

Waktu menunjukkan pukul 02.29 dini hari ketika Randy membuka mata, terbangun dari peluk mimpi indahnya. Setengah sadar, ia melihat ke arah jam di dinding. Ia melihat jarum jam yang perlahan tampak makin jelas.
"Ah, jam segini lagi" gumamnya pada diri sendiri.
Merasakan ada gerakan di tempat tidur Anggie terbangun. "Kenapa, Dy?" tanyanya.
"Gak apa-apa sayang, ayo tidur lagi" balas Randy sambil memeluk istri yang baru ia nikahi setahun lalu.
Tidak banyak bicara Anggie pun mengikuti perkataan suaminya. Ia kembali terlelap
Tetapi Randy belum sepenuhnya tertidur. Sudah tiga hari ia selalu terbangun di pagi buta seperti ini. Terpikir olehnya, mengapa selalu bangun di waktu yang sama.
Tapi kantuk ternyata lebih kuat menyerang. Ia pun terlelap di sebelah istrinya.
"Dy, ayo bangun. Sudah subuh nih" seru Anggie seraya mengusap pipi Randy lembut. Tetapi pria itu masih saja menutup matanya dengan rapat.
Takut kesiangan, Anggie sedikit mengguncang tubuh Randy.
"Iya, iya sayang. Aku bangun. Jam berapa sekarang?" ucap Randy sambil meregangkan badannya.
"Jam lima," jawab Anggie singkat
"Oke" balas Randy seraya menarik tangan Anggie agar jatuh ke pelukannya.
"Dy, ini udah mau pagi. Ayo bangun sayang, jangan narik aku ke kasur lagi" bisik Anggie pada suaminya.
"Sebentar lagi aja sayang, aku masih ngantuk banget" balas Randy manja.
Anggie hafal sifat suaminya, ia pun segera bangkit dari tempat tidur dan menarik tangan Randy agar segera terbangun.
Hari ini Randy harus bersiap lebih cepat, jadwal ke luar kota tak bisa ditunda.
Dengan segera Randy bangun dari tempat tidurnya, pergi ke kamar mandi membersihkan diri dan bersiap untuk kereta jam tujuh pagi.
Waktu bergulir dan matahari mulai menunjukkan sinarnya. Rasanya Randy tidak ingin berangkat pagi itu.
Terlebih hari ini adalah akhir minggu.
"Sayang, maaf ya harusnya kita pergi ke kafe yang waktu itu kamu tunjukkin ke aku" ucap Randy sedih.
"Gak apa-apa Dy, kan kamu kerja juga buat aku, buat kita. Soal main kita masih bisa pergi nanti pas kamu libur" ujar Anggie
"Makasih sayang, aku berangkat ya" pamit Randy, seraya melangkah keluar pintu rumah.
"Ya udah, hati-hati dijalan. Kabarin aku kalau udah sampai" teriak Anggie lagi.
Kereta melaju dengan cepat pagi itu, melewati rute yang belum pernah Randy lalui sebelumnya.
Lewat jendela kereta ia memandangi panorama hijau pepohonan yang lebat. Dan di tempat yang tidak terkena sinar matahari ia melihat wajahnya terpantul lewat jendela kereta.
Seorang wanita berdiri tepat di belakang kursinya. Ia melihat pantulan wanita itu menatap ke arahnya. Ia pikir itu penumpang yang sedang bangkit dari kursinya.
Wanita itu diam mematung, pantulan matanya di kaca tampak terlalu kelam untuk seorang manusia, seolah cahaya enggan memantul di sana.
Randy mengalihkan pandangannya, lalu bayangan itu menghilang.
Hampir dua jam berlalu sejak kereta melaju. Bosan, dan juga lapar mulai muncul dari dalam perut Randy. Ia menoleh ke depan dan belakang, berharap ada Prama atau Prami yang bertugas di gerbongnya. Tetapi sayangnya sedang tidak ada yang siaga di sana.
Gerbong yang lengang terlihat di mata Randy.
Ada perasaan menggelitik dalam hatinya, perempuan tadi siapa? Ia pikir itu penumpang yang duduk di bangku belakang
Berusaha positif, Randy mengabaikan pikirannya sendiri dan mengajak temannya pergi ke gerbong restorasi.
"Fan, ngopi yuk. Bosen di sini, gue juga agak lapar sih" ajak Randy.
"Duluan gih, gue bentar lagi beres. Email dulu bentaran doang" balas Irfan, sibuk menatap layar ponselnya.
"Yaudah gue duluan" balasnya lagi.
Di gerbong restorasi Randy memesan beberapa kudapan untuk mengganjal rasa laparnya. Ia pun berbincang dengan Pramu yang sedang bertugas untuk mencairkan suasana sepi.
"Pak, kalau weekend gini kereta ke arah ibu kota sepi ya? saya jarang-jarang naik kereta tapi gerbongnya sepi" tanya Randy
"Oh biasanya ramai Pak. Mungkin karena ini long weekend jadi banyak perjalanan yang ke arah luar ibu kota" jawab Pramu ramah.
"Hoo gitu..." angguk Randy.
"Bapak, ini pesanannya sudah siap, selamat menikmati. Hati-hati, kopinya masih panas" ucap Pramu lagi.
"Terimakasih ya" balas Randy sumeringah melihat kopi panas yang baru disajikan.
Ia menatap kopi itu, aroma yang menyeruak menenangkan indera penciumannya. Asap tipis yang mengepul di udara perlahan menunjukan bayangan tipis, nampak mirip dengan bayangan di jendela kereta yang ia lihat sebelumnya, transparan.
"Yo udah pesen aja, gue mau juga ah" tepuk Irfan dipundak Randy.
"Eh iya, gas Fan ngopi bareng" ucap Randy sedikit terkejut. Otaknya seperti berhenti sejenak. Apa itu yang baru saja ia lihat?
Tidak lama, kereta akhirnya sampai di kota tujuan. Randy dan Irfan bergegas untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah menanti. Menemui beberapa klien dan mendatangi kantor cabang untuk pelatihan job desk yang baru.
Waktu menunjukkan pukul enam sore ketika mereka baru keluar dari ruang rapat. Untungnya perusahaan menempatkan kamar mereka dan ruang rapat di hotel yang sama. Mereka sudah tidak sabar bertemu tempat tidur setelah seharian bekerja.
"Wah gawat kita sekamar lagi Ran" ledek Irfan.
"Yah elah, gue juga maunya ama bini gue Fan" balas Randy sambil tertawa
"Kasurnya apaan yak, jangan-jangan Queen Size ?" ledek irfan lagi
"Ogah, mendingan gue pesen kamar sendiri" Randy menatap Irfan sinis.
"Hahahaha gue juga ogaaaaahhh idihhh" Irfan tertawa terbahak-bahak. Rasanya seru meledek Randy.
Sesampainya di kamar, mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Randy tentu saja asyik mengobrol dengan Anggie yang sedang berada dirumah orangtuanya.
"Ran, gue sebat dulu yak. Mandi duluan gih, gue mandinya lama" ucap Irfan seraya membuka balkon hendak merokok.
"Jangan di kamar. Ke smoking room aja" protes Randy
"Oh iya lupa gue, elu gak sebat" balas Irfan lagi
Sebelum semakin malam, Randy bergegas membersihkan diri. Dengan cepat air membasahi rambut dan tubuhnya. Melewati setiap otot yang penat. Wajahnya yang letih berangsur cerah kembali.
Entah mengapa uap air panas yang menempel rapat di dinding kaca kamar mandi memberikan sensasi bergidik yang singkat.
Ia teringat keajadian di kereta tadi pagi. Buru-buru ia mengusap kaca agar uapnya hilang.
Merasa lucu karena ini benar-benar tidak masuk logikanya. Apa-apaan barusan itu? ia takut pada uap air?.
Di mata Randy, uap itu membentuk siluet tangan yang hampir menyentuh tubuhnya, sebelum ia usap.
Pukul sepuluh malam Randy mulai mengantuk. Samar-samar ia mendengar suara air yang mengalir, Irfan sudah kembali ke kamar rupanya. Ia pun terlelap dalam balutan selimut yang hangat.
Tersentak, Randy membuka matanya dengan segera.
"Ah, jam berapa sekarang?" ucap Randy setengah sadar. Seperti ada yang membangunkannya. Ruangan sudah gelap dan Irfan juga sudah terlelap.
Cahaya menyambar kesetiap sudut mata Randy ketika ia mebuka ponselnya.
"Ya ampun, jam segini lagi" ucapnya lirih
Waktu menunjukkan pukul 02.29 dini hari.