Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
The Rise Of Fate

The Rise Of Fate

Ema Virda | Bersambung
Jumlah kata
66.6K
Popular
100
Subscribe
11
Novel / The Rise Of Fate
The Rise Of Fate

The Rise Of Fate

Ema Virda| Bersambung
Jumlah Kata
66.6K
Popular
100
Subscribe
11
Sinopsis
PerkotaanAksiMisteriPertualanganBalas Dendam
Berlatar belakang tahun 1996 dan 2025. Mahes, seorang Jurnalis pemberani dan pandai menyusun rencana bertemu dengan Elisa dari masa depan yang mempunyai pengetahuan. Mereka bekerjasama menyelidiki misteri-misteri pembunuhan. Akankah mereka berhasil menemukan, siapa sebenarnya dibalik pembunuhan tersebut? Ini sebuah kumpulan cerita tentang ketidakadilan.
Batu

Di pinggiran kota Jakarta tahun 1996, gerimis malam itu membasahi jalan-jalan yang sepi. Rinai gerimis yang jatuh ke tanah membuat jantung berdetak lambat. Jalan-jalan yang terlihat ramai kini kosong hanya di hiasi oleh lampu jalan dengan bayang-bayang pohon yang terlihat menakutkan.

Di tengah kesunyian itu seoarang pria muda berlari dengan susah payah , wajahnya penuh ketakutan. Kakinya terkilir yang membuat dia ber jalan terhuyung-huyung. Tapi dia tidak ingin menyerah, dia tahu bahwa kelompok begal itu akan menangkap, memukul tanpa ampun dan nyawanya akan melayang dengan sia-sia.

"Aku harus bertahan," gumamnya lirih. "Tolong! ... Tolong! " Dia berteriak, tapi suaranya tenggelam oleh tawa para begal itu. "Bangsat gue terpojok. Ini jalan buntu."

Dia tidak tahu harus kemana untuk pergi, dia tidak bisa terus bergerak. Bayang-bayang para begal itu semakin mendekat. Raut wajahnya terlihat pucat penuh ketakutan.

"Ambil saja motor nya Bang," ucapnya dengan bibir bergetar dan pipi terangkat yang membuat netra nya terlihat mengecil. "Ini Bang! " Suara kunci motor terlempar di depan, tepat di kaki seorang pria preman dengan tato di sekitar wajah dan tangan kirinya.

Seolah-olah dia adalah seorang pemimpin dari semua preman begal. Bos preman itu berdiri tegak. Dengan wajah yang terlihat bengis dan kejam, membawa tongkat kasti yang siap untuk menghajar siapapun yang dia lihat. Tongkat itu sebagai andalan senjata untuknya.

"Emangnya dengan kasih gue kunci motor. Lo bisa lolos!" Dia berbicara dengan suara keras dan menakutkan sambil meremas tulang rahang pria muda yang sudah terlihat menahan kencing.

"Ampun, ampun Bang." suaranya tertahan, membuat pria muda itu mengeluarkan cairan basah di celananya sehingga terkena lengan bos preman tanpa sengaja.

"Kurang ajar lo! Mau cari mati!" Bentaknya dengan bengis dan menampar keras pemuda itu hingga ujung bibirnya berdarah.

"Lihat! Dia kencing di celana. Hahahaha..." Suara salah satu anak buah preman terlihat sangat puas bisa membuat korbannya terlihat ketakutan.

"Biar kami saja bos yang menghajarnya."

Bos preman melepas baju, mengelap tangan yang terkena basah air kencing. "Kurang ajar dia. Gue serahin ke lo, gue mau balik. Dia! Hajar! Sampai mampus!" printah Bos seperti perintah Maha Langit bagi anak buahnya.

Seluruh anak buahnya tertawa puas. Seolah-olah ini kesempatan mereka untuk melampiaskan kekesalan atau kesalahan kepada orang lain.

Salah satu dari mereka ada yang berbadan kekar dan tinggi. Dia mendekati pemuda itu dengan wajah begisnya. "Lo! Nggak bisa kemana-mana! " Bentak kan anak buahnya yang siap melayangkan tinju di depan pria muda itu.

"Jangan Bang, Jangan! " Wajah yang terlihat ketakutan itu membuat preman semakin ingin menyakitinya.

Seketika sebuah batu terlempar "pluk!" mengenai kepala kiri preman yang ingin mengahajar pemuda itu.

"Bangkai! Siapa yang nimpuk gue!" Preman berbadan kekar berbalik kebelakang melihat empat orang temannya yang terdiam bingung. "Lo! Lo! Atau lo! " sambil menunjuk. Semua mengelengkan kepala dan saling menatap bingung.

"Terus siapa yang nimpuk gue! " Preman kekar semakin memanas, dia mengangkat kaos temannya dengan netra membelalak tajam.

"Bukan gue! Bang." Semua terlihat ketakutan saat otot-otot kekarnya memperlihatkan urat nadi yang keluar.

Lalu dia berbalik menyerang pemuda itu yang masih ketakutan. Dengan kaki yang masih terkilir, pemuda itu berusaha untuk berdiri. Namun, kakinya tergelincir lagi karena air seni yang menggenang di tanah.

"Ampun Bang! Ampun. Kan kunci motornya sudah gue kasih! Ampun bang!" rintihannya tidak di dengar oleh siapapun.

Saat preman berbadan kekar, berjalan menuju ke arahnya, dan meremas rahang pemuda itu. Seketika batu menimpa kepalanya dan "pluk". Sekarang bukan batu krikil kecil yang mengenainya tapi batu krikil yang sedikit besar, membuat kepalanya menjadi pening seketika.

"Bangsat! Lo siapa! Keluar lo! Dasar pengecut!" Seketika seluruh preman melihat ke sekeliling tempat pembuangan mobil rongsok. Tapi mereka tidak melihat siapapun.

"Bang tidak ada siapa-siapa? Apa jangan-jangan hantu bang." Salah satu anak buahnya berkata dengan gugup.

"Diem lo! Yang lain berpencar! Cari sampai dapat!" perintah preman bertubuh kekar.

Mereka semua berpencar mencari orang yang melempar batu. Dua orang mencari dari arah barat, dua orang mencari dari arah timur dan dia hanya berkacak pinggang membelakangi pemuda itu.

"Ssttt..." Dengan langkah yang mengendap-endap, Mahes membantu pemuda itu untuk berdiri. Mahes menaruh tangan nya di atas bahu dan satu lagi di pinggang. Dia berusaha sebagai penopang agar pemuda itu bisa berjalan.

Dengan melirik ke arah para preman yang masih sibuk mencari. Mahas mempercepat langkahnya walaupun bahunya terasa berat. "Ayo cepat," ucapnya lirih.

"Woi! Sapa lo!" teriak salah satu preman yang melihat Mahes, semua preman melirik ke arahnya termasuk si berbadan kekar.

"Hajar dia!"

Mahes berusaha mempercepat langkahnya. Namun pemuda itu tidak punya tenaga, kaki terlalu nyeri jika berjalan cepat.

"Kamu tunggu sini," Mahes berkata dengan melepaskan pegangannya dan membantu pemuda duduk di sebuah batu besar dekat mobil yang sudah terlihat usang.

Mahes menghadang para preman. Dengan mengepalkan kedua tangannya ke arah depan. Seakan menantang mereka berlima dengan tangan kosong. Para preman itu tersenyum sinis. Mereka merasa bisa menghajar Mahes hanya dengan satu pukulan.

"Hahahaha, sok-sok-an mau hajar kita." Mereka tertawa meledek.

Walaupun begitu, Mahes tidak goyah. Dia masih dengan posisi bersiap untuk menghajar mereka semua.

Pria bertubuh kekar maju dengan mengerutkan dahi yang membuat kedua alisnya menyatu. Dia berkacak pinggang dengan percaya diri memperlihatkan kekuatannya untuk menghajar Mahes.

"Bang! hajar dia satu pukulan, sampai dead! " salah satu dari mereka berucap lantang.

Mahes tidak goyah, dia masih tetap fokus memperhatikan gerak gerik lawan saat menyerang. Netranya tajam bagai elang, genggaman tangannya memperlihatkan kesiapan untuk menangkis dan melawan.

Preman kekar memberikan tinju ke arah kanan wajah. Mahes tangkis ke arah kiri, membuat preman kekar semakin marah dan ingin menghabisinya. Saat preman kekar ingin melayangkan pukulan ke arah kanan perut, Mahes memegang erat kepalan tangannya. Dia berusaha sekuat tenaga agar tangan itu tidak membuat luka atau memar di tubuh.

Kekutan preman kekar tidak bisa Mahes imbangi, netranya tajam seperti memberi kekuatan di dalam tangan. Mahes tetap berusaha menahan, tapi kakinya langsung menendang lutut preman kekar, yang membuatnya langsung terjatuh. Mahes berhasil, tapi preman kekar tidak menyerah dia juga menendang betis Mahes yang mengenai tulang rawan, "puk!" Mahes goyah tapi lutut kaki satunya bisa menopang tubuh.

"Lo, boleh juga. Tapi itu masih permulaan. Nih!" Preman kekar menghajar tulang rahang Mahes langsung sehingga mahes tidak bisa menangkis serangannya.

Dia jatuh hampir tersungkur tapi bisa ditahan oleh tangan kanannya. Melihat kejatuhan Mahes, preman-preman yang lain bersorak. "Hajar aja Bang! Hajar sampai dead!"

Karena sorakkan teman-temannya, preman kekar langsung menerjang Mahes, mereka tertawa puas. Tapi mereka tidak menyadari, Mahes bisa menghalau serangan. Tubuhnya terlentang di tanah dan kedua kaki menahan bagian pinggul depan preman kekar yang hampir terkena buah zakarnya.

"Hush... " Mereka bersorak memejamkan netra dan meringis ngilu. Dengan sekuat tenaga kaki Mahes bisa membuat preman kekar melangkah mundur.

Lanjut membaca
Lanjut membaca