Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bayangan Di Balik Kemewahan

Bayangan Di Balik Kemewahan

Mitookheyeen | Bersambung
Jumlah kata
69.7K
Popular
100
Subscribe
31
Novel / Bayangan Di Balik Kemewahan
Bayangan Di Balik Kemewahan

Bayangan Di Balik Kemewahan

Mitookheyeen| Bersambung
Jumlah Kata
69.7K
Popular
100
Subscribe
31
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeMiliarderUrban
Seorang pria bernama Ray Atmadja yang ingin menemukan cinta sejati nya,diam-diam meninggalkan bisnis dan kemewahannya,merubah identitasnya menjadi orang biasa dan menemukan wanita yang dicintainya yaitu Allea.
Sang Pewaris Yang Lelah

Bab 1 — Sang Pewaris yang Lelah

Langit Kota Arnhemia sore itu seperti cermin perak yang retak—langit yang memantulkan cahaya jingga di antara gedung-gedung tinggi yang berdiri congkak. Di balik kaca jendela lantai 47 sebuah gedung pencakar langit, seorang pria berdiri memandangi pemandangan itu dengan mata kosong.

Ray Atmadja

Nama yang bagi sebagian besar orang di negeri ini, adalah sinonim dari kekayaan, kekuasaan, dan impian yang mustahil diraih.

Warisan tiga generasi konglomerat Atmadja Group ada di pundaknya. Hotel, properti, teknologi, bahkan lini energi baru terbarukan—semuanya berada di bawah kendalinya. Namun sore itu, ketika dunia di bawahnya sibuk berlomba-lomba mengejar mimpi, Ray justru merasa seolah ia kehilangan sesuatu yang tak bisa dibeli dengan semua kekayaannya.

Ia menyesap americanno di tangannya, menatap wajahnya sendiri di pantulan jendela kaca. Dasi yang terikat sempurna, jas Armani yang tak bercacat, jam tangan patek philippe edisi terbatas di pergelangan tangan. Sempurna, dari luar. Tapi di balik semua itu, Ray merasakan kekosongan.

“Rapat dengan direksi sudah selesai, Pak,” suara sekretarisnya, Kania, memecah lamunannya.

“Baik,” jawab Ray datar. “Batalkan semua agenda malam ini.”

Kania menatapnya ragu. “Anda ada gala dinner dengan Menteri Perdaganganmalam ini, Pak.”

Ray menoleh. Tatapannya tajam, tapi lelah. “Batalkan. Katakan saya sakit, atau sedang keluar negeri. Terserah kamulah.”

Kania hanya mengangguk dan menutup pintu perlahan.

Begitu ruangan kembali sepi, Ray berjalan menuju meja besar di tengah ruangannya. Di sana, di atas tumpukan dokumen dan piala penghargaan bisnis, tergeletak sebuah foto lama yaitu foto dirinya bersama mendiang ayahnya, Roy Atmadja. Dalam foto itu, keduanya berdiri di depan proyek pertama keluarga mereka—pabrik kecil yang dulu dibangun dari nol.

Ayahnya pernah berkata,

“Uang bisa membeli segalanya, Ray. Tapi tidak bisa membeli ketenangan.”

Dulu, Ray hanya tertawa mendengarnya. Tapi sekarang, di usianya yang ke-33, ia baru memahami betapa benarnya kalimat ayahnya kala itu.

---

Malam di Rumah Kaca

Rumah Ray di kawasan elit Royal Park berdiri di atas tanah dua ribu meter persegi. Dinding-dindingnya dari kaca tebal, taman dalamnya ditata seperti galeri seni hidup. Tapi malam itu, semua terasa dingin dan sepi.

Ia duduk di ruang tengah, menatap api di perapian buatan, dengan secangkir teh di tangan. Tak ada tawa. Tak ada suara manusia lain. Hanya denting halus arloji antik yang bergema setiap detik.

Ponselnya bergetar di meja. Sebuah pesan masuk dari ibunya, Ibu Ratna Atmadja :

"Ray, kamu jadi datang ke acara lamaran keluarga Surya besok? Ibu ingin kamu berkenalan dengan anak mereka. Cantik, pintar, sopan. Cocok sekali buatmu."

Ray mendesah panjang. Ia tahu ke mana arah pembicaraan itu. Sejak beberapa tahun terakhir, ibunya tak berhenti mencoba menjodohkannya dengan wanita-wanita dari kalangan atas. Semua demi menjaga “aliansi bisnis” antar keluarga kaya.

Namun Ray tak lagi tertarik. Ia sudah bosan dengan wanita-wanita yang tersenyum manis tapi matanya penuh perhitungan.

Ia mengetik balasan singkat:

"Maaf, Bu. Aku ada urusan mendadak."

Lalu meletakkan ponsel itu jauh darinya.

Malam semakin larut, dan dalam diam yang menggantung, muncul sebuah ide yang sudah lama terpendam di dalam benaknya.

Bagaimana jika ia pergi...

meninggalkan semua ini untuk sementara?

Menjadi orang biasa, tanpa nama, tanpa warisan, tanpa beban?

---

Sebuah Keputusan Gila

Keesokan paginya, Ray datang ke kantor lebih pagi dari biasanya. Ia masuk ke ruang pribadinya, menutup pintu, lalu menatap pantulan dirinya di kaca satu kali lagi.

“Sudah cukup,” gumamnya. “Aku butuh udara baru.”

Ia mengambil ponsel dan menelepon seseorang.

“Reno, datang ke kantorku sekarang.”

Lima belas menit kemudian, seorang pria berkacamata masuk dengan raut penasaran. Reno adalah sahabat Ray sejak kuliah—seorang pengacara muda yang sudah lama menjadi tangan kanannya.

“Ada apa, Ray? Suara lo di telepon kayak orang mau perang aja.”

Ray tersenyum tipis. “Gue butuh lo bantu sesuatu. Tapi janji, jangan tanya kenapa.”

“Serius banget?”

“Serius.”

Reno duduk. “Oke, bilang aja.”

Ray mencondongkan tubuhnya. “Gue mau hilang sebentar dari dunia ini. Maksudnya, gak benar-benar hilang... tapi gue mau hidup sebagai orang biasa. Nama baru, identitas baru.”

Reno menatapnya tak percaya. “Lo... bercanda, kan?”

“Enggak.”

“Lo sadar kan lo Ray atmadja? Pewaris perusahaan senilai triliunan? Lo gak bisa ‘hilang’ seenaknya!”

Ray hanya menatapnya tenang. “Justru karena itu gue mau pergi. Gue butuh tahu... kalau suatu hari gue nikah, perempuan itu cinta sama gue, bukan sama nama keluarga gue.”

Reno terdiam cukup lama. “Lo bener-bener gila,” katanya akhirnya.

“Mungkin,” sahut Ray sambil tersenyum kecil. “Tapi tolong bantu gue.”

Reno mengusap wajahnya, lalu menghela napas. “Oke. Tapi gue gak mau tau kalau ini nanti berantakan.”

“Gue janji gak bakal nyeret lo ke masalah.”

Setelah beberapa menit berdiskusi, Reno akhirnya menyerah. Ia setuju untuk mengatur identitas baru untuk Ray, dengan nama “Raka Pratama” — identitas sederhana tanpa catatan besar, lengkap dengan KTP, rekening bank kecil, dan bahkan alamat kosan fiktif di kawasan Larton.

---

Langkah Pertama

Dua hari kemudian, Ray atau sekarang, Raka—berdiri di depan cermin kecil di kamar apartemennya. Rambutnya ia potong lebih pendek, wajahnya tak rapi tanpa cukur, kemejanya murah dan sedikit kusut. Tidak ada jas, tidak ada jam tangan mahal.

Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.

Di tangannya, ada satu koper kecil berisi pakaian seadanya dan laptop butut yang ia beli di toko online tanpa nama.

Sebelum pergi, ia menatap sekali lagi gedung tempat ia membangun hidupnya selama ini. Lalu tersenyum tipis.

“Selamat tinggal, Ray Atmadja.”

Ia melangkah keluar, menuju dunia yang tak mengenalnya.

---

Kehidupan Baru Dimulai

Seminggu kemudian, Raka sudah bekerja di sebuah kafe kecil di daerah Ardglass. Kafe itu bernama “Kopi Hening”, tempat yang jauh dari kemewahan—dinding bata, aroma kopi panggang, dan suara musik jazz pelan yang mengalun dari speaker tua.

Pemiliknya, seorang pria paruh baya bernama Pak Surya (bukan keluarga Surya yang dikenal ibunya), menerima Raka tanpa banyak tanya. Ia hanya bilang, “Yang penting kamu rajin dan jujur.”

Dan di sanalah Raka untuk pertama kalinya melihat Allea.

Gadis itu sibuk di balik meja kasir, rambutnya dikuncir sederhana, wajahnya lelah tapi hangat. Ketika mata mereka bertemu untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang bergetar halus di dada Raka—rasa yang entah apa namanya, tapi terasa nyata.

“Baru, ya?” tanya Allea ramah sambil menyeka tangannya dengan lap kain.

Raka mengangguk gugup. “Iya... baru hari ini mulai.”

“Selamat datang di Kopi Hening,” katanya dengan senyum yang tulus. “Di sini gak perlu kaya, yang penting bisa bikin kopi enak.”

Raka terkekeh kecil. “Kayaknya saya bakal betah di sini.”

Dan mungkin, tanpa ia sadari, di tempat kecil inilah hidupnya akan berubah selamanya.

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca