Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Di Balik Dinding Hati Wira

Di Balik Dinding Hati Wira

Yuristi | Bersambung
Jumlah kata
178.4K
Popular
423
Subscribe
73
Novel / Di Balik Dinding Hati Wira
Di Balik Dinding Hati Wira

Di Balik Dinding Hati Wira

Yuristi| Bersambung
Jumlah Kata
178.4K
Popular
423
Subscribe
73
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifePertualanganIndigoCinta Sekolah
Dimasa remaja yang begitu monoton, hanya makan ,sekolah,tidur ,main yang selalu Wira lakukan. Semua itu terasa begitu menenangkan di tambah ayahnya yang ganteng kaya artis korea primadona emak- emak ,janda dan perawan kampung . ayah nya yang seorang penjual daging di pasar, membuatnya selalu menghabiskan waktu sendirian di Rumah. karena sejak kecil dia tak mengenal siapa ibunya, dia hanya bersama ayah nya.Hingga suatu hari sang ayah membawa personil tambahan dalam rumah nya. seorang Mama Muda yang usianya tak jauh dari Wira yang satu paketan dengan putrinya yang masih kecil.Wira serasa di terpa badai di rumah yang biasanya sepi kini menjadi ramai, kadang wira selalu tak habis pikir dengan kelakuan adik barunya yang kelakuan nya hampir sama denga sobatnya yang sangat unik. apakah wira akan memcari kebenaran tentang dirinya ,beserta ibu nya? ,,,,, dan menerima member baru dalam keluarganya ? ,,,,
Bab 1: Pagi yang Kesiangan

Seorang siswa dengan seragam SMA yang terlihat kusut berlari kencang sambil menggendong tas di punggungnya. Ia makin mempercepat lari, menatap lurus ke depan, karena gerbang sekolah sudah nyaris tertutup. ' Sedikit lagi! 'bisiknya dalam hati, mencoba menguatkan diri.

Ia mulai menumpukan kekuatan di telapak kakinya, yang membuatnya mejadi semakin cepat.

Beruntung, ia berhasil melesat masuk tepat sebelum gerbang tertutup rapat. Ia bernapas lega, dan senyum tipis kepuasan terukir di bibirnya.

Ia melambatkan langkahnya, lalu berbalik sambil terus berjalan mundur. "Makasih, Pak…," anak itu cengengesan dan mengacungkan jempol sebagai tanda terima kasih.

Penjaga gerbang tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya, lalu memasang gembok pagar.

Siswa itu kembali berlari, menjauh menuju gedung sekolah. Sesampainya di sana, terlihat para murid bergegas memasuki kelas.

Ting! Ting!

Bel sekolah berbunyi. Keadaan makin riuh karena semua siswa berlomba untuk segera masuk.

"WIRA!" Terdengar suara seorang wanita yang menggema di lobi sekolah, lantang dan tegas.

Ya, anak yang kesiangan tadi adalah Wira Adiguna, murid kelas 12 IPS. Ia dikenal karena kelakuannya yang sering telat, jarang mengerjakan tugas, dan bersikap semaunya. Kemeja seragamnya selalu acak-acakan, dan rambutnya amburadul.

Wira yang mendengar namanya dipanggil, terdiam. Dengan perasaan gugup bercampur kesal, ia berbalik perlahan. Ternyata ada gurunya yang bernama Bu Laras, yang terkenal galak dan merupakan wali kelasnya.

"Apa lagi sih!" gumam Wira, sambil memasang senyum palsu untuk menyembunyikan kekesalannya.

Bu Laras berjalan mendekati Wira yang masih tersenyum. Suara sepatu hak tinginya bergema di koridor sekolah mendekat pada nya. Ketika mereka sudah saling berhadapan.

"Selamat pagi, Bu Laras. Hari ini Ibu terlihat sangat cantik dengan baju warna biru telor asin itu. Seragam baru, ya?" Wira mencoba merayu gurunya.

"Sut!" Bu Laras mengacungkan telunjuk ke hadapan Wira agar dia terdiam.

Seketika, Wira langsung berdiri tegak, terlihat jelas sedang menahan gugup.

"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan," ujar Bu Laras dengan ketus.

Wira menelan ludah saking takutnya karena ia tahu akan diomeli.

Namun, Bu Laras justru menyodorkan 2 buah goodie bag warna cokelat ke hadapan Wira . Dengan ukuran yang berbeda , yang satu besar dannyang satu kecil .Wira menatap benda itu, diliputi perasaan bingung, heran, dan penasaran yang berputar di kepalanya.

'Dia tidak jadi marah?' pikir Wira, sambil menatap Bu Laras yang malah tersenyum-senyum seakan ada sesuatu yang menyenangkan telah terjadi.

Bu Laras meraih tangan Wira dan meletakkan tali goodie bag itu ke genggaman, sikapnya berubah penuh senyum dan kelembutan. "Ambillah. Ini oleh-oleh. Ibu harap kalian suka. Salam juga buat ayahmu, ya." Suaranya terdengar halus sehalus sutra.

"Ayah?" ulang Wira dengan nada pelan, sedikit sinis.

"Kalau begitu, Ibu pergi dulu, ya. Belajar yang giat," Bu Laras menepuk pundak Wira halus, tetap dengan senyum lebar.

Wira hanya tersenyum canggung, merasa tidak nyaman akan hal itu, sambil menatap Bu Laras yang pergi menjauh dengan langkah ringan seakan sedang bahagia.

Wira menatap goodie bag-nya sambil bergidik, seakan merasa geli, jijik, dan kesal. "Jangan deh. Aku tak mau punya ibu sepertinya," gumam Wira. Ia segera pergi ke kelasnya, sambil mengingat Bu Laras yang biasanya sangat galak, kini bersikap begitu lembut bak ibu peri yang ada di televisi.

Di kelas, Wira duduk di bangkunya, bersama teman dekatnya, Epul.

Epul menatap goodie bag yang ditaruh Wira di bawah bangku. "Apa itu?" tanyanya sambil menunjuk.

Wira menoleh dan menatap temannya dengan wajah sinis. "Kamu tahu..." Wira menceritakan kejadian tadi, yang membuat Epul malah tertawa terbahak-bahak, hingga semua orang menoleh kepadanya.

Wira panik, lalu menutup mulut Epul. "Sstt...," bisiknya dengan tatapan tajam dan suara yang sedikit menekan.

Semua orang kembali melakukan aktivitas, tidak memedulikan Wira dan Epul. "Diamlah," desis Wira.

Epul menepis tangan Wira. Ia masih menatap Wira dengan tatapan seakan tak percaya dengan apa yang terjadi.

Terdengar suara langkah kaki dari luar yang makin mendekat. Seketika itu, semua murid di kelas duduk rapi menghadap depan, menantikan seseorang. Ya, tak lama kemudian masuk guru yang akan mengajar hari itu. Namun, Epul mencuri pandang pada Wira sambil cengengesan. Wira yang menyadarinya menyenggol kaki Epul, dan melirik sinis, penuh rasa kesal dan malu.

Wira kembali menatap lekat goodie bag dengan penuh rasa penasaran . Ia mencoba mengintip dari celah bungkusan yang sedikit terbuka. Matanya melebar dan fokus ke titik itu.

Suasana kelas yang biasanya membosankan mendadak terasa mencekam bagi Wira. Guru sejarah di depan kelas sedang sibuk mengabsen, tapi pendengaran Wira cuma terfokus pada gesekan kertas dari tas belanja cokelat di bawah kakinya. Bau parfum menyengat khas wanita dewasa menyeruak dari sana, bikin perutnya mual.

​"Wira Adiguna?" suara guru memanggil.

​"Hadir, Pak!" jawab Wira pendek, suaranya agak serak.

​Matanya melirik lagi ke bawah . Tangannya gatal ingin merobek bungkus itu. Dengan gerakan pelan supaya tidak menimbulkan bunyi kresek yang mencolok, dia menarik sedikit celah tas itu. Jantungnya berdegup kencang. Di dalam sana, ada kotak beludru merah dan selembar surat dengan tulisan tangan yang rapi—terlalu rapi untuk ukuran orang yang biasanya mencakar-cakar buku tugasnya dengan tinta merah.

​"Gila..." bisik Wira tertahan.

​Epul yang duduk di sebelahnya langsung menyikut lengan Wira. "Apaan isinya? Emas? Atau jimat biar bapak lo mau sama dia?"

​"Diem, Pul. Berisik lo," desis Wira. Wajahnya memanas. Bukan karena senang, tapi karena rasa malu yang menggunung. Dia membayangkan ayahnya, Raka, pria yang selama ini jadi pelindung tunggalnya, diperebutkan seperti daging segar di pasar oleh wanita-wanita haus perhatian seperti Bu Laras.

​Pikiran Wira melayang ke rumah mereka yang sederhana. Terbayang wajah ayahnya yang lelah setelah seharian memotong ayam, bau amis yang menempel di baju, tapi tetap punya karisma yang bikin ibu-ibu kompleks sengaja lewat depan rumah cuma buat menyapa.

​"Gue nggak sudi punya emak modelan guru killer gitu," batin Wira. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Dia rindu sosok ibu, tapi bukan yang seperti ini. Bukan yang mendekatinya hanya karena ingin mendapatkan ayahnya.

​Sepanjang pelajaran, Wira tidak fokus. Dia cuma menatap kosong ke papan tulis. Di kepalanya, bayangan wajah ayahnya yang tersenyum tenang terus muncul. Ayahnya itu terlalu baik, terlalu lugu untuk menyadari kalau senyum ramahnya sering disalahartikan.

​Begitu bel istirahat berbunyi, Wira langsung menyambar tas belanja itu dan berlari ke arah belakang sekolah, area gudang yang sepi. Epul menyusul di belakang sambil terengah-engah.

​"Woi! Mau lo buang?" teriak Epul.

​Wira berhenti di depan bak sampah besar. Tangannya gemetar memegang tali tas itu. Dia melihat kotak beludru di dalamnya. Isinya jam tangan mahal. Dia tahu itu mahal karena mereknya sering muncul di iklan televisi.

​"Ini nggak bener, Pul. Bapak gue cuma penjual ayam. Kita nggak butuh ginian," suara Wira mendadak berat. Ada getaran amarah sekaligus kesedihan yang dia tahan.

​"Ya tapi jangan dibuang juga, Wir. Kasih balikin lah," saran Epul, nadanya sedikit lebih serius melihat muka sahabatnya yang sudah merah padam.

​Wira menatap jam tangan itu lama dan dia belum berani melihat godie bag coklat yang ukuran nya lebih besar .Pikirannya kacau. Dia ingat betapa keras ayahnya bekerja, sampai tangan ayahnya sering luka-luka terkena pisau atau paruh ayam. Ayahnya nggak pernah beli barang mewah buat diri sendiri. Semua uangnya buat sekolah Wira, buat makan Wira. Dan sekarang, ada wanita yang mencoba "membeli" jalan masuk ke hidup mereka dengan barang beginian?

​"Gue benci orang yang mandang rendah Bapak gue dengan cara kayak gini," ucap Wira pelan, hampir tak terdengar. Air matanya nyaris jatuh, tapi dia seka dengan kasar menggunakan punggung tangan.

​Tiba-tiba, ponsel di saku celana Wira bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari ayahnya.

'​Wira, nanti pulang sekolah langsung ke pasar ya? Ayah mau ngomong penting. '

​Wira terpaku. 'Hal penting?' Perasaannya mendadak tidak enak. Ada firasat aneh yang merayap di tengkuknya. Apakah ini ada hubungannya dengan wanita-wanita yang mengejar ayahnya? Atau sesuatu yang jauh lebih besar?

​Dia meremas ponselnya kuat-kuat. Kotak hadiah dari Bu Laras itu dia masukkan kembali ke dalam tas sekolahnya dengan kasar. Dia harus pulang. Dia harus memastikan ayahnya baik-baik saja dan tidak terjebak dalam permainan wanita mana pun.

​"Pul, gue cabut duluan. Izin kelas terakhir," ujar Wira tanpa menoleh, langsung melompat pagar belakang sekolah.

​"Eh! Wir! Bolos lagi lo? Wira!" Epul berteriak, tapi sahabatnya itu sudah hilang di balik tikungan jalanan pasar yang becek.

​Wira berlari menembus keramaian pasar. Bau amis ayam dan riuh suara tawar-menawar biasanya membuatnya nyaman, tapi hari ini semuanya terasa mencekik. Dia ingin segera sampai ke lapak ayahnya. Dia ingin memeluk pria itu dan bilang kalau mereka berdua saja sudah cukup. Tapi, mungkinkah ayahnya punya rencana lain?

Wira berlari sekuat tenaga. Sepatunya yang sudah mulai jebol di bagian pinggir itu menghantam genangan air sisa hujan semalam di pasar. Bau amis darah ayam, sayuran busuk, dan asap rokok pedagang menyengat hidungnya, tapi dia tidak peduli. Napasnya memburu, dadanya terasa panas bukan cuma karena lari, tapi karena kantong cokelat dari Bu Laras yang dia dekap erat di balik seragamnya itu terasa seperti membawa sial.

​"Ayah!" teriak Wira begitu sampai di depan lapak pemotongan ayam milik ayahnya.

​Raka Adiguna sedang memegang pisau besar. Otot lengannya menegang saat dia membelah dada ayam di atas talenan kayu yang sudah cekung karena dimakan usia. Wajahnya yang tetap tampan meski penuh peluh dan percikan darah itu menoleh. Rambutnya sedikit acak-acakkan, membuat ibu-ibu yang sedang mengantre di depannya curi-curi pandang sambil berbisik genit.

​"Wira? Kamu bolos lagi?" suara Raka terdengar tenang, tapi ada ketegasan yang bikin nyali Wira ciut.

​Wira terengah-engah, dia menumpukan tangan di lututnya. "Bukan... itu... Yah, ini ada titipan dari Bu Laras."

​Wira menyodorkan tas cokelat itu ke atas meja kayu yang penuh bulu ayam. Raka hanya melirik sebentar, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. "Simpan saja. Ayah lagi sibuk. "

​"Tapi Yah, dia bilang ini buat Ayah! Dia kasih barang mahal!" Wira bicara dengan nada tinggi, hampir meledak. Dia kesal melihat ayahnya yang seolah tidak peduli kalau dirinya sedang dijadikan umpan oleh guru killer itu.

​Raka menghela napas panjang. Dia meletakkan pisaunya, mencuci tangannya di ember air yang sudah keruh, lalu mengelapnya ke celemek yang sudah kusam. Dia menatap anak laki-lakinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kelelahan yang luar biasa di matanya, tapi juga ada sesuatu yang berkilau, seperti harapan yang dipaksakan.

​"Wira, dengar Ayah. Masalah Bu Laras atau siapa pun itu, biar Ayah yang urus. Sekarang kamu pulang, mandi, pakai baju yang rapi. Jangan pakai seragam itu," kata Raka pelan.

​"Mau kemana? Ayah mau kencan sama dia?" Wira menunjuk tas cokelat itu dengan wajah jijik.

" engga , kita ke desa sekarang . Om jefri mau menikah," Raka sambil meminum air dari botol

Wira teringat kalo keluarga ayahnya begitu tak menyukai nya." Ga Mau ,ayah saja yang pergi ,Wira pulang saja." Wira melangkah pergi meninggalkan ayahnya.

Wira bergegas pergi meningalkan pasar, dengan tangan yang mengepal . Dia tahu benar Kakak ayah nya Jerfi selalu saja membuatnya terhina. " aku harap om Jefri tak jadi menikah." Wira mengepalkan tangan nya lebih erat hingga berwarna putih.

Lanjut membaca
Lanjut membaca