

Tarjo membuka mata perlahan, air terjun yang menghempas tubuhnya seakan sirna oleh kelembutan aura yang memancar dari sosok di hadapannya.
Rambutnya hitam legam terurai sepinggang, dihiasi mahkota kecil yang berkilauan. Pakaiannya dari kain sutra halus berwarna keemasan, dihiasi permata yang memancarkan cahaya redup.
Wajahnya cantik bagaikan rembulan purnama, senyumnya selembut embun pagi, dan matanya memancarkan kehangatan yang belum pernah Tarjo rasakan.
"Tarjo, aku telah mengamati pertapaanmu," suaranya lembut bagai lantunan melodi, menembus gemuruh air terjun. "Banyak godaan yang kau lalui. Kau pantas mendapatkan imbalan atas keteguhan hatimu."
Tarjo, yang selama tiga hari hanya memusatkan pikiran pada tujuan menjadi sakti mandraguna, merasa hatinya bergetar. Wanita di hadapannya adalah godaan terindah yang pernah dihadapinya.
Namun, janji pada dirinya sendiri untuk tidak tergoda oleh apa pun tetap kuat. "Saya hanya seorang pemuda desa, Tuan Putri," jawab Tarjo merendah. "Tidak pantas menerima imbalan dari Anda."
Wanita itu tersenyum, senyumnya membuat hati Tarjo luluh. "Aku bukan putri dari kerajaan mana pun, Tarjo," katanya. "Aku adalah penjaga air terjun ini, namaku Kumalasari."
Tarjo teringat legenda yang diceritakan orang-orang kampungnya tentang air terjun ini. Dulu, ada seorang bidadari yang di hukum turun ke Bumi dan menetap di air terjun tengah hutan larangan.
Ternyata, legenda itu bukanlah isapan jempol belaka. Tarjo menundukkan kepala, merasa tidak pantas berhadapan dengan makhluk seindah itu. "Dewi, maafkan atas kelancangan saya," ucapnya.
"Jangan menunduk, Tarjo," Kumalasari berkata. "Kau tidak melancangi siapa pun. Justru kau telah menunjukkan keteguhan hati yang jarang ditemukan pada manusia. Kau tidak tergoda oleh wanita-wanita jelmaan yang kukirim untuk menguji hatimu."
"Saya hanya fokus pada tujuan," jawab Tarjo.
"Apa tujuanmu, Tarjo?" tanya Kumalasari, berjalan mendekati Tarjo. "Katakan padaku, apa yang membuatmu bertahan di sini selama tujuh hari, menahan lapar, haus, dan dingin?"
"Saya ingin menjadi sakti dan kaya raya," Tarjo menjawab dengan suara yang lebih mantap. "Saya ingin mengubah hidup saya menjadi lebih baik. Tidak diremehkan terus menerus oleh orang lain."
" Kalau begitu, aku akan membantumu, Tarjo," katanya. "Tetapi, ada satu syarat." ujar Kumalasari.
Tarjo mengangkat kepalanya, memandang Dewi Kumalasari dengan penuh harap. "Syarat apa pun, akan saya lakukan."
Dewi Kumalasari menatap Tarjo dengan senyum yang seolah menyimpan rahasia manis. "Menikah denganku, dan kamu akan mendapatkan semua yang kamu inginkan," ucapnya pelan, bibirnya melengkung indah. Tarjo terpaku, matanya membulat tak percaya. "Menikah dengan Anda?" suaranya bergetar.
Kumalasari mengangkat alis, senyumnya tetap terjaga. "Apa kamu menolak?" tanyanya lirih, seolah menantang. Lalu dengan suara lembut, dia menambahkan, "Apakah aku kurang cantik untukmu?"
Tarjo gugup, tatapannya menghindar. "Bu-bukan begitu... Aku merasa tidak pantas menjadi suamimu," jawabnya tergagap.
Senyuman tipis kembali menghiasi wajah Kumalasari. "Tarjo, kamu percaya takdir?" suaranya hangat menyentuh.
Tarjo mengangguk mantap, rasa yakin mengisi dadanya. "Tentu saja aku percaya."
"Dengar," Kumalasari menarik napas pelan, "pertemuan kita ini juga bagian dari takdir. Jadi, apakah kamu bersedia menjadi suamiku? Tenang saja, aku tak akan melarangmu jika nanti kamu ingin menikah dengan wanita dari bangsa manusia," tuturnya sambil menatap penuh harap.
Tarjo duduk termenung, dada sesak oleh gejolak antara ragu dan tekad. Matanya menatap kosong ke lantai, tapi pikirannya terus melayang pada ejekan Lilis, anak kepala desa yang dulu merendahkannya.
Tatapan Tarjo berubah tegas, rahangnya mengeras. "Dewi, saya bersedia menikah dengan Anda," suaranya keluar pelan tapi penuh keyakinan. Wajahnya serius, seolah melewati batas keraguannya.
Kumalasari tersenyum tipis, lalu menoleh sambil melangkah mantap ke arah dinding di balik air terjun. "Bagus, kalau begitu mari pergi ke istanaku," ajaknya.
Seketika, dinding itu bergeser dan berubah menjadi taman memukau yang berkilau di bawah cahaya. Tarjo menghela napas dalam, lalu bangkit perlahan, langkahnya mantap mengikuti Kumalasari,
Pernikahan Tarjo dengan Dewi Kumalasari berlangsung meriah di istana megah milik Dewi Kumalasari. Pernikahannya dihadiri berbagai jenis makhluk gaib penghuni hutan larangan.
Tarjo tak pernah menyangka jika dirinya akan menikahi Seorang Ratu penguasa hutan larangan. Berada di dalam istana, Tarjo merasa seperti sebutir debu yang tiba-tiba terdampar di antara permata.
Dinding istana terbuat dari lumut bercahaya yang memancarkan pendaran hijau kebiruan, sementara atapnya dihiasi oleh formasi akar pohon raksasa yang saling berkelindan, dihiasi dengan kristal-kristal yang berkilauan.
Di bawah kakinya, lantai istana adalah permadani lumut yang begitu empuk dan hangat. Setiap sudut memancarkan aroma bunga hutan yang semerbak, dicampur dengan wangi tanah basah yang menenangkan.
Kini, di atas singgasana yang diukir dari batang pohon purba, Tarjo duduk dengan canggung di sebelah Dewi Kumalasari.
Dewi Kumalasari, dalam balutan gaun sutra emas yang berkilauan, menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan Tarjo.
Di hadapan mereka, makhluk-makhluk gaib dengan rupa yang aneh namun anggun memberikan penghormatan.
Para peri bersayap kupu-kupu berkeliling, tubuh mereka bergetar ringan saat menari di antara kelopak bunga yang berwarna-warni.
Dari kejauhan, kurcaci bersuara merdu memainkan lagu-lagu yang terdengar seperti gemericik air di sungai batu.
Di antara mereka, siluman penghuni hutan larangan mengintip dengan mata berkilat, menebar aura yang tak bisa diabaikan.
Dewi Kumalasari menatap dalam ke arah Tarjo, senyumnya menyungging penuh kehangatan. "Kau tak perlu khawatir, Kanda," bisiknya dengan suara sehalus angin berhembus pelan, seolah menenangkan segala keresahan.
"Mereka menyambutmu dengan tangan terbuka. Kau adalah suamiku sekarang, dan mereka adalah keluargamu."
Tarjo menarik napas dalam-dalam, dadanya perlahan mengembang saat ketegangan yang semula menjerat hati mulai mencair oleh ketulusan suara Dewi Kumalasari.
Matanya berkilat, terasa ada getar haru yang tak sanggup ia sembunyikan, hingga sudut kelopak matanya basah.
Senyum Dewi seperti sinar yang menembus kelabu hari, membuat Tarjo tak kuasa membalas dengan senyum penuh syukur dan kekaguman yang dalam.
"Terima kasih, Dinda... Aku masih nggak percaya semua ini benar-benar terjadi," ucapnya lirih, suaranya bergetar sedikit.
Tiba-tiba, langit terbuka dan seekor burung elang raksasa berwarna emas muncul dengan gemerlap, membawa cincin pernikahan mereka.
Tarjo dan Kumalasari saling memasangkan cincin itu dengan hati-hati, seolah menyentuh keajaiban. Seketika, bunga-bunga ajaib bermekaran di sekitar istana, memancarkan cahaya redup yang menawan.
Kembang api dari kunang-kunang raksasa yang beterbangan menghiasi langit malam, membingkai momen mereka dalam keindahan yang nyaris tak nyata.
Setelah acara pernikahan selesai, Tarjo dan Kumalasari berjalan menuju kamar pengantin mereka. Kamar itu begitu luas dan megah, dihiasi dengan bunga mawar di atas ranjang besar.
Lampu-lampu dari kunang-kunang raksasa yang tertangkap di dalam botol kaca berukir memberikan pencahayaan lembut, membuat setiap sudut ruangan tampak magis.
Aroma mawar memenuhi udara, bercampur dengan wangi hutan basah yang familier bagi Kumalasari, namun baru bagi Tarjo. Ranjang besar itu dihiasi kelopak mawar berwarna merah dan putih, membentuk ukiran hati yang manis.
Kumalasari menoleh ke arah Tarjo dengan senyuman yang begitu menawan. "Kanda, istirahatlah," ujarnya dengan suara selembut sutra. "Ini rumah kita sekarang."
Tarjo melangkah ke dekat ranjang, mengamati keindahan yang tak terlukiskan ini. Ia masih merasa seperti di dalam mimpi.
Tidak pernah ia bayangkan hidupnya akan berubah secepat dan sefantastis ini. Ia membalikkan badan, menatap Kumalasari yang kini sedang melepaskan hiasan rambutnya.
"Kumalasari," Tarjo memulai, suaranya sedikit bergetar. "Apakah ini benar-benar nyata?"
Kumalasari menghampiri Tarjo, mengusap lembut pipinya. "Ini nyata, Kanda. Kau tidak perlu khawatir," bisiknya. "Mulai saat ini, aku adalah istrimu, dan kau adalah duniaku."
Tatapan Tarjo tak bisa lepas dari wajah cantik Kumalasari yang disinari senyum manisnya. Jantungnya berdegup kencang, seolah waktu berhenti saat matanya menangkap lekuk bibir yang menggoda itu.
Tanpa pikir panjang, tiba-tiba ia menyambar bibir Kumalasari dengan penuh hasrat, seolah ingin menelan seluruh keindahan itu.
Tangan Tarjo tak kalah berani, meremas lembut 'bukit' kembar Kumalasari yang masih tersembunyi di balik gaun pengantin, membangkitkan getaran yang tak bisa ia bendung.
Kumalasari terkejut, matanya membelalak sejenak sebelum membalas dengan sentuhan yang sama bergairah.
Jarinya menelusup di leher Tarjo, menariknya lebih dekat, membiarkan rasa yang selama ini terpendam meledak dalam satu momen penuh gairah.
Nafas mereka berirama cepat, tubuh mereka saling menekan dalam sebuah tarian tanpa kata. Kumalasari mendadak mendorong tubuh Tarjo hingga dia terjatuh di atas ranjang empuk.
Matanya tampak sayu, mencampurkan bara gairah dengan rindu yang samar menggelayut di sudut pandangannya.
Tarjo menundukkan kepala, bibirnya gemetar tak tertahankan. Tatapannya menyiratkan penyesalan mendalam, seolah menanggung beban kesalahan.
"Dinda, maaf... aku terlalu lancang," suaranya lirih, hampir seperti bisikan yang menahan beban dosa berat di dadanya.
Kumalasari menarik napas panjang, kemudian senyum manis menghiasi bibirnya, menenangkan suasana yang tegang.
"Kanda, sabar dong. Pintu kamar belum ditutup, kalau tiba-tiba ada yang masuk gimana?" ucapnya lembut sambil melangkah tenang ke pintu kamar pengantin.