

Adrian Kusuma mengayuh motornya menembus jalanan yang mulai tergenang. Jaket kurir online-nya yang tipis nyaris tidak berguna menahan dingin. Air hujan merembes masuk dari setiap celah, membasahi baju dalamnya hingga ke kulit.
“Sial,” umpatnya pelan sambil melihat layar ponsel yang terpasang di stang motor.
Masih ada tiga pesanan lagi yang harus diantar sebelum shift-nya berakhir. Adrian menoleh ke kaca spion motor. Wajahnya yang lelah memantul samar di tengah guyuran hujan.
Lulusan Teknik Informatika dari universitas negeri dengan IPK 3.5 dan usia produktif, dua puluh lima tahun. Seharusnya Adrian sudah kerja di perusahaan teknologi besar, punya kantor ber-AC, gaji bulanan yang stabil.
Tapi realita berkata lain. Dua tahun setelah lulus, ia belum juga mendapat pekerjaan sesuai dengan pendidikannya.
“Maaf, kami cari kandidat dengan pengalaman kerja minimal dua tahun.”
“Koneksi kamu di industri ini bagaimana? Oh, tidak ada? Sayang sekali.”
“Posisinya sudah terisi. Terima kasih sudah melamar.”
Ratusan lamaran. Puluhan interview. Hasil? Nol.
Akhirnya, Adrian mengambil pekerjaan apa saja yang bisa dia dapat. Kurir online di pagi hingga malam.
Tiga hingga empat jam tidur per hari kalau dia beruntung. Sisanya dipakai untuk bertahan hidup.
Ponselnya berdering. Adrian menepikan motor di bawah pohon yang sudah rontok daunnya—perlindungan yang minim tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.
“Halo?”
“KAMU DI MANA? SUDAH SATU JAM PESANAN SAYA BELUM SAMPAI!” Suara wanita di seberang telepon memekik.
Adrian menarik napas panjang. “Maaf, Bu. Jakarta sedang hujan deras. Saya sudah berusaha secepat—”
“SAYA TIDAK PEDULI! SAYA BAYAR ONGKIR MAHAL UNTUK DAPAT MAKANAN CEPAT! KAMU MAU KERJA ATAU TIDAK SIH?”
“Saya mengerti, Bu. Saya akan sampai dalam lima belas menit—”
“LIMA BELAS MENIT? SAYA LAPAR SEKARANG! Awas ya kalau makanannya sudah dingin atau tumpah, saya komplain dan saya kasih rating satu bintang!”
Klik.
Telepon ditutup sepihak.
Adrian menatap layar ponselnya yang gelap. Tangannya gemetar, entah karena dingin atau karena menahan emosi. Rating satu bintang. Kalau ratingnya turun di bawah 4.5, akun kurir nya bisa di suspend. Artinya tidak ada pemasukan sama sekali.
Dia kembali memacu motornya menembus hujan.
Lima belas menit kemudian, Adrian sampai di sebuah kompleks perumahan mewah. Gerbang otomatis. Pagar tinggi. Rumah-rumah mewah dengan taman luas.
Dunia yang sangat berbeda dengan kontrakan sempit milik Adrian.
Satpam melihatnya dengan tatapan sinis dari pos jaga yang hangat dan kering.
“Kurir?” tanyanya malas.
“Ya, Pak. Untuk Bu Dian, nomor rumah B-17.”
Satpam bahkan tidak membukakan pintu gerbang sepenuhnya. “Lewat sana, jalan samping. Jangan masuk lewat gerbang utama. Kalau motormu kotor nanti ngotorin jalan.”
Adrian menggigit bibir bawahnya. Diam. Mengangguk. Putar balik motornya yang memang kotor penuh lumpur dan mengambil jalan memutar yang penuh genangan.
Ketika sampai di rumah B-17, seorang wanita paruh baya sudah berdiri di teras dengan wajah masam.
“Lama sekali! Satu setengah jam! Makanannya pasti sudah dingin!”
Adrian turun dari motor, membuka tas delivery-nya dengan hati-hati. Kotak makanan masih utuh, masih hangat karena dia simpan di lapisan paling dalam.
“Ini pesanan Ibu. Maaf untuk keterlambatannya, hujan sedang—”
“Coba saya cek dulu.” Wanita itu membuka kotak makanan satu per satu dengan kasar. Nasi goreng, ayam bakar, jus alpukat. Semuanya masih dalam kondisi baik.
Tapi wanita itu menggeleng. “Ini nasinya sudah agak dingin. Jusnya juga kayaknya airnya udah turun.”
Adrian tahu itu bohong. Makanannya masih sempurna. Tapi dia tidak bisa membantah. Customer is always right.
“Saya minta maaf, Bu.”
“Maaf saja tidak cukup. Saya akan komplain ke aplikasinya. Rating satu bintang. Dan saya tidak akan kasih tip.”
Sesuatu di dalam dada Adrian seperti retak. Tidak ada tip. Artinya ongkos bensin pulang pergi dari uangnya sendiri. Belum lagi rating yang akan turun.
“Baik, Bu. Terima kasih sudah memesan.” Adrian membungkuk, sesuatu yang tidak perlu dia lakukan tapi sudah jadi refleks untuk menjaga profesionalitas.
Wanita itu masuk ke dalam rumah mewahnya tanpa sepatah kata lagi. Pintu ditutup.
Adrian berdiri di teras yang basah, hujan masih membasahi tubuhnya. Dari balik jendela rumah mewah itu, dia bisa melihat wanita tersebut duduk di sofa empuk, menyalakan TV layar lebar, dan mulai makan pesanannya dengan santai.
Sementara Adrian harus kembali mengendarai motornya kembali di tengah hujan. Dua pesanan lagi. Setelahnya ia bisa bertemu Ranni, sang kekasih.
Adrian menyemangati diri sendiri lalu menyalakan mesin motornya. Suara batuk-batuk dari knalpot yang sudah aus memecah keheningan sore yang dingin.
Hingga akhirnya semua pesanan diantar. Adrian bernapas lega. Motornya berhenti di depan pagar putih. Ia mengerutkan kening melihat ada mobil hitam terparkir.
“Mobil siapa, ya? Apa ada tamu?” Adrian menggumam.
Setelah berkaca di spion dan merapikan sedikit rambutnya, ia masuk sambil menenteng plastik berisi martabak. Meski sedang irit, membawa sesuatu ke rumah kekasih adalah wajib bagi Adrian.
Tetapi, langkahnya kemudian terhenti. Di teras, ia melihat Ranni duduk sangat rapat dengan seorang lelaki. Bahkan lelaki itu merangkul dan mencium pipi sang kekasih.
“Ranni?!” sentak Adrian.
Dua pasang manusia itu langsung menoleh. Seperti tidak merasa melakukan kesalahan, Ranni hanya memasang wajah tak peduli.
“Oh, Adrian. Ngapain ke sini? Udah selesai nganter-nganter barang?” Ranni menyambut dengan pertanyaan sindiran.
“Siapa lelaki ini?” Adrian mengabaikan pertanyaan Ranni dengan balas bertanya.
“Ini.... “
“Hai, aku Niko,” potong lelaki itu. “Pacar Ranni.”
“Kurang ajar!” Adrian membelalakkan matanya. Tangannya terkepal menahan emosi. Ia menatap Ranni tajam. “Kamu... sama dia?”
Ranni berdiri. Ia menatap Adrian lalu mengangguk tegas. “Kita putus, Adrian.”
Wajah Adrian mengeras. “Ke—kenapa?”
Pertanyaan itu dibalas dengan tawa oleh Niko. “Yaa jelas Ranni lebih memilihku. Nggak punya cermin? Aku jauh lebih baik darimu.”
Mata Adrian tetap memandang Ranni tanpa mempedulikan ucapan Niko.
“Pulanglah, Adrian. Kamu bukan siapa-siapa lagi bagiku.”
“Apa salahku, Ran?” Adrian menuntut penjelasan langsung dari bibir wanita yang tadinya ia percaya sayang padanya.
Ranni menghela napas berat sambil melipat kedua tangan di perut. “Kamu miskin, Adrian. Aku nggak mau ngabisin waktu dengan lelaki yang nggak bisa beliin apa yang ku mau.”
“Sial!” desis Adrian.
Tanpa sepatah kata lagi, Adrian segera membalik tubuh dan keluar. Di samping mobil, dengan emosi ia menendang ban mobil Niko, tapi kakinya yang malah kesakitan.
Paling tidak, malam ini ia makan martabak. Adrian duduk di kursi taman. Tatapannya kosong saat mengunyah.
“Kenapa hidupku menderita sekali?”
Suara desahan napas panjang membuatnya menoleh. Seorang lelaki tua balas menatap Adrian. Tubuh kurusnya berbalut sweater.
Ternyata ada yang lebih menyedihkan dariku. Adrian mendesah dalam hati.
“Kakek sudah makan? Mau martabak?” Adrian menjulurkan dus martabak ke depan lelaki tua itu.
Tangan sang kakek bergetar pelan saat mengambil martabak. Dalam diam, lelaki itu makan perlahan.
“Ini buat Kkakek saja. Buat keluarga di rumah.”
Dahi kakek berkerut saat menatap Adrian. “Rumah?” Lalu, kepalanya mengangguk. “Kamu mau anter kakek pulang?”
“Ya sudah. Aku anterin.”
Adrian menutup makanannya dan membimbing lelaki tua itu ke motor. Ia membantu mengenakan helm cadangan ke kepala sang kakek.
“Alamatnya di mana, Kek?”
“Graha Serenia.”
Mendengar alamat itu, Adrian mengerutkan kening. Sebuah perumahan mewah di jalan utama kota. Perlahan, ia menjalankan motornya dengan kecepatan rendah dan hati-hati karena membawa orang tua.
“Yang mana rumahnya, Kek?” tanya Adrian kala mereka telah memasuki lingkungan perumahan mewah tersebut.
“Coba lewat kanan.”
Motor berbelok ke kanan. Hingga sepuluh menit kemudian, Adrian akhirnya menepi. Ia menoleh ke belakang.
“Kek, ini sudah tiga kali bolak-balik jalan ini. Kakek lupa rumah sendiri, ya?”
Lelaki itu hanya diam. Tetapi, matanya mengamati sekitar. Adrian berinisiatif mendatangi pos satpam.
“Malam, Pak. Apa bapak kenal dengan bapak itu?” Adrian menunjuk lelaki tua di samping motornya.
Bapak satpam mengamati. “Siapa, ya? Nggak keliatan karena pakai helm.”
Keduanya lalu menghampiri Kakek. Lelaki tua itu hanya menatap datar Adrian dan Pak Satpam.
“Kek, buka sebentar helm-nya, ya. Pak Satpam mau lihat wajah Kakek.” Adrian kembali membantu melepas helm di kepala lelaki tua itu.
Ketika wajah kakek terlihat, satpam langsung terkejut. “Pak Handoyo? Ya ampunn... saya kira siapa.”