

Mataku mengerjap-ngerjap ketika sinar matahari mengenai wajahku melalui jendela. Ahh, sepertinya aku lupa lagi menutup gorden jendela kamarku. Teriknya matahari benar-benar memaksaku untuk membuka mata. Aku mulai meregangkan tubuhku yang terasa pegal-pegal di semua sendi.
Tunggu, regangan tanganku tertahan oleh sesuatu, atau mungkin seseorang?
Aku menoleh kesamping kiriku dengan mata yang masih setengah terpejam. Seorang perempuan tidur memunggungiku. Aku mengucek mata untuk memastikan. Ya, perempuan ini bahkan hanya menutupi setengah tubuhnya dengan selimutku. Apakah semalam aku membawa pulang seorang perempuan lagi?
Rambut hitamnya yang terlihat acak-acakan menutupi tengkuk leher belakangnya. Ia masih tidak bergeming saat aku duduk di sisi tempat tidur.
Sial, aku juga tidak memakai baju sehelaipun!
Aku baru menyadarinya setelah melihat bayangan diriku di cermin yang tertempel di lemari. Aku menghela nafas panjang sambil memungut celana pendekku yang ada diatas lantai dan memakainya.
Aku melirik lagi perempuan yang masih tidur di ranjangku. Aku bahkan tidak ingat namanya. Aku meremas rambutku sendiri. Kepalaku masih pengar akibat alkohol yang aku tenggak semalam. Aku masih ingat semalam aku hanya mampir ke bar untuk segelas, atau mungkin lebih, whiskey. Aku memang sering menghabiskan malam liburku di bar yang letaknya di seberang apartemenku. Disana, hampir setiap malam ada live music. Sesuatu yang jarang terjadi, live music setiap malam! Herannya, pada saat hari kerjapun kursi di bar itu hampir selalu terisi apalagi saat malam mulai larut. Mungkin para orang-orang itu juga sama penatnya. Terlalu sibuk bekerja pada siang hari, dan mencari penghiburan saat malam. Tapi, itu hanyalah pikiranku yang terlalu positif. Pikiran negatifnya? Bar itu menjadi tempat pertemuan gelap antara laki-laki paruh baya dengan wanita simpanannya. Entah apa yang dikatakan para laki-laki paruh baya kepada keluarga yang menunggunya di rumah. Lembur? Makan malam bersama atasan? Macet parah? Sesekali jari-jari mereka yang mulai keriput membelai lembut kulit wanita mudanya yang berbusana minim. Seolah para laki-laki itu tak malu kepada cincin yang melingkar di jari manisnya. Sangat sulit untuk berpikiran positif saat melihat hal seperti itu ditempat yang terlalu redup.
Tapi itu semua bukan urusanku. Aku ke bar hanya untuk mendengarkan musik dan menikmati beberapa teguk alkohol. Sendirian. Paling tidak aku datang sendiri. Kalau aku beruntung, aku bisa membawa pulang seorang perempuan yang awalnya hanya mengajak aku ngobrol.
Sebenarnya aku lebih suka menyendiri, duduk sendiri, tidur sendiri, pergi sendiri, tapi kebutuhan biologis seorang pria dewasa sepertiku tidak dapat dihindarkan. Menurutku, suatu keberuntungan jika ada perempuan yang ingin mengikutiku pulang. Aku bukanlah pria yang pandai merayu perempuan. Aku tidak bisa merangkai kata-kata manis agar perempuan mendekatiku. Aku adalah pria dengan sedikit bicara. Kadangpun aku heran kenapa kerap sekali para perempuan acak itu mendekatiku lebih dulu.
Aku menatap bayangan wajahku di cermin diatas washtafel kamar mandi. Aku tidak jelek, tapi juga tidak terlalu tampan. Atau memang aku tampan? Haha! Aku tersenyum tipis. Mungkin saja perempuan menganggap aku tampan, tapi aku tidak memiliki kulit putih seperti laki-laki yang sering mereka lihat di drama Korea. Kulitku cenderung gelap, alisku tebal, mataku khas seperti mata orang Indonesia pada umumnya, bibirku tipis, dan untungnya hidungku sedikit mancung. Kata nenekku, almarhum ayahku mewarisi hidung mancungnya kepadaku.
Aku membasahi rambutku yang mulai gondrong. Haruskah aku mencukur rambut hari ini? Atau mungkin belum perlu. Paling tidak rambutku belum terlalu menjulang tinggi ketika aku mengusapnya keatas.
Ahh, bekas lukaku nyeri lagi.
Aku meraba bekas luka di perutku. Bekasnya sudah samar hampir tidak terlihat, tapi masih terasa ngilunya di dalam sana. Seolah selalu mengingatkan bahwa sesuatu yang terjadi tidak bisa dilupakan walaupun tidak terlihat. Dan ironisnya, nyeri ini selalu datang ketika aku kecapekan. Kali ini, bukan kerja yang membuatku capek. Mungkin dia? Perempuan yang masih tidur dengan lelap diatas ranjangku.
Berapa lama kami bercinta? Berapa ronde? Apakah dia memang sebagus itu? Ataukah dia menikmati gaya bercintaku? Aku tidak ingat. Alkohol sialan!
Aku mendekatinya perlahan untuk memastikan dia masih bernafas. Tidurnya terlalu lelap bahkan tidak terbangun saat aku di kamar mandi tadi. Hanya memastikan. Ya, ada gerakan nafas. Aman. Aku mengintip untuk melihat wajahnya dari balik punggungnya. Matanya masih terpejam.
Mau tidur sampai jam berapa, Nona? Aku melirik ke jam dinding, ini sudah pukul 2 sore. Agak merepotkan memang kebiasaan mabukku yang kadang membawa perempuan asing ke kamarku. Aku perlu kopi.
Aku baru mau menuju kabinet dapur ketika aku melihat perempuan itu bergerak dan berguling melihatku.
"Good morning," sapanya tersenyum kepadaku. Ia meregangkan badannya sambil perlahan duduk di tempat tidur. Tangannya menahan selimut agar tetap menutupi dadanya.
"Udah siang ini, mau kopi?" Jawabku dengan santai. Aku mencoba ramah dengan menawarinya kopi. Sekalian.
Dia merapihkan rambutnya yang kini terlihat terurai sepanjang dadanya, "boleh."
Jawabannya ringan, tidak canggung. Aku membuat 2 cangkir kopi hitam dengan sedikit susu untukku dan perempuan itu yang masih ditempat tidur sambil memandangiku. Aku rasa sesekali ia tersenyum. Kenapa? Apanya yang lucu?
"Kamu seksi banget." Katanya kemudian saat aku membawa cangkir berisi kopi di kedua tanganku ke arahnya.
Aku tersenyum tipis, "apanya?"
Dia menerima kopi dari tangan kananku, "semuanya."
Wow, begitukah?
"Thanks." Jawabku singkat. Aku menyeruput kopi buatanku. Mantap seperti biasa.
Perempuan itu juga mulai mencicipi kopi di tangannya.
"Hmm, enak. Kamu barista?" Tanyanya.
"Bukan. Aku supir." Kataku sambil bersandar santai di sofa kecil yang berada di seberang tempat tidur.
Dia tertawa. Lucu?
"Maksud aku, kopi buatan kamu enak."
"Ohh." Jawabku singkat. Aku kembali menikmati kopiku.
"Kalo nggak salah, nama kamu Ares kan?" Tanyanya lagi. Santai.
Aku mengangguk. Aku jarang sekali menanyakan nama kepada perempuan asing yang ku bawa pulang. Bagiku tidak penting. Toh, kita akan kembali ke kehidupan masing-masing setelah selesai bercinta. Kemudian lupa kalau pernah bertemu.
"Kamu pasti lupa nama aku." Godanya. Ia menyembunyikan senyumnya dibalik cangkir kopi sembari meminum lagi.
Baiklah, kali ini aku merasa bersalah. Apa aku harus tau namanya? Aku mencoba mengingat-ingat. Apakah kita saling kenalan dan bertukar nama?
"Jangankan nama, gimana kamu ada di kasur aku aja aku lupa. Maaf ya, aku kalo mabuk suka lupa." Jawabku mencoba jujur.
Perempuan itu tampak tenang. Tidak marah, namun mengerutkan mukanya, "Yah, sedih banget kamu lupa."
"Sorry.." kataku lirih.
"Aku Aneta." Senyumnya kembali muncul. Apakah wajahnya memang selalu seceria itu?
Ini membuatku canggung seperti kenalan dengan orang baru secara normal.
"Ares." Aku menyebutkan namaku sembari meletakkan tanganku di dada.
"Aku tau, kok." Dia nyengir.
"Jadi,.. ehem." Aku berdeham pelan sebelum menyusun kata-kata selanjutnya. Lebih tepatnya aku memilih kata-kata yang sedikit menjaga perasaan agar aku tidak dianggap terlalu brengsek. "Jadi, gimana ceritanya kamu bisa disini?" Aku membetulkan posisi dudukku. "Sorry banget tapi aku beneran lupa."
"Aku temennya Dany." Dany adalah bartender di bar yang aku datangi tadi malam. "Aku ngajak kamu ngobrol duluan sih sebenernya, tapi kayaknya kamu udah teler banget."
Perempuan asing mengajakku ngobrol duluan adalah bukan hal yang baru bagiku. Perempuan-perempuan jaman sekarang memang lebih berani.
Aku mengangguk-angguk. "Jadi, kamu ngajak aku ngobrol?" Tanyaku memastikan.
"Hehe, iya." Jawabnya cengengesan. "Aku udah merhatiin kamu sejak kamu dateng. Mungkin kamu inget liat aku di ujung bar?"
Aku kembali mengingat saat aku masuk ke dalam bar. Sekilas aku memang melihat seorang perempuan yang duduk sendirian di ujung bar memakai jaket kulit hitam. Aku melayangkan pandanganku ke baju-baju yang berserakan di lantai. Itu dia, jaket kulit hitam di lantai dekat lemari.
"Oh, iya, aku inget."
Seketika raut wajahnya menunjukkan kelegaan.
"Kenapa ngajak aku ngobrol? Aku rese kah?" Mendadak aku khawatir kalau aku membuat keributan.
"Enggak, enggak sama sekali." Jawabannya menenangkan pikiranku sedetik. "Habisnya aku ga nyaman banget dilirikin om-om disana. Jadinya aku nyamperin ke sebelah kamu, ngajakin kamu ngobrol, biar om-om itu berhenti liatin aku. Tapi, kamunya malah teler banget, nyaris ga bisa diajak ngobrol, hehe." Dia nyengir lagi. Kali ini sedikit getir.
"Kenapa ga ngobrol sama Dany, katanya temen kamu?" Tanyaku penasaran.
"Dany kan lagi kerja, ga enak gangguin Dany kerja."
"Dia pacar kamu?"
Aneta tertawa. Kopi di cangkirnya nyaris tumpah karena badannya tergoyang bersama tawanya. "Haha! Kalo aku punya pacar, ngapain aku disini sama kamu?"
"Terus, ngapain disini sama aku?" Aku balik bertanya sembari menikmati kopiku.
Tawa Aneta terhenti mendadak. Seperti mobil yang kampas remnya baru saja diganti. Ia memandangku dengan memiringkan sedikit kepalanya. Matanya menyipit, "Kamu ganteng."
Pfft, kopi yang ada di dalam mulutku tersembur keluar. Aku buru-buru mengambil tissue yang ada di sampingku dan membersihkan badanku yang terkena semburanku sendiri. Jawaban yang kocak! Sangat kekanak-kanakan!
Aneta perlahan berdiri dari tempat ia duduk dan berjalan mendekatiku yang masih sibuk mengelap paha dan perutku. Ia berdiri tepat di depanku.
"Kenapa? Aku yakin bukan pertama kali ini kamu dibilang ganteng kan?" Tanyanya. Tangannya mengusap lembut rambutku.
Aku melihat ke arahnya. Ia masih menutupi dadanya dengan selimut yang ia tahan dengan tangan satunya. Aku mengangguk sambil tersenyum tipis, "tapi itu jawaban yang konyol."
Maksud pertanyaanku sesungguhnya adalah, kenapa kamu masih disini, kenapa kamu ga pulang?
Aku menahan lidahku untuk tidak berkata begitu. Bagaimanapun aku harus sopan kepada tamu yang sudah memuaskanku, bukan? Apalagi tamuku adalah seorang perempuan. Harga dirinya mungkin akan terluka saat aku mengatakan kalimat itu.
Tiba-tiba Aneta membuka selimut yang menutupi dadanya. Aku sedikit terperanjat, kaget. Sejujurnya aku tidak menyangka perempuan bisa seberani ini. Buah dadanya yang sintal kini tak lagi tertutup apapun. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi aku rasa pas digenggamanku. Aku rasa.
Merasa aku memperhatikan tubuhnya, Aneta langsung berlutut didepanku. Jarinya mengelus sesuatu yang menonjol di celana pendekku. Bibirku sedikit terbuka merasakan sensasi dadakan seperti ini. Matanya menatapku tajam. Aku membeku sesaat.
"Aku mau kasih kamu hadiah." Bisiknya yang hampir tak terdengar di sela-sela pahaku.
Bibirku memang terbuka, tapi lidahku kelu. Aku hanya bisa menatapnya pasrah ketika tangan Aneta mulai menurunkan celana pendekku. Aku menelan ludah. Kita lihat apa yang akan kamu lakukan, nona.
Tongkatku perlahan mengeras saat Aneta mencengkeramnya dan memasukkannya kedalam mulutnya yang basah dan hangat.
"Ahh.." aku mengerang pelan.
Pantatku terangkat sedikit, seolah tubuhku ingin menyerahkan semuanya kepada perempuan yang sekarang sedang bekerja dengan mulut dan lidahnya.
Aku mencengkeram rambutnya memberi isyarat untuk memelankan ritme naik turunnya. Tapi tanganku ditepis kasar olehnya. Kedua tangannya kini menahan kedua tanganku di sisi tubuhku. Sangat kasar!
Lidahnya meludahi, menjililat dan mengulum dengan lincah seperti anak kecil yang sedang menikmati es krim kesukaannya. Dia semakin menikmatinya ketika panggulku bergerak naik turun mengikuti temponya. Mata Aneta beradu pandang denganku. Matanya yang tajam menikmati wajahku yang terlihat pasrah. Sesekali aku menggigit bibirku, uhhhh..
Tunggu. Sebentar. Tolong pelan sedikit.
Tidak, Aneta tidak bisa membaca isi kepalaku. Cengkeraman tangannya semakin keras mengunci pergelangan tanganku. Aku bahkan bisa merasakan kukunya menancap di kulitku.
"..Aneta.." bisikku. Tubuhku benar-benar mengkhianati pikiranku. Tubuhku menikmati hadiah manis ini.
Aneta tersenyum kecil disana. Mulutnya semakin beringas melahap tongkatku yang basah.
Uhh. Aku tidak tahan.
Nafasku semakin berat. Aku melemparkan kepalaku ke sandaran sofa. Gerakan mulut Aneta semakin cepat saat aku mendorong maju panggulku. Seolah dia membaca bahasa tubuhku.
"AHHH..!!" Aku bergetar hebat saat cairanku menyemprot di dalam mulut Aneta. Lidahnya masih bermain dengan lembut di dalam sana.
Sial! Aneta menelan semua cairanku!
"Kamu telen semua?" Tanyaku tak percaya.
Aneta melepaskan tongkatku yang sudah lemas perlahan-lahan. Ia tersenyum tipis kepadaku. Kepalanya mendekat ke wajahku.
"Aku milik kamu sekarang." Aroma cairan semen menusuk hidungku saat ia mengatakan itu.
Dahiku mengernyit. Aku berusaha melepaskan pergelangan tanganku dari cengkeraman tangannya. Kukunya mulai menyakitiku.
"Aku ga mau milikin siapa-siapa." Kataku masih tersengal-sengal.
Aneta tidak bergeming mendengar jawabanku. Cengkeraman tangannya mulai longgar. Aku menarik kembali tanganku dan mengusap bagian pergelangan tangan yang terkena kukunya. Aneta masih menatapku lekat tanpa peduli keadaan tanganku.
Ia mengangkat alisnya, "Ngga bisa, bagian diri kamu ada di dalam tubuh aku sekarang."
Aku tak percaya apa yang aku dengar dari mulutnya. Kata-katanya terdengar datar, tapi entah kenapa aku merasa diintimidasi.
Ini pemerasan! Lebih tepatnya, pemerkosaan!
"Aku ga minta kamu kayak gini." Ucapku.
Aneta kembali menyentuhku dengan jari-jarinya yang berjalan menurun di dadaku, "Aku yang mau. Aku masih bisa lagi kalo kamu mau."
Aku menyingkirkan badannya dari hadapanku dan bangkit dari sofa menuju kamar mandi. Aku segera mengunci pintu kamar mandi dari dalam, khawatir Aneta akan memaksa masuk bersamaku seperti ia memaksa aku mengeluarkan cairanku ke dalam mulutnya hanya untuk mengikatku. Dia bercanda, kan?
Selama aku bertemu dan tidur dengan perempuan-perempuan asing, baru kali ini aku bertemu dengan perempuan macam Aneta. Berani meminta lebih.
Aku membiarkan aliran shower membasahi seluruh tubuhku. Apa-apaan tadi? Aku memang menikmati pelayanan yang ia berikan kepadaku. Tapi kata-katanya menggangguku.
"Aku milik kamu sekarang.."
Dia bukan benda yang kepemilikannya bisa jatuh kepadaku, kan? Membayangkan memiliki seseorang saja sudah membebaniku. Maksudnya apa? Komitmen? Sebuah hubungan?
Tidak, aku tidak mau itu. Aku tidak pernah menginginkannya. Lagi.
Terakhir kali aku menginginkan seseorang, hanya menimbulkan luka yang sampai sekarang masih terasa. Aku mengusap lagi bekas luka di perutku.