

"Ayo masuk. Jangan malu-malu."
Suara itu melengking, memotong keriuhan knalpot di jalanan Jakarta yang baru saja Dante tinggalkan. Dante menoleh, mendapati seorang perempuan paruh baya berdiri di depan pintu pagar besi yang catnya mulai mengelupas. Perempuan itu mengenakan daster merah menyala, kontras dengan langit sore yang abu-abu. Ia tersenyum lebar, melambai dengan gerakan tangan yang berlebihan.
"Iya, Bu..." jawab Dante singkat. Ia membetulkan posisi tali tas ranselnya yang terasa seolah diisi bongkahan batu. Berat, sama seperti keraguan yang mulai merayap di benaknya.
Langkahnya tertahan di ambang pintu. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena lelah, tetapi karena firasat. Jakarta memang bising, namun gerbang kosan ini memberikan getaran yang berbeda. Begitu kakinya menapak di semen halaman dalam, mata Dante otomatis melebar.
Beberapa perempuan melintas di koridor sempit itu. Mereka mengenakan pakaian yang dalam standar desa asal Dante hanya pantas dipakai di dalam kamar mandi atau tempat tidur. Kain-kain minim, potongan baju yang berani, dan rambut panjang yang tergerai dengan aroma parfum menyengat yang tertinggal di udara. Dante mendadak merasa oksigen di sekitarnya menipis. Ia menelan ludah, refleks memalingkan wajah ke arah deretan jemuran. Naasnya dia malah melihat beberapa bikini dan pakaian dalam yang menari-nari diterpa angin. Dia pun kembali meluruskan pandangan.
"Bu, kenapa di sini..." ucap Dante terbata-bata. Rasa panas menjalar ke pipinya. Ia merasa seperti turis yang salah memesan hotel dan berakhir di tengah pemotretan majalah orang dewasa.
Ibu kos itu terkekeh, suara tawanya terdengar serak. Ia melangkah mendekat dan menepuk bahu Dante dengan tenaga yang cukup kuat untuk membuat pemuda itu tersentak.
"Enggak usah kaget begitu dong. Anggap saja ini ujian iman buat kamu," katanya santai, seolah pemandangan di depan mereka hanyalah simulasi kehidupan biasa. "Kos ini campur, laki-laki dan perempuan. Kamu sudah besar, kan? Harusnya bisa menyesuaikan diri."
Dante hanya bisa menunduk, memaku pandangannya ke lantai semen yang retak-retak. Batinnya bergejolak hebat. Baru beberapa jam menginjakkan kaki di ibu kota, ia merasa sudah membuat kesalahan strategis dalam memilih tempat tinggal.
"Kenapa memangnya? Kamu enggak akan nemuin kos murah lagi di area ini, Dante. Sudahlah, ingat kata saya tadi. Ujian iman." Ibu kos itu memberikan senyuman yang sulit diartikan. Sedikit genit, sedikit mengejek lalu berjalan mendahuluinya dengan pinggul yang bergoyang mengikuti irama langkahnya.
Dante menghela napas, mengikuti dengan ragu. Matanya masih sesekali memindai situasi sekitar dengan waspada. Di area tangga, beberapa laki-laki muda tampak asyik mengobrol sambil merokok, sesekali menyapa perempuan yang lewat dengan siulan tipis atau candaan akrab. Semuanya terlihat sangat santai dan bebas. Kos ini terasa seperti sebuah mikrokosmos yang aturan mainnya berbeda seratus delapan puluh derajat dari kampung halamannya.
"Nah, kamarnya di sini. Cukup lah ya untuk sekadar meluruskan punggung. Ada kipas angin kecil dan colokan juga. Plus boks mirip lemari plastik itu buat menaruh baju," jelas sang ibu kos sambil membuka pintu kayu yang sudah agak miring. "Mau beres-beres sendiri atau perlu dibantu?"
Dante sontak menggeleng cepat. "Saya bisa sendiri, Bu. Terima kasih banyak."
Begitu pintu ditutup, Dante meletakkan tasnya ke lantai dengan bunyi debum yang berat. Kamar itu mungil, mungkin hanya 2x3 meter. Ruangannya sesak, hanya menyisakan sedikit celah di samping tempat tidur untuk menaruh meja kecil dan lemari plastik yang dimaksud tadi. Ia duduk di pinggiran kasur yang tipis, mencoba mengatur napasnya yang masih sedikit memburu.
"Harus pintar-pintar jaga diri ya, Te. Jakarta beda sama kampung kita," gumamnya pada diri sendiri.
Ia merogoh ponsel dari saku celana, memeriksa layar yang menampilkan pesan-pesan lama dari orang tuanya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan sisa-sisa kejutan budaya yang baru saja menghantamnya.
Hidup Dante selama ini adalah garis lurus yang sederhana. Pagi ke kebun, siang membantu ayahnya mengurus ternak, dan malam hari dihabiskan dengan belajar membaca atau menulis di bawah lampu temaram. Baginya, Jakarta adalah sebuah janji, tapi kos campur dan pemandangan barusan terasa seperti hambatan yang tidak diprediksi.
Ia menepuk permukaan meja kayu kecil di sampingnya, mencoba menata kembali prioritasnya. Ia sudah membayar uang muka. Kamar sempit ini, dengan segala pemandangan di luar sana, adalah markas besarnya sekarang.
Besok, hidup yang sebenarnya dimulai. Ia akan bekerja di rumah sebuah keluarga elite di kawasan yang jauh lebih rapi dari sini. Ia tidak boleh goyah hanya karena beberapa helai kain yang kurang.
"Baiklah, Dante... ini ujian pertama. Fokus," batinnya menguatkan. Ia membuka sebuah buku catatan kecil, mencatat pengeluaran hari ini dan jadwal untuk besok. Ia menutup buku itu dengan mantap, mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa privasi di kota besar adalah barang mewah yang belum mampu ia beli.
Dante baru saja hendak meletakkan ponselnya dan memejamkan mata sejenak untuk mengistirahatkan pikiran yang penuh. Namun, atensinya lekas teralihkan oleh suara nyeleneh terdengar dari balik dinding triplek kamar sebelahnya.
Dante mematung.
Ia mencoba mengabaikan, memutar badan membelakangi dinding. Tapi suara itu justru makin jelas—napas yang tersengal, diselingi tawa kecil yang tertahan. Seperti seseorang sedang berusaha tidak berisik, tapi gagal.
Dante menghembuskan napas kasar. "Ya ampun…"
Ranjang di sebelah kembali berderit. Lebih cepat sekarang. Lebih ritmis. Seseorang di sana terkikik pelan, lalu terdengar suara perempuan berbisik manja,
"Pelan… nanti kedengeran…"