Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bangkitnya Penguasa Cincin Perak

Bangkitnya Penguasa Cincin Perak

Putri Tanjung | Bersambung
Jumlah kata
136.1K
Popular
693
Subscribe
198
Novel / Bangkitnya Penguasa Cincin Perak
Bangkitnya Penguasa Cincin Perak

Bangkitnya Penguasa Cincin Perak

Putri Tanjung| Bersambung
Jumlah Kata
136.1K
Popular
693
Subscribe
198
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalDunia GaibKekuatan SuperHarem
Reno Septian adalah noda bagi keluarga besar Anggoro. Sejak ayahnya tewas, Reno dan ibunya dipaksa menjadi babu di rumah mereka sendiri sebelum akhirnya diusir tanpa sepeser pun harta. Mereka dianggap sampah memalukan. Bertahun-tahun Reno menelan hinaan hingga lelaki itu menikah dengan Rina Wijaya, bekerja sebagai satpam sebuah Mall demi menyambung hidup, sambil terus menahan harga diri di depan keluarga mertua yang sombong. Bagi mereka, Reno hanyalah benalu. Bagi istrinya, Reno adalah cinta yang bernasib malang. Namun bagi takdir, Reno adalah singa yang sedang tertidur. Malam itu, di bawah guyuran hujan, takdir Reno berubah. Terjepit antara panggilan darurat sang ibu dan nyawa seorang kakek yang dikeroyok preman, Reno memilih menolong. Sebagai imbalannya, sebuah tas lusuh berisi Cincin Perak Misterius berpindah tangan sebelum si kakek menghembuskan napas terakhir. "Jaga cincin ini seperti nyawamu! Jangan sombong dan jangan lupa beramal baik!" Begitu cincin itu melingkar di jarinya, dunia tidak lagi sama. Reno bukan lagi satpam lemah yang bisa dimaki. Ia kini bisa melihat aura kematian, berkomunikasi dengan entitas kegelapan, dan memiliki kekuatan fisik yang melampaui batas manusia.
Pria Sampah

Lampu kristal Mall Grand Lubuk Begalung memantulkan cahaya yang menyilaukan mata, namun bagi Reno Septian, cahaya itu terasa membakar kulitnya. Ia berdiri tegak dengan seragam satpam berwarna putih-biru, tangannya terlipat di belakang punggung. Tugasnya terlihat sangat sederhana, sebagai seorang keamanan sudah tentu memastikan pengunjung merasa nyaman. Namun, kenyamanan itu sirna saat rombongan keluarga istrinya tiba-tiba saja muncul dari arah butik mewah.

Reno yang baru selesai mengantarkan seorang anak kecil ke toilet, tidak menyangka bertemu dengan kakak istrinya Hawa dan suami, serta Dewi–Ibu mertuanya.

"Lihat siapa yang berdiri dekat gerai sepatu mahal itu, Mas Toni?! Bukannya dia adik ipar kita yang 'hebat' ya?" Hawa terdengar mencibir dan merendahkan, suaranya sengaja dikeraskan sampai sedikit melengking agar bisa didengar oleh pengunjung lain. Ia menenteng tiga kantong belanjaan dari brand ternama.

Toni yang mengenakan kemeja sutra mahal, berhenti tepat di depan Reno. Ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dompet kulitnya, lalu menjatuhkannya ke lantai, tepat di atas sepatu laras Reno yang mengkilap.

"Sepatumu kotor, Ren. Lap pakai uang itu, sisanya ambil untuk beli kopi. Kasihan mertuamu yang pernah bicara, kalau kamu gak mampu sekedar untuk membelikan susu untuk istrimu sendiri," ucap Toni sambil tertawa kecil.

“Pantes aja adikku makin hari makin kurus! Orang kalau udah nikah itu auranya akan semakin berbinar, berat badannya juga bertambah, tapi kamu … malah bikin Rina makin kurus seperti orang yang kurang gizi!” sambung Hawa ikut menimpali perkataan suaminya.

Di samping mereka, Ibu Mertua Reno yang bernama Dewi sedang menatap Reno dengan tatapan jijik. "Jangan bikin malu di sini, Reno! Cepat ambil uang itu dan pergi ke belakang. Kamu itu cuma satpam, jangan berdiri di sini seperti orang penting mau beli sepatu. Kasihan anakku Rina … dia sangat cantik, tapi otaknya tumpul karena mau bertahan dengan laki-laki benalu macam kamu."

Darah Reno mendidih. Rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol. Ia menatap mata Toni dengan tajam. Namun, lelaki yang sebenarnya berasal dari keluarga kaya terbuang itu, hanya bisa berucap Istighfar di dalam hati.

“Saya satpam tapi masih bisa memberikan makan Rina dengan layak!” Jawaban singkat pria itu justru membuat Hawa tersenyum sinis meremehkan, sekaligus semakin merasa kesal.

Sementara Dewi, benar-benar sudah sangat muak punya menantu sampah yang tak pernah bisa memberikannya berkah, bahkan putrinya pulang sengaja dipaksa karena terlihat kurus kering dan hampir seperti orang yang busung lapar.

Dewi benar-benar tak bisa lagi membiarkan rumah tangga anaknya yang semakin hari semakin parah dan susah. Rina pulang hanya dengan beda tipis dan baju murah batik obralan tiga helai seharga 100.000, benar-benar menurunkan harga diri keluarga Wijaya.

“Kamu bilang anak saya makan dengan layak? Makan layak matamu! Dasar sampah nggak becus ngurus istri!” maki Ibu Dewi terlihat sangat emosi.

“Mama bisa lihat sendiri, kalau Rina masih tetap sehat walaupun hidup miskin dengan saya, jadi gak perlu kalian urus rumah tangga kami! Suatu saat perkataan kalian akan berbalik pada kalian sendiri!” sahut Reno dengan senyum tipis.

Hinaan dan cacian, sudah terbiasa diterima Reno dari keluarga istrinya. Setiap dirinya dan Rina pulang ke tempat mertua maka hal yang sama terkadang jauh lebih parah dirasakannya.

Cih!

“Kalau kamu masih jadi seorang satpam, sampai lebaran monyet pun hidupmu akan tetap kere seperti ini, sekalian kamu kerja nonstop 24 jam, jadi gig-olo di cafe remang-remang Ujung Jalan!” Toni terkekeh meremehkan.

Tatapan pria itu seperti seseorang yang baru saja tak sengaja menginjak kotoran di lantai, tatapan menghina penuh kebencian.

Baru saja Reno hendak membuka mulut untuk membalas ucapan kedua iparnya yang sudah kelewat batas, tetapi ponsel di saku celananya bergetar hebat.

Ibu memanggil!

Reno menahan napas, menekan egonya dalam-dalam, lalu mengangkat telepon itu.

"Reno …."

Suara Ruby terdengar parau dan gemetar di ujung sana. "Nak ... kepala Ibu sakit sekali ... pandangan Ibu juga gelap. Kalau kamu nanti pulang ... tolong mampir beli obat dulu ke apotik ... Ibu sudah tidak kuat, sedangkan istrimu masih belum pulang dari rumah keluarga Wijaya. Mereka menjemput istrimu dengan paksa!"

Deg!

Jantung Reno seakan berhenti berdetak. Amarahnya pada Toni dan mertuanya menguap, berganti dengan ketakutan luar biasa. Ibunya adalah segalanya. Tanpa sepatah kata pun, Reno berbalik, mengabaikan tawa Toni yang merasa menang. Ia berlari menuju parkiran motor karyawan secepat kilat.

Di sana, lelaki itu mengirim pesan singkat pada kepala bagian security, mengabarkan dirinya pulang mendadak karena ibunya butuh obat cepat.

***

Hujan deras tiba-tiba mengguyur kota Padang malam itu. Reno memacu motor tua yang dibeli penuh perjuangan dalam menembus badai. Pikirannya kacau antara mencari apotek yang masih buka dan rasa khawatir pada Ibunya.

Saat melewati sebuah gang gelap yang menjadi jalan pintas menuju pemukiman padat penduduk, lampu motornya menangkap siluet yang tidak biasa.

Tiga orang pria dengan jaket kulit hitam sedang mengepung seorang kakek tua yang mengenakan jubah putih dan sorban biru laut. Kakek itu tersungkur di aspal, memeluk sebuah tas kain dengan erat seolah itu adalah nyawanya.

"Serahkan tas itu, Tua Bangka! Atau kau mati di sini seperti yang lainnya!" bentak salah satu preman sambil mengayunkan balok kayu.

Bugh!

Satu tendangan mendarat di lambung si kakek.

Reno menginjak rem mendadak. Ban motornya mencicit keras. Ia terjebak dalam dilema yang menyiksa.

Ibu sedang butuh obat cepat di rumah, tapi kakek ini akan mati jika aku tidak menolongnya. Ya Allah … apa yang harus kulakukan?’ batinnya.

"Woi! Berhenti!" teriak Reno, suaranya menggelegar membelah derasnya hujan.

Ketiga preman itu menoleh. "Jangan ikut campur, Satpam miskin! Pergi dari sini kalau mau selamat, atau nyawamu ikut melayang!"

Reno tidak bicara lagi. Insting beladiri yang ia latih setiap hari di pos jaga, tiba-tiba saja bangkit membara. Ia menerjang maju. Pukulan pertama menghantam rahang preman berbadan tinggi paling terdekat, disusul tendangan memutar yang menjatuhkan pria kedua.

Reno bertarung layaknya kesetanan, melampiaskan semua amarahnya pada Toni, pada mertuanya, dan juga pada takdir hidupnya yang pahit ke wajah para preman itu.

Melihat kawanannya mulai tumbang satu persatu, para preman itu melarikan diri tunggang langgang ke dalam gang tanpa penerang.

Reno segera menghampiri si kakek yang baru saja menyemburkan cairan merah dari mulut. Darah juga mengalir dari kepala pria tua itu, membasahi sorban biru langit yang dikenakannya.

"Kek! Kakek tidak apa-apa?" Reno mengangkat kepala si kakek ke pangkuannya dengan sangat hati-hati.

Napas kakek itu sudah tersenggal, matanya yang mulai merabun menatap Reno dengan senyum tipis, seakan dia sudah ikhlas untuk pergi selamanya. Ia meraih tangan Reno dengan sisa kekuatan yang ada, lalu menyodorkan sebuah cincin perak kuno dari dalam tas kainnya.

"Waktuku ... sudah habis, Anak Muda," bisik kakek itu dengan suara bergetar.

"Kau punya hati yang murni di balik amarahmu. Jaga cincin ini dengan jiwamu ... jangan sombong, dan jangan pernah berhenti berbuat ba–ik …."

"Kek, bertahanlah! Saya akan membawamu ke rumah sakit!"

Namun, tangan kakek itu sudah terkulai lemas membentur aspal. Matanya tertutup perlahan dengan senyum tipis yang misterius. Di tengah guyuran hujan, cincin perak di tangan Reno tiba-tiba berdenyut seakan mulai hidup, mengeluarkan cahaya perak redup bercampur biru laut mirip sorban yang dikenakannya si kakek tua. Reno terpaku. Ia tidak tahu kalau mulai detik ini, statusnya sebagai "sampah" akan segera berakhir.

Lanjut membaca
Lanjut membaca