

Matahari Depok tahun 2008 tidak pernah kenal kompromi. Panasnya terasa menyengat, bercampur dengan debu jalanan yang beterbangan tertiup angin dari arah proyek pembangunan ruko yang menjamur di sepanjang Jalan Margonda. Di sebuah SD negeri di pinggiran kota, Arkan duduk di pojok kelas, menatap papan tulis dengan dahi berkerut. Baginya, angka-angka matematika di depan sana tampak seperti sandi rumit yang sengaja diciptakan untuk menyiksanya.
“Kan, bengong mulu lo. Kesambet penunggu pohon beringin depan baru tahu rasa!” celetuk sebuah suara dari arah belakang.
Arkan menoleh, mendapati Rian—sang juara kelas yang bajunya selalu licin tanpa kerutan—sedang menatapnya dengan seringai meremehkan.
“Gue lagi mikir, Yan. Ini soal nomor empat, logikanya ke mana ya? Kok gue itung-itung hasilnya nggak ketemu di pilihan ganda,” jawab Arkan pelan, mencoba tetap ramah.
Rian tertawa kencang, memancing perhatian teman-teman sekelas lainnya. “Ya nggak bakalan ketemu kalau otak lo cuma segede bakso! Udah deh, Kan, mending lo fokus jualan es mambo aja kalau lulus nanti. Gaya-gayaan mau masuk SMPN 1 Depok. Mimpi!”.
“Huuu... Arkan mimpi ketinggian!” timpal teman yang lain. “Nilai tryout lo aja masih tiarap gitu, mau lawan anak-anak elit dari pusat kota?”.
Arkan terdiam. Ia tidak marah. Di Depok, ia sudah terbiasa dianggap sebagai anak yang "lemot" dan tidak punya masa depan gemilang. Namun, ada sesuatu yang tidak mereka ketahui. Di balik sikap tenangnya, Arkan adalah seorang 'penyerap' ilmu yang luar biasa gigih.
+4
“Yan,” Arkan justru mendekati meja Rian setelah tawa mereka mereda. “Ajarin gue dong soal matematika yang ini. Sumpah, gue penasaran banget caranya gimana.”.
Rian mengangkat alis. “Males ah, buang-buang waktu.”
“Nanti gue traktir cilok Mang Ujang depan sekolah deh. Dua bungkus, bumbunya campur,” tawar Arkan dengan senyum tulus.
“Dua bungkus ya? Beneran?” Rian tampak menimbang. “Oke, sini kertas lo. Perhatiin baik-baik, jangan cuma meleng. Gue jelasin cuma sekali, nggak ada siaran ulang!”
Sepanjang siang itu, di bawah kipas angin kelas yang berputar malas dan mengeluarkan bunyi cit-cit, Arkan memperhatikan setiap coretan pensil Rian. Ia menyerap setiap rumus bukan hanya dengan otak, tapi dengan keinginan untuk membuktikan bahwa takdir tidak bersifat statis.
“Tumben lo rajin banget, Kan? Biasanya jam segini udah lari ke lapangan bola,” tanya Firman, sahabat dekat Arkan, saat mereka sedang berjalan pulang menyusuri trotoar Margonda yang belum serapi sekarang.
“Gue pengen masuk SMPN 1, Man. Gue capek dibilang nggak punya masa depan cuma gara-gara nilai gue sekarang jelek,” ujar Arkan sambil menatap KRL Commuter Line yang melintas ke arah Bogor.
+1
Firman menepuk bahu Arkan. “Berat, Kan. Lo tahu sendiri saingannya se-Depok. Tapi ya udah, kalau itu mau lo, gue dukung. Tapi jangan lupa, jangan cuma belajar sampe tipes.”
“Gue punya cara lain, Man. Cara yang nggak dipunya si Rian,” bisik Arkan penuh rahasia.
+2
Malam harinya, saat Depok mulai mendingin dan suara jangkrik bersahutan di pinggiran sawah yang tersisa, Arkan tidak langsung tidur. Di kamarnya yang sempit dengan cahaya lampu temaram, ia membuka Al-Qur'an kecilnya. Suaranya yang masih agak cempreng remaja melantunkan Juz 30 dengan tartil yang ia jaga betul.
+4
Inilah ritual yang ia namakan Read n Pray. Membaca (Read) bukan sekadar materi pelajaran, tapi juga membaca kalam-Nya. Dan berdoa (Pray) bukan sekadar meminta, tapi merayu Sang Pemilik Ilmu.
+2
Saat jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari, Arkan terbangun. Ia membasuh wajahnya dengan air wudu yang terasa menusuk tulang. Di atas sajadah lusuhnya, ia berdiri tegak. Di sepertiga malam itu, ia menumpahkan segala ketakutannya akan masa depan, segala sakit hatinya atas cemoohan Rian, dan segala mimpinya untuk membahagiakan ibunya.
“Ya Allah, hamba memang bukan anak yang jenius. Tapi Engkau adalah pemilik segala ilmu. Berikan hamba sedikit saja dari luasnya ilmu-Mu agar hamba bisa membuktikan bahwa dengan-Mu, tak ada yang mustahil,” bisiknya dalam sujud yang panjang.
+1
Ia percaya sepenuhnya pada sebuah rumus yang ia temukan sendiri di tengah kesunyian Depok: Sabar + Tahajud = Pertolongan.
+1
Esok paginya, Arkan kembali ke sekolah dengan energi yang berbeda. Ia tidak lagi menunduk saat berpapasan dengan Rian.
“Gimana, Kan? Cilok kemarin masih ada sisanya di otak lo, atau udah keluar di toilet?” ejek Rian sambil menyampirkan tasnya.
Arkan tersenyum lebar. “Masih ada, Yan. Malah kayaknya nambah banyak. Siap buat kuis hari ini?”
“Gaya lo! Kita liat nanti siapa yang dapet nilai tertinggi,” tantang Rian.
Arkan hanya mengangguk. Baginya, kemenangan bukan untuk mengalahkan Rian, tapi untuk menaklukkan keraguan dalam dirinya sendiri. Ia tahu, selama ia menjaga ritual Read n Pray, semesta akan meluangkan jalan baginya.