Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Liontin Takdir sang Abadi

Liontin Takdir sang Abadi

Nafayr | Bersambung
Jumlah kata
178.5K
Popular
20.8K
Subscribe
1.2K
Novel / Liontin Takdir sang Abadi
Liontin Takdir sang Abadi

Liontin Takdir sang Abadi

Nafayr| Bersambung
Jumlah Kata
178.5K
Popular
20.8K
Subscribe
1.2K
Sinopsis
FantasiFantasi TimurDewaSi GeniusKultivasi
Raka mendapatkan warisan berupa liontin misterius dari sang ibunda pada saat-saat terakhir. Awalnya, ia mengira benda itu hanyalah peninggalan biasa. Namun sejak hari itu, hidupnya perlahan berubah. Liontin tersebut ternyata menyimpan rahasia kuno, serta hubungan misterius dengan seorang wanita cantik bak dewi yang terus muncul dalam takdirnya. Dari Sekte Awan Rembulan, reruntuhan berbahaya, hingga wilayah-wilayah misterius yang belum pernah dijelajahi, Raka mulai menapaki jalan kultivasi yang penuh keajaiban dan misteri. Tapi tanpa ia sadari, semakin dekat dirinya pada rahasia liontin tersebut, semakin besar pula takdir yang menunggunya di masa depan!
Bab 1

Senja merayap turun perlahan, mewarnai langit dengan gurat jingga yang memudar.

Di dalam rumah kecil di pinggir hutan, cahaya temaram dari lampu minyak berpendar goyah, bayangannya bergerak di dinding seperti napas seseorang yang sedang menahan tangis.

Raka duduk di samping ranjang kayu itu. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan, berusaha menahan gemetar yang tak mau reda. Setiap helaan napas sang ibu membuat perut tercekik, seakan udara berubah menjadi serpihan kaca yang menyayat dari dalam.

Tiara, yang dulu senantiasa tersenyum hangat dan membesarkannya dengan keteguhan yang tak pernah pudar, kini terbaring lemah. Kulitnya memucat, namun masih menyisakan kehalusan yang tak sepenuhnya hilang, seperti cahaya yang perlahan meredup tanpa pernah benar-benar padam. Rambutnya yang sedikit berantakan menempel di dahi oleh keringat dingin. Setiap tarikan napasnya begitu tipis dan perlahan, dadanya naik turun dengan susah payah, seakan tubuhnya mulai menyerah.

Raka ingin berkata sesuatu, apa pun, tetapi tenggorokannya terasa beku.

"Anakku …" suara Tiara terdengar seperti bisikan dari dunia yang jauh.

Perlahan, ia mengangkat tangannya dengan jemari yang bergetar hebat. Gerakan kecil itu saja sudah seperti memakan seluruh tenaganya.

Raka segera menyangga tangan itu dengan kedua telapak tangannya. "Ibu … aku di sini."

Tiara mengusap punggung tangan putranya dengan tenaga yang tersisa. "Anakku … dengarkan Ibumu ini baik-baik."

Dengan sisa tenaga yang sulit dibayangkan, ia menggeser tangan ke arah bantal, jemarinya menarik keluar sebuah liontin dengan batu hijau jernih terbaring di telapak tangannya. Kilaunya begitu bersih hingga tampak seperti setetes embun yang membeku di udara.

"Ambillah, ini liontin peninggalan ayahmu …"

Ia meletakkan liontin itu di telapak tangan Raka. Batu itu terasa dingin pada awalnya, tetapi perlahan menghangat.

"… Ibu," ucapnya ragu. "Aku bahkan tidak tahu kalau ayah meninggalkan sesuatu seperti ini."

"Dulu kau masih terlalu kecil, Ibu tidak ingin kau memikul sesuatu yang belum kau mengerti." Jemarinya mengerat pelan di tangan Raka. "Tapi sekarang … kau sudah cukup kuat untuk menjaganya."

Udara menjadi berat. Lampu minyak berkedip-kedip, seolah takut padam.

"Raka … setelah Ibu tiada, pergilah ke sekte itu. Tinggalkan tempat ini. Mulailah hidupmu di sana."

Ia menggeleng cepat. "Tidak. Aku tidak mau pergi! Aku tidak mau meninggalkanmu, Bu!"

"Anakku," ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Raka dengan lembut. "Ibu sudah tidak punya banyak waktu. Walau kau di sini … aku tetap tidak bisa tinggal."

Raka memejamkan mata. Bahunya naik-turun, menahan gejolak yang memukul dadanya.

"Jangan tahan air matamu, tangisan seorang lelaki bukan kelemahan. Itu bukti bahwa hatimu masih hidup."

Raka tetap diam. Ia menunduk, dagunya menempel ke dada, menahan segalanya seorang diri. Di luar, angin mulai berdesir. Daun-daun bambu saling beradu, menimbulkan suara lirih seperti bisikan masa depan yang belum terungkap.

"Pergilah. Liontin itu akan menuntunmu. Kau akan memahami semuanya … pada waktunya."

Raka mendongak. Matanya berkaca-kaca, lalu pecah. Bahunya bergetar saat air mata itu jatuh satu per satu, tak lagi bisa ia tahan.

"Jika Ibu pergi …" suaranya pecah di tengah kalimat. "Apa yang tersisa buatku?"

Tiara menatapnya lama. Seakan ia ingin menyimpan wajah itu di tempat yang tak bisa disentuh waktu. Perlahan, dengan sisa tenaga yang tinggal setipis napas, ia mengangkat tangan. Jemarinya gemetar saat menyentuh pipi Raka, menghapus air mata yang terus jatuh.

"Raka …" panggilnya pelan, lalu tersenyum tipis. "Kau."

Perlahan, tangan yang lembut itu meluncur turun, kehilangan kekuatan. Senyuman hangat masih tertinggal di wajahnya, seolah ingin meyakinkan putranya bahwa jawabannya sudah cukup.

Raka terdiam. Isakannya pecah tertahan, tubuhnya bergetar hebat saat ia menunduk, menahan wajahnya di sisi ranjang.

Nyala lampu di sudut ruangan berpendar pelan, bayangannya bergoyang tipis di dinding. Waktu seakan berjalan lebih lambat, seolah memberi ruang bagi satu jiwa untuk pergi tanpa gangguan.

Ketika fajar menyentuh ambang jendela, Raka sudah menggali tanah di belakang rumah dengan tangannya sendiri.

Di bawah cahaya pagi yang pucat, ia membaringkan tubuh wanita mulia itu dengan hati-hati.

"Maaf kalau caraku kasar," bisiknya. "Tanganku … tidak pernah sehalus tanganmu, Bu."

Ia menimbun tanah perlahan. Setiap genggam seperti mengubur satu kenangan.

Setelah selesai, Raka berlutut. Keningnya menyentuh tanah yang masih basah. "Semoga perjalananmu ringan … aku akan baik-baik saja. Aku janji."

Raka menatap pusara sang ibu untuk terakhir kali. "Ibu … aku titipkan langkahku pada doa-doamu."

***

Pagi pertamanya terasa panjang. Raka berjalan menyusuri jalan tanah yang meninggalkan hutan, langkahnya pelan tanpa tujuan yang benar-benar pasti, embun masih menggantung di ujung daun, sesekali jatuh tanpa suara saat ia lewat.

Menjelang siang hari, ia mendengar suara lirih dari balik semak. Rintihan kecil yang hampir tak terdengar, seperti anak kecil yang menahan tangis.

Raka menyibak ranting dan mendapati seekor kucing kecil berwarna putih keabu-abuan yang salah satu kakinya tertancap duri panjang, membuat tubuh mungil itu gemetar menahan sakit.

"Hei, kemarilah … jangan takut."

Tangan Raka masih bergetar oleh sisa duka, namun ia memaksa dirinya tetap lembut, lalu mencabut duri itu perlahan, dan membalut luka kecil itu dengan robekan kain dari pakaiannya sendiri.

Kucing itu mengeong pelan, lalu merayap ke pangkuannya seolah ingin mencari kehangatan yang juga hilang dari Raka.

"Kau sendirian juga rupanya? Baiklah … mari kita jalan bersama."

Langit perlahan berubah menjadi biru bening. Sungai dangkal membelah jalan, memantulkan bayangan mereka berdua. Raka berhenti sejenak untuk sekedar membasuh wajahnya, sementara kucing kecil itu bermain-main mengejar pantulan cahaya matahari.

"Aku bahkan tidak tahu ke mana harus melangkah setelah ini," ia menghela napas panjang, melirik kucing kecil di sampingnya. "Dan bekalku hampir habis … gara-gara kau juga."

Kucing itu hanya menatap acuh, lalu mendekat dan mencolek bungkus makanan di sampingnya dengan kaki kecilnya, seolah menagih bagian yang belum sempat ia makan.

"Hmm … dasar rakus. Tapi ya sudahlah, setidaknya sekarang aku tidak benar-benar sendirian." Raka mendecak pelan, lalu mengulurkan tangan dan mengusap kepala kucing itu.

Angin menggerakkan helai rambutnya. Di kejauhan, burung-burung hutan terbang seperti pecahan doa yang melayang ke langit.

Pepohonan yang semula rapat mulai merenggang, menyisakan celah-celah cahaya yang jatuh seperti bilah perak di tanah. Raka berhenti sejenak di tepi sebuah tebing. Dari titik itu, ia melihat kabut tipis menggantung di antara perbukitan, dan di tengahnya berdiri kota yang memantulkan cahaya lembut senja meski hari masih pagi.

Ia melangkah turun mengikuti jalan batu yang makin rapi. Angin membawa aroma roti panggang bercampur rempah, suara barang dagangan yang digeser, denting logam, dan obrolan samar-samar mulai terdengar dari balik kabut.

Lanjut membaca
Lanjut membaca