Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
DARAH HITAM SANG PEWARIS

DARAH HITAM SANG PEWARIS

Nanitamam | Bersambung
Jumlah kata
39.1K
Popular
745
Subscribe
211
Novel / DARAH HITAM SANG PEWARIS
DARAH HITAM SANG PEWARIS

DARAH HITAM SANG PEWARIS

Nanitamam| Bersambung
Jumlah Kata
39.1K
Popular
745
Subscribe
211
Sinopsis
PerkotaanAksiMafiaBalas DendamPewaris
"Dulu aku dibuang bagai sampah tak berguna. Hari ini aku datang untuk merebut kembali semua yang seharusnya jadi milikku." Galaxena, dibuang oleh sang ayah, Robert setelah menikahi wanita selingkuhannya, sedangkan Ibunya meninggal karena serangan jantung. Di tengah rasa putus asa dan sakit hati, seorang ketua mafia, mengulurkan tangan dan mengangkat Galaxena sebagai putranya. Galaxena diangkat sebagai anak untuk dijadikan mesin pembunuh. Setelah 25 tahun berlalu, Galaxena yang terkenal kejam dan sadis di dunia hitam, kembali untuk membalas dendam pada semua orang. Merebut kembali apa yang seharusnya jadi miliknya. Termasuk seorang gadis yang merupakan calon istri adik tirinya. Folow Ig : Missnhanie
Bab 1. Kembalinya sang pewaris

"Nama Anda tidak ada di daftar tamu. Silakan pergi."

Galaxena berhenti melangkah. Jas hitamnya rapi, rambutnya disisir ke belakang tanpa satu helai pun berani jatuh.

Ia menoleh pelan, menatap petugas keamanan yang berdiri tepat di depannya. Tatapannya datar, dingin, seperti pisau yang belum diasah tapi sudah cukup untuk melukai.

"Ulangi," katanya singkat.

Petugas itu menelan ludah. "Ini pesta keluarga tertutup. Anda—"

Belum sempat kalimat itu selesai, dua pria berbadan besar di belakang Galaxena melangkah maju bersamaan. Tidak ada teriakan. Tidak ada peringatan.

"Bugh!"

Satu pukulan menghantam rahang, satu tendangan mendarat di perut. Tubuh petugas keamanan pertama terlempar ke meja saji. Piring-piring pecah, gelas berdering keras.

Petugas kedua mencoba meraih senjata kejut di pinggangnya. Tangannya ditahan, dipelintir, lalu sebuah siku menghantam wajahnya. Darah langsung mengalir dari hidung.

Ia jatuh berlutut, terengah.

Galaxena melangkah mendekat. Ia berjongkok perlahan, menepuk-nepuk pipi petugas yang sudah babak belur itu seperti sedang menenangkan anak kecil.

"Aku tidak datang untuk membuat masalah," ucapnya tenang. "Aku hanya datang ke rumahku sendiri."

Ia berdiri kembali, melangkah masuk tanpa menoleh lagi.

Ruangan pesta itu seketika riuh.

Musik klasik yang tadinya mengalun lembut terhenti di tengah nada. Percakapan para tamu terpotong. Semua mata beralih ke satu titik—ke pria yang baru saja masuk dengan langkah santai, diapit oleh empat bodyguard bersetelan hitam, wajah mereka keras dan siap membunuh.

Beberapa tamu mengenali wajah itu. Sebagian lainnya hanya merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti ruangan.

Di ujung aula, Robert berdiri di samping calon pengantin pria. Jas mahalnya tampak sempurna, senyum ramahnya dipaksakan. Ia mengernyit, menatap pria asing itu dengan dahi berkerut.

"Siapa Anda?" tanya Robert, suaranya cukup keras untuk terdengar. "Ini pesta pertunangan putra saya. Anda datang tanpa undangan. Ada urusan apa?"

Galaxena berhenti di tengah ruangan. Ia menoleh, lalu tertawa. Bukan tawa lepas. Bukan tawa ramah. Tawa sumbang yang membuat bulu kuduk berdiri.

Ia menyapu ruangan dengan pandangan lambat, satu per satu wajah para tamu disambanginya dengan mata kelam. Lalu pandangannya kembali ke Robert.

"Apa Anda lupa, Tuan Robert," katanya pelan namun jelas, "pada seorang anak berusia sepuluh tahun yang Anda buang ke jalan? Dibuang saat malam hari di tengah hujan dan petir."

Ruangan itu membeku.

Wajah Robert berubah pucat. Bibirnya sedikit bergetar, matanya menatap Galaxena lebih lama, seperti sedang mencoba menggali sesuatu dari ingatan yang telah ia kubur dua puluh lima tahun lalu.

"Itu… tidak mungkin," gumamnya. "Anak itu sudah—"

"Sudah mati?" Galaxena memotong, suaranya tetap datar. "Itu yang Anda harapkan, bukan?"

Beberapa tamu mulai berbisik. Nama Robert bukan nama kecil. Ia pengusaha besar, bersih di mata publik. Skandal semacam itu tidak pernah terdengar.

Galaxena melangkah lebih dekat. Setiap langkahnya berat, penuh tekanan.

"Aku kembali," katanya, "untuk mengambil semua milik ibuku."

Robert mundur setengah langkah tanpa sadar.

Seorang pria yang berdiri di sisi Robert melangkah maju. Usianya sedikit lebih muda, wajahnya mirip—terlalu mirip—dengan Robert. Senyum tipis tergantung di bibirnya, namun matanya menyiratkan kegelisahan.

"Ayah," katanya pelan, "apa Ayah mengenal pria ini?"

Galaxena menoleh.

Tatapannya langsung berubah tajam. Sorot matanya penuh kebencian yang tidak disembunyikan.

"Reviano," ucapnya lirih, seperti menyebut nama musuh lama. "Anak haram itu."

Reviano terdiam. Wajahnya mengeras.

"Seharusnya aku yang berdiri di sana," lanjut Galaxena, menatap posisi Reviano di samping Robert. "Bukan kamu."

Robert terengah, tangannya mengepal di sisi tubuh.

"Cukup!" bentaknya, tapi suaranya tidak sekuat biasanya. "Saya tidak tahu siapa Anda, tapi saya tidak akan membiarkan—"

"Tidak tahu?" Galaxena tersenyum miring. "Atau pura-pura lupa?"

Baru saja Galaxena bicara, seseorang memanggil namanya dengan suara yang terdengar sedikit ragu.

"Tuan Galaxena…"

Suara itu datang dari sisi ruangan. Seorang tamu pria paruh baya melangkah maju dengan wajah terkejut. Ia menatap Galaxena seperti melihat hantu.

"Itu benar-benar Anda?" tanyanya ragu.

Galaxena melirik sekilas. "Tuan Bernard," katanya. "Sudah lama."

Beberapa tamu langsung tersentak.

"Galaxena…? Galaxena yang itu?" bisik seseorang.

Pria itu mengangguk pelan, keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Dia putra Tuan Fabio Gustav."

Nama itu jatuh seperti bom.

Fabio Gustav. Mantan penguasa dunia hitam Eropa. Mafia tua yang namanya masih disebut dengan hormat dan ketakutan, meski sudah lama pensiun dan menyerahkan semuanya pada putranya.

"Tidak mungkin…" seseorang berbisik. "Bukankah Fabio hanya punya satu anak laki-laki yang—"

"Ya," potong Bernard, suaranya berat. "Dan dia berdiri di depan kalian sekarang."

Tatapan para tamu berubah. Ketakutan yang tadinya samar kini nyata. Mereka pernah mendengar nama Galaxena—dingin, kejam, menguasai pasar dunia hitam lintas benua. Pria yang tidak pernah muncul di media, tapi selalu disebut dalam laporan-laporan gelap.

Robert tampak limbung.

"Jadi, kamu benar Galexena?" tanyanya lirih.

Galaxena mengangguk tipis. "Ibuku memberiku banyak hal," katanya. "Nama. Darah. Dan alasan untuk kembali."

Pandangan Galaxena terarah ke seluruh ruangan, seakan menelisik untuk mencari sosok yang dia incar sejak awal. Dan di antara kerumunan itu, Galaxena melihatnya.

Seorang gadis berdiri di samping Reviano. Gaun pastel mewah, wajah cantik dengan mata hazel yang tenang, meski jelas gugup. Tangannya mengepal di depan tubuh, seolah berusaha tetap berdiri di tengah badai.

Marisa.

Galaxena mengenal wajah itu. Bukan karena foto. Tapi karena laporan. Seorang dokter. Bersih. Terlalu bersih untuk berada di ruangan ini.

Ia melangkah mendekat.

"Calon istri?" tanyanya pada Reviano, tanpa menoleh.

Reviano mengangguk kaku. "Jaga sikapmu."

Galaxena tersenyum tipis. Lalu menatap Marisa.

"Kenapa?" tanyanya. "Kenapa kamu mau bertunangan dengan putra haram ayahku?"

Marisa terkejut. Ia menatap Galaxena, lalu Reviano.

"Saya—"

"Jawab saja," potong Galaxena. "Aku penasaran."

Marisa menarik napas. "Karena saya mencintainya," katanya akhirnya. "Dan saya tidak peduli masa lalu."

Galaxena tertawa pendek. "Kamu akan peduli," katanya. "Cepat atau lambat."

Reviano maju selangkah. "Jangan coba-coba melibatkan dia! Kamu membuatnya takut."

"Justru dia sudah terlibat sejak lama, Reviano," balas Galaxena dingin, dengan salah satu sudut bibirnya terangkat. "Dia sudah terlibat, sejak kamu memilih berdiri di tempatku."

Tangan Reviano mengepal dengan kuat, menahan kekesalan yang seketika merayap ke dalam hatinya saat merasakan bagaimana Galaxena yang memancing dirinya.

"Jangan pernah sentuh dia," lagi, Reviano memperingatkan Galaxena. Namun, itu justru membuatnya semakin suka.

"Kamu bukan orang yang berhak mengaturku," tegasnya. Dan sebelum pergi, Galaxena melirik Robert untuk terakhir kalinya.

"Aku tidak datang hari ini untuk menghancurkan pesta," katanya. "Aku hanya ingin memastikan Anda mengingat wajah anak yang dulu Anda buang."

Ia berbalik.

"Ini baru permulaan." Lalu melangkah keluar aula, diikuti bodyguard-nya. Pintu besar tertutup di belakangnya dengan bunyi berat.

Lanjut membaca
Lanjut membaca