

BAB 1
Kehilangan
Alunan nyaring dari klakson-klason mobil dan motor yang tak pernah absen mengiringi awal pagi di tengah padatnya jalanan Kota Jayabaru. Kemacetan yang membuat orang-orang merasa kelelahan bahkan sebelum mulai beraktivitas. Hanya satu hal yang bisa dilihat pagi itu, kemacetan parah ditambah polusi asap kendaraan membuat langit pagi berkabut polusi.
Di tengah banyaknya orang, terlihat seorang pria yang berdiri di halte bus dengan berpakaian rapi tapi tampak kusut sambil membawa tas cokelat di bahunya. Halte itu penuh sesak. Bahu-bahu saling bertumbukan, udara pengap. Keringat menetes dari pelipisnya saat ia berdiri diam dan terjebak di antara orang-orang yang sama lelahnya, menunggu sesuatu yang tak pasti.
Waktu menunjukkan pukul 9 pagi ketika ia sampai di kantornya. Gedung kantor tempatnya bekerja berdiri seperti kebanyakan gedung lain di kota ini, abu-abu, tinggi, dan tidak peduli siapa yang masuk atau keluar. Dia naik ke lantai tujuh dengan lift yang bergerak pelan, diisi orang-orang yang wajahnya sama lelahnya dengannya.
Ruang rapat kecil itu dingin, walaupun biasanya juga dingin tapi tak tahu mengapa pagi ini terasa lebih dingin. Terlalu dingin untuk ukuran pagi hari. Di tengah-tengah rapat, manajernya membicarakan inti dari rapat pagi ini.
Ia berbicara tenang, memilih kata-kata rapi yang terdengar aman. Tapi setiap kalimatnya jatuh seperti palu, yang menancapkan paku hingga ke dalam jiwa. Kata-kata itu terdengar rapi dan netral padahal di baliknya, ada nasib yang disingkirkan tanpa suara.
Pria itu hanya mengangguk, mendengarkan. Tidak bertanya. Tidak membantah.
Membantah tidak akan mengubah apa pun, itulah yang ia selalu tanamkan di pikirannya. Apalah daya ia hanya karyawan biasa.
"Ini bukan tentang kinerja," kata managernya, seakan itu membuat segalanya lebih mudah.
Membuatnya muak dan hampir tertawa lepas karenanya. Tapi ia tahan, karena masih menghormati posisi atasannya sebagai Manager itu.
Setelahnya, pria itu mengemasi barang-barang di mejanya. Sebuah buku, peralatan tulis, foto lama yang mulai memudar hanya itu saja yang ia simpan di laci mejanya. Berpamitan? Di tempat seperti itu tidak ada yang peduli apa arti kehilangan. Orang datang dan pergi silih berganti, seperti memori yang di reset ulang. Dia sebetulnya sudah mengetahui sejak 2 minggu yang lalu, bahwa daftar namanya ada di urutan bawah. Restrukturisasi dan efisiensi yang tiap tahun selalu dibahas para petinggi, tanpa memikirkan nasib bawahannya. Yang lemah akan pergi dan yang kuat akan tetap tinggal.
Keluar dari gedung, pria itu berdiri sebentar di bawah matahari yang tertutup awan, tak terlalu terik. Hangatnya tidak terasa.
Wajah yang tadi tampak cerah kini sudah kusam akibat keringat bercampur polusi ditambah berita yang masih sulit ia terima. Selama 2 tahun terakhir dia mengabdi bekerja di tempat itu. Tempat yang mana besok akan menjadi asing. Pria rajin yang selama bertahun-tahun selalu tiba tepat waktu walau perjalanannya melelahkan dan penuh perjuangan. Berperilaku baik tidak menjamin kinerjamu akan dihargai. Namun seperti kata pepatah ada pertemuan pastilah ada perpisahan. Itulah yang terjadi padanya sekarang. Sesuatu yang selalu ia ingin pertahankan, kini berada di luar kendalinya.
Pria itu tidak langsung pulang. Dia berjalan tanpa tujuan, menyusuri trotoar yang sudah ia hafal betul selama bertahun-tahun bahkan di luar kepala. Toko-toko mulai buka. Warung kopi kecil di sudut jalan sudah mengeluarkan aroma pahit yang biasanya ia minum sebelum berangkat kerja. Hari ini dia hanya berjalan melewatinya.
Ada hal yang memang menyakitkan untuk diulang.
Siang itu ia duduk lama di bangku taman, menatap kolam kecil dengan nyala pancuran di tengahnya. Di sana, bayangannya terpantul tak utuh bahu yang merosot mata yang lelah wajah yang lupa bagaimana rasanya tersenyum. Beban berat pekerjaan yang selama ini mungkin saja hilang, tetapi hatinya hancur karena usahanya tak ada nilainya.
Sambil duduk termenung di taman. Ia kembali mengingat hidupnya yang dulu. Bukan hidup yang gemerlap. Tidak juga penuh kemenangan. Tapi hidup dengan arah. Ada waktu ketika tubuhnya bergerak tanpa ragu, ketika pikirannya fokus pada satu hal dan satu hal saja. Ada disiplin. Ada tujuan. Ada batas yang jelas antara menang dan kalah.
Semua itu berhenti bertahun-tahun lalu. Ia memilih berhenti, karena dipaksa berhenti. Dia tidak pernah benar-benar jujur pada dirinya sendiri soal itu. Yang jelas, sejak saat itu hidupnya berubah jadi rangkaian hari yang harus dilewati, bukan dijalani.
Sore menjelang ketika akhirnya dia berdiri dan berjalan lagi. Kota yang mulai padat. Orang-orang pulang dengan wajah kosong, seperti dirinya yang kini menyatu di antara mereka, tak terlihat, tak diingat.
Malam turun perlahan.
Pria itu berjalan lebih jauh dari biasanya. Melewati jalan-jalan yang jarang ia lewati. Lampu jalan menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang di aspal. Perutnya lapar, tapi dia memilih mengabaikannya. Kebiasaan lama yang buruk, tak mengindahkan sinyal tubuh, kebiasaan yang belum sepenuhnya hilang ketika masalah datang.
Di salah satu persimpangan yang sepi, yang sudah dekat dari tempat tinggalnya. Pria itu melihat seorang pria tua sedang berdiri sendirian.
Ia tidak terlihat tersesat. Tidak pula tampak mabuk atau linglung. Ia hanya berdiri, rapi, dengan jaket sederhana yang mungkin terlalu tipis untuk malam seperti itu. Tangannya bertumpu pada tongkat, tapi punggungnya tegak.
Pria itu tetap berjalan, tidak berhenti. Dia tidak punya alasan untuk berhenti. Namun beberapa langkah setelah melewati pria tua itu, perasaan aneh muncul. Bukan firasat dramatis. Lebih seperti ganjalan kecil di dada, sesuatu yang dulu sering ia rasakan sebelum peluit dibunyikan, sebelum pertandingan dimulai.
Pria itu langsung menoleh kebelakang. Saat ia tau bahwa ada suara dua motor melaju pelan ke arah pria tua itu sambil membawa pedang yang seperti akan menebas pria tua itu. Motor yang terlalu pelan untuk orang yang sekedar lewat.
Dia menghela napas.
"Sialan," gumamnya, entah pada siapa.
Dia berbalik arah. Kejadiannya begitu cepat. Tubuhnya bergerak tanpa aba-aba langsung memukul ke arah area vital yang menyebabkan seorang preman langsung terkulai lemas. Pria itu tak menyangka dengan apa yang barusan terjadi, langkah, jarak dan waktu terasa familier. Dia tidak memukul secara membabi-buta, hanya seperlunya. Tak mengejar, tak menghajar. Para preman itu langsung kabur begitu saja sambil membawa teman mereka yang cedera.
Dia hanya memastikan satu hal bahwa pria tua itu tetap berdiri di tepi jalan. Pria tua itu tampak syok dan bingung. Kemudian ia menghampiri pria yang baru saja menolongnya.
Saat motor-motor itu pergi, pria itu merasakan rasa sakit yang datang menghampiri. Seperti gelombang yang tertunda. Tangannya sedikit bergetar, dia mencoba mengepalkannya, lalu melepasnya lagi. Kakinya bergetar hebat sambil memegangi perutnya yang sangat perih, panas dan terasa seperti dipelintir. Ia menahannya sambil menunduk, rasa panas menjalar hingga ke dada yang membuatnya sesak seketika.
Pria tua yang ada disampingnya hanya menatapnya agak panik dan penuh rasa bersalah, selain itu ada tatapan lain yang sulit dijelaskan. Tatapannya seperti seseorang yang sedang mencatat sesuatu.
"Kau baik-baik saja?" tanya pria tua.
Dia mengangguk. "Ya."
Pria tua itu berjalan pergi tanpa berkata-kata lagi.
Dia akhirnya memutuskan untuk meneruskan berjalan pulang walau terseok-seok. Menahan lemas tubuhnya dan sakit di perutnya yang belum terisi sejak semalam.
Di belakangnya, kota kembali seperti semula. Tapi dia tahu, meski belum bisa menjelaskannya ada hari-hari yang tidak membiarkanmu pergi begitu saja setelah kau berhenti terlalu lama di satu titik.
Malam itu hampir 30 menit ia berjalan terseok-seok untuk sampai kamar kosnya. Setelah sampai ke kamar kos yang sempit, dia langsung melahap makanan yang tersedia di gagang pintu entah siapa yang meletakkannya di sana. Dia tak peduli yang ia tahu adalah bahwa dia sangat kelaparan, saat akan membuang bungkus makanan ke tempat sampah ada obat penurun asam lambung. Tak ambil pusing dia juga langsung meminumnya setelah ia memastikan mencium aroma mint khas obat lambung. Setelahnya, ia merebahkan diri di kasur tanpa menyalakan lampu, dan menatap langit-langit kamarnya yang banyak retakan.
Besok, ia harus mencari pekerjaan baru.
__