

“Selamat, Tuan Beni.” Seorang perempuan berpakaian ketat mengulurkan tangan ke arah Beni. Bibirnya yang berwarna merah muda tersenyum lembut padanya.
Beni hanya melirik ke arahnya sambil meraih dokumen resmi perusahaan yang baru diberinya. Dia mengangguk singkat ke semua orang di dalam ruangan lalu beranjak pergi.
Tidak dihiraukannya pandangan kecewa yang diarahkan oleh perempuan cantik di belakangnya.
Langkah kakinya lebar-lebar sehingga hanya butuh waktu singkat menuju lift. Sekretaris kepercayaannya tergopoh-gopoh mengiringi sambil berkata, “Setelah ini Tuan ada jadwal makan siang bersama Tuan—”
“Batalkan saja.”
“Tapi…”
Beni memandangnya dingin sehingga si sekretaris menutup mulutnya rapat-rapat. Mereka berdua turun dari gedung pencakar langit tanpa berbicara lagi.
Sopir mobil mewah Beni sudah menunggu di basement. Dia bergegas membukakan pintu untuk tuannya.
“Langsung ke pemakaman,” kata Beni singkat.
Sopir dan sekretarisnya saling berpandangan sebentar lalu segera masuk ke dalam mobil.
Beni bersandar di belakang, berkas penting bernilai ratusan miliaran tergeletak begitu saja di sampingnya. Matanya terpejam rapat sementara mobilnya melaju membelah kepadatan di jalan utama kota Akasia.
Satu jam kemudian mereka berhenti di sebuah pemakaman luas. Beni keluar seorang diri dan menolak saat sekretarisnya berniat memayungi.
Sorot matanya yang dingin membuat dua karyawan setia itu mematung di dekat mobil. Tidak satu pun yang berani mengikuti Beni masuk ke lokasi pemakaman.
Tidak banyak pohon yang ada di sana, hanya ada beberapa pohon tua yang tumbuh di tepi pagar tembok. Sedangkan sisanya hanya hamparan luas makam tanpa tempat untuk berteduh.
Tidak ada pengunjung lain kecuali Beni seorang diri. Berbeda dengan sikapnya yang tadi angkuh, kini Pria berumur 55 tahun itu berjalan dengan punggung sedikit membungkuk.
Matahari terik membuat matanya menyipit karena silau, tetapi dia sudah hafal area itu di luar kepala. Hanya butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya Beni tiba di tujuannya.
Dia duduk di samping dua makam selalu dikunjunginya tiap minggu. Tangannya gemetar saat mengusap nisan dan berkata, “Maya, Nila, aku datang lagi.”
Ditunjukkannya dokumen yang memang sengaja dibawa dari dalam mobil. Matanya mulai berkaca-kaca ketika berucap, “Lihat, aku berhasil membeli sebuah perusahaan lagi. Andai saja kalian ada di sini, aku pasti akan membahagiakan kalian berdua dan membelikan semua yang kalian mau.”
Tangannya semakin gemetar saat mengambil dompetnya yang sudah tua. Jas buatan tangan desainer ternama yang dipakainya membuat dompet tersebut terlihat semakin lusuh tetapi Beni tidak peduli.
Dibukanya dompet hadiah ulang tahun dari Maya puluhan tahun lalu untuk melihat satu-satunya foto istri dan anaknya.
Nila tidak tersenyum di dalam foto, begitu juga Maya yang sedang menggendongnya. Bercak-bercak jamur membuat wajah keduanya tak terlihat jelas.
Setetes air mata jatuh ke atas foto yang buru-buru diusapnya. Sambil memandang wajah Maya dia bergumam, “Andai Tuhan memberi kesempatan kedua, aku bersumpah akan selalu membahagiakanmu.”
Ctaaar!
Beni mendongak kaget mendengar suara petir yang menggelegar. Langit di atasnya masih cerah tanpa awan apalagi mendung.
Dia masih memandang langit ketika kilat menyambar dadanya.
CTAAR!
Jantung Beni berhenti berdetak lalu semuanya berubah gelap.
***
“Bu, Nila lapar.”
Suara anak kecil yang sedang menangis lirih membuat Beni bergerak gelisah.
“Ssstt, jangan menangis lagi. Jangan sampai ayahmu marah.”
“Nila lapar.” Anak itu menangis lagi dengan suara tertahan.
“Lihat ibu sedang merebus singkong yang sebentar lagi matang, nanti kamu bisa makan sepuasnya,” bujuk ibunya pelan.
Beni bingung, tangannya bergerak ke dada untuk merasakan detak jantung. Bukankah tadi dia disambar petir, tapi kenapa jantungnya masih berdetak.
Apakah ini semua hanya mimpi?
Bukan, Beni yakin dia tidak sedang bermimpi.
Ada perasaan sakit di dadanya tetapi bukan karena sambaran petir melainkan karena suara yang familiar meski sudah tidak didengarnya selama puluhan tahun.
Suara lembut Maya masih terdengar menenangkan seperti dahulu. Begitu pula rengekan Nila yang lugu saat meminta makan.
“Kapan kita bisa makan nasi, Bu?” Nila bertanya lagi tetapi dia sudah tidak menangis.
Maya tersenyum lembut sambil mengusap rambut anaknya yang berwarna kemerahan. “Ibu berjanji akan bekerja lebih keras lagi supaya kamu bisa makan nasi.”
Nila memandang ibunya penuh harap. “Benar, Bu?”
“Benar.” Maya mengusap air mata di pipi cekung Nila lalu menciumnya sepenuh hati.
“Tadi pagi ibu bertemu Bu Rahmi, dia minta tolong untuk membantu mengurus rumahnya selama beberapa hari.”
Mata Beni terbuka lebar mendengar ucapan perempuan itu. Dia juga sangat mengenal Rahmi yang tinggal satu desa dengan mereka.
Dia berusaha bangkit dari tempat tidur lalu mengernyitkan dahi karena suara ranjang yang berderit nyaring.
Suara derit ranjang membuat Maya dan Nila menoleh. Gadis kecil bertubuh kurus itu bersembunyi di balik punggung Maya ketika Beni menatap mereka.
Beni memandang nanar ke daster Maya yang sudah beberapa kali dijahit. Lalu menoleh ke arah badannya sendiri yang hanya memakai sarung dan kaus tipis.
Kaus ini sudah pudar warnanya karena terlalu sering dicuci. Begitu juga dengan sarung yang ditambal di beberapa tempat.
“Maya…?” panggilnya tetapi dia kembali terdiam.
Suaranya tidak serak seperti biasanya. Padahal Beni adalah perokok berat sehingga suaranya terdengar serak dan berat, tetapi kali ini terdengar muda.
“A-aku sedang merebus singkong. Tunggu sebentar lagi,” kata Maya terbata-bata sambil melindungi Nila dari pandangan suaminya.
Beni memandang Maya yang tampak ketakutan. Wajah perempuan itu pucat, tetapi sepertinya juga karena kelaparan.
Dia menoleh ke arah jendela yang terbuka lebar memperlihatkan mendung tebal. “Sekarang tanggal berapa?”
“Apa?” Maya kebingungan karena Beni justru bertanya tanggal, bukannya makanan seperti yang biasa dia lakukan dulu.
“Sekarang tanggal berapa? Tahun berapa?”
Sorot mata Maya yang tadinya ketakutan kini berganti rasa curiga. “Kepalamu terbentur keras tadi malam. Apa kamu gegar otak?”
Beni memandangnya lurus sampai akhirnya Maya menjawab pelan, “Sekarang tanggal 20 Agustus 1995.”
“1995?” ulang Beni kaget.
Dia terdiam beberapa saat tapi tidak lama kemudian tersenyum lebar. Mungkin Tuhan berbaik hati padanya sehingga memberi kesempatan hidup kedua untuknya.
Meski tidak paham bagaimana caranya tapi Beni yakin dia sudah kembali ke masa tiga puluh tahun silam.
Senyumnya semakin lebar saat berjalan mendekati Maya lalu memeluknya erat-erat.
Tubuh Maya terasa lembut di pelukannya meski istrinya tidak membalas pelukan Beni. Dia justru mematung kaku, tubuhnya sedikit gemetar karena ketakutan.
Beni melepas pelukannya pada Maya dan berusaha meraih Nila. Namun, gadis kecil yang baru berumur lima tahun itu bergegas menghindar.
Tapi Beni juga tidak berniat memaksa. Dia hanya memandang Nila lalu kembali memandang Maya.
“Aku akan membeli beras untuk makan kita hari ini. Tapi kamu tidak perlu bekerja di rumah Rahmi.”
Maya berjalan mundur beberapa langkah, matanya tampak semakin curiga. “Kita sudah tidak punya uang untuk membeli beras.”