

Matahari senja Bali baru saja tenggelam di ufuk barat, cahaya yang indah memantul di permukaan kolam renang hotel bintang lima tempat Rian Saputra menginap.
Seorang pria berusia 32 tahun itu sedang duduk santai di balkon kamarnya di lantai 8, menyesap kopi hangat sambil menikmati angin malam yang membawa aroma khas laut dan bunga kamboja.
"Ini dia yang namanya liburan," gumamnya pelan sembari tersenyum kecil.
Tiga tahun tanpa cuti dengan bertugas di berbagai operasi rahasia di Papua, Filipina Selatan, hingga perbatasan Kalimantan, kini akhirnya ia mendapatkan dua minggu libur penuh. Dan ia memilih Bali.
Bukan karena ingin berpesta atau berfoya-foya, tapi karena ingin merasakan ketenangan. Sebagai prajurit Kopasus dengan kode nama Elang, ketenangan adalah barang mewah yang jarang ia nikmati.
Rian Saputra bukan prajurit biasa. Di usianya yang relatif muda, ia sudah malang melintang di berbagai medan tempur. Dengan tinggi badan 182 cm dan postur atletis khas prajurit elite, wajah tampan dengan rahang tegas dan mata tajam yang selalu waspada, itulah Rian.
Namun malam ini, ia hanya seorang wisatawan biasa yang menikmati liburan.
Ia kembali ke dalam kamar, merebahkan diri di kasur empuk hotel. Televisi menyala pelan dengan acara musik lokal. Matanya mulai terasa berat. Perjalanan dari Jakarta dan berkeliling Bali seharian membuatnya lelah.
"Selamat malam, Elang," bisiknya pada diri sendiri sebelum akhirnya terlelap.
---
Pukul 03.17 WITA
Rian terbangun dengan bulu kuduk yang merinding. Instingnya berteriak akan sesuatu yang tidak beres. Udara malam yang tadinya tenang tiba-tiba berubah, ia merasakan getaran aneh, seperti gempa kecil. Kemudian ia duduk di tepi tempat tidur, sembari mencoba merasakan lebih dalam getaran tersebut.
Lalu datanglah ledakan itu.
BOOOOM!!!
Seluruh bangunan berguncang hebat. Kaca jendela pecah berkeping-keping. Lampu kamar mati seketika, digantikan kedipan lampu darurat yang merah kelap-kelip.
Alarm kebakaran meraung-raung memekakkan telinga. Suara jeritan manusia dari kamar lain dan koridor bercampur jadi satu, menciptakan simfoni horor di tengah gelapnya malam.
Insting tempur Rian aktif dalam sekejap. Tubuhnya yang sedetik lalu masih setengah tidur kini sudah dalam posisi bertahan di samping tempat tidur, berlindung dari pecahan kaca. Matanya menyapu ruangan dalam gelap sembari mencari ancaman.
"Ledakan apa tadi? Bom, Gempa? Atau..." pikirannya bekerja cepat.
Ia meraih celana jeans dan kaus yang semalam dilepas, kemudian memakainya dengan gerakan cepat. Tanpa alas kaki, ia merayap ke jendela yang pecah, mengintip keluar dengan hati-hati.
Apa yang dilihatnya membuat darahnya berdesir.
Di bawah, di sekitar kolam renang dan taman hotel, api berkobar di beberapa titik. Mobil-mobil yang terparkir terbakar. Bayangan-bayangan manusia berlarian dengan kacau.
Tapi yang paling aneh, beberapa dari mereka tidak berlari menjauh dari api, tapi justru mengejar yang lainnya. Dan suara-suara itu... Itu bukan jeritan biasa. Ada raungan, erangan, dan suara seperti hewan buas yang sedang melahap mangsanya.
"Astaga... Apa yang terjadi ini?" Rian mengusap mata, mengira ini hanya mimpi buruk.
Tapi ledakan kedua datang, sumbernya lebih dekat. Gedung kembali berguncang. Di lantai bawah, suara benturan dan pecahan kaca memenuhi koridor.
Rian mengambil napas dalam. Otaknya yang terlatih untuk situasi krisis mulai memproses: Sumber ancaman tidak diketahui. Dan evakuasi darurat diperlukan. Tapi ke mana?
Ia bergegas mengambil ransel darurat yang selalu ia bawa kemanapun, suatu kebiasaan prajurit yang tak pernah bisa hilang. Isinya: pisau lipat, kompas, P3K, senter, makanan ringan energi tinggi, dan tali parasut. Bukan perlengkapan perang, tapi cukup untuk bertahan sementara.
Dari luar kamar, suara benturan di pintu membuatnya dalam posisi siaga. Seseorang atau sesuatu sedang mencoba mendobrak masuk.
Brak! Brak! Brak!
Pintu kamar Rian bergetar hebat dihantam dari luar. Kayu solid dengan kunci elektronik itu tampak kuat, tapi hantaman berikutnya membuat retak di bagian tengah.
Rian mundur tiga langkah, lalu mengambil posisi di samping lemari. Pisau lipat yang tadi dia ambil sudah ia genggam dengan tangan kanannya, dan sebuah senter di tangan kirinya.
Brak!
Pintu jebol. Seketika sesosok tubuh terhuyung masuk ke dalam kamar. Sorot senter Rian segera menerangi sosok itu, dan detak jantungnya berpacu kencang.
Sosok itu adalah seorang pria paruh baya, mungkin turis bule, ia terlihat mengenakan baju tidur yang telah berlumuran darah. Mulutnya menganga dengan rahang yang patah ke samping, matanya berwarna putih pucat tanpa iris, dan dari mulutnya keluar buih bercampur darah. Tangan kanannya menjuntai dengan tulang patah yang mencuat keluar, namun ia sama sekali tak menunjukkan rasa sakit. Sebaliknya, ia menatap Rian dengan... kelaparan?
'Zombie?'
Pikiran itu terlintas absurd di kepala Rian.
Zombie hanya ada di film. Tapi makhluk di depannya ini terlalu nyata untuk diabaikan.
Pria itu menggeram dan melompat dengan kecepatan tak terduga. Rian bereaksi murni karena refleks bela diri yang sudah terlatih selama ribuan jam. Tubuhnya bergeser ke kiri, tangan kirinya menangkis serangan, lalu tangan kanannya menusukkan pisau lipatnya ke leher makhluk itu.
SREK!
Darah hitam kental menyembur dari luka tusuk tersebut. Rian menarik pisaunya dan menendang makhluk itu menjauh. Tapi pria zombie itu masih bergerak, ia merangkak mendekat meskipun lehernya sudah nyaris putus.
Rian segera menginjak kepalanya dengan keras hingga tengkorak retak baru makhluk itu berhenti bergerak.
DUGH!
"Haah... haah..." Rian terengah, ia tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Ia menatap mayat di depannya. Manusia, bukan, tapi mantan manusia dengan leher hampir terpenggal dan kepala yang penyok. Tapi gerakannya dan kekuatannya sama sekali berbeda dari manusia pada umumnya.
Pikirannya kacau. 'Apakah ada pandemi virus? Atau serangan biologis? Tapi kenapa tak ada laporan dari kesatuan?'
Dari koridor, suara langkah kaki dan erangan mulai mendekat. Dari suaranya, seperti mereka bergerombol.
Tanpa pikir panjang, Rian bergegas menutup pintu yang sudah rusak, ia mendorong lemari untuk menghalangi pintu tersebut. Ia berlari ke jendela pecah, kemudian mengintip ke bawah.
"Cih! Tempat ini terlalu tinggi, jika melompat ke bawah sama saja aku bunuh diri..." Gumamnya.
Lantai 8 memang terlalu tinggi untuk dilompati. Tapi di seberang, ada gedung parkir yang lebih rendah, jaraknya sekitar 10 meter dari posisi Rian.
"Tidak, resikonya masih tinggi, lebih baik aku bertahan disini untuk beberapa waktu sembari memahami situasi dan mencari informasi..." Pikirnya memutuskan.
Ia bergerak mengambil ponselnya, mencoba menghubungi nomor darurat. Namun sayang, sinyal sudah tak terdeteksi. Ia mencoba WiFi hotel, dan yap, Wifi-nya pun mati. Radio? Rian tidak punya.
Dari jendela, ia bisa melihat lebih jelas kekacauan yang terjadi di bawah. Puluhan orang berlari ke segala arah. Sementara para zombie mengejar mereka dengan brutal, lalu menerkam, menggigit, dan merobek daging manusia yang tertangkap. Dan korban yang digigit... Beberapa menit setelahnya, mereka bangkit dan mulai mengejar manusia lainnya.
"Ya Tuhan, ini benar-benar mengerikan..." Rian menyaksikan kiamat mini di depan matanya.
Lima belas menit kemudian, area hotel yang tadinya ramai dengan turis dan staf telah berubah sepenuhnya menjadi ladang pembantaian. Api di beberapa tempat masih berkobar. Suara tembakan terdengar dari suatu tempat, mungkin mereka petugas keamanan. Tapi tembakan itu semakin jarang, lalu berhenti total.
Sementara itu, Rian duduk di sudut kamarnya sembari berusaha menenangkan diri. Pikirannya bekerja: 'Ini jelas bukan serangan militer. Ini adalah wabah zombie, meski kedengaran absurd, tapi ini adalah kenyataan. Dan sepertinya wabah ini menyebar dengan cepat.'
Ia lalu mengecek persediaan: satu pisau lipat, senter, P3K, makanan ringan untuk dua hari. Air mineral di kamar masih ada satu galon kecil. Untuk sekiranya bertahan beberapa hari masih memungkinkan, tapi tetap saja ia harus keluar untuk mencari persediaan lebih banyak.
Lalu di tengah lamunannya, tiba-tiba, dari koridor, suara pintu kamar lain didobrak.
"KYAAAAAAAAAAA!"
"ARGGHHHH!"
Jeritan wanita terdengar sangat tajam, lalu terdengar pula sebuah raungan.
Rian mengepalkan tangannya, tapi otak militernya tahu, menolong tanpa informasi dan perlengkapan hanya akan membuatnya mati sia-sia. Jadi prioritas pertamanya: selamatkan diri sendiri. Kedua: kumpulkan informasi. Ketiga: cari survivor dan bentuk kelompok.