

Malam itu, udara di dalam ballroom hotel mewah sangat lembap. Dipenuhi orang-orang yang sedang bergoyang mengiringi irama musik yang memukau. Dean Ardianto, siswa SMA kelas XII mengenakan jas hitam peninggalan ayahnya, berdiri di sudut ruangan sambil memegang gelas minuman yang tak pernah menyentuh bibirnya.
"Woy Dean! Kok cuma berdiri disitu aja, malam ini gue bikin pesta buat kita seru-seruan!" teriak David, sahabat sekaligus
teman sekelasnya yang menjadi tuan rumah dari pesta tersebut. Dengan membawa beberapa gelas minuman berwarna-warni ditangannya, David lalu mendekati Dean yang terus menyendiri.
Tanpa memberi pilihan, David lantas menyodorkan gelas berisi minuman keras itu ke tangan Dean, menggantinya dengan minuman yang sejak tadi ia pegang.
"Coba ini deh! Lo belum pernah nyobain kan. Ini enak lho, pesta nggak seru kalau nggak minum!" David tersenyum manis menatap wajah datar Dean.
"Gue nggak minum alkohol. Kasih teman yang lain aja." Ujarnya menolak dengan halus. Namun David terus memaksa pemuda itu untuk tetap meminumnya.
Dean terus saja menolak tapi tekanan dari beberapa teman yang kini mengelilinginya, membuat ia akhirnya menenggak sebagian dari isi gelas tersebut. Rasanya pahit dan membakar tenggorokan, namun Dean tak punya pilihan lain.
"Rasanya seperti wipol! Kasih ke yang lain aja." Dean kembali menyodorkan gelas itu.
"Enak kok, Lo belum terbiasa minum aja mangkanya ngerasa aneh." Jawab David lagi.
"Biar lo terbiasa, lo harus minum lagi dan habiskan isi gelas ini." David kembali menyodorkan minuman itu ke mulut Dean.
Lagi-lagi Dean yang tak punya pilihan lantas kembali menenggak minuman itu hingga tandas. Tak butuh waktu lama, efek dari minuman itu mulai muncul.
Kepala Dean mulai berputar, pandangannya menjadi kabur, dan tubuhnya terasa seperti terapung ke atas awan. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, Dean berjalan sempoyongan menuju kamar mandi.
Beberapa kali ia terjungkal akibat tubuhnya yang terasa melayang. Dari arah kamar mandi Dean yang seharusnya kembali ke ballroom, malah tersesat ketempat lain.
David yang membantunya dan ingin membawa ia menuju kamar yang disewanya, tanpa sadar membuka pintu kamar yang salah. David justru membuka pintu kamar tamu lain yang tidak terkunci rapat. Di dalam kamar, wanita cantik bernama Natalie yang berprofesi sebagai CEO perusahaan teknologi ternama N-STAR Innovation, sedang bergelut dengan sensasi yang luar biasa di dalam tubuhnya.
Wajah cantiknya yang biasanya dingin dan terkontrol kini memerah, dahinya berkeringat dingin, dan tangannya tidak sengaja meraih bagian tubuhnya yang terasa panas luar biasa.
Natalie yang datang ke hotel untuk menghadiri pertemuan, tak menyangka jika ia akan terjebak. Jus yang diberikan pelayan kepadanya ternyata dicampurkan sesuatu oleh seseorang yang ingin mengambil keuntungan darinya.
"Aku tidak akan pernah mengampuni siapapun yang telah berani melakukan ini." Ucapnya Natalie dengan raut wajah marah.
Ketika Dean masuk kedalam kamar dan melihat sosok wanita cantik yang menggeliat di atas ranjang, kesadaran yang hampir hilang itu sedikit kembali. Dia mencoba mendekat untuk menanyakan keadaan Natalie, tapi efek mabuknya membuat tubuhnya tidak stabil dan akhirnya terjatuh tepat di sisi ranjang. Natalie yang sedang dalam pengaruh obat menyadari adanya orang lain di kamar, dan naluri yang terpicu membuatnya menarik tubuh Dean untuk mendekat kearahnya.
Dalam kebingungan dan pengaruh zat yang bekerja di dalam tubuh mereka berdua, malam itu menjadi awal dari hubungan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Dean merasa tubuhnya terbawa oleh aliran kekuatan yang tidak bisa dia lawan. Wajahnya yang masih muda dipenuhi kebingungan, namun juga ada rasa tidak nyaman karena dia tahu bahwa apa yang sedang terjadi bukanlah hal yang benar.
"T-tunggu dulu... saya akan bantu kamu cari bantuan," bisik Dean dengan suara yang terengah-engah, mencoba menarik diri perlahan. Namun jari-jari Natalie yang menggenggam bajunya terasa kuat seperti penjepit baja.
Mata yang biasanya tajam dan fokus kini tampak kabur. Natalie menarik Dean lebih dekat, wajahnya yang memerah mendekat ke telinga Dean.
"Tolong..." ucapnya dengan suara yang lembut namun penuh desakan. "Aku tidak bisa mengontrol diri..." Imbuhnya.
Dean merasa hati nuraninya berkelahi hebat. Di satu sisi, dia tahu dia harus segera mencari bantuan untuk wanita ini. Di sisi lain, efek mabuknya membuatnya sulit untuk berpikir jernih, dan sentuhan kulit Natalie yang hangat membuatnya kehilangan sebagian kendali dirinya.
Saat kedua tubuh mereka bersentuhan, Dean mencoba dengan sekuat tenaga untuk tetap sadar. Dean menggenggam lembut bahu Natalie serta menatap matanya dengan kesadarannya yang tersisa.
"Kamu tidak ingin terjadi hal lain, kan?" tanya Dean dengan suara gemetar. "Kita harus berhenti... saya akan bantu kamu keluar dari situasi ini..." Imbuhnya
Namun obat yang bekerja di dalam tubuh Natalie telah mengambil alih seluruh kontrolnya. Dia mengabaikan kata-kata Dean dan dengan cepat menghilangkan jarak di antara mereka.
Dean mencoba menolak dengan lembut, tapi kekuatan yang ada di dalam dirinya juga mulai terpicu oleh pengaruh alkohol dan ketegangan yang ada di antara mereka berdua.
Dalam kebingungan dan hilangnya kendali diri yang semakin besar, Dean akhirnya menyerah pada aliran perasaan yang tak bisa dia hentikan.
Malam itu berlalu dengan cepat dan penuh dengan kebingungan, di mana batasan antara benar dan salah tampak samar dan kabur.
Pakaian mereka berserakan dilantai, zat yang mengendalikan tubuh Natalie terlalu kuat sehingga ia melakukan kegiatan terlarang itu berkali-kali.
"Tubuhmu sangat indah." Gumamnya yang kembali memberi lumatan lembut dibibir tipis Dean sebelum akhirnya mereka terlelap bersama.
****
Ketika sinar matahari pagi menyinari kamar, Dean terbangun dengan kepala yang sakit parah dan rasa haus yang luar biasa.
Dia berusaha menggerakkan tubuhnya, tapi menyadari jika ada sesuatu yang tidak biasa. Ada tangan yang terlipat di dadanya, dan tubuh hangat yang bersandar di belakang punggungnya.
Ketika ingatan tentang malam sebelumnya perlahan kembali, wajah Dean langsung memucat hingga ke telinga. Dia perlahan berbalik dan melihat sosok wanita cantik yang masih tertidur pulas di sisinya.
"Apa yang sudah aku lakukan." Ujarnya dingin, menatap Natalie yang masih terlelap.
Tanpa berpikir dua kali, Dean segera bangkit dan mulai memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai. Dia melihat sekeliling kamar dan menemukan dompet Natalie di atas meja.
'Stevia Natalie.' gumam Dean saat membaca nama yang tertera di kartu identitas milik wanita cantik itu.
Dean ingin meninggalkan catatan permintaan maaf, tapi takut itu hanya akan membuat situasi semakin rumit. Dengan hati yang penuh rasa bersalah dan ketakutan, Dean akhirnya memutuskan untuk pergi sebelum Natalie terbangun.
Dia berjalan dengan hati-hati menuju pintu kamar, membukanya dengan sangat pelan agar tidak mengganggunya, lalu keluar dengan cepat.
Setelah keluar dari kamar, Dean berlari secepat mungkin meninggalkan hotel. Dia tidak memperdulikan tatapan aneh beberapa tamu yang sedang sarapan disana. Yang ia perdulikan hanyalah pulang dan menyembunyikan diri dari dunia luar.
****
Saat dia tiba di rumah dan melihat ibunya yang sedang memasak, Dean merasa ingin sekali menangis. Tapi dia memaksanya untuk tetap kuat dan memberikan senyum palsu kepada ibunya.
"Kamu pulang terlambat, nak. Dari mana saja kamu semalam?" tanya ibu Dean dengan suara penuh kekhawatiran.
"Dean menginap di rumah David, Bu. Ada kerja kelompok yang harus kita selesaikan secepatnya," bohong Dean dengan suara yang sedikit bergetar. Dia tidak bisa memberitahu ibunya tentang apa yang terjadi semalam, karena dia tahu itu hanya akan membuat ibunya cemas dan khawatir.
Seharian itu Dean tidak bisa fokus pada apapun. Dia hanya bisa berpikir tentang wanita cantik bernama Natalie yang dia tinggalkan di kamar hotel tadi pagi. Dia bertanya-tanya bagaimana perasaannya ketika dia terbangun dan menemukan dirinya sendiri, atau apakah dia akan mengingat apa yang telah terjadi.
Di sisi lain, di kamar hotel yang sama, Natalie terbangun beberapa jam kemudian dengan kepala yang berdenyut dan rasa tidak nyaman yang luar biasa di tubuhnya. Ketika ingatan tentang malam sebelumnya mulai muncul satu per satu, wajahnya yang biasanya tenang dan terkendali kini dipenuhi dengan kemarahan dan kekhawatiran.
Dia segera menelepon asisten pribadinya, Selvi, agar segera datang ke kamarnya.
"Siapa yang melakukan ini padaku?" tanya Natalie dengan suara dingin dan penuh amarah saat Selvi membantu ia berpakaian.
"Saya sudah menyelidikinya, Nona. Pelayan yang membuat jus Anda kemarin malam ditemukan bekerja sama dengan salah satu pesaing perusahaan kita. Dia mengaku telah dibayar untuk mencampurkan obat ke dalam jus Anda, untuk menimbulkan skandal." jelas Selvi dengan nada santai.
Natalie menghela napas dengan berat. "Apa yang terjadi setelah itu? Apakah ada orang lain yang masuk ke kamar saya?"
Selvi mengangguk. "Saya telah memeriksa rekaman CCTV. Seorang pemuda yang tampaknya masih sangat belia memasuki kamar Anda sekitar pukul satu malam dan keluar sekitar pukul enam pagi. Saya sudah mendapatkan fotonya dan sedang mencoba mencari tahu siapa dia."
Natalie menutup matanya sejenak. Dia tidak bisa benar-benar mengingat wajah pemuda itu, tapi dia merasa ada sesuatu yang ia ingat tentangnya. Suara muda yang mencoba menenangkannya, sentuhan lembut yang mencoba membantunya.
"Temukan dia secepatnya, Selvi," perintah Natalie dengan tegas. "Saya perlu bertemu dengannya dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi malam itu."