Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Hutang Menyelamatkan Ku

Hutang Menyelamatkan Ku

Bp. Juenk | Bersambung
Jumlah kata
91.1K
Popular
392
Subscribe
162
Novel / Hutang Menyelamatkan Ku
Hutang Menyelamatkan Ku

Hutang Menyelamatkan Ku

Bp. Juenk| Bersambung
Jumlah Kata
91.1K
Popular
392
Subscribe
162
Sinopsis
18+PerkotaanAksiKonglomeratMafiaSistem
Harap Bijak Bacaan 21+ Satrio dalam tekanan tagihan hutang dari Debt Colector yang semakin gencar. Mendapatkan sebuah sistem yang menyelamatkan hidupnya dari kematian. Dan merubah jalan takdir hidupnya dalam lingkaran belenggu Wanita dan hutang-hutang baru.
1. Teror Debt Colector

Bau disinfektan menyengat bercampur sisa parfum murah dan asap rokok basi. Itulah aroma yang menyambut Satrio setiap kali mendorong pintu belakang klub "Luminous" di bilangan Mangga Besar.

Dunianya adalah dunia setelah pesta usai; dunia yang sunyi, kotor, dan penuh sisa-sisa kemeriahan yang tak ia rasakan.

Seragamnya, kemeja polo hitam dengan logo klub yang sudah memudar di dada, menggantung longgar di tubuhnya yang kurus.

Tingginya 178 cm seharusnya memberi kesan gagah, tapi tulang-tulangnya seolah menonjol, membayangi wajahnya yang sebenarnya tampan.

Alis tebal, hidung mancung, dan garis rahang yang tajam, semuanya terkubur di balik lingkaran hitam di bawah mata dan aura lelah yang selalu menyertainya. Di usianya yang ke-29, ia merasa lebih renta dari ibu kosnya.

"Oit, Si Tampan! Toilet pria dekat DJ booth muntahan melulu! Cepetan dibersihin, nanti ada tamu VIP mau pake!" teriak Andi, bos shift cleaning service, dari ujung koridor. Lelaki gemuk dengan kumis tipis itu menyilangkan tangan di dadanya yang bidang.

"Oke, Bang. Langsung," jawab Satrio dengan suara datar. Tangannya sudah menggenggam sikat dan ember.

Pekerjaan malam itu dimulai seperti biasa: mengumpulkan gelas-gelas kosong yang berserakan, menyapu remahan kacang dan kulit snack, serta mengepel lantai licin bekas tumpahan minuman.

Tangannya cekatan, gerakannya otomatis. Di tengah deru musik yang mulai dikurangi volume-nya, pikirannya melayang ke angka-angka yang lebih menakutkan daripada bayangan hantu sekalipun: 20 juta. Lima aplikasi pinjaman online. Tiga bulan tunggakan.

Briiing! Briiing!

Suara ponsel dari saku celana jeansnya yang sudah tipis membuat jantungnya langsung berdegup kencang. Bukan notifikasi biasa. Itu nada dering khusus yang ia setel untuk nomor-nomor tak dikenal. Debt collector.

Ia berusaha mengabaikannya, fokus menggosok kerak bir yang mengering di meja. Tapi ponsel itu tak berhenti. Deringnya seperti sengaja menggema di ruangan yang mulai sepi.

Briiing! Briiing! Tring! Tring!

"Sat! Angkat HP lo atau dimatiin, bising!" teriak Andi lagi, kali ini wajahnya sudah cemberut.

"Lagi kerja atau lagi onlinean?"

"Maaf, Bang. Salah sambung kayanya," gumam Satrio, matanya menatap lantai.

Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan ponsel murahnya. Layar penuh dengan notifikasi.

"BPK. SATRIO. TUNGGAKAN ANDA DI FINCEPAT TELAH MASUK TAHAP KOLEKTOR LAPANGAN. SEGERA HUBUNGI KAMI."

"TAGIHAN JATUH TEMPO. AKAN ADA PETUGAS KAMI DATANG UNTIK VERIFIKASI DATA & PENAGIHAN LANGSUNG."

"PAK SATRIO. KAMI DARI KANTOR. INI PEMBERITAHUAN TERAKHIR."

Darah di kepalanya mendidih. Ia menekan tombol power hingga layar gelap. Sunyi untuk sesaat, tapi beban di dadanya makin berat, terasa seperti ditimpa beton.

"Ngutang ya, Sat?" tiba-tiba suara lebih lembut terdengar di sampingnya. Itu Mona, waitress senior, membawa nampan berisi gelas kotor. Wajahnya biasa saja, tapi matanya tajam dan penuh perhitungan.

"Nggak... Nggak juga, Mbak," sangkal Satrio cepat, wajahnya memerah.

Mona mendekat, berbisik. "Hati-hati sama yang pinjol-pinjol itu. Bapakku dulu sampai lari ninggalin rumah." Dia meletakkan nampannya.

"Nih, lo kelihatan laper. Makan dulu." Dari saku apronnya, ia mengeluarkan sebungkus roti isi cokelat yang masih terbungkus rapi.

Satrio tercekat. "Mbak Mona..."

"Ah, sudahlah. Makan aja. Lo kan harus kuat buat beresin 'karunia' dari si VIP tadi," ujar Mona sambil melirik ke arah toilet, lalu berbalik pergi.

Rasa haru dan malu membuncah di dada Satrio. Di tengah hinaan dan himpitan, masih ada kebaikan kecil yang tak terduga.

Gaji bulan ini, yang baru akan cair seminggu lagi, sudah punya peruntukan yang jelas: bayar kos Bu Ani yang telat dua bulan (1,2 juta), beli kuota buat cari-cari lowongan kerja sampingan (100 ribu), kirim uang ke ibu meski pasti akan ditolak (500 ribu), dan sisa untuk makan seadanya sampai gajian berikutnya.

Nasi bungkus 15 ribu sehari adalah kemewahan. Indomie adalah sahabat setia. Uang 20 juta? Itu jumlah yang bahkan tidak bisa ia bayangkan lagi, bagai gunung yang mustahil ia daki.

"Oi, tampan! Bantuin angkat tong bir dong ke gudang!" teriak seorang bouncer bernama Juki, lelaki berotot dengan tato naga di lengan.

"Cuma lo yang kurus-kurus gitu, lumayan buat ngecilin otot gua." Beberapa teman Juki di sebelahnya terkekeh.

Satrio hanya mengangguk. Ia sudah terbiasa menjadi bahan candaan. "Tampan tapi miskin," begitu mereka sering menyindir, membandingkannya dengan para host klub yang selalu necis, wangi, dan dikerumuni wanita.

Ia membantu Juki mengangkat tong bir kosong yang berat. Otot lengannya yang kurus menegang, uratnya nyaris menonjol. Juki tertawa melihatnya.

"Gitu aja udah ngos-ngosan? Makanya makan yang bener, jangan cuma mikirin utang!"

Kata "utang" itu seperti pisau. Satrio memicingkan mata, menahan sakit di lengannya dan lebih sakit di hatinya.

Kerja terus berlanjut hingga subuh. Saat klub sepi kembali dan staf lain mulai pulang, Satrio masih harus menyelesaikan bagian tersulit: toilet VIP. Di sanalah, di balik pintu marmer yang kontras dengan isinya, ia membungkuk membersihkan sisa muntah dan kehancuran malam seseorang. Bau asam menusuk hidungnya. Air matanya tak lagi mau keluar.

Yang ada hanya kekosongan.

Pukul 04.30, ia keluar dari Luminous. Jakarta pagi-pagi buta berwarna biru kelam dan dingin. Ia berjalan kaki menuju kosannya di sebuah gang sempit, dua kilometer dari klub.

Kantongnya hampir kosong, sama seperti perutnya, meski roti dari Mona tadi sudah ia habiskan dengan rasa syukur yang pahit.

Saat ia memasuki gang yang gelap karena lampu jalanannya mati, hawa lembab dan bau sampah menyergap. Langkahnya lelah. Dalam kegelapan itu, pikirannya kembali pada notifikasi tadi. Kolektor lapangan. Verifikasi data. Jantungnya berdebar tak karuan.

Lalu, Briiing! Briiing!

Ponselnya hidup kembali. Layar menyala di saku, menerangi kain jeans yang tipis. Lagi-lagi nomor tidak dikenal. Dengan angka yang berbeda, tapi ancamannya sama.

Ia berhenti. Tubuhnya lelah, jiwanya lunglai. Ia tidak mengangkat. Hanya berdiri di tengah kegelapan gang, menatap layar ponsel yang terus berdering, menerangi wajahnya yang pucat dan berkeringat dingin.

Ia membayangkan wajah debt collector: kasar, tak berperasaan.

Dering itu akhirnya berhenti dengan sendirinya. Namun, sebelum layar gelap, sebuah SMS masuk.

"KAMI TAU DI MANA LO KERJA. BESOK KAMI DATENG. SIAPKAN BAYARAN ATAU HADAPI KONSEKUENSINYA. - TIM KOLEKTOR FINCEPAT."

Nafas Satrio tercekat. Mereka tahu. Mereka benar-benar tahu.

Dari kejauhan, di ujung gang yang berlawanan dengan arah kosnya, ia melihat siluet dua orang laki-laki berdiri di bawah satu-satunya lampu jalan yang masih menyala. Mereka tidak bergerak, seolah menunggu. Satu dari mereka memegang sesuatu yang berkilat samar—mungkin ponsel, mungkin sesuatu yang lain.

Satrio membeku. Darahnya serasa membeku. Ini bukan lagi ancaman di layar. Ini nyata.

Dengan jantung berdebar kencang, ia memutar balik, mengambil jalan memutar yang lebih jauh dan gelap, menghindari siluet itu. Langkahnya menjadi cepat, hampir berlari. Desahan napasnya keras di telinganya sendiri.

Ia sampai di depan pintu kosannya yang murah, dengan cat yang mengelupas. Tangannya gemetar mencari kunci.

Dari dalam, ia mendengar suara televisi dan langkah Bu Ani. Dunia yang normal. Tapi ia tidak bisa masuk. Tidak sekarang. Tidak dengan perasaan seperti ini.

Ia bersandar di pintu, menutup mata, mencoba menenangkan diri. Tapi SMS tadi terus terbakar di pikirannya. "BESOK KAMI DATENG."

Besok. Ia harus bekerja. Ia tidak punya pilihan. Hutang 20 juta itu seperti jerat yang semakin mengencang di lehernya, dan sekarang, para penagihnya sudah berada di sudut kegelapan, menunggu untuk menyeretnya ke dalam kehancuran total.

Ia memasukkan kunci ke lubangnya, suara 'klik' terdengar keras di kesunyian pagi. Saat itu juga, dari dalam saku jaketnya, ponselnya bergetar sekali lagi. Bukan dering, tapi getaran pendek.

Notifikasi baru. Dengan perasaan ngeri, ia mengeluarkan ponselnya. Satu baris kalimat terpampang di layar:

"KAMI SUDAH DI DEPAN TEMPAT KERJAMU, SIAP UNTUK BERTEMU BESOK?"

Mereka bukan cuma tahu di mana ia bekerja. Mereka sudah ada di sana. Malam ini. Mengawasi.

Satrio menatap kosong ke arah kegelapan jalan, ke arah Luminous yang sudah ia tinggalkan. Jerat itu bukan lagi di lehernya. Jerat itu sudah mengelilingi seluruh hidupnya, dan kini, mulai menariknya dengan keras.

Lanjut membaca
Lanjut membaca