Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kembalinya Sang Pewaris Tahta

Kembalinya Sang Pewaris Tahta

Eladzaky | Bersambung
Jumlah kata
100.8K
Popular
16.6K
Subscribe
1.1K
Novel / Kembalinya Sang Pewaris Tahta
Kembalinya Sang Pewaris Tahta

Kembalinya Sang Pewaris Tahta

Eladzaky| Bersambung
Jumlah Kata
100.8K
Popular
16.6K
Subscribe
1.1K
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalAnak Yatim PiatuKekuatan SuperKonglomerat
Rama tumbuh dalam kehilangan. Ibunya meninggal saat melahirkannya, ayahnya pergi sebelum ia berusia tujuh tahun. Harapannya akan keluarga sirna ketika ia justru diperlakukan sebagai beban di rumah pamannya hingga diusir tanpa pembelaan. Dalam keputusasaan, Rama bertemu sosok misterius yang mengubah jalan hidupnya. Dari sanalah sebuah ikatan terbentuk, meninggalkan jejak kekuatan tak kasat mata dan takdir yang tak bisa dihindari. Di saat-saat tersulitnya, Rama menemukan rumah baru di sebuah pondok pesantren sederhana, belajar tentang keikhlasan, kekuatan, dan makna bertahan tanpa membenci dunia. Namun jauh dari kehidupan barunya, seorang lelaki sekarat mulai mencari cucu yang tak pernah ia kenal. Satu-satunya pewaris dari darah bangsawan yang selama ini disembunyikan oleh fitnah dan keserakahan. Saat masa lalu dan kebenaran perlahan terungkap, hidup Rama tak lagi sekadar tentang bertahan. Ia harus bersiap menghadapi takdirnya sendiri sebagai pewaris tahta yang lama terlupakan.
Bab 1

“Apa??? Akang udah gila apa gimana??!"

Suara itu pecah di ruang tengah rumah sederhana di pinggiran Garut. Tinggi, tajam, dan penuh emosi.

Rama berdiri kaku di dekat pintu, jemarinya saling menggenggam erat. Tas kecil di punggungnya terasa berat, padahal isinya hanya beberapa potong pakaian lusuh. Di depannya, seorang perempuan dengan wajah keras menatapnya seolah ia adalah masalah terbesar dalam hidupnya.

“Nggak Kang, Aku nggak mau!” bentak perempuan itu lagi. “Kita udah repot ngurus dua anak, gaji akang juga pas-pasan, sekarang kamu sok-sokan mau ngurus anak yatim piatu ini?!"

Rama menunduk.

Kata yatim piatu itu seperti palu.

“Rani!” suara Arif meninggi. “Jaga ucapanmu. Dia keponakanku!”

“Keponakan atau bukan, tetap aja beban!” balas Rani tanpa ragu. “Kenapa gak kamu titipin aja dia di panti asuhan? Banyak anak kayak dia di sana.”

Rama mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak, tapi ia menahan napas. Ia sudah terlalu sering mendengar orang dewasa bicara seolah dirinya tidak ada.

Arif melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan istrinya.

“Kamu seorang ibu, Rani!” suaranya bergetar, bukan karena lemah, tapi menahan amarah. “Bisa-bisanya kamu nggak kasihan lihat anak sekecil ini hidup sendirian? Gimana kalau itu terjadi sama anak kita? Gimana kalau Karin atau Nino yang ada di posisi dia?”

Rani terdiam sesaat.

“Tapi ... ”

“Tidak ada tapi!” potong Arif tegas. “Rama tinggal di sini. Titik. Kalau kamu menolak… lebih baik kita pisah sekalian.”

Kalimat itu membuat udara di ruangan seakan berhenti.

Rama mendongak perlahan.

Ia menatap Arif, pamannya. Lelaki itu terlihat lelah, matanya merah, tapi sorotnya penuh tekad. Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Rama merasa… ada seseorang yang berdiri di sisinya.

Rani mengatupkan rahang. Tangannya mengepal, kukunya menekan telapak sendiri.

“Baik,” katanya akhirnya, dingin. “Terserah kamu.”

Rama tidak tahu bahwa sejak detik itu, hidupnya benar-benar berubah.

Arif bekerja sebagai buruh pabrik di kota. Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari naik dan pulang menjelang senja. Selama Arif ada di rumah, Rani masih memasang wajah datar, bahkan kadang tersenyum tipis.

Namun begitu pintu tertutup dan suara motor Arif menjauh…

Rani berubah.

“Ngapain berdiri bengong?” hardiknya suatu pagi. “Cuci piring itu. Lantai belum disapu, baju belum dijemur.”

Rama mengangguk cepat.

“Iya, Bi.”

Sejak hari pertama, Rama mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah. Menyapu, mengepel, mencuci pakaian, membersihkan dapur. Tangannya yang masih kecil sering memerah karena air dingin dan sabun murah.

Kalau pekerjaannya belum selesai, ia tidak makan.

“Anak malas nggak pantas kenyang,” begitu kata Rani.

Rama belajar menahan lapar. Ia belajar bahwa perut kosong adalah hukuman. Bahwa kesalahan sekecil apa pun bisa membuatnya melewatkan satu hari tanpa makanan.

Saat malam tiba dan rumah sudah sepi, Rama sering duduk meringkuk di sudut kamarnya yang hanya berdinding triplek,  Air matanya menetes tanpa suara.

Dalam benaknya, suara ayahnya terngiang.

“Kalau suatu hari Ayah nggak pulang… kamu jangan takut, Rama. Kamu harus jadi anak yang kuat”

Rama mengusap matanya.

“Ayah…” bisiknya. “Rama kuat.”

Ia tidak ingin ayahnya kecewa.

Ayah Rama, Iman, meninggal seminggu yang lalu karena penyakit paru-paru yang menggerogotinya. Sedangkan Ibunya, Sofia, meninggal sejak melahirkan Rama.

Sejak Bayi, Rama hidup hanya berdua dengan sang Ayah, dia tak pernah mengenal Ibunya kecuali dari selembar foto yang ayahnya simpan. Foto saat mereka melangsungkan ijab qobul.

Tapi minggu lalu, Ayahnya pergi menyusul sang Ibu. Meninggalkan Rama seorang diri yang usianya bahkan belum genap tujuh tahun. Rama tak memiliki keluarga lagi selain Paman Arif, adik Iman satu-satunya yang tinggal jauh di Garut. Jadi mau tak mau, Arif membawa Rama pulang bersamanya, sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai Paman, pengganti Ayah bagi Rama.

Tapi kebaikan Arif tak sejalan dengan istrinya, Rani. Rani begitu menentang keputusan itu. Ia tak menyukai Rama karena Rama hanya dianggap sebagai beban. Begitupun dengan kedua anak Arif, Karin dan Nino yang usianya tak jauh beda dengan Rama. Mereka cemburu dengan Rama, dan menganggap Rama mengambil perhatian dan kasih saying Ayah mereka.

Segala cara Rani lakukan untuk bisa menyingkirkan Rama dari rumahnya. Seperti hari itu, Rani berpura-pura kalau kalungnya hilang, padahal dia sendiri yang memasukkannya ke dalam tas lusuh Rama saat anak itu sedang sibuk mencuci pakaian.

“Kalung Bibi hilang,” katanya suatu sore, menatap Rama tajam. “Kamu yang ambil, ya?”

Rama menggeleng cepat.

“Bukan, Bi. Rama nggak... ”

“Jangan bohong! Awas kamu ya, kalau sampe terbukti kamu yang ambil, jangan harap bisa tinggal disini lagi!” Ancam Rani. Rama hanya mengangguk pelan, saat itu Rama tidak takut karena ia yakin tidak bersalah dan gak ngambil kalung bibinya.

Arif pulang malam itu dan mendengar cerita versi Rani. Ia memanggil Rama, berjongkok agar sejajar.

“Rama,” katanya pelan tapi tegas. “Apa benar kamu yang mengambil kalung Bibi Rani?” ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Jawab yang jujur, Paman nggak suka anak yang suka berbohong.”

Rama menggeleng sambil menangis.

“Rama nggak ambil, Paman.”

Arif menatap mata bocah itu lama, lalu menghela napas.

“Ya sudah, boleh Paman periksa tas kamu?”

Rama mengangguk, dan membiarkan Pamannya menggeledah isi Tasnya.

Dan tanpa di duga, kalung itu benar-benar ada di tas Rama, Rama terkejut. Sejak kapan kalung itu ada disana?

"Tuh, benar kan? Emang dasar anak ini maling! gak tau diuntung! Udah dikasih tempat tinggal malah mencuri! Udah Kang, bawa dia pergi aja! Kasih ke siapa kek!" Cerocos Rani.

Rama hanya bisa menangis, berulang kali Rama menyangkal kalau ia tidak mencuri, Arif tetap tak percaya, karena bukti sudah ada di tangannya.

Arif menghela napas berat, ia kecewa pada Rama. Tapi lagi-lagi ia teringat mendiang Kakaknya, Iman pasti kecewa kalau Arif sampai mengusir Rama. Lagipula Rama masih kecil, masih bisa di didik dan di arahkan, begitu pikirnya.

Akhirnya Arif hanya menasehati Rama dengan keras, dan mengancam kalau ini terulang lagi Paman tidak akan memafkannya.

Rani menoleh tajam. Kekecewaan jelas di wajahnya.

Ia gagal lagi.

*****

Hari itu siang terik. Rama sedang mencuci pakaian di kucuran air tak jauh dari empang ikan di samping rumah. Karin sedang bermain di teras. Nino, anak bungsu itu, berlarian sendiri.

Tiba-tiba Rama mendengar suara keras.

"BYURRR"

Ia menoleh.

Nino tercebur.

“NI—!” Rama berlari mendekat. Anak itu menggapai-gapai air, tubuh kecilnya tenggelam timbul. Rama panik. Ia ingin menolong, tapi ia sendiri tidak bisa berenang.

Tanpa pikir panjang, Rama berlari ke dalam rumah.

“BIBI! NINO... NINO KECEBUR EMPANG!”

Rani menoleh, wajahnya langsung pucat. "APA??"

Rani langsung panik, ia teriak-teriak meminta tolong hingga orang-orang berdatangan. Seorang lelaki dewasa akhirnya mengangkat Nino dari empang.

Anak itu batuk hebat, memuntahkan air kotor yang tidak sedikit.

Dan Akhirnya Nino selamat. Rama menghela napas lega.

Namun tatapan Rani berubah. Ia memandang Rama dengan penuh kebencian.

Ia langsung meraih ponsel dan menelepon.

“Kang… pulang sekarang. Rama hampir membunuh Nino.” Ujarnya sambil terisak.

Arif pulang dengan wajah gelap. Rani menangis. Karin memeluk ibunya. Nino, dengan suara kecil dan ketakutan, berkata, “Rama dorong aku…”

Rama membeku.

“Itu bohong!” Rama menangis. “Rama malah mau nolong Nino!”

Arif memijat pelipisnya. Lelaki itu tampak lelah, sangat lelah.

“Cukup,” katanya akhirnya.

Rama mendekat, memegang celana Arif.

“Paman, Rama nggak bohong. Tolong…”

Arif menatapnya lama.

“Kali ini kamu keterlaluan, Rama.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan.

Rani membuka pintu, kemudian melempar tas lusuh Rama keluar.

“Pergi kamu! anak pembawa sial! Anak gak tau diri, gak tau diuntung! Jangan pernah kamu menunjukkan muka kamu lagi disini!”

Rama terdorong keluar. Ia tersungkur. Tidak ada yang menolong.

Dengan tangan gemetar, Rama memeriksa saku celananya. Memastikan satu-satunya benda berharganya tidak tertinggal.

Foto lusuh Ayah dan ibunya.

Ia melangkah pergi di bawah matahari siang, sendirian, lapar, dan untuk ke sekian kali, dunia kembali menolaknya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca