Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PENYIHIR API & PETIR

PENYIHIR API & PETIR

N. A. Ratu | Bersambung
Jumlah kata
194.2K
Popular
127
Subscribe
45
Novel / PENYIHIR API & PETIR
PENYIHIR API & PETIR

PENYIHIR API & PETIR

N. A. Ratu| Bersambung
Jumlah Kata
194.2K
Popular
127
Subscribe
45
Sinopsis
FantasiIsekaiMonsterDunia GaibPertualangan
Ditengah dunia yang diselimuti kegelapan, lahirlah dua bayi laki-laki yang tumbuh menjadi sahabat. Kedua bayi tersebut telah muncul dalam sebuah ramalan sebagai orang-orang terpilih. Mereka berdua dipercaya sebagai harapan terakhir umat manusia. Hanya mereka yang bisa mengakhiri kejahatan yang selama ini telah menguasai dunia. Bersama-sama mereka bergerak dalam pertualangan dan perjuangan untuk melawan kejahatan.
Prolog

Ditengah hutan yang gelap, terdengar suara langkah kaki yang berlarian dalam keadaan panik. "Ayo cepat!" Teriak salah satu dari mereka. Mereka berusaha menghindari prajurit yang sedang mengejar mereka.

Prajurit-prajurit yang sedang mengejar mereka diperintahkan untuk membunuh kedua bayi, yang sedang dikandung kedua wanita yang ada bersama mereka. Yang memberi mereka perintah adalah raja yang menguasai dunia, bernama… Grimwald.

Raja Grimwald merupakan seorang raja kejam yang terkenal sebagai penyihir, dengan kemampuan sihir yang luar biasa. Dia sudah menguasai dunia, menyelimutinya dalam kegelapan tiada akhir. Raja Grimwald memberi perintah tersebut pada para prajuritnya karena sebuah ramalan yang dia terima dari seorang Peramal.

Raja Grimwald duduk di singgasananya. Berdiri dihadapannya adalah seorang peramal yang dipercaya memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan secara akurat.

"Silahkan… bacalah masa depanku," ucap Raja Grimwald, dengan nada arogannya. Peramal tersebut menundukkan kepalanya, memberi hormat sebelum menoleh kearah bola kristal miliknya. "Bagaimana? Apa aku akan menjadi penguasa terkuat didunia ini?" Tanya Raja Grimwald, dengan ekspresi tidak sabar sambil mencondongkan badannya kedepan sambil menatap peramal itu dengan wajah serius.

"Aku lihat kau, menjadi raja yang kuat," ucap peramal tersebut. Raja Grimwald tersenyum bangga mendengar ucapannya. "Namun, arogansimu akan menjadi titik terlemahmu. Hingga kau akan dikalahkan oleh dua orang laki-laki yang merupakan yang terlahir sebagai anak pertama. Kedua anak laki-laki ini adalah titisan dari Ja'far sang penyihir putih terkuat."

"Apa??" Bentak Raja Grimwald.

Raja Grimwald merasa tidak terima dengan ramalannya. Raja Grimwald merasa murka, dan menggunakan sihirnya untuk membunuh peramal tersebut. Dia bernafas berat sambil menatap tubuh peramal yang membusuk dihadapannya.

"Aku perintahkan kalian untuk menyingkirkan setiap anak pertama berjenis kelamin laki-laki yang lahir didunia ini!" Ucap Raja Grimwald. Dia menoleh kearah prajuritnya. Para prajurit langsung keluar dari kerajaan untuk menuruti perintah sang Raja.

"Ayo, cepat!!" Bisik salah satu dari mereka, sambil berusaha menggiring istrinya yang sedang hamil tua. Istrinya mengalami kesulitan untuk mengikuti kecepatannya. Tidak jauh dari mereka, adalah pasangan lainnya. "Jangan sampai tertangkap!"

Kedua wanita yang bersama mereka telah diberi tau oleh seorang cenayang kalau bayi yang mereka kandung adalah laki-laki. Itulah yang menjadi alasan mereka memutuskan untuk melarikan diri dari rumah mereka. Tapi, tidak butuh waktu lama untuk aksi mereka diketahui oleh para prajurit Raja Grimwald.

"Disini!" Teriak pria didepannya, sambil memegang tanaman rambat. Dia berhasil menemukan sebuah gua yang tersembunyi. Seseorang harus teliti untuk bisa melihatnya. "Kita akan aman disini. Ayo, cepat, Caedric!" Ujarnya, meminta mereka agar bergerak lebih cepat.

"Sakit," rintih istri Caedric, sambil memegang perutnya. Gerakannya mulai melambat. "Aku sudah tidak tahan," tangisnya, kesakitan. Dia menoleh kearah suaminya, dengan airmata mengaliri wajahnya.

Caedric bergegas menggendong istrinya yang kesakitan. "Pegangan dengan erat, Jaswyn," ucap Caedric sambil memposisikan istrinya agar dia tidak terjatuh. Jaswyn langsung melingkarkan lengannya pada leher suaminya. Caedric langsung berlari untuk masuk kedalam goa tersebut. "Terimakasih, Euris," Pria yang sudah berdiri didepan goa melepaskan tanaman rambat, agar lubang goa tersebut tertutup.

Mereka berjalan kearea terdalam didalam goa tersebut. Euris memeluk istrinya dengan erat. "Perutku sakit," tangis istri Euris, meletakkan kepalanya berada didada Euris.

"Iya, aku tau, Lilith," ucap Euris, sambil mengelus kepala Lilith. Jempolnya mengelus kening Lilith dengan lembut. "Aku mohon bertahanlah. Anak kita akan segera lahir," ucapnya, dengan nada lembut.

Lilith dan Jaswyn saling berpegangan tangan untuk mendukung satu sama lain. Mereka mulai berusaha untuk mendorong bayi mereka yang akan segera lahir. Suara tangis kedua wanita tersebut mengisi goa tersebut.

Euris dan Caedric berharap tidak ada yang bisa mendengar suara mereka dari luar goa tersebut. Yang mereka takutkan adalah para prajurit yang sedang mengejar mereka. Suara tangisan istri mereka juga bisa memancing hewan buas.

Setelah beberapa menit, suara tangisan bayi pun terdengar. Euris menoleh untuk melihat istrinya yang menggendong bayinya yang baru lahir. Caedric menoleh kearah istrinya saat bayinya juga menangis setelah lahir. Suara tangisan kedua bayi tersebut membuat kedua pria langsung menghelakan nafas lega saat sadar kedua bayi telah lahir dengan selamat.

Putra dari Euris memiliki rambut coklat seperti ayahnya. Sementara putra dari Caedric memiliki rambut pirang seperti ibunya. Namun, Caedric dan Euris tidak peduli kondisi fisik kedua bayi mereka. Yang terpenting bagi mereka adalah kedua bayi terlahir sehat.

"Apakah kamu sudah memiliki nama?" Tanya Lilith pada suaminya, sambil menggendong bayi mungilnya. Lilith menoleh kearah sang suami. "Atau aku boleh memberinya nama?"

"Silahkan," ucap Euris, dengan nada lembut. Dia mengelus kening Lilith. "Aku percaya nama apapun yang kamu pilih, pasti akan bagus," ucapnya, sambil memberi istrinya senyuman lembut.

"Blaise Helyas," ucap Lilith, sambil menatap bayi mungilnya yang sedang meminum susu darinya. Euris tersenyum mendengar nama yang disebut istrinya, dia menganggukkan kepala. "Bagaimana?" Tanyanya, dengan nada penuh harapan sambil menoleh kearah Euris.

"Bagus… sangat bagus," ucap Euris.

"Bagaimana dengan bayi kita, Caedric?" Tanya Jaswyn, menoleh kearah suaminya setelah Euris dan Lilith sudah memberi nama pada anak mereka. "Kamu saja yang memberi namanya."

"Bagaimana jika kita menamakan bayi ini," ucap Caedric, mengambil bayinya dari pelukan istrinya. Dia menatap bayi tersebut dengan pandangan penuh kasih sayang. "Altair Petyr," Ucapnya, sambil menoleh kearah Jaswyn.

Jaswyn tersenyum lembut dan mengangguk setuju. "Bagus banget namanya," ucap Jaswyn. Dia menoleh kearah bayi Altair yang berada dalam pelukan suaminya. "Sangat cocok."

"Syukurlah," ucap Caedric. Dia mengalihkan perhatiannya pada bayinya. "Halo, Altair… aku ayahmu," ucapnya. Altair menguap dan memejamkan kedua matanya. Caedric hanya tersenyum sambil menatap bayinya yang mulai tertidur. Dia menundukkan kepalanya untuk memberikan kecupan lembut pada kening Altair.

"Kalian pikir kalian bisa bersembunyi begitu saja?" Ucap seseorang dengan nada berat. Suara tersebut langsung membuat mereka berempat merasa tegang dan ketakutan. Mereka menolehkan kepala mereka untuk melihat pemimpin dari prajurit yang selama ini telah mengejar mereka. "Kalian tidak akan bisa lari lagi!"

Caedric langsung menyerahkan Altair pada Jaswyn. Dia berdiri dan memasang diri dihadapan istri dan anaknya. Begitu juga dengan Euris.

"Kedua bayi kalian adalah laki-laki," ucap pemimpin prajurit tersebut. Dia melangkah kedepan, mendekati mereka berempat. "Dan seperti yang sudah diperintahkan oleh Raja Grimwald, kami harus menyingkirkan kedua bayi kalian."

"Tidak, jangan!" Pinta Lilith, memeluk bayinya dengan erat.

"Kami mohon. Jangan sakiti anak kami!" Tangis Jaswyn, yang juga memeluk bayinya. Namun pandangan para prajurit tidak berubah. "Bagaimana dengan kalian? Apa kalian bisa membunuh anak kalian sendiri? Mereka adalah bayi-bayi tidak bersalah! Dimana belas kasihanmu?!!"

Pemimpin prajurit itu mengeluarkan pedang dari sarungnya, sambil mendekati mereka berempat. Caedric dan Euris mencoba untuk menghalangi mereka hanya dengan sebilah pisau. Namun, karena mereka tidak pernah berlatih, mereka dengan mudah dikalahkan.

Mereka berempat menangis dengan putus asa karena mereka akan kehilangan kedua bayi mereka. Tiba-tiba, para prajurit tumbang ketanah. Mereka terlihat tidak sadarkan diri. Hal itu membuat mereka berempat terlihat bingung.

"Kalian tidak apa-apa?" Tanya seseorang.

Mereka menoleh dan melihat dua pria yang mengenakan jubah. Terlihat jelas bahwa mereka berdua adalah penyihir. Namun, sebelum mereka bisa tenang, api menyebar dalam goa tersebut.

"Oh tidak," ucap salah satu penyihir.

Mereka menoleh dan melihat Raja Grimwald. Melihat sang raja kegelapan membuat mereka merasa putus asa. Sebab, mereka yakin kalau mereka tidak akan mungkin bisa mengalahkannya. Tidak ingin menyerah, kedua penyihir mencoba menggunakan sihir mereka pada Raja Grimwald. Namun, raja Grimwald dengan mudah membalikan sihir mereka kembali pada mereka.

Kedua penyihir tersebut memuntahkan darah dari mulut mereka, dan mereka hanya bisa terbaring lemas. "Berani sekali kalian menentang perintahku!" Bentak Raja Grimwald. Dia mengangkat kedua tangannya dan api muncul. "Rasakan akibatnya!!"

Saat Raja Grimwald mencoba menyerang mereka. Dua cahaya berwarna merah dan biru muncul dari kedua bayi yang berada dalam pelukan ibu-ibu mereka. Kedua mata Raja Grimwald melebar. Kedua penyihir mengambil kesempatan itu untuk membaca mantra teleportasi dan memindahkan mereka.

Mereka muncul disebuah hutan. Caedric dan Euris berlutut disisi kedua penyihir tersebut. "Bayi kalian… adalah harapan terakhir kita," ucap salah satu dari penyihir tersebut.

"Hanya mereka yang bisa mengalahkan Raja Grimwald dan membebaskan kita semua dari kekuasaannya," ucap penyihir kedua. Caedric dan Euris hanya diam mendengar ucapan kedua penyihir tersebut. "Jagalah mereka baik-baik," ucapnya, dengan nada memohon.

"Pasti," ucap Caedric.

"Aku tidak akan biarkan apapun terjadi pada putraku," sambung Euris.

Euris menolehkan kepalanya kearah Caedric yang menganggukkan kearahnya. Mereka berdua sepakat untuk saling menjaga dan melindungi anak-anak mereka, meski nyawa mereka menjadi taruhannya.

Kedua penyihir tersebut melepaskan kalung mereka dan memberikannya pada mereka untuk diberikan kepada Blaise dan Altair saat mereka lebih besar untuk bisa memakai kalung tersebut. Lalu, mereka memejamkan kedua mata mereka dan menghembuskan nafas terakhir mereka.

Blaise dan Altair mulai menangis dalam pelukan ibu-ibu mereka. Tepat di sebelah dada kanan mereka muncul cahaya kecil yang membentuk simbol. Simbol petir pada dada Altair, dan api pada dada Blaise.

Setelah beberapa detik, cahaya pada simbol mereka memudar. Namun, takdir mereka sudah ditentukan. Simbol-simbol pada dada mereka telah menjadi tanda kalau mereka adalah kedua orang terpilih. Hanya mereka yang bisa mengakhiri kekuasaan Raja Grimwald, dan membebaskan dunia dari kegelapan sebagai Penyihir Api dan Petir.

Lanjut membaca
Lanjut membaca