Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dambaan Tante Kaya

Dambaan Tante Kaya

Bartimeus Ray | Bersambung
Jumlah kata
49.5K
Popular
1.4K
Subscribe
249
Novel / Dambaan Tante Kaya
Dambaan Tante Kaya

Dambaan Tante Kaya

Bartimeus Ray| Bersambung
Jumlah Kata
49.5K
Popular
1.4K
Subscribe
249
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHaremMengubah Nasib21+
Janarko mulanya hanyalah buruh tani di desa. Bosan hidup sebagai kuli, ia pergi ke kota besar Surabaya untuk bisa mendapatkan kesempatan yang lebih luas dalam pekerjaan. Tapi, rimba kota justru menyeretnya ke dunia lelaki panggilan. Berawal dari ikut teman, bernama Hasan, yang memang rekan sedesa, kawan lama di sekolah. Ia memang melihat Hasan nampak sukses di desa. Berhasil renovasi rumah megah. Punya kontrakan. Mobil tiga. Ia selalu bilang dia adalah konsultan. Dari sinilah, ibu Janarko meminta agar Janarko ikut saja Hasan ke kota. Namun sampai di kota, barulah ketahuan siapa Hasan sesungguhnya. Setelah putus kuliah, dia ternyata memilih jalur hidup yang dianggap hina dan tabu. Ia ternyata tak lebih dari seorang Pria Panggilan Khusus. Tapi akhirnya karena kehidupan di kota begitu sulit, ia berulang kali keluar masuk pekerjaan, karena gaji tak sebanding dengan kebutuhan hidup. Melihat hal itu akhirnya Janarko tergiur juga. Coba sekali. Dua kali, hingga akhirnya bertemu dengan seorang tante kaya raya bernama Evany, yang ternyata adalah istri dari pejabat dan konglomerat kaya. Entah mengapa setelah bertemu dengan Tante Eva, begitu panggilannya, ia merasa terhubung dalam suatu jerat aneh. Kehidupan Janarko pun kemudian dihadapkan pada sebuah petualangan yang sama sekali tidak aman dan penuh rahasia. Apalagi ketika Janarko dilirik Tante Tini untuk bekerja secara rahasia; menemani jiwa-jiwa yang kesepian.
Eps 1: Tidak Mudah Jadi Panggilan

Lenguh panjang keluar dari mulut Nurlaila. Air liur meleleh di sudut bibir. Menetes ke lembah bidang kokoh seorang pria, seperti embun pagi, luruh ke dahan rapuh.

Tubuh yang tak terlindung sehelai benang pun nampak mengilat. Tarian naik turun yang lapar. Banjir peluh. Deru napasnya masih terasa, dan ketika berjingkat dari tubuh atletis Janarko, mata sayu Nurlaila masih jelas terlihat belum merasakan puncak yang ia dambakan.

“Minum kopi dulu, oke? Uuuh... kakiku sampai getar-getar begini...”

“Aku tahu, Tante... itu kopi khusus, kan?”

“Ya...” katanya seraya mengerling dengan senyum menggoda. Matanya memicing dan jelas ekor matanya melihat pusat nafsu lelaki itu masih terangguk-angguk.

Kasur sudah carut-marut. Janarko mengatur napasnya. Ia sempat bercermin. Melihat wajah lelah yang bahkan lebih mengenaskan ketimbang saat dulu ia masih seorang buruh tani di sawah Haji Dulloh.

Malam itu, setelah Tante Nurlaila membuatkan kopi. Ronde kedua dimulai lebih menggebu seperti pergulatan tanpa wasit. Hingga pukul sebelas malam, ia baru keluar dari kamar hotel. Lalu, di sebuah restoran cepat saji, Hasan telah cengengesan menunggu.

“Sekarang kau bisa melihat bagaimana perempuan-perempuan ini sungguh kesepian...” kata Hasan yang baru saja kembali memesan secangkir kopi tubruk.

“Tapi aku tidak pernah meremehkan ini...”

“Oh, ya? Benarkah? Kupikir kau sangat meremehkan saat kutawarkan... bagaimana uang Tante Nurlaila? Asyik, kan?“

“Ya, setidaknya aku bisa membayar kos untuk setahun ke depan...”

“Bagaimana? Apa kau mulai menikmatinya?”

Janarko nampak hanya memesan burger dan air soda.

“Tidak bisa disebut begitu.”

“Maksudmu? Secara wajah dia tidak jelek-jelek amat. Lagipula, pria panggilan khusus seperti kita tidak bisa menolak jika ada imbalan yang mereka tawarkan... mau wajahnya buruk rupa, atau tubuhnya membuatmu mual, kau harus melayaninya. Ini adalah semacam jasa... kau bisa tutup saja wajahnya dengan bantal.”

“Ya, nggak begitu juga.”

Hasan tertawa terbahak.

“Ini bukan pekerjaan mudah.”

Hasan mengembuskan napasnya. Ia terkekeh sesaat seraya mencuil sedikit burger milik kawan dari kampungnya itu.

“Sejak aku pertama kali menawari pekerjaan ini, seingatku aku nggak pernah memberitahumu kalau ini adalah pekerjaan gampangan! Kau butuh stamina besar. Itu sebabnya kau butuh suplemen khusus. Kalau nggak, mana sanggup kau meladeni monster-monster itu...”

“Monster?”

“Ya, memang! Lelaki selalu punya batas. Tapi, perempuan yang sudah dilanda kesepian, dia tidak pernah punya batas. Kau paham?

Orang bilang kerja begini enak! Disayang-sayang. Dikasi duit. Dapat kepuasan dari mereka yang benar-benar membutuhkan kita... kenyataannya tidak akan semudah itu... mereka yang bilang begitu, rata-rata otaknya sudah dijebak dan dirusak oleh video-video busuk yang saban waktu mereka tonton...

Omong seenaknya tentang pekerjaan kita. Atau menggampangkan. Giliran sudah dihadapkan tante-tante ini...” Hasan lantas terkekeh sinis. “Mereka keok juga! Dua orang sebelummu berhenti karena tidak kuat. Awalnya sesumbar. Merasa jago. Sambil pamer otot. Ngaku punya barang gede. Giliran dapat lima panggilan dalam sehari... letoy juga.”

“Lima panggilan itu gila. Aku tiga saja sudah kalang kabut...”

“Itu karena mereka sudah congkak lebih dulu. Bahkan katanya, tujuh saja gue jabanin! Giliran dikasi lima, ngeluhnya nujubileh!”

Hasan menghabiskan secangkir kopinya, lalu menepuk pundak Janarko, seraya beringsut dari duduknya.

“Istirahatlah! Besok kita diundang ke arisan Tante Hana...”

“Kupikir hanya kau saja?”

“Aku ingin kau ikut...sekalian mengenalkanmu ke seseorang. Kau sedang butuh uang untuk adikmu yang masih sekolah di Cibitung sana, kan?”

Janarko hanya mengangguk. Hasan seakan bisa membaca pikirannya.

Setelah sosok kawan lamanya itu pergi, ia mendongakkan kepala ke langit-langit. Menghela napasnya.

Tak pernah ia membayangkan seumur hidupnya, harus memilih jalur hidup yang melenceng jauh seperti ini.

Untuk sesaat saja ia mengingat masa kecilnya di Cibitung. Sawah membentang di mana-mana. Berjalan-jalan di labirin perkebunan teh. Udara dingin kala subuh. Suara adzan.

Atau menjelang maghrib, ketika masih bocah ingusan, ia masih ingat, bahkan Hasan saat itu yang paling rajin pergi ke surau. Namun, garis hidup orang tak bisa ditebak.

Dengan segala macam himpitan kehidupan. Dan betapa kerasnya mencari pundi di kota besar, rupanya itu bisa mengubah perangai dan cara pikir seseorang.

Kalau emaknya bisa tahu, Janarko tak tahu harus berkata apa. Ia tak ingin melihat emaknya serangan jantung karena uang yang ia kirim selama ini adalah uang haram.

Dua tahun sebelumnya, Janarko bukanlah lelaki yang sedia dipanggil saat dibutuhkan tante-tante jetset, kalangan orang berduit.

Ia masih lugu. Bahkan tak pernah berpikir kalau lelaki bisa jadi simpanan perempuan kaya raya, seperti simpanan pejabat.

Ya, tak pernah ada pekerjaan seperti itu di kepalanya. Yang ia lakukan sejak lulus sekolah menengah akhir, hanyalah kerja serabutan. Mulai bantu kedai daging di pasar, hingga jadi buruh tani di sawah Haji Dulloh.

Emaknya, Sapiah, tak pernah protes, karena itu lazim di Cibitung. Banyak pemuda juga yang ikut ngarit, atau sekadar jadi kuli angkut.

Dua-duanya ia lakoni pula, demi dapat upah yang tak seberapa. Ya, sungguh tak seberapa, karena potongan bagi hasilnya sungguh miris.

Itu membuat mimpi Janarko tak pernah besar. Ia takut untuk bermimpi besar. Takut sakit hati. Mimpinya hanya sekadar punya motor gigi. Atau bisa membeli sebuah tape recorder dengan sound yang lumayan.

Rutinitas yang menjemukan memang. Ketika ada panggilan dari pemilik lahan, ia datang pukul lima atau enam pagi. Mulai membersihkan segala yang menjadi hama bagi tanaman. Mengarit. Atau menebar pupuk. Panas matahari sudah jadi kerabat yang sangat dekat baginya.

Hingga segalanya berubah ketika Hasan yang terakhir kali ia dengar kuliah di Surabaya itu datang dengan segala perubahan drastis.

Sontak jadilah perbincangan di setiap pengajian. Emaknya, Sapiah, mulai pula mengoceh tentang Hasan, karena emaknya Hasan, terus pamer kisah kesuksesan anaknya di kota.

Perihal Hasan jadi konsultan bisnis orang-orang intelek dan konglomerat. Pamer kalung emas. Kerudung jutaan rupiah. Kipas mahal dari Jepang.

Belum lagi kalau sudah membicarakan renovasi rumah mereka. Dulu, semua orang di Cibitung tahu, rumah Hasan tak ada bedanya dengan penduduk lain. Standar saja, rumah satu lantai. Dapurnya masih berdinding bilik dengan lantai tanah. Masak bahkan belum pakai kompor. Masih tungku.

Tapi, sejak Hasan datang dengan segala kenecisan orang kota, ia seperti bajak laut yang pulang membawa harta karun.

Rumah mereka jadi dua lantai dengan pilar-pilar yang bikin iri orang desa. Pagar bertralis tinggi. Taman yang luas. Mobil tiga. Mungkin tak lama lagi, ia mau membeli sawanya Haji Dulloh atau Haji Parman.

“Kau sebaiknya dekati itu Hasan. Bukankah dia karibmu semasa sekolah. Dulu kau dekat waktu kecil. Emak kok melihatmu miris begitu... bahkan Si Zul saja sejak pindah ke kecamatan, dia sudah punya satu mobil bak...”

“Kenapa pula harus kudekati? Apa karena dia mau beli sawah Haji Parman?”

“Bukaaan! Dulu kamu dekat dengannya, kan? Mintalah dia supaya mengajarimu sesuatu di kota...”

“Emak ingin aku pergi ke kota?”

“Adikmu mau sekolah. Mungkin dia mau kuliah.”

“Lalu bagaimana denganku?”

“Ya, makanya, kau dekati dia, supaya kau juga bisa kuliah...”

“Aku tidak tahu harus kerja apa di kota.”

“Ikut saja dulu si Hasan. Nanti kau akan tahu.”

“Memangnya semudah itu?”

Lanjut membaca
Lanjut membaca