

Kancing baju yang terbiasa terkancing semua, sekarang terbuka dua dibagian atas. Seragam yang biasanya terlihat rapi, hari ini cendrung berantakan. Kacamata tebal yang setiap harinya menghiasi matanya, sekarang sudah tidak terlihat lagi. Yang ada, hanya mata tajam yang siap mencabik-cabik orang yang berani menatapnya langsung.
Wajahnya yang selalu tertunduk ketika melewati lorong kelas, sekarang terangkat tegas. Langkahnya yang biasanya tampak ragu, sekarang melangkah dengan yakin. Satria telah berubah, Satria siap menghadapi semua yang ada di depannya saat ini. Dia tidak akan membiarkan lagi harga dirinya diinjak-inak.
Satu minggu diskors karena perbuatan yang tidak pernah dia lakukan, itu membuat Satria berubah. Satu minggu diskors, banyak hal yang terjadi dalam hidup Satria. Bukan nama baiknya saja yang tercoreng, tapi juga dia harus kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidup. Orang yang selama ini menjadi garda terdepan untuk hidup Satria.
Semua teman sekelas Satria terkejut melihat perubahan pada diri Satria yang sangat drastis. Satria yang biasanya datang lebih awal, untuk menghindari teman sekelasnya yang seperti iblis. Sekarang baru datang disaat semua teman sekelasnya telah berada di kursi masing-masing. Dan hanya tinggal menunggu guru yang datang saja.
“Lo beneran Satria?” tanya seorang gadis yang duduk di depan Satria.
Satria tidak langsung menjawab, dia malah melayangkan tatapan tajam kearah gadis itu. “Kalau gue bukan Satria, terus gue siapa? Arwah Satria atau setannya Satria? Ops, pasti lo berharap kalau gue udah mati kan? Jadi, yang disini bukan Satria tapi arwahnya yang gentayangan. Tapi, tenang aja, Jes. Walau gue udah jadi arwah, gue tetap akan terus duduk di sini untuk meneror kalian semua!!!”
Gadis yang bernama Jesika itu mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding. “Apaan sih lo? Aneh banget!” timpalnya kembali menghadap depan.
Berulang kali, Jesika mengusap tengkuk dan punggungnya yang terasa dingin. Satria yang melihat hal itu hanya tersenyum sinis. Ini baru awal, dia baru saja mengucapkan beberapa kalimat saja. Tapi sudah membuat Jesika tidak bisa lagi membalasnya. Padahal biasanya, Jesika adalah salah satu siswi yang sangat vocal dalam menjelekkan dan menuduhnya.
Pembelajaran dimulai seperti biasanya. Walau beberapa kali guru yang tengah mengajar salah fokus dengan perubahan Satria. Sama seperti Jesika, ada ketakutan tersendiri dalam hatinya ketika menatap mata Satria secara langsung.
Guru wanita itu bernapas lega, ketika bel istirahat berbunyi. Dia dengan cepat mengakhiri pembelajarannya lalu keluar dari kelas Satria tanpa ingin menoleh atau memerintah Satria seperti biasanya.
Kreeeek…
Satria mendorong kursinya perlahan. Suasana kelas yang tadi tampak ramai, kembali sunyi. Semua mata menoleh kearah Satria, seolah tidak terima dengan bunyi yang dihasilkan oleh Satria.
“Kenapa? Gak terima kalau kursi gue bunyi?” seru Satria. “Oke! Gue gak bakal buat bunyi dari kursi sialan ini!”
Braaaaak…
“Satria, lo apa-apaan sih? Hebat lo? Satu minggu diskors, lo semedi dimana sampai punya keberanian kayak gini? Norak tau!!!” seru ketua kelas bernama Niko.
“Semedi? Gue gak butuh semedi. Cukup ingat perbuatan kalian saja!” sahut Satria santai.
Dia melangkah santai keluar kelas. Tidak lupa, menendang kursi yang sudah patah akibat bantingannya.
“Gilaaa! Kok bisa si nerd itu berubah? Dia benaran Satria gak sih? Atau si nerd itu ada kembaran, terus kembaranya yang gantikan dia! Beneran gila, kalau emang itu terjadi,” celetuk Jesika menatap kearah pintu kelasnya.
“Dia gak ada kembarannya. Dia anak tunggal yang dengan tega kalian sakiti! Selama dia diskors, dia bukan semedi atau cari ilmu. Tapi, dia harus kehilangan kedua orangtuanya sekaligus. Dan salah satu penyebabnya adalah kalian!” seru Putra.
“Lah, lo mau ikutan si nerd itu, Put! Aaah, untung lo anak orang kaya. Kalau kagak, nasib lo sama kayak si nerd. Habis lo sama kita!”
Putra mengedikkan bahunya, lalu berdiri sambil menatap teman sekelasnya. “Saran gue, mendingan kalian minta maaf deh sama Satria. Setidaknya kalian bakal aman sampai lulus nanti.”
“Minta maaf? Cih, gak sudi! Ngapain minta maaf sama orang kayak si Satria. Turunin harga diri kita aja! Betul gak gaes?”
“Betul!” seru yang lainnya. Mereka semuanya setuju dengan apa yang diucapkan oleh Jesika. Meminta maaf kepada Satria bukan pilihan yang tepat. Selagi Satria masih bisa mereka perintah dan bully, kenapa harus minta maaf.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Kantin adalah pilihan Satria saat istirahat kali ini. Dia tidak mau lagi menahan lapar hanya karena takut pada orang-orang jahat. Sekarang dia harus melawan dan menunjukkan siapa sebenarnya Satria. Toh, sekarang dia sudah tidak perlu menjaga perasaan orangtuanya. Orangtuanya sudah tenang di alam sana. Dan mungkin sedang diintogerasi oleh para malaikat.
“Awww… Sialan lo! Kalau jalan liat-liat dong. Sembarangan nabrak aja!” seru seorang siswi bernampilan yang sama sekali tidak mencerminkan seorang siswi. “Nerd? Cupu? Jadi ini lo? Lah gue pikir siapa yang berani nabrak gue?” sambungnya ketika mengetahui orang yang ada di depannya saat ini adalah Satria.
“Tolong… Tolong… Satria mau melecehkan gue!” teriak siswi mendrama. Padahal jelas-jelas, Satria tidak menabrak ataupun menyentuhnya, tetapi seperti seolah-olah Satria menabrak dan menyentuh dirinya.
Sontak saja, para siswa dan siswi lain mendekati gadis itu dan Satria. Tanpa bertanya kebenarannya terlebih dahulu, mereka semua langsung menghakimi Satrai dengan tatapan sinis dan ucapan yang menyakitkan.
“Di-dia se-sepertinya de-dendam sama gue. Padahal gue udah minta maaf, dan emang gue yang salah karena menuduhnya waktu itu!” ujar gadis itu sambil terisak. Dia sengaja melakukan itu untuk memperkeruh keadaan. Agar Satria kembali mendapatkan masalah lalu di keluarkan dari sekolah.
Setelah beberapa waktu lalu, rencananya digagalkan dengan rekaman CCTV. Sekarang, di lorong ini tidak ada kamera CCTV yang merekam aktingnya
.
Gadis yang bernama Sera, pernah menjebak Satria di perpustakaan. Dia berteriak, dia menangis dan dia mengaku sudah dilecehkan oleh Satria di sudut perpustakaan. Satria yang tidak tahu apa-apa, bahkan dia yang tidak tahu jika ada Sera di dalam perpustakaan menjadi bingung. Saat itu, dia masih menjadi nerd yang selalu berusaha tidak membuat masalah. Alasan dia melakukan itu hanya satu, agar kedua orangtuanya tidak khawatir dengan kehidupannya di sekolah.
Akan tetapi, karena Sera. Orangtuanya bukan hanya khawatir, tetapi juga panik sekaligus malu. Dia yang dididik untuk selalu menjadi anak yang baik dan sopan, malah dilaporkan telah melakukan pelecehan pada salah satu perempuan teman sekolahnya.
Kejadian itu tidak membuat Satria dikeluarkan karena tidak ada buktinya yang kuat. Malah bukti yang ada, terlihat Satria tetap berada di perpustakaan sampai Sera berteriak tidak jelas. Satria hanya diskors satu minggu dan gadis itu diskors 3 hari.
“Mau berakting lagi, Sera?” tanya Satria dingin.
“G-gue gak berakting, gu-gue benar dilecehkan sama dia?” timpal Sera menunjuk lurus kewajah Satria.
“Dilecehkan seperti apa? Seperti ini?”
Cup
“Bibir lo manis, tapi sayang tingkah laku dan sifat lo sama sekali tidak manis!” ucap Satria mengusap bibir Sera.
“Sa-Sa-Satria…”