

"Ahhh, Sayang. Pelan-pelan. Lakukan dengan lembut."
"Begini, Sayang?"
"Nah, ini terasa nikmat. Teruskan."
Suara-suara ambigu itu setiap malam selalu Jojo dengar dari kamar sebelah. Sepasang suami istri tengah bergelut. Maklum saja pengantin baru. Tiada hari tanpa berolahraga ranjang.
Jojo menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuh. Ia tidak mau dengar karena hal itu membuat tubuhnya beraksi. Erangan wanita di sebelah mengingatkannya pada pujaan hati.
"Sayang, aku mau lagi."
"Istrihat sebentar, Sayang. Tadi sudah dua ronde."
"Tapi aku belum puas."
Satu lagi yang selalu Jojo dengar adalah keluhan dari si wanita yang belum puas bermain dengan suaminya.
"Dasar si Udin. Nikah muda, tapi stamina loyo." Jojo terkekeh geli.
Tetangga sebelah kamar adalah teman kerja sekaligus atasan. Hanya saja nasib Udin lebih beruntung. Para gadis mengejarnya karena dia seorang mandor. Di desa ini juga, keluarga Udin paling mapan. Banyak gadis desa yang ingin menjadi istrinya.
Namun berbeda dari Jojo. Seleranya bukan gadis di desa ini, melainkan gadis kota. Sebenarnya, Jojo tinggal di kota dan menyelesaikan pendidikan terakhirnya di sana.
Sayangnya, nenek yang membesarkannya telah tiada. Rumah yang selama ini ia tempati telah diambil karena rumah itu berdiri di atas lahan sengketa.
Sejak umur 10 tahun, Jojo tinggal bersama neneknya lantaran kedua orang tuanya telah tiada akibat kecelakaan. Kakeknya pun sudah lama tiada, nenek satu-satunya tempat mengadu, juga menyusul. Sekarang di dunia ini, ia hanya sendiri.
Semenjak kematian orang tuanya, Jojo sudah terbiasa bekerja serabutan. Sepulang sekolah atau libur, maka ia pergi bekerja. Entah itu jualan makanan, menjadi kuli bangunan, dan apa saja yang penting bisa menghasilkan uang secara halal.
Karena himpitan ekonomi serta mahalnya rumah sewa, Jojo tinggal di pinggir kota ini. Sekitar 30 menit untuk tiba di kota. Kebetulannya lagi, ia bekerja di bawah bimbingan Udin yang merupakan mandor perumahan.
Setiap hari kecuali hari Minggu, Jojo menumpang kendaraan dengannya. Syaratnya upah yang Jojo dapatkan di potong sebesar lima persen untuk ongkos. Jojo tidak keberatan karena dia tidak punya kendaraan.
"Sayang! Katanya cuma sebentar. Tapi kok malah tidur, sih? Sayang!"
Jojo beringsut bangun dari tidurnya setelah mendengar keluhan dari istri Udin. Ia berjalan ke arah dapur karena setelah ini, Jojo dapat mendengar suara wanita itu lagi.
"Ahh, Udin. Hentak yang kuat, Sayang."
"Sudah dimulai ternyata," gumam Jojo. Sambil bersandar di dinding dapur, Jojo mendengarkan erangan dari istri Udin. Benar-benar sangat sayang dilewatkan. Jojo menurunkan celana karetnya, mengeluarkan inti gairah yang telah menegang sedari tadi. Dia adalah laki-laki normal berusia 20 tahun. Selama ini, belum pernah Jojo rasakan bagaimana rasanya menindih seorang perempuan. Selama ini ia melakukannya sendiri, terutama sejak Udin menikah. Setiap tetangganya bermain, Jojo pun ikut memuaskan diri.
Sambil memuaskan diri sendiri, Jojo membayangkan gadis pujaan hatinya. Ia mengerang pelan. Jangan sampai tetangga sebelah bisa mendengarnya. Jojo sangat malu bila itu sampai terjadi.
"Maya, aku hampir sampai. Maya, ahhh ... .! Jojo terduduk di kursi dengan napas terengah-engah. Membiarkan jarinya terkena cairan kental. Jojo cukup puas, ia bisa berterima kasih kepada istri Udin karena membantunya memuaskan diri. "Andai saja Maya mau kuajak nikah."
Setelah menuntaskan dan membersihkan diri, Jojo kembali ke tempat tidur. Keadaan menjadi tenang. Tetangga sebelah juga diam. Itu berarti, sudah waktunya untuk tidur. Jojo memejamkan mata, membiarkan kantuk mengambil alih dirinya.
Pukul enam pagi, Jojo bangun. Menyiapkan sarapan dan baju ganti. Hari ini, ia berjanji pada pujaan hatinya untuk bertemu setelah pulang kerja. Jojo pun semangat. Siapa tahu ia bisa membicarakan tentang hubungan ke jenjang yang lebih serius.
Jojo menuggu Udin keluar. Ia bersantai di depan rumah sambil bertegur sapa dengan warga sekitar yang berlalu lalang.
Setengah jam kemudian, Udin keluar. Pria beruntung ini mendapat seorang istri yang cantik luar biasa. Mbak Reni yang merupakan kembang desa. Dadanya berisi, punggung bawahnya padat dan sintal. Baju yang dipakai pun selalu mini. Menampilkan kaki mulus yang menggoda. Berbeda dari Udin yang hitam dekil. Pria yang usianya berbeda lima tahun dari Jojo ini, mengandalkan keluarga dan uang untuk menarik hati perempuan.
"Cepat pulang, Sayang." Reni mengedipkan sebelah matanya.
"Pasti, Sayang. Setelah jam kerja selesai, aku langsung pulang. Tapi ... servicenya harus lebih dari semalam." Udin mengeluarkan beberapa helai uang dari sakunya.
Reni langsung mengambil uang itu. "Pasti, Sayang. Nanti malam, Reni bakal di bawah sana."
"Ups! Jadi kedutan." Udin tertawa.
Jojo berdeham. Tidakkah keduanya menyadari jika ada orang lain di sini? Bisa-bisanya Udin dan Reni membahas adegan dewasa di depan seorang perjaka.
"Eh, ada Jojo." Reni tersenyum manis.
Jantung Jojo berdegup kencang. Suara Mbak Reni ini benar-benar menggoda. Jojo penasaran. Bagaimana jika ia berada di atas wanita itu? Ah! Jojo menggelengkan kepala. Ia cepat-cepat menghapus pikiran kotor itu.
"Jojo masih perjaka. Jangan sampai membuatnya iri," ucap Udin.
"Bang Udin bisa saja." Jojo menarik kedua sudut bibirnya. Digoda seperti ini, mana tahan.
"Ayo berangkat. Nanti telat. Sayang, Abang pergi dulu. Tunggu Abang pulang." Udin memberi kecupan jarak jauh yang membuat Reni tersipu malu.
"Hati-hati, Sayang."
Jojo dan Udin segera berangkat ke tempat kerja. Setengah jam kemudian, keduanya tiba di perumahan yang baru di bangun. Begitu sampai, Jojo langsung bekerja. Udin menyukai Jojo karena memang pemuda itu rajin. Masih muda, baru 20 tahun. Wajahnya tampan dan manis bila tersenyum.
"Kamu rajin karena hari ini gajian, ya?" tanya Udin.
"Abang bisa saja. Hari ini mau ketemu sama pacarku."
"Oh, pantesan." Udin tertawa, pandangannya menyiratkan sesuatu.
Pukul 17.00 tepat, Jojo menerima upahnya. Untuk hari ini saja, Jojo tidak akan pulang bersama Udin. Ia akan pergi menemui Maya.
Karena baru menerima gaji, Jojo menyisihkan sebagian penghasilannya untuk Maya. Wanita memerlukan banyak barang. Entah itu skincare, baju, sepatu ataupun tas. Tidak lupa Jojo membeli setangkai bunga mawar.
"Taksi!" Jojo melambaikan tangan. Sengaja ia memanggil taksi karena dari pesan terakhir Maya, kekasihnya itu masih berada di kampus.
Begitu tiba di sana, Jojo mencari Maya. Ia mencoba menelepon, tetapi tidak diangkat. Jojo mengirim pesan, bahkan tidak dibalas.
"Nona, bukannya kamu teman Maya?" tanya Jojo.
"Kita satu kelas. Ada apa?"
"Kamu lihat Maya?"
"Maya tidak masuk hari ini."
"Tidak masuk?" Jojo mengerutkan kening. Ia mengucapkan terima kasih kepada wanita itu, lalu pergi. Perasaan Jojo tidak tenang, ia memutuskan untuk pergi ke kost Maya.
Tiba di sana, Jojo melihat ada kendaraan sport di depan kost Maya. Lalu sepatu pria yang berdampingan dengan sepatu perempuan.
"Maya, tubuhmu ini benar-benar nikmat."
Bunga di tangan Jojo terlepas saat mendengar perkataan dari mulut laki-laki lain. Apa yang terjadi di dalam sana? Jojo ingin melihatnya. Karena emosi, Jojo mendobrak pintu kost dan mendapati Maya serta pria lain tengah bergumul di tempat tidur.