

Dunia memang kejam, tidak mengenal siapapun. Di dunia ini, senjata sihir apapun bisa salah sasaran, bahkan anak tujuh tahun bernama Aestra pun pernah terjatuh dengan cara terlempar oleh sebuah tongkat kayu yang mirip seperti mainan.
Pria itu berlari hendak menolong Aestra, lalu setelah dekat dia mengulurkan tangannya. Namun, sebelum pria itu menyentuhnya, tiba-tiba Aestra menghilang begitu saja.
****
Aestra seorang anak berusia tujuh tahun yang selalu berpindah tempat membuatnya kebingungan. Kali ini, bahkan saat dia terbangun, nyatanya ada di sebuah tempat yang tidak dia kenali.
"Di mana aku?" tanya Aestra penuh rasa bingung menghinggapi dirinya.
Aestra bingung karena dia terbangun di tempat asing, bahkan di kamar itu ada dua pria yang lebih tua darinya.
"Kamu berada di sekolah sihir Witcra atau Witcra school," ucap seorang pria yang bertubuh lebih tinggi dari dia.
Aestra mengerutkan keningnya. kenapa aku bisa di sini?. batin Aestra.
"Hati-hati dengan ucapanmu. Aku tahu," ucap pria lain yang bertubuh lebih besar.
Aestra semakin bingung, sekolah apa ini? kenapa dirinya di sini? dan apa yang membuat dirinya bisa datang ke sini? apakah dirinya pingsan ataukah ada yang mengirimnya seperti sebuah paket. Aestra semakin bingung lalu menghela nafasnya berat.
"Kamu tidak perlu bingung, karena sebagian akan tiba di sini tanpa dikirim orang tuanya, itu karena energi yang ada dalam dirinya sendiri yang mengantarkannya kemari," jelas pria bertubuh besar itu.
"Kakak benar-benar tahu apa yang ada dalam otakku?" tanya Aestra semakin heran.
"Tidak perlu heran, dia itu berbeda, dia sering menyendiri agar otaknya adem," timpal Pria bertubuh tinggi tadi.
"Berisik!" seru pria betubuh besar itu.
"Otakmu yang berisik, jadi jangan salahkan aku," ucap pria bertubuh tinggi itu.
Perdebatan Sengit itu terjadi, Aestra semakin bingung dibuat. Aestra pun akhirnya melangkahkan kakinya untuk menuju pintu. Namun, ternyata dua pria itu mengetahui langkahnya.
"Hentikan langkahmu! jika tidak kamu akan tersesat," ujar pria bertubuh tinggi itu.
"Ha...?" ujar Aestra semakin bingung.
"Kenapa cegah dia? dia bisa kembali dengan cara menghilang," ujar pria bertubuh besar itu.
"Dia belum stabil, otaknya masih ngaco," timpal pria bertubuh tinggi itu.
Aestra hanya menyimak obrolan mereka, Aestra benar-benar tidak paham dengan kondisi dirinya saat ini.
Tak lama sosok pria bertubuh besar itu mendapatkan pesan melalui pendengarannya untuk membawa Aestra menuju ruangan seseorang.
Aestra pun dibawa oleh pria tersebut dengan langkah tenang. Setibanya di sebuah ruangan, Aestra memasukinya. Dan disambut oleh pria bertubuh atletis dan nyaris sempurna dengan senyuman yang sangat hangat menyapa dirinya.
"Masuklah Nak!" ucap pria tersebut.
Senyuman hangat itu menusuk hati Aestra, seperti ada hal lain yang begitu menenangkan dan tidak asing baginya. Namun, ini pertama kalinya dia bertemu dengan pria tersebut, di tempat ini yang asing dan jelas aneh bagi Aestra.
"Benarkah namamu Aestra Leander?" tanya pria itu dengan wajah yang masih memperlihatkan senyuman hangatnya, sangat bersahabat.
Namun Aestra tidak mendengar suara itu dia melirik seisi ruangan yang penuh dengan buku dan alat-alat asing baginya. Peralatan di ruangan ini bagai cerita dongeng baginya. Mirip cerita JK. Rowling yang pernah dia baca.
Pria itu tersenyum. "Apa kamu menyukai buku-buku yang ada di sini? Kamu boleh memilikinya," ujar pria itu tenang.
Membuat Aestra terhenyak kaget, bukan soal dirinya terlalu asik melihat ruangan itu, melainkan tawaran untuk memiliki buku yang dia inginkan.
"Ambillah!" ujar pria itu yang terpampang di atas meja bernama Aleister Cadrick.
Aestra yang terbiasa membaca, jelas membuat dia tertarik akan tawaran itu. Kebetulan, diusianya sekarang dia sudah fasih membaca, bahkan sangat suka membaca buku apapun. Selain itu, apa yang telah dia baca dan terbayang dalam otaknya, akan membuat dirinya tiba di tempat tersebut.
Jelas itu membuat Aestra kebingungan dan terkadang sulit untuk kembali. Tanpa disadari Aestra, Aleister Cadrick selalu membantu dirinya untuk kembali ke rumah Ibunya dengan selamat.
Begitu pula, saat Aestra tiba di sebuah sekolah sihir, dia masuk ke dalam hayalannya, baginya itu hanya sebuah mimpi. Karena bagi dirinya dunia sihir hanyalah sebuah cerita dalam sebuah dongeng.
Ketika Aestra berjalan melihat buku yang berjajar di rak buku itu, seseorang datang memasuki ruangan itu tanpa permisi.
Wanita itu menatap tajam ke arah Aestra. "Siapa dia?" tanya wanita itu.
"Dia siswa baru yang akan sekolah di sini, apa yang membawamu ke sini?" tanya Aleister.
Namun saat wanita itu hendak berbicara, Aleister membawanya pergi dengan berteleportasi ke sebuah tempat yang lain.
"Kenapa kamu lagi-lagi membawaku pergi dari tempat itu? Siapa dia? Kenapa kamu menjauhkanku darinya?!" tanya wanita itu dengan penuh emosi.
"Dia hanya seorang anak kecil dan tidak perlu mendengar nada bicaramu yang kasar," ujar Aleister tenang.
"Keluarkan dia dan bawa masuk anak kita ke sekolah ini!" seru wanita itu masih tidak terima.
"Akan aku lakukan—jika sudah saatnya anak itu akan terarah kemari," jelas Aleister santai.
"Pulangkan aku!" seru wanita itu.
Aleister langsung berteleportasi membawa pergi wanita itu, yang tak lain adalah istrinya yang bernama Endora.
"Pulanglah!" seru Aleister yang telah membawa Endora melalui Teleportasinya menuju kediaman rumah Aleister.
"Selalu saja kamu seperti ini," keluh Endora tidak terima.
Aleister pun hanya mendengar keluhan itu tanpa membalas ucapannya, lalu kembali berteleportasi menuju ruangan kerjanya.
Setibanya di ruangannya.
"Maaf Nak, sudah membuatmu menunggu," ucap Aleister sebari duduk di kursinya.
Aestra hanya menganggukkan kepalanya, dia masih asik memilah buku yang benar-benar dia ingin miliki. Aleister melihat keantusiasan Aestra itu akhirnya berjalan mendekatinya, lalu ikut memilihkan buku yang pas dengan seusianya. Setelah menemukan buku yang sesuai, Aleister memberikannya kepada Aestra.
Aestra menerima buku itu dengan senang hati, dia pikir itu buku dongeng seperti yang dia pernah baca.
"Terimakasih Paman," ucap Aestra dengan mata berbinar-binar.
"Sama-sama, kita duduk kembali yu!" ajak Aleister lembut.
Aestra mengikuti langkah Aleister lalu duduk di hadapan Aleister.
"Kamu suka dengan sekolah ini?" tanya Aleister.
"Sekolah? ini benaran sekolah, Paman?!" tanya Aestra terkejut.
"Betul... dan kemungkinan besar kamu akan bersekolah di sini, bagaimana?" tanya Aleister.
"Ini mimpi kan Paman? masa iya ada?" tanya Aestra masih terkejut.
"Kamu ingat bisa menghilang begitu saja?" tanya Aleister.
Aestra menganggukkan wajahnya, dirinya memang sering menghilang.
"Itu namanya teleportasi, dan itulah yang menuntunmu kemari nak," jelas Aleister.
Aestra hanya menyimak dengan penuh kebingungan.
"Tapi, aku ingin pulang, Paman... kesian Ibu, pasti beliau mencariku," pinta Aestra dengan memohon.
"Nanti Paman antar ya nak!, Paman persiapkan dulu apa yang mesti dibawa," ujar Aleister lembut.
Aestra kembali menganggukkan wajahnya.
"Kamu bacalah dulu buku itu!, Paman keluar dulu ya," ucap Aleister dan Aestra menanggapinya dengan anggukan.
Dan saat Aleister keluar, tiba-tiba ada yang memasuki ruangan itu. Anak laki-laki itu menatap tajam ke arah Aestra yang sedang asik membaca di kursinya itu.
"Hey... siapa kamu!?" tanya anak itu tercengang mendapati seorang anak seusianya duduk santai di ruangan Bapaknya.
Aestra melirik ke arah anak itu, lalu tersenyum sambil mengarahkan tangannya untuk mengenalkan diri.
Anak pria itu menepis kasar tangan Aestra. "Aku tidak pernah bersalaman dengan orang asing!" timpalnya dengan ketus.
Aestra mengangkat bahunya cuek, lalu kembali membaca buku itu dengan tenang.
Bersambung...