Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dendam Pewaris Yang Terbuang

Dendam Pewaris Yang Terbuang

Samudera Biru | Bersambung
Jumlah kata
77.7K
Popular
1.8K
Subscribe
227
Novel / Dendam Pewaris Yang Terbuang
Dendam Pewaris Yang Terbuang

Dendam Pewaris Yang Terbuang

Samudera Biru| Bersambung
Jumlah Kata
77.7K
Popular
1.8K
Subscribe
227
Sinopsis
PerkotaanAksiMafiaKonglomeratBalas Dendam
Sejak Dave lahir, ayahnya tidak pernah dipedulikan oleh ayahnya. Sejak lahir, ia dianggap sebagai anak pembawa sial. Dan malam yang kejam itu mengubah segalanya, Dave difitnah meracuni kakeknya lalu ia diusir. Tanpa rumah, tanpa nama keluarga, Dave jatuh ke titik terendah hidupnya diusia muda. Namun takdi mempertemukannya dengan Remon, paman yang selama ini dirahasiakan keluarga Antonio. Pria yang akan mengubah hidup Dave yang akan membantunya membalas dendam karena dibalik kemewahan keluarga Antonio, tersimpan pengkhianatan, fitnah dan rahasia berdarah. Dan ketika seorang anak buangan, memilih bangkit, mereka yang pernah menghancurkannya harus siap menghadapi akibatnya. Dave akan kembali untuk membalas dendam, memulihkan namanya dan mengambil haknya.
01. Fitnah

Rumah sakit sore itu terasa dingin, meski matahari masih menyorot dari jendela kaca besar di ruang rawat VIP. Bau obat-obatan menusuk hidung, suara mesin monitor detak jantung kakeknya, Tuan Luis, terus berbunyi monoton. Dave duduk di kursi, wajahnya pucat, tubuhnya bergetar. Usianya baru sembilan belas tahun, tapi sorot mata semua orang di sekelilingnya seolah sudah menjatuhkan vonis.

“Dialah yang meracuni Papa,” suara Tante Melisa, adik Tuan Mohan, terdengar menusuk. “Aku yakin, siapa lagi kalau bukan dia? Anak itu selalu dianggap pembawa sial.”

Dave menunduk. Ia ingin membantah, ingin berteriak kalau ia tidak melakukan apa pun, tapi lidahnya kelu. Pandangan semua orang menusuk seperti jarum. Ia merasa dikhianati oleh keluarganya sendiri.

Beberapa jam sebelumnya, Tuan Luis jatuh mendadak saat makan malam keluarga. Makanan yang tersaji ternyata mengandung racun, dan hanya Dave yang terakhir kali terlihat dekat dengan meja itu. Bukti? Tidak ada. Tapi tuduhan sudah terlanjur melekat.

Saat itu, Tuan Luis masih koma. Dave duduk gelisah, menunggu dengan doa lirih agar sang kakek sadar dan membelanya. Hanya Tuan Luis yang ia percaya masih menyayanginya.

Namun, ketika malam tiba, sesuatu yang ditakutkan terjadi. Tuan Luis perlahan membuka mata. Semua keluarga langsung berkerumun, lega sekaligus panik. Dave mendekat dengan harapan.

“Kakek… aku ada di sini,” ucap Dave lirih sambil menggenggam tangan tua itu.

Namun, pandangan Tuan Luis justru berubah dingin. Bibirnya bergetar, suaranya serak namun tegas.

“Dave… aku tahu kau yang menaruh racun itu…”

Dave terpaku, matanya membelalak. “T-tidak, Kek! Aku tidak melakukannya...”

“Cukup!” potong Tuan Luis, suaranya pecah namun sarat kekecewaan. “Kau darah dagingku, tapi tega berbuat seperti ini? Aku sudah salah besar menaruh harapan padamu. Mulai hari ini, semua warisan keluarga Antonio kuserahkan kepada Garvin. Bukan kau!”

Seisi ruangan terdiam, lalu riuh dengan bisikan. Garvin, saudara tiri Dave, tersenyum tipis penuh kemenangan. Dave hampir tidak bisa bernapas. Dunia seperti runtuh di hadapannya.

Tuan Mohan, ayah Dave sekaligus anak kandung Tuan Luis, justru tidak membela. Wajahnya dingin, penuh amarah. “Kau benar-benar mempermalukan keluarga kita, Dave! Anak tidak tahu diri. Bagaimana bisa kau tega meracuni kakekmu sendiri? Mulai sekarang, kau bukan lagi bagian dari keluarga Antonio!”

“Ayah, dengarkan aku! Aku tidak melakukannya!” Dave menangis, mencoba meraih tangan ayahnya.

Namun, Tuan Mohan menepis dengan kasar. “Keluar dari rumah ini! Aku tidak memiliki anak pengkhianat sepertimu.”

Kata-kata itu menancap dalam hati Dave lebih tajam dari pisau. Kebenciannya pada Dave semakin menjadi-jadi. Dave selama ini dianggap sebagai anak yang nakal dan tidak bisa diatur.

***

Beberapa hari kemudian, kabar duka menyebar. Tuan Luis meninggal dunia. Upacara pemakaman digelar besar-besaran. Semua pelayat datang, termasuk keluarga terpandang dan pengusaha yang mengenal nama besar keluarga Antonio.

Namun, Dave tidak diizinkan hadir. Ia hanya mendengar kabar dari kejauhan. Tubuhnya gemetar di sudut jalan, melihat dari balik pagar tinggi rumah duka. Hatinya remuk, ia hanya bisa menangis.

Setelah pemakaman, keputusan keluarga diumumkan. Semua harta warisan, perusahaan, rumah, tanah, dan rekening, resmi jatuh ke tangan Garvin. Anak tiri Tuan Mohan itu berdiri dengan percaya diri, menerima semua dokumen warisan.

Dave hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Sementara itu, Tuan Mohan berdiri tegak di tengah keluarga, suaranya menggema di aula besar.

“Mulai hari ini, Dave bukan lagi bagian dari keluarga Antonio. Aku mengusirnya dari rumah ini. Dia telah membunuh ayahku, dia pengkhianat darah daging kami. Jangan pernah ada yang menganggapnya keluarga lagi!”

Dave terduduk. Ia merasa seluruh dunia benar-benar membencinya. Saat ia mencoba melangkah masuk untuk menjelaskan sekali lagi, dua pengawal keluarga menghadangnya.

“Maaf, Tuan Muda… kami diperintahkan untuk tidak mengizinkanmu masuk.”

“Tolong… aku hanya ingin bicara, aku hanya ingim mendoakan kakekku…” Dave meratap, air matanya mengalir deras.

Salah satu pengawal menunduk iba, tapi tetap keras. “Kami tidak bisa. Pergilah, sebelum orang lain melihat.”

Dengan langkah gontai, Dave meninggalkan rumah yang selama ini ia kenal sebagai tempat tinggalnya. Ia tidak membawa pakaian, tidak ada uang di saku, hanya tubuh ringkihnya yang terus diguncang tangis.

Malam itu, Dave berjalan tanpa arah di jalanan kota yang sepi. Lampu-lampu jalan memantulkan bayangan tubuh kurusnya. Ia duduk di trotoar, menatap kosong ke arah langit.

“Kenapa semua ini terjadi? Aku tidak bersalah…” bisiknya dengan suara parau.

Ia ingat masa kecilnya, ketika Tuan Luis pernah mengajarinya membaca buku bisnis, memuji kecerdasannya. Ia ingat bagaimana dulu ia bermimpi menjadi penerus keluarga Antonio. Tapi semua itu lenyap dalam sekejap.

Yang paling menyakitkan, bukan soal warisan, bukan pula tentang dituduh membunuh. Yang paling menghancurkan adalah saat ayahnya sendiri menolak dan mengusirnya, seolah ia tidak pernah menjadi anak.

Tubuh Dave semakin lemah. Ia belum makan sejak pagi, hanya meneguk air dari keran umum. Suara perutnya keroncongan, tapi ia tidak punya uang sepeser pun. Orang-orang yang lewat hanya menatapnya sebentar, lalu melanjutkan langkah.

Hatinya semakin hampa.

Namun, di balik keputusasaan itu, muncul api kecil di dadanya. Api dendam. Ia bersumpah dalam hati, suatu hari ia akan kembali, bukan sebagai anak malang yang diusir, tapi sebagai seseorang yang mampu berdiri di atas keluarga Antonio.

“Garvin, Ayah… kalian akan menyesal. Aku akan membuktikan siapa aku sebenarnya,” gumamnya pelan, suaranya penuh tekad meski tubuhnya gemetar.

Malam semakin larut. Hujan turun deras membasahi kota. Dave menggigil, tubuhnya kuyup tanpa pelindung. Ia menyandarkan diri di bawah jembatan, memeluk lututnya sendiri.

Samar-samar, ia mendengar langkah seseorang mendekat. Seorang pria tua berpakaian lusuh menghampiri, membawa kantong plastik berisi roti basi.

“Kenapa di sini sendirian?” tanya pria itu, suaranya serak namun hangat.

Dave menunduk, terlalu lelah untuk menjawab. “Aku tidak punya rumah lagi.”

Pria itu menatapnya lama, lalu tersenyum pahit. “Kalau begitu, ikut aku saja. Aku juga tidak punya rumah, tapi kita bisa berbagi tempat untuk berteduh," ajaknya yang merasa kasihan pada Dave karena sejak tadi ia memperhatikan pemuda itu.

Dave menatapnya, matanya yang sembab mulai memancarkan secercah harapan. Mungkin, dari titik terendah inilah perjalanannya akan dimulai.

Ia tidak tahu apa yang menantinya di masa depan. Tapi satu hal yang pasti, ia tidak akan melupakan hari ini. Hari ketika keluarga Antonio membuangnya, dan hari ketika ia bersumpah akan bangkit kembali.

"Ibu... Saat kau pergi, kenapa kau tidak membawaku sekalian?" gumam Dave dalam hati.

Dengan langkah perih, Dave mengikuti pria itu yang mengajaknya ke emperan toko karena sebentar lagi hujan akan turun, terlihat dari langit yang terus memancarkan kilatnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca