

Kompor masih menyala saat piring dibanting. Bunyi nyaring itu membuat Wira spontan menoleh. Asap tipis dari tumisan menggantung dari udara, bercampur aroma gosong yang membuat dadanya sesak.
“Ini kamu yang masak?” tanya Pak Hono; pemilik warung terdengar keras tanpa meninggikan suara.
Laki-laki paruh baya ini berdiri di depan Wira dengan wajah merah menyala dan keringat meluncur di pelipisnya. Di tangannya ada piring yang isinya sudah setengah dimakan, terdapat bekas garpu menancap kasar.
Wira terlihat gugup. “Iya, Pak.”
“Apa menurut kamu ini layak disajikan?”
Wira terkejut, mengangga hingga lupa menutup mulutnya. Dia melihat ke arah wajan, mencoba mengingat di mana kesalahannya. Api terlalu besar, bumbu terlambat di masukkan, dan daging terlalu lama dimasak.
“Saya minta maaf, Pak.”
Pak Hono tertawa pendek. “Maaf? Pelanggan minta uangnya kembali. Katanya ini asin, keras, dan bau gosong. Kamu bisa mendengar sendiri teriakannya.”
Suara pelanggan perempuan itu masih terdengar hingga di balik pintu dapur. “Saya tidak mau bayar ini. Ini bukan makanan, ini sampah!”
Wira menunduk, tangannya membentuk kepalan. “Saya ganti, Pak.”
Pak Hono mendengus kesal. “Ganti pakai apa? Gaji kamu saja belum cukup untuk hidup.”
Wira mengangkat wajah, menatap lantai, tidak menatap Pak Hono.
“Saya sudah bilang berkali-kali, masak itu modalnya tidak hanya berani. Kamu tidak punya pengalaman. Saya sudah baik mau menerima kamu bekerja di sini.”
Wira merasakan panas di tubuh, tetapi dia menahan. “Saya belajar dari pengalaman, Pak.”
“Pengalaman?” tanya Pak Hono memotong. “Pengalaman kamu membuat pelanggan marah. Kalau seperti ini warung saya yang hancur.”
Beberapa teman yang berada di dapur berdiri sedikit menjauh. Ada yang pura-pura sibuk mencuci piring. Ada yang menunduk, menatap talenan. Di antara mereka, tidak ada yang berani mendekat.
“Pak, saya bisa memperbaiki dengan memasak ulang,” kata Wira lirih.
“Untuk apa?” tanya Pak Hono mengibaskan tangan. Semua orang sudah kapok. Kamu pikir semua orang mau menjadi kelinci percobaan.”
Wira mengangguk pelan. “Saya salah, Pak.”
“Bagus, kalau kamu menyadari salah. Saya juga capek sama orang yang tidak tahu batas kemampuannya.”
Wira mau mengatakan kalau dia sudah bekerja keras, datang paling pagi dan pulang paling malam, tetapi semua itu tidak penting sekarang.
“Kamu tahu kenapa saya tidak pernah menaikkan posisi kamu di sini. kamu terlalu nekat, memasak pakai perasaan bukan pakai teknik. Dapur bukan tempat untuk bermimpi.”
Wira mengatupkan bibir. “Saya hanya mau menjadi lebih baik, Pak.”
“Lebih baik itu ada dasarnya, bukan hanya niat. Kamu bukan chef, dan hanya tukang masak yang kebetulan tahan capek.”
Ucapannya terlihat tumpul, tidak langsung melukai, tetapi menggores perlahan.
“Kalau tidak karena kurang pegawai. Sudah saya suruh kamu angkat kaki dari dulu.”
Wira menarik napas panjang. “Kalau Bapak mau saya pergi sekarang, enggak masalah.”
Pak Hono menatap Wira dari ujung kepala hingga ujung kaki, mengenakan sepatu yang kusam.
“Pergi atau tidak, tergantung kamu, tetapi satu kesalahan lagi. Saya tidak mau dengar alasan.”
“Iya, Pak.”
“Jangan lupa matikan kompor.” Dia spontan mengambil lap untuk membersihkan meja dan talenan.
Anton mendekat perlahan. “Sabar, Wir.”
Wira tidak menoleh. “Iya.”
Anton menepuk bahu Wira sebelum kembali ke tempatnya. Wira melangkah keluar dari dapur, sedangkan Pak Hono meminta maaf pada pelanggan dengan wajah dibuat seramah mungkin.
Udara sore menyambut Wira yang berhenti sebentar di ambang pintu, menatap papan nama warung yang catnya mulai mengelupas. “Chef,” gumam Wira pelan. Hampir seperti ejekan pada dirinya sendiri. Dia memasukkan tangan ke saku, berjalan tanpa menoleh. Wira merasa kalau mimpinya, mungkin memang terlalu tinggi.
Ponselnya berdering. “Iya, Bude. Ada apa?”
“Kamu masih membutuhkan pekerjaan tambahan tidak? Dapur rumah lama mau dibersihkan, tetapi bayarnya semampu Bude.”
Wira menghela napas. “Iya, Bude. Aku ke sana sekarang.”
“Iya, sudah. Kamu alamat rumah lama. Kuncinya ada di bawah pot bunga. Hati-hati rumahnya sudah lama kosong.”
“Iya, Bude. Terima kasih.”
Percakapan keduanya berakhir, Wira kembali hanya bisa menghela napas. “Seadanya juga enggak papa,” gumamnya.
Perjalanan menuju rumah Bude Ratna memakan waktu hampir satu jam dengan naik angkot. Sepanjang perjalanan, roda pikirannya memproses suara pemilik warung, suara pelanggan yang marah, dan teman-teman di dapur yang mencoba menghindar.
“Kamu bukan chef,” gumam Wira lagi.
Rumah itu berada di ujung gang kecil. Catnya kusan, halamannya dipenuhi daun kering. Wira mengambil kunci di bawah pot bunga, lalu membuka pintu dengan sedikit usaha. Pintu terbuka dengan suara berat. Bau apek langsung menyergap.
“Bude,” panggil Wira walaupun tahu kalau rumah itu kosong.
Dia menyalakan lampu. Cahaya lampu memperlihatkan perabot lama yang ditutupi kain. Wira berjalan ke arah dapur. lantainya sudah pasti berdebu, rak piring kosong, dan jendelanya tertutup rapat. Lumayan bersih dan rapi walaupun ada sedikit debu.
Wira membuka jendela membiarkan udara sore masuk. Saat menyapu lantai, roda pikirannya memaksa memikirkan ucapan Pak Hono. Memasak pakai perasaan bukan teknik. Wira mendadak menghentikan sapu. “Lalu, salahnya di mana?” tanya Wira bingung.
Dia melanjutkan membersihkan, mengelap meja, membuka laci yang macet, dan memindahkan barang-barang lama. Di balik lemari kayu tua dekat kompor, dia menemukan celah sempit.
“Ini apa?” tanya Wira jongkok mencoba untuk meraba ke dalam, menyentuh sesuatu yang dingin. Dia menariknya perlahan, ternyata pisau dapur, mata pisaunya kusam, tetapi utuh. Lalu gagang kayunya gelap dan berat saat memegangnya. Bukan pisau mahal, justru kelihatan tua dan ketinggalan zaman.
“Hanya pisau?” tanya Wira mengernyit. Dia hampir meletakkan kembali, tetapi mendadak tangannya berhenti. Ada rasa yang aneh, tetapi nyaman. Pisau itu masih di tangannya saar suara langkah kaki terdengar.
“Siapa itu?” tanya Wira menoleh cepat, tetapi tidak ada siapa pun, hanya bayangan dia sendiri terlihat di dinding yang kusam. Dia menelan ludah kembali menatap pisau di tangannya.
“Kenapa rasanya seperti ini?” tanya Wira pelan. Dia mengangkat pisau itu. Mata pisaunya memantulkan cahaya lampu dan untuk sesaat merasa ditatap balik.
“Kalau ini hanya pisau biasa. Kenapa aku enggak bisa melepaskan?” tanya Wira tertawa pendek. “Jangan-jangan selama ini yanga salah, bukan masakan aku.” Di menarik napas dalam, seperti takut ada yang mendengar.
“Kalau aku pakai pisau ini untuk masak lagi. Apa yang sebenarnya akan berubah dalam hidup aku?”