

Rayhan hanya ingin hidup tenang tanpa masalah. Namun, semua itu jadi mustahil sejak ia terpilih sebagai ketua kelas di Sekolah Garuda Sakti. Setelah pengacakan kelas di tingkat kelas 11 B, ia harus disatukan dengan anak-anak yang ditakuti di seluruh sekolah, karena sikap mereka yang arogan dan jago bertarung.
Banyak murid menyebutnya sang "Raja Garuda Sakti". Lebih buruk lagi, ia memiliki kekuasaan mutlak—ayahnya adalah kepala sekolah.
Dialah Dani, sang ketua berandalan, bersama kedua temannya, Indra dan Erik. Selain mereka, ada dua orang lagi yang selalu masuk kelas hanya untuk membuat masalah, yaitu Wandi dan Jidan. Mereka selalu berbuat rusuh dan berani bertindak semena-mena karena merasa dilindungi oleh sang ketua.
"Hei, siapkan talinya! Dia datang!" seru Wandi sambil berlari masuk. Ia memberi aba-aba kepada Jidan yang sudah bersiap di sisi lain memegang tali, sementara Wandi kembali ke posisinya di sisi yang berlawanan.
Adit, seorang siswa bertubuh tambun, berjalan di lorong tanpa curiga. Begitu ia melangkah masuk—Dreet!—tali yang sudah dipasang di bawah ditarik seketika. Tubuh Adit kehilangan keseimbangan dan tersungkur keras ke lantai.
"Aghhh!" Adit memekik kesakitan.
"Yey! Hahaha! Si Gendut kena jebakan!" Wandi dan Jidan tertawa puas melihat pemandangan itu. Dani, Indra, dan Erik yang melihat kejadian itu ikut merendahkannya. Dengan duduk di barisan belakang, tidak ada yang menghalangi pandangan mereka untuk melihat ke depan. Kebanyakan murid di sana menunduk tidak berani duduk tegak.
"Astaga, kalian lihat mukanya? Ngakak banget pas jatuh!" ejek Jidan sambil menunjuk Adit yang masih mengerang kesakitan.
"Hahaha, Bodoh banget!" Wandi dan Jidan melakukan high-five karena rencana mereka sukses besar.
Rayhan melihat kejadian itu dari kursinya yang berada di dekat jendela barisan ketiga dari empat barisan ke belakang. Mereka berulah lagi, pikirnya dalam hati sambil memalingkan wajah.
Selama bukan aku targetnya, aku tidak mau peduli, meski jabatanku adalah ketua kelas. Sebenarnya, mengalahkan mereka bukan masalah besar bagiku. Namun, memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya... itu merepotkan.
"Apa yang kau pikirkan, Rayhan?" tanya Sila yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat meja.
"Bukan apa-apa," jawab Rayhan seramah mungkin.
"Begitu ya," Sila menduduki kursi kosong di depan meja Rayhan. "Ketua kelas, boleh bantu aku mengerjakan soal ini? Aku benar-benar tidak paham," ucapnya. Nadanya sengaja dibuat manis. Rambut panjangnya terurai indah, dengan wajah cantik yang terus menatap lawan bicaranya.
"Baiklah, bagian mana?"
Rayhan mulai menjelaskan, meski ia tahu ini hanya modusnya. Sila lebih fokus memandangi wajah lawan bicaranya daripada mendengarkan penjelasan materi. Ia tahu sifat asli Sila yang tidak diketahui orang lain.
Di balik wajah cantiknya, dia juga suka merundung murid lain, terutama Nina yang duduk di bangku paling depan di barisan kedua dari samping. Nina adalah siswi berprestasi namun pendiam. Dari yang terlihat ia tampak kuat menghadapi itu semua, meski aslinya tidak sesederhana itu.
Adit kembali ke bangkunya di samping seberang ketua kelas dengan kepala tertunduk. Ia tidak berani melawan, karena perlawanan hanya akan mendatangkan siksaan yang lebih parah. Teman-temannya di kelas mulai menjauh karena takut ikut terseret masalah.
Seandainya aku bisa seperti Ketua Kelas, yang bisa bergaul dengan siapa saja tanpa rasa takut, batin Adit sambil melirik lesu ke arah Rayhan.
"Oy! Apa yang kau lihat? Cepat kerjakan tugasku!" Dani tiba-tiba memukul kepala Adit dengan buku dan melemparnya ke meja karena Adit duduk tepat di depan kursinya.
"Aku juga, ya!" Indra menumpuk bukunya di atas buku Dani. Ia berada di sebelah lain bangku Adit.
"Jangan lupakan milikku," tambah Erik ikut-ikutan yang berada di samping bangku Dani. Wandi dan Jidan yang sudah puas merundung memutuskan untuk kembali ke kelasnya dengan perasaan bangga.
Adit menerima ketiga buku itu tanpa membantah. Ia mengerjakannya dengan terburu-buru, takut bel masuk berbunyi sebelum tugas itu selesai. Sementara itu, Dani dan kawan-kawannya bersantai di belakang sambil tertawa tanpa rasa berdosa.
Beberapa menit kemudian, bel masuk berbunyi. Rayhan berdiri dan memberi komando.
"BANGUN!" teriaknya. Semua murid berdiri tegak. "Beri salam!"
"SELAMAT PAGI, BU!" seru mereka serentak saat Bu Guru memasuki kelas.
"Selamat pagi, silakan duduk kembali," jawab Bu Guru.
Tak lama setelah pelajaran dimulai, pintu kelas diketuk. Pak Hendi, wali kelas 11 B masuk ke dalam. "Maaf, Bu, saya minta waktunya sebentar."
"Silakan, Pak."
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru," ujarnya sambil melangkah masuk ke dalam kelas.
Kelas langsung riuh. Murid-murid perempuan tampak antusias berharap murid baru itu tampan, sementara murid laki-laki mengharapkan perempuan cantik.
"Silakan masuk, Nak," panggil Pak Hendi sembari melihat ke arah pintu.
Langkah kaki terdengar mantap memasuki ruangan. Seorang remaja laki-laki berambut hitam dengan mata tajam yang indah berdiri di depan kelas. Wajahnya yang sangat tampan seketika membuat para siswi berbisik heboh, sementara para siswa menatapnya dengan perasaan iri.
"Sudah, tenang semuanya. Silakan perkenalkan dirimu," ujar Pak Hendi.
"Nama saya Raka Akarsana. Panggil saja Raka. Salam kenal," ucapnya dengan nada datar dan ekspresi dingin. Penampilan cool itu justru makin membuat para siswi terpesona.
"Pak, boleh bertanya pada anak baru?" Fitri yang duduk di barisan kedua berada di sebelah Sila mengacungkan tangan.
"Iya, tentu silakan," Pak Hendi mempersilakan.
"Raka, kamu sudah punya pacar belum?" Fitri blak-blakan bertanya dengan wajah penuh harap.
Raka hanya tersenyum tipis. "Punya," jawabnya datar.
Jawaban itu membuat perempuan di kelas riuh kecewa. Meski begitu, ada juga yang tidak peduli; selama ada pemandangan bagus untuk dilihat, mereka tidak masalah.
"Baiklah, Raka silakan duduk di belakang ketua kelas yang kosong itu," Pak Hendi mempersilakan. Raka hanya mengangguk pada Pak Guru dan berjalan ke kursi yang ditunjuk.
"Rayhan, nanti tolong perkenalkan sekolah ini kepada Raka ya," Pak Guru meminta Rayhan sebagai ketua kelas untuk menjaga murid baru.
"Baik, Pak," balas Rayhan sopan.
"Saya sudah selesai, saya permisi dulu ya, Bu. Silakan dilanjutkan mengajarnya."
"Iya, Pak," jawab Bu Guru, dan Pak Hendi langsung pergi keluar kelas.
"Baiklah anak-anak, keluarkan buku kalian dan tulis ini," Bu Guru menulis di papan tulis. Jam pelajaran berlangsung tanpa terasa hingga bel istirahat berbunyi.
"Oy Gendut... bangun! Sana ke kantin, belikan makanan dan minuman," perintah Dani dengan tegas. Sembari menendang kursi Adit dari arah belakang. Membuatnya terkejut.
"Jangan lupa kami juga," sahut Indra.
"Baik." Adit berdiri dari kursinya. "Bisa saya minta uangnya?" tanya Adit pada Dani.
"Pakai uang kamu saja dulu. Sudah, pergi sana!" ucap Dani memerintah.
Adit terlalu takut untuk meminta uang lagi. Terpaksa, ia menggunakan uangnya yang tidak seberapa, untuk membelikan makanan bagi mereka.
Rayhan berdiri dari kursinya berjalan ke arah Raka yang sedang duduk.
"Namamu Raka, kan? Perkenalkan namaku Rayhan." Rayhan menjulurkan tangannya.
Raka membalas salaman itu. "Ya," jawabnya singkat. Di balik genggaman tangan itu, Rayhan merasakan kapalan di tangan Raka yang begitu keras.
Di balik senyumannya, Rayhan membatin. Sepertinya ia bekerja sangat keras untuk melatih tubuhnya. Menarik, pikirnya, lalu melepaskan genggaman tangan Raka.
"Mari, aku ajak kamu berkeliling," ajak Rayhan. Sembari menunjukkan ke arah pintu.
Raka berdiri dari kursinya.
"Tunggu, jangan dulu pergi!" Sila mencegat Rayhan yang hendak membawa Raka. "Perkenalkan namaku Sila." Sila menjulurkan tangan pada Raka.
"Dan namaku Fitri," Fitri yang berada di samping Sila ikut menjulurkan tangan.
"Iya," jawab Raka singkat sambil menyalami mereka berdua.
"Ayo," ajak Raka pada Rayhan untuk segera pergi dari kelas.
"Ah iya, ayo. Pertama-tama, kau ingin ke mana?" tanya Rayhan.
"Ke mana saja, aku ikut."
"Baiklah."
Di sepanjang jalan, beberapa orang menyapa Rayhan dan bertanya siapa di sebelahnya. Rayhan menjawab ramah bahwa itu adalah murid baru, sambil mengenalkan tempat-tempat yang berada di sekolah. Raka hanya mendengarkan tanpa banyak merespon. Saat kembali ke kelas, mereka melihat kerumunan di depan pintu.
"Apa yang terjadi?" Rayhan mendekati kerumunan.
"Itu... Adit sedang dipukuli," balas salah satu siswa.
"Kenapa?" tanya Rayhan.
"Katanya makanan yang Adit bawa sedikit. Mereka jadi marah."
"Apa? Hanya karena itu?" Rayhan panik dan menyuruh seseorang memanggil guru. Raka yang mendengar itu langsung mencoba masuk ke sela-sela kerumunan.
"Kamu mau ke mana?" Rayhan menahan Raka.
"Membantunya," tegas Raka penuh percaya diri.
"Apa? Tunggu, jangan gegabah. Kamu tidak tahu orang seperti apa yang akan kamu lawan. Diam saja dulu, mereka akan berhenti jika guru sudah tiba," jawab Rayhan.
"Itu kelamaan. Jika terus menunggu, orang itu akan terus menderita. Jika kamu takut, diam saja," tegas Raka, pergi menghampiri mereka di dalam kelas.
Rayhan hanya bisa membiarkan anak baru itu pergi. Hero, Ya? pikirnya. Di balik wajahnya yang panik. Rayhan merasa akan ada sesuatu yang menyenangkan terjadi tanpa ia sendiri harus turun tangan.