Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Samson Incaran Para Sultan Cantik

Samson Incaran Para Sultan Cantik

Kinan Larasati | Bersambung
Jumlah kata
68.3K
Popular
529
Subscribe
145
Novel / Samson Incaran Para Sultan Cantik
Samson Incaran Para Sultan Cantik

Samson Incaran Para Sultan Cantik

Kinan Larasati| Bersambung
Jumlah Kata
68.3K
Popular
529
Subscribe
145
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifePria MiskinKekuatan SuperHarem
"Mak... Samson janji. Samson bakalan tobat dan gak akan jadi preman lagi. Sekarang Samson akan cari kerjaan yang bener dan halal. Mak jangan gentayangan Samson, ya?” Samson duduk bersimpuh dengan air mata yang jatuh, tapi wajahnya tetap terlihat seperti orang yang ingin mengajak duel malaikat maut. Bejo menyodorkan payung. "Bos, sudah mau magrib. Kita harus mintain jatah ke pemilik cafe,” ucapnya. "Heh, Bejo! Gue baru juga janji sama Mak kalau gue sudah tobat. Dasar anak setan! Lu mau bikin Mak gue bangkit dari kubur gara-gara omongan lu itu, hah?!" Samson berdiri, badannya yang tinggi, hampir dua meter, membuat Bejo refleks mundur tiga langkah. "Tapi Bos, perut kita kan bukan penganut aliran tobat," cicit Bejo sambil gemetaran. Samson mengusap wajahnya yang garang. "Mulai detik ini, panggil gue Samson Sang Pelindung. Gue mau cari kerjaan halal. Apa aja! Asal bukan malakin orang lagi." *** Seorang wanita kaya memandangi Samson dari atas hingga ke bawah. "Badan kamu... besar juga. Kebetulan saya lagi butuh anjing penjaga baru karena yang lama baru saja saya pecat gara-gara takut sama kecoa." Samson sudah siap meledak. "Heh, Mbak! Lu kira gue—" "Gaji 50 juta sebulan. Makan ditanggung, dapet seragam jas Italia. Mau?" potong wanita itu sambil menyodorkan kartu nama berlapis emas. Samson terdiam. Lalu berbisik pelan, "Mak, ini kerjaan halal kan, Mak? Cuma jadi anjing penjaga Sultan."
Bab 1

"Mak... Samson janji. Samson bakalan tobat dan gak akan jadi preman lagi. Sekarang Samson akan cari kerjaan yang bener dan halal. Mak jangan gentayangin Samson, ya?" bisik Samson. Suaranya berat dan serak, tapi ada nada ketakutan yang nyata di sana.

Bejo, yang berdiri di belakangnya sambil memegang payung yang tampak kekecilan bagi tubuh Samson, menyodorkan payung itu lebih dekat. "Bos, sudah mau magrib. Kita harus mintain jatah ke pemilik cafe sekarang, mereka belum bayar uang keamanan bulan ini," ucapnya tanpa dosa.

Samson berbalik. Wajahnya yang keras dan tatapan matanya yang tajam membuat Bejo nyaris menjatuhkan payung.

"Heh, Bejo! Gue baru juga janji sama Mak kalau gue udah tobat. Dasar anak setan! Lu mau bikin Mak gue bangkit dari kubur gara-gara ucapan lu itu, hah?!" bentak Samson.

"Tapi Bos, kalau kita nggak malak, kita makan apa? Gopar tadi pagi aja udah abisin satu bakul nasi cadangan kita," sahut Bejo sambil menunjuk Gopar yang sedang asyik mengunyah rempeyek di bawah pohon kamboja.

"Gue bakal cari kerja. Besok kalian semua ikut gue. Kita cari kerjaan halal!" tegas Samson sambil melangkah pergi, meninggalkan makam dengan tekad bulat.

***

Keesokan harinya, Samson, Bejo, Gopar, dan Ucok berjalan menyusuri jalanan protokol. Pemandangan itu cukup mengerikan. Samson di depan dengan wajah siap membunuh, diikuti Bejo yang celingak-celinguk, Gopar yang membawa bungkusan gorengan, dan Ucok yang memakai syal sutra warna pink cerah di lehernya.

“Kita ke mana sekarang, Bos?” tanya Ucok.

“Kita cari kerja ke rumah makan dulu deh, tuh di depan ada rumah makan padang,” ujar Samson berjalan mendekati rumah makan yang sangat ramai itu.

Samson menarik napas dalam, mencoba mempraktikkan senyum ramah yang malah terlihat seperti seringai untuk membunuh orang.

"Permisi, Bos.” Suara Samson yang ngebass menggelegar di seluruh ruangan. "Saya mau cari kerja-"

Seketika, suara denting sendok dan obrolan pelanggan berhenti. Pemilik warung yang sedang memegang centong sayur langsung gemetaran.

Melihat postur Samson yang raksasa dengan bekas luka di alis, ditambah Bejo yang celingak-celinguk, kebiasaan memantau situasi saat mencuri, si pemilik warung langsung pucat pasi.

"Ampun, Bang! Ampun!" Pemilik warung itu buru-buru merogoh laci kasirnya. "Ini, Bang, ada dua ratus ribu. Tolong jangan hancurkan meja saya. Bulan depan saya bayar lebih awal, janji!"

Samson melongo melihat uang yang disodorkan padanya. "Bukan, Bos. Maksud saya, saya mau jadi tukang cuci piring atau potong ayam—"

"Jangan, Bang! Nanti ayamnya ketakutan sebelum dipotong!" teriak si pemilik sambil memohon meminta mereka keluar. "Sudah, ambil uangnya dan tolong jangan datang lagi! Pelanggan saya pada lari!"

Di luar warung nasi padang itu, Samson dan ketiga krucil termenung menatap uang dua lembar di tangannya.

“Ini gimana ceritanya, padahal kita beneran mau kerja,” keluh Samson.

“Coba ke tempat lain, Bos. Jangan menyerah dong,” ucap Bejo menyemangati.

Samson menurut dan mereka pun pergi ke tempat lain.

Kini, mereka beralih ke sebuah Toko Material. Samson berpikir kekuatannya akan berguna di sini.

"Selamat siang, Pak. Saya mau melamar kerja jadi kuli panggul," ucap Samson sesopan mungkin kepada bapak tua pemilik toko.

Si Bapak tua itu melihat Samson, lalu melihat Ucok yang sedang mengelap debu di etalase dengan syal pink-nya, dan Gopar yang malah asyik mencicipi kerupuk di kaleng meja kasir.

"K-kuli?" tanya si Bapak gagap. "Nggak, saya gak butuh kuli bangunan. Saya ini sudah tua, jadi jangan palak saya.”

“Pak, kami bukan mau malak, kamu cuma mau lamar kerja,” ucap Samson berusaha menjelaskan kesalahpahaman itu.

“Tidak, saya tidak butuh kuli panggul. Tolong pergi dari sini, jangan obrak-abrik toko saya,” ucapnya sambil menyodorkan uang lima puluh ribu. “Saya cuma punya uang segitu, tolong pergi.”

“Pak, kami tidak minta uang. Bapak ambil saja uangnya, kami disini mau kerja-“

“Nggak ada. Tolong pergi, ambil saja uangnya dan pergi dari sini, atau saya lapor polisi!” ancam pria tua itu malah mengambil sapu lantai dan mengarahkannya ke arah mereka berempat.

“Pak, kami bukan gak berani, tapi kami disini buat kerja. Bos kami ini sangat kuat, lima sak semen, bisa langsung dia angkat,” ujar Bejo menepuk lengan kekar Samson.

"Lima sak semen?!" Bapak tua itu malah makin histeris. Bayangannya bukan soal produktivitas, tapi soal bagaimana kalau Samson marah dan melempar semen itu ke arah kepalanya.

Tiba-tiba saja Bapak itu berteriak kencang. "Tolong! Ada preman mau ngerubuhin toko saya pakai semen!"

"Aduh, nggak gitu konsepnya, Pak!" Samson frustrasi.

Namun, melihat si Bapak sudah mau meniup peluit darurat, Samson terpaksa mundur. "Ayo cabut, cabut! Sebelum kita beneran digebukin warga karena disangka mau bikin kudeta toko bangunan!"

Mereka akhirnya berdiri di pinggir jalan dengan total uang sumbangan paksa sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Samson menatap langit dengan nanar. Niat hati ingin jadi pahlawan ekonomi keluarga, malah jadi beban psikologis warga kota.

"Bos," panggil Ucok sambil mengelus syal pinknya yang sedikit berdebu. "Gue rasa masalahnya bukan di niat kita, tapi di aura Bos yang terlalu... ya gitu deh. Kayak mau makan orang hidup-hidup."

"Masa sih? Perasaan gue udah selembut sutra," balas Samson sambil mengusap mukanya.

"Lembut apaan? Bos napas aja kedengarannya kayak suara mesin traktor rusak," timpal Gopar yang sekarang sudah mulai membuka bungkusan gorengan kedua.

“Jadi sekarang gimana? Jangan makan terus, bantu gue mikir!” keluh Samson menghela napasnya.

“Oh iya Bos, katanya ada salon baru buka di ujung jalan sana. Kita coba ngelamar di sana aja, gimana?” usul Bejo.

“Tapi gue gak bisa cukur rambut,” keluh samson.

“Seengaknya bisa jadi tukang cuci rambut dan catok, kan?” ucap Ucok.

“Nah bener tuh. Jadi bagian bersih-bersih juga gak masalah,” timpal Bejo.

“Okelah, kita ke sana,” ucap Samson.

"Awas ya, kalau diusir lagi!" ancam Samson sambil melangkah mantap menuju salon yang dimaksud.

Mereka sampai di depan sebuah bangunan ruko bergaya minimalis modern. Wangi aromaterapi dan parfum mahal langsung menusuk hidung mereka.

Samson mengangguk yakin, ia melangkah masuk diikuti ketiga krucilnya yang mengekor seperti anak ayam. Begitu pintu kaca terbuka, denting bel berbunyi. Samson mencoba memasang wajah paling lembut versinya.

"S-selamat siang..." suara Samson diusahakan pelan, tapi tetap saja terdengar seperti guntur yang tertahan di tenggorokan.

Tiga orang hairstylist yang sedang asyik memegang hairdryer langsung mematung. Seorang ibu-ibu yang sedang dikeramas bahkan sampai melonjak kaget hingga busa sampo masuk ke matanya.

"M-mas mau ngapain?" tanya salah satu karyawan dengan tangan gemetaran memegang gunting sasak. "Kalau mau minta uang keamanan, kita baru buka kemarin, Bang!"

"Bukan! Kami mau lamar kerja!" seru Bejo membantu. "Bos saya ini mau jadi bagian bersih-bersih atau cuci rambut juga boleh!"

Samson mendekat selangkah, niatnya ingin menunjukkan betapa kuat tangannya jika harus memeras handuk. Namun, karena badannya terlalu besar dan ruang salon itu sempit, pundak Samson menyenggol sebuah rak pajangan parfum mahal.

PRAAAANG!

Botol-botol kaca pecah berantakan di lantai. Aroma wangi yang sangat menyengat langsung memenuhi ruangan.

"ADUHHH! PARFUM JUALAN SAYA!" teriak si pemilik salon yang baru keluar dari ruangan belakang.

Melihat botol-botol mahalnya pecah dan ada sosok raksasa bermuka garang berdiri di sana, dia langsung histeris. "PENCURIIII! TOLOOOONG! ADA PENCURI MAU MERAMPOK SALON SAYA!"

"Bukan, Mbak! Ini kecelakaan!" Samson panik.

Ia mencoba mengambil pecahan kaca itu dengan tangannya, tapi malah terlihat seperti sedang memungut senjata.

"TOLOOOONG! MEREKA BAWA SENJATA TAJAM! PENCURIIII!" teriak karyawan lainnya ikut histeris sambil melemparkan botol hairspray ke arah Samson.

Mendengar teriakan pencuri yang makin kencang, warga di sekitar ruko mulai berkerumun dan membawa balok kayu.

"Bos! Gak aman, Bos! Kaburrr!" teriak Bejo menarik kaos Samson.

"Woi, gue bukan pencuri! Gue cuma mau kerja!" Samson mencoba membela diri, tapi melihat massa yang mulai beringas, dia tidak punya pilihan lain. "Lariii!"

Mereka berempat tunggang-langgang menelusuri trotoar. Samson memimpin di depan dengan wajah frustrasi, disusul Bejo yang napasnya sudah senin-kamis, Gopar yang masih sempat mengunyah sisa tahu isi di mulutnya, dan Ucok yang sibuk memegang syal pinknya agar tidak terbang tertiup angin.

"Sial! Sial banget!" maki Samson sambil terus berlari. "Niat tobat kok gini amat cobaannya, Mak!"

Setelah merasa cukup jauh dan aman, mereka berhenti di sebuah tikungan jalan protokol yang agak sepi untuk mengatur napas. Samson bersandar di tiang listrik, wajahnya merah padam karena malu dan marah.

"Hah... hah... Bos, mending kita balik jadi preman aja deh," keluh Bejo sambil memegangi lututnya. "Lamar kerja malah disangka mau ngerampok."

Samson terdiam, menatap telapak tangannya yang besar. "Gue cuma mau berubah, Jo. Masa dunia gak kasih gue kesempatan sekali aja?"

“Susah banget mau jadi orang bener. Apa karena kita dilahirkan buat jadi preman sejati?” komentar Gopar.

“Mana ada begitu,” keluh Ucok.

“Sebaiknya sekarang kita balik. Uang yang tadi, beliin makanan saja buat hari ini,” perintah Samson.

“Tapi, uang ini masuknya halal apa haram, ya, Bos? Tapi kita gak malak, loh,” ucap Bejo dengan polos.

“Ya, halal,” jawab Gopar. “Kan dikasih,” jawabnya santai.

Samson hanya bisa menghela napas panjang, tidak punya energi untuk mendebat teori halal-haram versi Gopar yang selalu menguntungkan perut.

“Anggap saja sedekah orang. Sudah, beliin makan dan balik,” ujar Samson beranjak lebih dulu.

"Okelah kalau begitu!" jawab Bejo penuh semangat.

***

Lanjut membaca
Lanjut membaca