Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
TAKHTA DIKEJAR CINTA DIDAPAT

TAKHTA DIKEJAR CINTA DIDAPAT

Hamfa Merman | Bersambung
Jumlah kata
148.2K
Popular
388
Subscribe
51
Novel / TAKHTA DIKEJAR CINTA DIDAPAT
TAKHTA DIKEJAR CINTA DIDAPAT

TAKHTA DIKEJAR CINTA DIDAPAT

Hamfa Merman| Bersambung
Jumlah Kata
148.2K
Popular
388
Subscribe
51
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurMonsterMisteriBalas Dendam
“Dikhianati itu menyakitkan…! Dan aku harus membayarnya dengan kehilangan seluruh anggota keluargaku sendiri. Rekan seperjuangan ayahku, malah menusuk dari belakang sebelum berhasil merebut takhta Kerajaan Junda.” “Dendam pasti akan aku balaskan, bahkan dendam sendiri sudah aku ukir untuk dijadikan jalan hidup di dalam hatiku. Sayangnya, semuanya tidak berjalan mulus. Oh tidak, mengapa aku harus jatuh cinta dengan anak bungsu pengkhianat itu sih…?!” Dikarman Junda, seorang pemuda yang kehilangan keluarga dan takhta bertekad untuk mendapatkan kembali takhta tersebut. Sayangnya, cinta yang tidak seharusnya datang dari tempat ambisi balas dendamnya tersebut malah perlahan-lahan mengisi hatinya. Penasaran? Lanjut baca aja ceritanya! Novel ini berisikan narasi dewasa, fantasi, romansa, komedi, dan politik. Cerita panas untuk dewasa 21+ Harap bijak dalam membaca! Jangan lupa kasih rating bintang lima! YouTube : @HamfaMerman Instagram : @hamfamerman
BAB 1 : Arti Sebuah Takhta (Part 1)

“Cepat pergi! Bawa adikmu ke tempat yang aman!” teriak seorang pria yang sudah berumur di atas lima puluh tahun dengan kondisi tubuhnya yang berlumuran darah ke arah salah satu anaknya yang masih berada di sampingnya dengan kondisi tubuh juga berlumuran darah.

Tidak hanya mereka berdua saja seorang diri yang seperti itu sebab sekitarnya juga diwarnai dengan darah berserakan di mana-mana. Tubuh manusia tergeletak kaku di sekitarnya sekaligus bersuhu dingin tersebut hanya beberapa waktu yang lalu masih hidup dan baik-baik saja.

Namun, kenyataan pahit duniawi memaksakan fakta yang harus diterima tersebut. Pria tua yang berlumuran darah sebelumnya merupakan sosok Raja dari Kerajaan Junda yang terkenal adil dan membawa kemakmuran terhadap rakyatnya. Sayangnya, kini nyawanya benar-benar terancam dan dalam kondisi yang terdesak.

“Ti–tidak, ayah! Dikarman mau pergi sama ayah dan ibu!” teriak Dikarman Junda yang masih berusia lima belas tahun tepat berada di belakang ayahnya tersebut.

Ayahnya Dikarman Junda hanya bisa tersenyum pahit mendengar perkataan anak bungsunya tersebut. “Dikarman, kamu akan pergi bersama kakak dan para pengawal lainnya. Ayah dan Ibu pasti akan menyusulmu nanti. Jaga dirimu baik-baik ya sayang! Ayah dan ibumu sangat mencintai kalian semua!” ungkap seorang wanita yang cukup cantik meski sudah berkerut wajahnya.

“I–ibu…!” Dikarman Junda menangis melihat kondisi ibunya yang selama ini terlihat elegan juga turut serta berlumuran darah bahkan sampai kehilangan salah satu lengannya.

“Tidak ada waktu lagi, cepat lari…!” teriak sang ayah yang menatap tajam ke arah para pengawal setianya yang mungkin menjadi perintah terakhir darinya.

“B–baik, Tuan…!” sahut salah satu pengawal sebelum dengan cepat membopong tubuhnya Dikarman Junda.

“Ti–tidak…! Ayah, Ibu…! Jangan tinggalkan Dikarman! Kakak, tolong bantu selamatkan ayah dan ibu, tolong!” teriak Dikarman Junda yang masih meronta-ronta di cengkeraman pengawal setia tersebut.

Tiga kakaknya Dikarman Junda yang jauh lebih tua darinya juga tidak rela, tapi mereka jauh lebih dewasa menghadapi situasi yang terkesan jalan buntu semacam ini. Dengan tatapan sedih, mereka melihat lekat-lekat kedua orang tua mereka untuk terakhir kalinya sebelum memutuskan untuk hendak berbalik pergi mengikuti para pengawal setia yang tersisa.

Namun, belum sempat mereka pergi, kemunculan musuh satu persatu mulai terlihat kembali dari arah depan. Jumlahnya lebih banyak dengan aura yang sangat kuat sudah bisa dirasakan terpancar dari tubuh masing-masing orang tersebut. Di tengah-tengahnya, tampak seseorang yang seusia dengan Raja Junda sedang memimpin kerumunan orang disekitarnya tersebut.

“Haha…! Raja Junda, semua perjuanganmu sudah sia-sia! Tidak perlu lagi berjuang sekuat tenaga dan cukup serahkan saja nyawamu. Keluargamu akan turut serta aku kirim pergi mendampingi dirimu ke akhirat, bagaimana menurutmu? Aku benar-benar orang baik, kan?” ucap seorang pria tua tersebut tampak berlumuran darah yang bukan miliknya.

“Kornam…! Kau bajingan tidak tahu diuntung, beraninya kau mengkhianati kepercayaan dariku setelah selama ini aku menganggapmu menjadi salah satu keluargaku sendiri, hah?! Di mana letak rasa terima kasihmu, hah?!” teriak Raja Junda dengan sangat keras suaranya.

“Keluarga? Rasa terima kasih? Cuih…! Kau pikir dirimu siapa, Raja Junda? Kekuatan kita tidak berbeda jauh, tapi kau yang berasal dari garis keturunan utama Keluarga Junda tercelamu itu yang bisa naik tahta. Hmph, benar-benar tidak adil sama sekali. Sekarang, aku sudah jauh lebih kuat satu tingkat darimu, Tahap Petaka Tingkat Sempurna! Kau yang hanya Tahap Petaka Tingkat Akhir tidak lagi menjadi ancaman bagiku. Sudah waktunya turun takhta dan berpindah ke tanganku, haha…!”

Pria bernama lengkap Kornam Kiyantar tersebut benar-benar menyombongkan dirinya dari kata-katanya saja sudah bisa dipastikan tidak enak didengar. Bukan hanya karena kesombongannya, tapi fakta kalau kekuatan Energi Internal miliknya sudah setingkat lebih tinggi dibandingkan Raja Junda.

Semua orang di pihaknya Raja Junda tersenyum pahit. Perasaan putus asa melanda isi hati masing-masing orang. Tentu saja, Raja Junda yang paling merasakannya. Pengkhianatan dan ketidakberdayaan membuat Raja Junda semakin tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang putus asa.

“Cepat pergi sekarang juga…!” tegas Raja Junda dengan cepat mengeluarkan kekuatan penuhnya.

Whoosh…! Boom…!

Energi Internal Raja Junda melebar dengan cepat seolah ingin menutupi sekelilingnya saat itu juga. Para pengawal setia dan kakaknya Dikarman Junda langsung bergegas pergi dengan memanfaatkan momentum tersebut. Dikarman Junda dibuat memucat dalam ketidakberdayaannya juga.

“Hmph…! Perjuangan yang sia-sia…!” Kornam Kiyantar ikut membalas mengeluarkan Energi Internal miliknya dengan kekuatan yang sudah bisa dipastikan jauh lebih kuat lagi.

“Tidak, Ayah, Ibu! Jangan pergi…!” teriak Dikarman Junda untuk terakhir kalinya melihat ayah dan ibunya tersebut yang kini harus berhadapan langsung dengan para musuh yang baik dari kuantitas ataupun kualitas jauh lebih kuat dibandingkan pihaknya.

“Hmm? Kalian, cepat kejar sisa garis utama Keluarga Junda yang melarikan diri itu!” tegas Kornam Kiyantar memerintahkan beberapa bawahannya yang ada di sampingnya dengan cepat.

“Baik, Tuanku…!” sahut bawahannya dengan bersemangat.

“Ayah, aku juga ingin ikut serta mengejar para kecoa yang melarikan diri itu…!” ungkap salah satu pemuda berusia dua puluhan yang tidak lain adalah anak pertamanya Kornam Kiyantar bernama Wastu Kiyantar.

“Ehm…, terserah kamu! Para pengawal, jaga keselamatan putraku. Kalau sampai ada sedikit cacat saja, kalian tahu sendiri akibatnya!” tegas Kornam Kiyantar melirik putranya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke arah para pengawalnya.

Para pengawalnya merinding ketakutan mendengarnya. “Te–tentu, Tuan! Tuan Muda pasti akan kami lindungi dengan segenap hati bahkan nyawa kami akan jadi taruhannya!” sahut semua pengawal dengan cepat dan sedikit gugup yang sebenarnya tidak ingin nyawa mereka melayang.

“Baguslah, cepat pergi sana! Jangan biarkan satu pun mereka lolos! Hidup dan mati, terserah kalian mau yang mana untuk dilakukan!” tegas Kornam Kiyantar ketika melihat anak dan pengawalnya langsung bergegas pergi.

“Hmph! Tidak akan aku biarkan lolos semudah itu! Kalian semua pantas mati di sini dan saat ini juga!” teriak Raja Junda mengeluarkan serangan kekuatan penuhnya ketika melihat sejumlah orang hendak mengejar anak-anaknya yang telah melarikan diri.

Melihat hal itu, Kornam Kiyantar hanya tersenyum tipis sebelum mengayunkan tangannya dengan santai, jelas hendak menepis serangan ganas tersebut. Meski tampak santai di mata, tapi kekuatan Energi Internal yang mengalir dari lambaian tangannya tersebut begitu besar.

Boom…!

“Hadeh, Raja Junda memang terkadang bisa tidak tahu malu juga. Pilih lawanmu yang selevel dengan kekuatanmu dong! Aku di sini siap bermain-main sebentar denganmu, bagaimana?” Kornam Kiyantar berkata sombong setelah berhasil menepis serangan pamungkasnya Raja Junda.

“A–apa?! Ba–bagaimana bisa semudah itu ditepis? Ka–kamu pasti menggunakan metode yang tidak lazim, kan?! Tidak mungkin hanya perbedaan satu tingkat bisa mencolok sampai sejauh ini!” tegas Raja Junda seolah masih menolak kenyataan yang pahit tersebut.

Lanjut membaca
Lanjut membaca