Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Saranjana Tempat Terakhirku

Saranjana Tempat Terakhirku

Miyana | Tamat
Jumlah kata
45.2K
Popular
100
Subscribe
26
Novel / Saranjana Tempat Terakhirku
Saranjana Tempat Terakhirku

Saranjana Tempat Terakhirku

Miyana| Tamat
Jumlah Kata
45.2K
Popular
100
Subscribe
26
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalDunia Gaib
Arga Pradipta seorang penulis yang sedang kehilangan ide, malah terjebak ke dalam perjanjian gaib yang tidak tertulis, hingga suatu saat Arga harus membayarnya dengan jiwanya
Bab 1 File Misterius

Langit Jakarta sore itu tampak kelabu dan muram.

Awan mendung menggantung rendah, menahan hujan yang tak kunjung turun.

Di dalam ruang kerja kecil yang berantakan di sebuah rumah kontrakan Rawamangun, Arga Pradipta duduk terpaku menatap layar laptopnya.

Kursor berkedip-kedip tanpa tujuan, seolah mengejek kebuntuan kreatifnya yang sudah berlangsung hampir tiga bulan.

Dia menghela napas berat sambil membaca komentar-komentar pembaca di platform novel online.

"Kapan update?" tulis seorang pembaca dengan nada kesal. "Novel ini semakin tidak jelas, menyebalkan!" komentar pembaca lain.

"Kalau tidak bisa menulis, jangan membuat novel!" kata komentar pedas lainnya. Arga memijit pelipisnya, merasa frustrasi.

Dari kamar sebelah, terdengar suara batuk parau.

Arga segera menutup laptop dan bergegas menghampiri ibunya. Perempuan tua itu terbaring lemah di tempat tidur, wajahnya pucat namun masih tersimpan senyum hangat.

"Ibu, baik-baik saja?" tanya Arga sambil merapikan selimut yang hampir terlepas.

"Iya, Nak, hanya batuk biasa," jawab ibunya pelan. "Kamu belum menulis lagi?"

Arga menggeleng, wajahnya murung. "Belum, Bu. Sepertinya ide masih belum mau datang. Aku sudah mencoba segala cara."

"Ide itu seperti kupu-kupu, Nak. Datang saat kita tidak mengejarnya terlalu keras. Biarkan ia datang sendiri."

"Tapi Ibu tahu kondisi kita. Biaya obat-obatan dan perawatan Ibu tidak murah. Aku harus bisa menulis lagi." ujar Arga pelan.

Ibu Arga memegang tangan anaknya erat-erat. "Jangan terlalu memaksakan diri, sayang. Ibu percaya kamu akan menemukan jalannya. Bakat menulismu tidak mungkin hilang begitu saja."

Malam itu, setelah memastikan ibunya tertidur nyenyak, Arga kembali ke kamar kerjanya.

Dia membuka laptop sekali lagi, berusaha memaksa kata-kata untuk mengalir. Keyboard berdebu terbentang di hadapannya, layar kosong menatap balik dengan tatapan hampa.

Tiba-tiba, notifikasi WhatsApp berbunyi dari ponselnya.

Nomor tak dikenal mengirim pesan: "Kamu masih menulis, kan, Arga?"

Arga mengerutkan kening, jemarinya mengetik balasan. "Maaf, siapa ini? Saya tidak mengenal nomor ini."

"Hanya seorang penggemar. Aku membaca semua naskahmu, bahkan yang belum kamu unggah," balas sang pengirim dengan cepat.

"Yang belum diunggah? Bagaimana mungkin?" tanya Arga, mulai merasa tidak nyaman.

"Tenang, aku bukan hacker. Aku hanya... tertarik dengan caramu menulis tentang kehilangan. Ada kedalaman dalam tulisanmu yang membuatku terpikat."

Arga terdiam sejenak, rasa penasaran mulai mengalahkan kehati-hatiannya. "Apa maksudmu dengan caraku menulis tentang kehilangan?"

"Aku punya banyak kisah dalam ingatanku, tapi aku tidak bisa menuliskannya. Kalau kamu mau, aku akan berikan semua ceritaku. Kamu hanya perlu menuliskannya kembali dengan gayamu yang khas."

"Dan apa yang kau dapat dari semua ini?" tanya Arga penuh curiga.

"Ini perjanjian kecil antara kita. Jika salah satu kisahku menjadi novel terlaris, kamu harus datang menemuiku. Itu saja."

Arga menghela napas panjang, menggosok-gosok matanya yang lelah. "Ini terdengar seperti lelucon belaka."

"Percayalah, ini sungguhan. Coba buka emailmu sekarang."

Beberapa detik kemudian, Arga memeriksa inbox emailnya. Benar saja, ada lima file teks dari pengirim tidak dikenal. Judul-judulnya membuat bulu kuduknya berdiri:

"Rumah Tanpa Cermin", "Tamu Tengah Malam", "Bayangan yang Tidak Pulang", "Suara dari Dalam Hujan", dan "Saranjana: Kota yang Tak Ada di Peta".

Dengan perasaan campur aduk, Arga mengetik balasan. "Baik, aku setuju, aku pilih judul yang terakhir saja"

"Pintar sekali pilihanmu. Mulailah dengan menulis ceritanya. Ingat, jangan ubah terlalu banyak - biarkan ceritanya hidup melalui tulisanmu."

Arga membuka file pertama. Kalimat pembukanya membuatnya merinding: "Aku menulis ini bukan untuk dibaca, tapi agar seseorang mengingat aku kembali."

Saat dia membaca kalimat itu, angin tiba-tiba bertiup kencang melalui jendela yang terbuka, menerbangkan kertas-kertas berceceran di meja kerjanya.

Lampu meja bergoyang pelan, menciptakan bayangan aneh di dinding kamar. Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, jari-jari Arga mulai menari di atas keyboard dengan lancar, seolah digerakkan oleh kekuatan tak terlihat.

Keesokan paginya, setelah menulis sepanjang malam, Arga menghadapi ibunya yang tampak khawatir. Mata ibu itu menyiratkan pertanyaan saat melihat kondisi anaknya yang tampak kelelahan namun bersemangat.

"Kamu tidak tidur semalam, Nak? Wajahmu pucat sekali." tanya Bu Irma.

"Bukan itu, Bu. Aku... akhirnya bisa menulis lagi. Lihat," ujar Arga sambil menunjukkan tiga bab yang telah ia selesaikan dalam semalam. "Aku tidak percaya bisa menyelesaikan sebanyak ini."

"Wah, kamu menulis sepanjang malam? Ini luar biasa!" kata ibunya, matanya berbinar bangga. "Tapi jangan sampai kesehatanmu terganggu, ya."

"Ada yang aneh, Bu. Seperti ada kekuatan lain yang menuntun tanganku. Kata-kata itu mengalir begitu saja, tanpa perlu kucari."

Beberapa jam setelah mengunggah tulisannya, ponsel Arga mulai berdering tak henti-hentinya.

Notifikasi dari platform novel online memenuhi layar ponselnya.

"Lihat ini, Bu!" panggil Arga dengan suara bersemangat. "Baca komentar-komentar ini! Mereka menyukai tulisanku!"

" Tulisan ini dalam banget! Aku sampai merinding membacanya," tulis salah satu pembaca.

" Aku tidak bisa berhenti membacanya! Ceritanya begitu hidup dan memukau," kata pembaca lain.

Ibu Arga tersenyum bangga, tapi ada sedikit kekhawatiran di matanya. "Sudah ibu bilang, Nak. Suatu saat bakatmu akan diakui. Tapi ibu harap kamu tidak terlalu memforsir diri."

Tak lama kemudian, email resmi dari editor platform datang. "Selamat, naskah Anda menarik perhatian tim kami. Kami ingin menawarkan kontrak premium untuk serial ini. Mohon konfirmasi secepatnya."

Arga memandangi ibunya dengan mata berbinar, tangannya gemetar memegang ponsel. "Ibu, dengar ini! Mereka menawarkan kontrak premium! Ini bisa menutupi semua biaya pengobatan Ibu!"

"Tuhan memang baik, Nak. Ibu selalu yakin pada kemampuanmu."

Hari-hari berikutnya berjalan seperti mimpi indah.

Setiap malam, Arga menerima file baru dari Laras dan menulisnya dengan lancar, seolah kata-kata itu sudah menunggu untuk dituliskan.

Dya bulan kemudian.

Popularitasnya tumbuh pesat, namanya mulai dikenal sebagai penulis berbakat yang comeback-nya luar biasa.

Suatu sore, telepon dari editor menelepon langsung. "Arga, karya terbarumu benar-benar fenomenal! Bagaimana kamu bisa menghasilkan tulisan sehebat ini dalam waktu singkat? Pembaca sangat antusias!"

"Aku... hanya berusaha terhubung dengan ceritanya," jawab Arga hati-hati, tidak ingin mengungkap rahasia di balik kesuksesannya.

"Teruskan seperti ini. Kami memprediksi karyamu bisa masuk event internasional tahun depan. Pertahankan kualitasnya!"

Saat percakapan berakhir, Arga berbalik pada ibunya yang sedang duduk di sofa. "Ibu, dengar itu? Karyaku mungkin akan diakui secara internasional! Ini seperti mimpi!"

"Ibu selalu percaya padamu, Nak. Tapi..." ibunya ragu-ragu, matanya menatap dalam-dalam pada Arga. "Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu seperti... berbeda. Cara kamu menulis, caramu berbicara... seolah ada yang membantu menulis untukmu."

Arga terdiam, menatap lantai. "Apa Ibu tidak senang dengan kesuksesanku?"

"Tentu saja Ibu senang melihatmu berhasil, Nak. Lebih dari siapapun. Tapi Ibu khawatir dengan... sumber inspirasimu yang tiba-tiba ini. Dari mana datangnya semua cerita ini?"

Pesan dari Laras selalu datang tepat jam dua belas malam. Seperti malam itu, ponsel Arga bergetar lagi. "Selamat, Arga. Satu janji sudah ku tepati. Jangan lupa perjanjian kita."

Dengan perasaan campur aduk, Arga membalas pesan itu. "Tentu aku ingat. Tapi aku belum tahu kapan bisa menemuimu. Ibuku masih sakit dan membutuhkanku di sini."

"Tenang saja. Saat waktunya tiba, kamu tidak perlu datang. Tempatku yang akan mendatangimu."

Pesan terakhir itu membuat Arga merinding.

Dingin aneh menyelimuti ruangan, meski jendela tertutup rapat. Dia menutup ponselnya dan memandang keluar jendela, melihat bayangan sendiri yang terpantul di kaca.

Di balik kesuksesan yang diraihnya, Arga Pradipta tanpa sadar bahwa dia telah terikat perjanjian dengan Laras, sang penghuni kota Saranjana - kota yang tidak pernah tercatat dalam peta mana pun, kota yang hanya dikenal dalam bisikan angin malam dan cerita-cerita lama yang hampir terlupakan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca