Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dulu Dibuang Istri, Kini Idaman Para Wanita

Dulu Dibuang Istri, Kini Idaman Para Wanita

Dewi_Fortuna | Bersambung
Jumlah kata
57.8K
Popular
12.4K
Subscribe
1.3K
Novel / Dulu Dibuang Istri, Kini Idaman Para Wanita
Dulu Dibuang Istri, Kini Idaman Para Wanita

Dulu Dibuang Istri, Kini Idaman Para Wanita

Dewi_Fortuna| Bersambung
Jumlah Kata
57.8K
Popular
12.4K
Subscribe
1.3K
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalTeknologiSistemHarem
Januar diselingkuhi istrinya dan diusir dari rumah mertuanya. Selain tak punya uang, kini dia tak punya tempat tinggal. Dan adiknya masih dirawat di rumah sakit dan harus dioperasi. Putus asa, Januar memutuskan untuk bunuh diri. Tapi, bukannya mati, dia malah dianugerahi sebuah sistem misterius. Januar pun bangkit, menjadi kuat dan sangat kaya. Dan wanita-wanita cantik berdatangan ke dalam hidupnya. Kini dia adalah idaman para wanita.
Bab 1

"Berhenti!"

Suara Nani menggema di ruang tamu, menghentikan langkah Januar seketika. Wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu berdiri dari duduknya.

"Mulai detik ini, kau tidak berhak menginjakkan kaki di rumah keluarga Jayadi lagi!"

"Apa maksud Ibu?"

"Kontraknya sudah selesai, Januar." Suara Nani terdengar dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Mulai hari ini kau bukan siapa-siapa lagi di rumah ini."

Bukan siapa-siapa lagi! Kalimat itu menghantam dadanya. Setelah dua tahun menjadi suami yang patuh, mengurus segala keperluan rumah.

Dua tahun ia menahan hinaan, tatapan merendahkan, dan bisik-bisik yang selalu terdengar meski mereka merasa berbisik pelan. Awalnya memang ia menyetujui pernikahan itu demi pengobatan adiknya.

Tapi dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, dua tahun tinggal satu atap, satu kamar dengan Amel. Tidak mungkin tidak ada rasa yang tumbuh dalam hatinya. Meski ia dan Amel tak pernah tidur satu ranjang. Meski istrinya itu tak pernah mengijinkannya untuk menyentuhnya selayaknya suami-istri.

Tapi bohong jika Januar bilang tak mencintai Amel. Bahkan ia juga menyayangi anak yang Amel lahirkan meski itu bukan darah dagingnya. Sayangnya bayi itu hanya bertahan satu hari karena lahir prematur. Jantungnya lemah dan akhirnya meninggal.

Di keluarga Jayadi, justru Januar yang merasa paling kehilangan bayi itu. Ia juga yang menemani Amel melahirkan setelah terjatuh di kamar mandi.

Dan ia berharap atas dasar kenangan-kenangan itu, Amel akan mempertimbangkan pernikahan kontrak mereka menjadi pernikahan sungguhan.

Januar pun menoleh ke arah Amel. Berharap wanita itu akan membelanya, memberi kesempatan bagi pernikahan mereka sekali lagi.

"Mel …," suaranya serak. "Kita bisa lanjutkan pernikahan ini kan?"

"Cukup," Amel memotong cepat. Wajahnya dingin, bahkan enggan menatapnya. "Aku juga ingin semua ini selesai. Sudah cukup, kau selalu membuatku malu dengan pekerjaanmu yang tidak jelas itu, Januar!"

Kata-kata itu seperti palu yang menghantam dadanya.

"Aku sedang mencoba mencari peluang baru!"

"Peluang? Jadi kurir lagi begitu, atau driver ojek online?"

"Kau tahu ijazahku lenyap saat kebakaran, aku tidak bisa melamar kerja ke perusahaan."

Ya, sebenarnya Januar juga lulusan S1. Ia baru lulus ketika rumahnya kebakaran. Kedua orang tuanya meninggal, adiknya terluka parah hingga harus dioperasi dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Saat insiden itu terjadi Januar sedang pergi bersama pacarnya. Tapi begitu tahu akibat kebakaran itu, perusahaan keluarga Januar ikut bangkrut dan sang pacar malah meninggalkannya.

Januar pernah berniat meminjam uang untuk biaya operasi adiknya, tapi pacarnya tak mau meminjamkannya. Malah menghinanya lalu mengusirnya.

Januar putus asa, ia sudah kehilangan orang tuanya, ia tak mau kehilangan adiknya juga. Lalu ia ingat jika orangtuanya dekat dengan keluarga Jayadi. Bahkan mereka pernah terlibat kerja sama. Jadi ia pun datang ke keluarga Jayadi.

Keluarga Jayadi yang saat itu sedang kebingungan karena Amel hamil dan Arthur malah pergi ke luar negeri, seperti mendapatkan solusi saat Januar datang untuk meminjam uang.

Bambang bersedia memberinya uang 200 juta asal Januar menikahi Amel untuk menutup aib.

Januar tak berpikir dua kali, yang penting adiknya selamat. Lagipula itu hanya pernikahan kontrak.

Tapi rupanya, pelan-pelan cinta tumbuh di hatinya. Meski Amel tak pernah menganggapnya sebagai suami.

Ia menatap Amel dengan sorot penuh permohonan.

"Mel, apa tidak ada kesempatan lagi untuk kita?" tanya Januar pelan, seakan masih berharap ada keajaiban.

Amel tertawa kecil. Sinis.

"Januar, kau tahu sejak awal kau itu cuma suami pengganti?" katanya. "Jadi kau harus siap jika sewaktu-waktu pernikahan kita harus berakhir."

Januar menggeleng. "Tapi aku mencintaimu, Mel."

"Tapi aku tidak mencintaimu, dan ... aku sudah bersama Arthur lagi," ujar Amel datar.

Nama itu membuat dunia Januar seakan berhenti berputar.

"Arthur?" ulangnya.

"Mantan pacarku. Ayah dari anak yang pernah aku lahirkan." Amel mengangkat bahu.

"Kau menjalin hubungan dengan Arthur lagi? Aku masih suamimu, Mel!" protes Januar dengan getir.

"Suami di atas kertas, tidak lebih."

Januar juga beberapa kali bertemu dengan Arthur, ia pikir Amel masih akan menjaga batasan.

Januar menatapnya tak percaya. "Kau berbohong. Kau hanya ingin mengusirku kan?"

"Aku berkencan dengannya dan aku juga tidur dengannya," Amel berkata

tanpa ragu. "Berkali-kali."

Dada Januar terasa diremas. Napasnya tercekat. Ia pun menggeleng.

"Benar," Nani ikut bicara. "Lagipula sejak awal memang harusnya Arthur yang menjadi suami Amel."

Januar menoleh ke wanita itu. "Bu …?"

Arthur Wiratama.

Nama itu bukan sembarang nama. Keluarga kaya. Koneksi luas. Status sosial tinggi.

"Kami ingin Amel menikah dengan Arthur," lanjut Nani. "Kau cuma beban. Cuma benalu."

Bambang, akhirnya bicara. "Januar, memang sudah seharusnya pernikahan kalian berakhir. Ini sudah 2 tahun. Kau juga sudah menerima uang 200 juta itu. Kita sudah tidak berhutang apa pun!"

Januar tertawa pahit. "Jadi dua tahun ini—"

"Kau sudah dibayar," potong Nani, "Dua ratus juta. Lebih dari cukup."

Dua ratus juta itu ....

Sudah berubah jadi obat.

Operasi.

Perawatan.

Tidak tersisa apa-apa.

"Tanda tangani surat cerai ini dan pergilah," ujar Amel dingin saat menyodorkan kertas ke arahnya.

Januar menatap kertas di tangan istrinya. Baru saja ia hendak meminjam uang pada Amel untuk biaya operasi lanjutan sang adik. Akibat kebakaran tertimpa reruntuhan, adiknya terluka parah dan lumpuh.

Dengan tangan gemetar ia pun menerima kertas itu lalu menandatanganinya. Amel tersenyum puas lalu merebutnya tak sabar.

"Sekarang pergi dan jangan bawa apa pun karena kau datang tanpa apa pun!" usir Nani.

Januar melangkah keluar rumah itu tanpa menoleh lagi. Meski hatinya sakit, ia sudah berusaha menjadi menantu yang baik. Ia kerjakan pekerjaan rumah, memastikan semua makanan aman dan sehat agar semua orang di rumah itu sehat. Meski dirinya terkadang hanya kebagian makanan sisa.

Awalnya ia lakukan demi kewajiban, apalagi karena ia tak bekerja. Tapi lama-lama ia lakukan karena ia mencintai istrinya. Ia berharap sang istri akan luluh dan membalas cintanya.

Tapi rupanya hanya luka yang ia dapat. Yang lebih menyakitkan, istrinya malah selingkuh dengan mantan pacar yang dulu meninggalkanya saat hamil.

Malam menelannya. Ia berjalan lunglai tanpa apa pun.

Ia duduk di halte bus, menatap jalanan kosong. Satu jam berlalu tanpa ia sadari. Ponselnya bergetar.

Nomor rumah sakit.

"Pak Januar," suara di seberang terdengar profesional. "Kami perlu memberi tahu bahwa adik Anda harus menjalani operasi lanjutan. Biayanya sekitar tiga puluh juta. Paling lambat minggu depan."

Ponsel itu terlepas dari genggamannya.

Tiga puluh juta.

Ia tersenyum kecil.

Tawa hampa.

Tak punya rumah.

Tak punya pekerjaan.

Tak punya istri.

Tak punya uang.

Dan sekarang ... tak punya pilihan.

Januar berdiri.

Lampu kendaraan menyilaukan matanya. Klakson terdengar bersahut-sahutan. Ia melangkah ke tengah jalan.

"Kalau aku mati," gumamnya, "setidaknya semuanya selesai. Adik, maafkan kakakmu yang tidak berguna ini. Ayo, kita mati sama-sama saja!"

Ia berlari.

Sebuah truk melaju kencang.

BRAK!

Tubuhnya terlempar.

Gelap.

Namun di tengah kegelapan itu—

[SISTEM TERDETEKSI]

[INISIALISASI SISTEM AKTIF]

[SUBJEK: JANUAR]

[STATUS: SEHARUSNYA MATI]

[PROTOKOL DARURAT DIJALANKAN]

Lanjut membaca
Lanjut membaca