Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Aku Bukan Lagi Pecundang

Aku Bukan Lagi Pecundang

Amory Andrew | Bersambung
Jumlah kata
76.6K
Popular
802
Subscribe
205
Novel / Aku Bukan Lagi Pecundang
Aku Bukan Lagi Pecundang

Aku Bukan Lagi Pecundang

Amory Andrew| Bersambung
Jumlah Kata
76.6K
Popular
802
Subscribe
205
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperUrbanMengubah Nasib
Dari keadaan putus asa karena berbagai masalah seperti kemiskinan, dikhianati, di-bully, alami bencana alam, dipecat, dll keadaan Rio, si pecundang, berubah drastis ketika menemukan sebuah botol yang ditemukan persis saat ia hendak mengakhiri hidup. Larutan di dalamnya ternyata adalah persenyawaan kimia hasil rekayasa lab high-end yang membuat otak manusia yang secara normal berfungsi 10% bisa melompat berkali lipat. Ini membuat Rio dalam waktu singkat jadi begitu jenius, piawai dalam segala hal yang pada ujungnya membuat ia sukses dan digandrungi banyak wanita, termasuk mereka yang dulu menghina dirinya. (Sebuah kisah genre 17+ namun takkan ada percintaan di 1 jam pertama berjumpa karena itu gak mungkin).
1. Introducing Carla

Pagi hari itu lift yang kutumpangi sudah penuh terisi. Aku berada di baris depan ketika pintu menutup dari kedua sisi. Siap mengantarku ke lantai 11, tempat aku bekerja.

Namun saat pintu baru seperempat tertutup, sebuah tangan kekar muncul dan menahan pintu. Akibatnya pintu lift terbuka kembali. Seorang pria 30 - 35 tahun berada di sana, memaksa hendak masuk.

“Sudah penuh,” kataku sopan. “Maaf. Gak muat lagi.”

Tak kuduga pria itu malah berkata sengak.

“Kenapa gak lu aja yang keluar?”

Aku terhenyak. Tak salah dengarkah aku? Aku diminta keluar padahal dia yang terlambat masuk? Emosiku terusik, tapi aku sadar bahwa aku hanya pegawai rendahan. Tak pantas rasanya bersikap melawan orang penting seperti pria 30-35 tahun di depanku. Aku kenal orang bertubuh tinggi besar ini. Dan beliau memang seorang eksekutif.

“Maaf, aku…. Sudah duluan,” kataku sedikit terbata sembari memperbaiki posisi katamata minusku yang melorot ke hidung.

“Gue ada rapat penting.”

“Tapi…”

“Gak ada tapi-tapi. Lu cuma OB aja belagu. Minggir!”

Dia tahu siapa aku karena memang kami pernah bertemu. Tapi ia dari perusahaan pemasok. Beberapa orang di dalam lift nampak tidak suka dengan sikapnya. Terlebih lagi aku. Aku memang OB, office boy, tapi aku merasa perlu secepatnya ke kantor juga karena aku tak mau terlambat. Kembali, dengan sopan aku menolak. Bahkan didukung dua orang lain yang sudah ada di dalam. Di sana ada juga seseorang, Iskandar namanya. Aku dan dia ada di perusahaan yang sama. Tapi ia tak terlihat berusaha membelaku.

Dan kini orang itu memaksa diri masuk. Tak dinyana, orang itu lantas menarik tanganku sampai keluar lift.

“Sana lu! Tunggu aja lift lain. Bentar kok….”

Ia mengusirku dengan pongah. Beberapa orang nampak berusaha membelaku, tapi ia bergeming. Ia menutup pintu lift dengan satu sentuhan tombol dan meninggalkan aku yang marah, kecewa, terhina. Sebelum pintu menutup aku sempat melihat Iskandar memberi kode ‘bye bye’ sambal meleletkan lidah padaku. Menyebalkan.

Aku kenal orang yang memaksa masuk itu. Namanya Hanjaya, seorang petinggi dari perusahaan penyedia jasa transportasi logistik perusahaan tempatku bekerja. Dan asal tahu saja, ini bukan kali pertama ia mem-bully aku di depan umum.

Tapi sudahlah, aku tak mau merusak hari ini dengan kekecewaan. Aku mencoba tegar, berusaha melupakan peristiwa menjengkelkan ini. Aku mungkin saja bodoh, tapi aku sabar.

Sabar.

Sabar.

Sabarrrrr….

Aku pada akhirnya tentu saja tiba di lantai tempatku bekerja beberapa menit kemudian. Di pagi itu, pertama aku melakukan tugas rutin. Aku membersihkan dengan mesin vacuum, membuatkan kopi untuk beberapa manajer. Ada juga permintaan dari departemen logistic untuk mem-fotokopi puluhan lembar risalah ekspor impor. Dengan senang hati kulakukan semua. Tiga jam aku lakukan semua tugasku dengan senang hati. Namun baru saja aku agak tenang sedikit…

“Keling!”

Seseorang memanggil dari arah belakangku yang sibuk mem-fotokopi. Tanpa aku membalik badan aku sudah tahu. Itulah Iskandar, manajer personalia, orang yang saat di lift tadi diam saja saat aku di-bully. Walau Iskandar memiliki latar belakang Teknologi Informsi. Usianya hanya terpaut 2 tahun saja dariku tapi pongahnya bukan main. Pongah karena ia meraih gelar S1 Teknologi Informasi di usia muda. Konon ia adalah wisudawan termuda saat kelulusan di sebuah Perguruan Tinggi swasta. Agak aneh bagaimana mungkin pemimpin departemen personalia malah merekrut orang dengan latar belakang berbeda, usia terlalu muda, dan minim pengalaman. Tapi yah itulah perusahaan tempatku bekerja dimana korupsi kolusi nepotisme sudah jadi makanan sehari-hari.

Memang harus kuakui ia memang pandai. Sayangnya, ia tak menyertakan sopan santun dalam bekerja. Contohnya adalah panggilannya terhadapku.

“Ada… apa pak?” tanyaku sesopan mungkin.

“Bikinin kopi buat bapak.”

Duh, hanya beda dua tahun lebih muda aja minta dipanggil ‘bapak.’ Aku merengut. Dalam hati tentu.

“Mau kopi…. yang apa, pak?” aku bertanya pelan karena berujar perlahan memang jadi bagianku. Itu sebabnya banyak yang mencap aku bodoh.

“Masa’ gak tau?”

“Kopi tubruk?”

“Kopi pahit, pake krimer, pake gula juga.”

“Gula sesendok?”

“Pelit amat. Tiga sendok!”

Ups. Aku manggut sementara ia nampak kesal.

“Inget, tiga sendok.”

“Gak takut…. Kena…. Sakit gula?”

Duh, matanya melotot. “Usil amat lu! Itu bukan urusan lu. Cepetan bikin sekarang, dasar pemalas.”

“Siap pak.”

Aku baru melangkah pergi ketika ia meminta aku mengosongkan dulu tempat sampahnya. Setelah semua kukerjakan – yang tentu saja tanpa pernah ia terimakasihi – aku lantas pergi ke pantry. Siap melaksanakan apa yang boss muda itu mau.

Sayangnya cobaan hari itu belum berakhir. Menjelang jam makan siang, aku baru saja siap mengisi ulang gallon air, saat aku diberitahu seseorang bahwa ibu Carla memanggilku. Dengan segera aku mendatangi ruang kerjanya.

“Duduk.”

Aku menurut.

Aku tak menyangka ketika belum lagi pantatku mendarat di kursi ia sudah menyemprot aku. Hanjaya rupanya mengadu padanya bahwa aku menyebabkan kedatangannya terlambat saat meeting penting. Aku dituduh menghambat dia dan saat ditegur aku malah balik mengejek.

Hah? Mengejek?

Aku tentu saja membantah. Aku tak merasa seperti itu. Hanya saja aku tak pandai membantah. Dan ini membuat aku jadi bulan-bulanan.

“Pak Hanjaya itu klien penting. Tanpa dia, perusahaan rugi besar. Jadi rapat dengannya penting banget. Mustinya kamu ngalah. Kenapa musti ngotot di lift sampai dia terhambat 10 menit?”

Aku terkaget lagi. Sepuluh menit? Rasanya tak mungkin selama ini.

“Gak, nggak… mungkin selama itu bu, maaf. Paling hanya satu dua menit.”

“Kamu pake jam?”

“Ng… nggak….” Jawabku lugu.

“Terus, tau darimana kalo kamu bikin dia telat satu menit, hah?”

“Tapi, tapi…. Gak selama…. Itu…. Sumpah…”

Wanita cantik dengan rambut bergelombangnya yang panjang dan kelam itu seketika membentak. “Emang kamu ada saksi?”

Tentu saja ada. Tapi, sejak kapan pak Iskandar mau membantu orang seperti aku?

“Ibu heran. Sudahlah, kamu kok keras kepala gitu. Gak mau ngaku salah. Tau gak, suasana hati pak Hanjaya jadi gak enak. Akhirnya saat meeting kami gak dapat disk...

“Saat apa bu? Miring?”

Pertanyaan polosku membuatnya meledak lagi. “Budek lu. Miting….”

Aku menggaruk kepala. Miting? Apa itu?

“Meeting itu Bahasa Inggris, artinya rapat.”

“Ohhh…”

“ohhhh,” ia meniru ucapanku dengan mulut dimonyong-monyongkan. Ohhh, aku jadi berkhayal yang tidak-tidak melihat bibir merah merekah itu yang seolah memintaku untuk menci…

“Gara-gara kamu, di meeting tadi dia keberatan ngasih diskon harga. Ngerti kamu?”

Bentakan itu membuatku tersadar dari lamunan sesaat.

“Ngerti gak apa efek dari kerjaanmu yang gak becus?”

Aku masih ingin membantah, tapi memutuskan mengalah. Selama lima belas menit aku dikuliahi. Saat aku kembali ke ruangan pantry dimana aku biasa ada di sana, aku berusaha menahan gemuruh kecewa dalam batin.

Inikah rasanya jadi orang kecil? Tuhan, dimana Engkau? Tak cukupkah dengan penderitaan demi penderitaan yang aku sudah alami? Belum cukupkah?

Lanjut membaca
Lanjut membaca