Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dulu Tertindas Sekarang Tak Tersentuh

Dulu Tertindas Sekarang Tak Tersentuh

Ema Virda | Bersambung
Jumlah kata
32.1K
Popular
284
Subscribe
101
Novel / Dulu Tertindas Sekarang Tak Tersentuh
Dulu Tertindas Sekarang Tak Tersentuh

Dulu Tertindas Sekarang Tak Tersentuh

Ema Virda| Bersambung
Jumlah Kata
32.1K
Popular
284
Subscribe
101
Sinopsis
PerkotaanAksiKonglomeratHaremMengubah Nasib
Arian melangkah di jalanan kota yang sunyi, menanggung beban kegagalan yang semakin berat. Tiga tahun merantau ke kota, tapi impian untuk menuju hidup lebih baik masih jauh dari jangkauan. Tidak ada yang berubah, malah semakin terpuruk bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Suatu hari dalam keputusasaan Arian bertemu dengan seorang pengemis yang menawarkan pinjaman uang masa depan. Tapi dengan syarat yang membuat Arian bergidik. "Uang itu tidak gratis. Kamu harus membayarnya suatu hari nanti. Jika tidak bisa membayar! nyawamu yang menjadi taruhannya," kata pengemis itu. Arian pikir pengemis itu hanya bercanda, sehingga dia menyetujui syarat tanpa berpikir panjang. Tiba tiba notifikasi bank Arian berbunyi. Yang tadi saldonya sisa 30 ribu, menjadi 30 Triliun. Apakah Arian mampu membayar harga yang harus dia bayar? ataukah dia akan menjadi korban dari keserakahan dan ambisinya?
Mengadu Nasib

Julukan kota Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur. Jalan-jalan yang lebar dan panjang di penuhi oleh kendaraan yang bergerak lambat. Suara klakson yang terus menerus karena macet, hiruk pikuk orang orang yang berlari kesana kesini untuk mengejar waktu, dan asap kendaraan yang menutupi udara bersih, semua itu menjadi perjalanan hidup yang terus berlanjut. Bagai alunan musik kehidupan yang tidak pernah berakhir.

Arian adalah pria berusia 25 tahun yang merantau selama tiga tahun dari desa ke kota. Tapi sampai saat ini kehidupannya belum ada kemajuan. Dia harus bekerja keras untuk keluarganya di kampung. Dia adalah anak tunggal yang tidak punya Ayah. Dari kecil dia tinggal bersama ibunya.

Arian harus mencari pekerjaan tambahan lagi, upah sebulan dia sebagai cleaning servis di perusahaan jasa tidaklah cukup untuk biaya ibu berobat.

Dia berjalan kaki melewati toko yang sedang sibuk melayani pembeli. Mata terus memandang mencari peluang untuk pekerjaan tambahan. Tapi tidak ada satupun toko yang memasang pengumuman membutuhkan karyawan.

Arian duduk bersandar di halte bus, dia melihat seorang pria yang menghisap rokok dengan berdiri dan terlihat gelisah, belum habis rokok yang dihisap, dia buang dengan sia-sia.

Dalam benak Arian, " Begitu mudahnya orang menghabiskan uang dengan sia sia. Padahal mencarinya begitu susah payah. "

Bus transjakarta mengangkut begitu banyak penumpang padahal ini bukan jam sibuk kerja tapi masih begitu padat.

Otak Arian sibuk berkomentar. "Entahlah! Apa salah satu dari mereka juga senasib denganku yang sedang mencari pekerjaan, apakah salah satu dari mereka terlambat bekerja, ataukah salah salah satu mereka memiliki kepentingan di luar pekerjaan."

Arian dengan iseng menatap papan poster yang ada di halte bus. "Chicken Roket, di butuhkan kurir pengantar makanan cepat. Jika berminat hubungi nomer 08776546*** dengan syarat memiliki Surat Izin Mengemudi type C dan memilki kendaraan sendiri. Gaji dua juta sebulan, jika dalam sebulan mendapatkan bintang lima dari customer akan mendapatkan uang bonus tambahan."

Dengan mata yang berbinar seakan bersyukur bahwa Tuhan tidak akan menjauhkannya di saat dia dalam masalah. Arian langsung membuka ponselnya dan menghubungi nomer yang tertera di papan pengumuman.

" Mungkin sudah banyak yang melamar pekerjaan di sini. Tapi tidak apa apa aku coba, InsyaAllah aku dapat rezeki dari pekerjaan ini," gumam Arian penuh percaya diri.

Dengan pulsa yang masih tersisa Arian mencoba menghubungi nomer tersebut.

" Hallo. Selamat siang. Apa benar sedang membutuhkan pengantar makanan cepat."

" Iya hallo. Benar... Jika berminat, silakan datang di Ruko Megah Galaxi B44 di Lenteng Agung Jakarta Selatan."

" Saya sekarang sedang berada di jakarta selatan."

" Silakan datang, kami menunggu. "

Arian seperti mendapatkan berkah yang luar biasa dari Tuhan. Dia langsung menaiki bus transjakarta menuju Ruko Mega Galaxi. Dalam hati dan pikiran Arian, " ibu. Semoga pekerjaan tambahan ini bisa membawa ibu untuk berobat."

Bus transjakarta membawa Arian ke tempat tujuan di halte bus Lenteng Agung. Dia berhenti sebentar disana melihat jalan jalan yang tertata rapi dengan gedung gedung tinggi menjulang.

Dia mencari Ruko Galaxi dengan aplikasi internet penunjuk jalan di handphone. Jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari halte. Arian berjalan walaupun terik matahari begitu panas.

Dia tidak memiliki persiapan, hanya harapan dan kemampuan yang dia punya untuk mendapatkan pekerjaan ini.

Akhirnya, Arian mendapatkan pekerjaan setelah melewati proses interview. Mulai minggu depan, Arian akan bekerja, dan mulai bisa mengantar makanan.

Beban berat Arian yang berada di pundak seakan menguap ke atas bersama terik matahari yang begitu panas. Saat ini Arian tidak mengumpat Matahari tapi dia bersyukur badannya terasa sangat ringan.

" Aku akan kumpulkan uang sehari 20 ribu jika sepuluh hari ada orderan aku dapat uang, dua ratus ribu. Alhamdulillah, ini berkah dari Tuhan."

Arian berjalan sedikit menunduk kan kepala tidak hanya karena menyembunyikan wajahnya dari sengatan matahari tapi juga dia selalu berjalan seperti itu.

Tanpa di sengaja, bahu Arian di senggol oleh seseorang. Tapi orang itu malah berbalik marah dengan nya.

"Hai! Kalau jalan pake mata dong!" jawab Bobby terlihat seumuran dengan Arian, sama sama berusia dua puluh lima tahun.

"Kalau pake mata bagaimana jalannya. Jalan itukan pake kaki bukan pake mata," jawab Arian tenang.

"Hai! Kamu siapa! Belagu banget jadi orang!" Bobby terlihat sangat emosi ingin memukul karena jawaban Arian.

Tapi di tahan oleh Merry. "Bobby, sudahlah. Dia tidak salah, kamu duluan yang memulai, " ucapnya.

Perkataan temannya itu terdengar oleh Arian. "Kamu yang menyenggol bahu ku terlebih dahulu. Tapi tidak apa apa saya maafkan," jawaban Arian terlihat tengil, seolah ingin menampar Bobby dengan kata kata.

"Dasar! Kurang ajar!" Emosi Bobby seolah meledak ledak, dia ingin menghajar Arian di tempat umum.

Tapi Bobby menatap dengan tajam dan penuh emosi. " Merry! Kalau tidak kamu tahan. Aku sudah menghajar pria itu!"

Ekspresi Merry tidak suka dengan prilaku Bobby yang semena mena dengan orang lain. Walau dia anak orang kaya seharusnya bisa menjaga martabat.

Para penonton sudah mulai riuh, mereka saling berbisik. " Dia kan Bobby Saputra dan Merry Riana Suanto. Anak orang kaya yang terpandang di kota ini, " bisik bisik orang lain yang terdengar di telinga Merry.

Dan salah satu orang yang berkerumun berkata, " Iya Bobby Saputra anak dari Tuan Saputra pendiri perusahaan data seluler, Mall dan masih banyak lagi. Dan gadis itu Merry Riana Suanto yang mempunyai hotel bintang lima di mana mana dan apartemen. Mereka dua keluarga yang terpandang."

Sudah banyak orang yang berkerumun, melihat pertengkaran mereka, tapi tidak ada yang berani melarai. Malah sebaliknya, mereka membuka handphone dan merekam pertengkaran mereka. Dengan mata yang fokus pada layar dan jari jari mengetik cepat dengan komentar komentar pedas.

" Woow...ini akan seru dan viral!" seru salah satu penonton, dengan senyum yang tidak sabar.

" Orang kaya apa selalu begitu? Apa orang kaya suka menindas orang miskin seenaknya saja. " kata penonton lain dengan mata yang fokus pada layar.

" Iya. Padahal dia yang mulai menyenggol bahu pria itu. Kenapa yang miskin selalu di salahkan."

Tiba tiba seseorang menyahut gumam mereka berdua. " Sstt... Jangan bicara sembarangan, mereka anak anak orang terkaya di kota ini. Bisa bisa kalian di penjara dan tamat kehidupan kalian."

Pertengkaran Bobby dan Arian, sudah tidak terelakkan lagi. Para penonton itu malah asyik live demi menaikan followers akun media mereka.

Di komentar, banyak yang mendukung Arian. Ada juga yang mendukung Bobby. Karena kekayaan dan kuasa keluarganya. Saputra dan Suanto adalah dua keluarga yang tak tersentuh. Dengan kekayaan ber triliun triliun.

Lanjut membaca
Lanjut membaca