Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Identitas Baru, Dendam Lama

Identitas Baru, Dendam Lama

Layla Ant | Bersambung
Jumlah kata
62.6K
Popular
117
Subscribe
27
Novel / Identitas Baru, Dendam Lama
Identitas Baru, Dendam Lama

Identitas Baru, Dendam Lama

Layla Ant| Bersambung
Jumlah Kata
62.6K
Popular
117
Subscribe
27
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeKonglomeratBalas DendamIdentitas Tersembunyi
Areavey Chow, yang dulunya adalah Arya Chow, kembali ke Hong Kong dengan identitas baru dan kekuasaan finansial yang tak terbatas. Target utamanya adalah Lau Group, keluarga yang menghancurkan hidup dan cintanya pada Aruni dua puluh tahun lalu. Untuk melancarkan aksinya, ia mendekati Lilian Lau, putri Aruni yang independen. Namun, saat rencana balas dendamnya mulai meruntuhkan imperium Lau, Areavey dan Lilian terjebak dalam jaring kebohongan masa lalu yang mengungkap bahwa dalang sebenarnya bukanlah sang patriark Alexander Lau, melainkan sosok musang di dalam keluarga yang selama ini memanipulasi segalanya.
Kembalinya Sang Singa Besi

Udara Hong Kong yang lembap menyergap begitu pintu pesawat terbuka. Areavey Chow menarik napas dalam, merasakan aroma laut bercampur knalpot kendaraan dan rempah-rempah yang tak asing lagi.

Dua puluh tahun. Dua dekade berlalu. Kota ini masih sama, namun ia telah berubah. Bandara Internasional Hong Kong, seperti raksasa baja dan kaca, menyambutnya dengan hiruk pikuk yang memekakkan. Namun, di antara ribuan wajah yang lewat, tak ada satu pun yang akan mengenalinya sebagai Arya Chow.

Dia berjalan cepat, langkahnya mantap di atas lantai marmer mengilap. Jas bespoke Italia membalut tubuh atletisnya, menyembunyikan otot-otot yang terbentuk dari latihan tanpa henti. Kacamata hitam menutupi matanya yang kini menyimpan kekejaman tersembunyi. Areavey bukan lagi pemuda naif yang pernah dihancurkan di kota ini. Dia adalah Singa Besi, taipan real estat yang reputasinya mendunia, pemilik Chow Holdings, sebuah imperium yang dibangun dari abu kehancuran.

Li Wei, asisten pribadinya, sudah menunggu di gerbang kedatangan. Pria muda itu membungkuk singkat, tatapannya lugas dan profesional.

"Selamat datang, Tuan Chow. Semuanya siap."

"Bagus," jawab Areavey, suaranya rendah dan terkontrol. Tidak ada emosi yang tersembunyi.

Mereka bergerak menuju limusin hitam yang menunggu di luar. Jalanan Hong Kong dipenuhi deru klakson dan gemuruh kota yang tak pernah tidur. Areavey menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, menembus kabut tipis, seolah menyentuh langit. Di antara semua kemegahan itu, ia tahu satu bangunan akan segera runtuh. Bangunan Lau Group.

"Kita langsung ke kantor pusat atau penthouse, Tuan Chow?" tanya Li Wei, tangannya di setir, matanya fokus ke jalan.

"Kantor," jawab Areavey tanpa menoleh.

"Aku ingin melihat data terbaru. Segera."

Kantor pusat Chow Holdings terletak di jantung Central District, sebuah menara kaca dan baja yang megah, lebih tinggi dan lebih modern dari kantor Lau Group. Areavey melangkah keluar dari lift pribadi di lantai paling atas. Pintu terbuka ke sebuah ruangan minimalis namun luas, didominasi warna abu-abu gelap dan putih, dengan dinding kaca yang menyajikan pemandangan 360 derajat Victoria Harbour. Langit kelabu di luar sana tampak mencerminkan suasana hatinya.

Dia berjalan menuju meja besar yang terbuat dari kayu jati hitam pekat. Sebuah layar holografik berukuran raksasa terproyeksi di tengah ruangan. Di sana, data-data Lau Group berputar cepat: laporan keuangan, portfolio properti, bagan organisasi, bahkan daftar anggota keluarga. Setiap detail yang ia butuhkan untuk menghancurkan mereka.

Li Wei sudah berada di depan layar, siap.

"Situasi Lau Group menunjukkan beberapa kerentanan, Tuan Chow. Alexander Lau baru saja mengambil pinjaman besar untuk proyek pengembangan di Kowloon Bay."

Areavey mengangguk.

"Tepat seperti yang kita duga. Dia serakah. Selalu."

Dia mendekat, jarinya menyentuh proyeksi data. Matanya menelusuri nama-nama yang tertera di layar. Alexander Lau, penyebab utama penderitaannya. Vincent Lau, sepupu Alexander yang licik. Dan di antara deretan nama itu, muncul nama Aruni, mantan tunangannya, ibu dari Lilian.

Perasaan pahit merayapi kerongkongannya. Rasa sakit yang terkunci rapat selama dua puluh tahun kini kembali menusuk. Ia ingat hari ketika Alexander Lau berdiri di podium, menuduhnya secara terbuka di hadapan media. Fitnah itu merobek-robek reputasinya, menghancurkan masa depannya, dan merenggut Aruni darinya. Ia ingat tatapan mata Aruni yang penuh ketakutan, permohonannya yang tidak pernah didengar.

*Mereka membayar mahal untuk itu,* pikirnya. *Sangat mahal.*

"Laporan menunjukkan bahwa proyek Kowloon Bay sangat bergantung pada keberhasilan penjualan unit awal," lanjut Li Wei, menyela lamunan Areavey. "Tanpa itu, mereka akan kesulitan membayar pinjaman tahap kedua."

"Rencana kita masih sama," kata Areavey, suaranya kembali dingin dan tajam. "Kita tidak akan membiarkan mereka menjual satu unit pun."

Li Wei mengangguk. "Tim kita siap. Beberapa perusahaan kontraktor dan pemasok kunci mereka telah kita identifikasi sebagai target akuisisi."

"Pastikan tidak ada jejak," perintah Areavey. "Aku tidak ingin ada yang tahu siapa di balik ini semua, sampai tiba waktunya."

Areavey beralih ke jendela besar, menatap cakrawala Victoria Harbour yang memancarkan jutaan lampu. Kemegahan kota itu adalah ilusi. Di baliknya, intrik dan pengkhianatan bersembunyi. Ia telah kembali untuk membongkar semuanya.

Dia melihat refleksi dirinya di kaca: seorang pria yang telah dibentuk oleh amarah dan kepedihan. Arya yang dulu lugu telah mati. Yang tersisa hanyalah Areavey, sang Singa Besi, yang *tidak akan* membiarkan belas kasihan menghalangi jalannya. Setiap langkahnya akan dihitung, setiap keputusannya akan tajam, setiap pukulan akan mematikan.

"Bagaimana dengan Aruni?" Areavey bertanya tiba-tiba, tanpa menoleh.

Li Wei terdiam sejenak. "Nyonya Aruni masih tinggal di kediaman lama Lau, Tuan Chow. Ia hidup dalam isolasi, jarang terlihat di muka publik."

Areavey hanya mengangguk. *Belum saatnya baginya. Belum saatnya bagi Lilian.* Mereka adalah bagian dari kepingan yang harus ia hancurkan, atau setidaknya, ia percaya begitu. Namun, di dasar hatinya, ada keraguan samar yang selalu ia tepis.

Dia berbalik dari jendela, pandangannya kembali ke peta digital yang kini menampilkan wilayah Lau Group yang disorot dengan warna merah. Jari telunjuknya bergerak perlahan, berhenti tepat di area Central District, tempat kantor pusat Lau Group berada.

Senyum tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibirnya. Sebuah senyum yang tak menjanjikan kebahagiaan, melainkan kehancuran.

"Game on," bisiknya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca