan mendekati dipan itu. Di sana ayahnya terlihat berbaring dengan tubuh yang sangat kurus, wajahnya pucat dan napasnya terdengar berat.

Bagas duduk di sampingnya dengan hati cemas. Ia membuka perlahan bungkusan nasi tadi, memperlihatkan potongan ayam goreng yang masih hangat.

Ia menggoyangkan pelan bahu ayahnya, mencoba membangunkannya.

“Bapak.. makan dulu.”ucapnya dalam hati.

Ayahnya perlahan membuka mata. Tatapannya lemah, namun ketika melihat Bagas di sampingnya, ada senyum kecil yang muncul di wajah tua itu.

Dengan tangan yang gemetar, pria tua itu mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Bagas.

Tatapannya kemudian jatuh pada bungkusan nasi di tangan anaknya. Mata tua itu tiba-tiba berkaca-kaca.

Seolah ia tahu… bahwa untuk mendapatkan makanan sederhana itu saja, Bagas pasti harus menghadapi banyak kesulitan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca