Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kehidupan Kedua Sang Berandalan

Kehidupan Kedua Sang Berandalan

AKHELOIS | Bersambung
Jumlah kata
24.0K
Popular
100
Subscribe
29
Novel / Kehidupan Kedua Sang Berandalan
Kehidupan Kedua Sang Berandalan

Kehidupan Kedua Sang Berandalan

AKHELOIS| Bersambung
Jumlah Kata
24.0K
Popular
100
Subscribe
29
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeMiliarderTime Travel21+
[Terlahir kembali. Miliader. Penyesalan. Balas Dendam. Reserve Harem. 21+] Di kehidupan pertamanya, Rajash adalah pecundang yang gagal. Miskin. Terlilit utang. Mantan narapidana. Cukup sering ia menyakiti istrinya, bermain tangan jika tidak diberi uang untuk berjudi atau membeli obat-obatan terlarang, hingga sang istri pun meninggal karena tekanan fisik dan batin. Maka itu, saat Rajash diberi kesempatan kedua setelah kematian menyedihkan yang ia alami, ia bertekad untuk memperbaiki hidupnya, menebus kesalahannya, dan membalas perbuatan orang-orang yang telah menjerumuskannya menjadi seorang bajingan.
1 | Mengulang

"Hah… Hah… Hah…!"

Mata Rajash terbuka paksa.

Napasnya memburu seperti hewan buruan yang baru saja lolos dari jerat kematian. Dadanya naik turun tidak beraturan, seolah paru-parunya diperas dari dalam. Keringat dingin membanjiri pelipis hingga tengkuknya, sementara jantungnya berdetak begitu keras sampai menimbulkan rasa nyeri yang nyata.

Sensasinya… terlalu nyata.

Seakan ia baru saja ditarik kembali dari ambang kematian. Dan memang demikian adanya.

Ingatan terakhir yang ia miliki adalah kematiannya sendiri. Dan itu nyata.

Tubuhnya yang tergeletak di lantai gudang berbau besi. Darah yang memenuhi mulutnya. Tawa para pengkhianat yang mengelilinginya.

A-apa… yang terjadi?

Belum sempat kesadarannya utuh, suara tawa mendadak pecah di sekelilingnya. Kasar. Bising. Dipenuhi aroma alkohol murahan yang menusuk hidung.

"Woi, akhirnya bangun juga si bangsat ini!"

Sebuah tepukan keras mendarat di pipinya. Kepalanya berdenyut. Gelak tawa langsung menyusul, riuh, memekakkan telinga. Rajash mengerang pelan. Pandangannya masih buram. Namun perlahan cahaya mulai menembus penglihatannya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit.

Langit biru pucat yang terbentang luas, dihiasi awan tipis yang bergerak lambat. Angin sore pedesaan berembus membawa aroma tanah, jerami kering, dan asap kayu bakar dari permukiman warga di kejauhan.

Ia mengernyit. Langit…?

Bukankah terakhir kali ia melihat langit adalah melalui celah atap gudang bocor, dengan darah menggenang di matanya?

"!!"

Napasnya tercekat. Ingatan itu menghantam tanpa ampun.

Tendangan di perutnya. Pukulan yang meremukkan tulang rusuknya. Sepatu yang menginjak wajahnya. Dan tawa mereka… tawa orang-orang yang ia sebut keluarga.

Tubuhnya menegang refleks.

Tangannya bergerak cepat meraba dada, perut, wajahnya sendiri. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Kulitnya… utuh.

"Hei, kenapa kamu ngeraba-raba tubuhmu kayak orang kerasukan, sih? Mana wajahmu juga udah kayak orang baru kembali dari kematian lagi," ejek seseorang di sampingnya.

Rajash menoleh cepat. Pandangannya kini sudah jelas. Dan detik itu juga… ia membeku.

"Dikta…?" gumamnya lirih, nyaris tidak percaya.

Laki-laki di hadapannya tertawa. "Sumpah… kamu kesurupan, Jash?"

Pradikta Sangkara. Wajah yang ia kenal selama lebih dari tiga puluh tahun kehidupannya. Sahabat. Rekan bisnis gelap. Sekaligus… salah satu orang yang berdiri paling depan saat ia dibunuh.

Namun ada yang berbeda.

Wajah Dikta jauh lebih muda. Tidak ada garis usia. Tidak ada sorot licik penuh intrik. Hanya mata liar khas remaja desa yang belum mengenal dunia. Seragam SMA yang dikenakannya pun masih tampak baru, meski dipakai sembarangan.

Jantung Rajash kembali berdetak keras. Perlahan ia menoleh ke sekeliling. Kesadarannya kini mulai utuh… dan justru itulah yang membuat dadanya terasa sesak.

Ia berada di rooftop sekolah.

Sebuah bangunan tua di pinggiran kecamatan, dikelilingi hamparan sawah dan perbukitan hijau khas pedesaan Indonesia. Dari ketinggian itu, terlihat rumah-rumah kayu beratap seng, jalan tanah, serta sungai kecil yang berkelok di kejauhan.

Namun pemandangan damai itu kontras dengan lingkaran di sekelilingnya.

Delapan remaja berseragam SMA. Dasi longgar. Kemeja dikeluarkan. Rok dipakai tinggi. Penampilan anak-anak yang merasa dunia berada di bawah telapak kaki mereka.

Dan wajah-wajah itu…

Wajah masa lalu yang seharusnya sudah terkubur bersama kematiannya. Termasuk dirinya. Delapan sekawan. VARGAS. Julukan bodoh yang dahulu mereka banggakan setengah mati.

Teman bolos. Teman mabuk. Teman yang ia sebut keluarga. Namun juga… orang-orang yang menyeretnya ke dunia kriminal, narkotika, perjudian, hingga kematian yang hina.

Jantungnya berdegup semakin keras.

Ia menoleh lebih jauh. Botol minuman keras berserakan di lantai beton. Asap rokok mengepul tebal. Di sudut lain, dua remaja duduk dengan mata kosong, salah satunya memegang plastik kecil berisi bubuk putih.

Sementara di sisi berbeda, sepasang kekasih larut dalam adegan yang tidak pantas. Saling menjumbu satu sama lain. Tentu saja kenakalan remaja dan pergaulan bebas sudah menjadi hal biasa di perkumpulan teman-temannya, termasuk Rajash. Bahkan mereka tidak berpikir dua kali jika ingin bercinta di lingkungan sekolah.

Rajash membeku total. Ini bukan mimpi. Ini masa lalu.

Masa lalu yang dihidupkan kembali.

"Minum lagi, Jash, biar pusingmu hilangh. Dari tadi kamu yang tumbang duluan. Tch! Payah banget sih," ujar Dikta sambil menyodorkan gelas alkohol. "Sepertinya kamu bener-bener mabuk cimeng deh," tambahnya lagi sambil tertawa.

Rajash tidak menjawab.

Ia bangkit perlahan meski kepalanya berdenyut hebat. Tubuhnya terasa berat, namun ia memaksa duduk tegak. Sensasi ini… nyata.

"Daisha, liat deh pacarmu. Fix, kayaknya dia udah gila," ejek Dikta.

Perempuan itu menoleh santai. Ia mematikan rokoknya, lalu berjalan mendekat. Tanpa permisi ia langsung duduk di pangkuan Rajash.

"Astaga, Sayang… apa aku tadi ngasih kamu terlalu banyak, ya? Wajahmu pucet banget," ucap Daisha lembut, mengusap rahangnya.

Sentuhan itu…

Begitu familiar.

Begitu menjijikkan.

Ia lalu menyodorkan gelas alkohol ke tangannya. "Ini minum dulu. Biar pusing kamu mereda."

Rajash terdiam. Menatap cairan itu lama. Dan seketika aroma alkohol menyeretnya kembali ke gudang kematian. Bau darah. Bau besi. Bau pengkhianatan.

Perutnya mual.

Refleks tangannya menepis gelas itu.

Prang…!

Gelas pecah menghantam lantai rooftop. Suasana mendadak hening.

"Sayang…?" Daisha terhenyak.

Namun ekspresi Rajash telah berubah. Dingin. Keras. Asing.

"Turun!" titahnya serak.

Daisha mengernyit. "Apa?"

"Aku bilang turun dari pangkuanku!" Tatapan itu bukan milik remaja. Melainkan pria dewasa yang telah berjalan di neraka terlalu lama.

"Rajash—"

Brak!

Kesabarannya putus. Ia mendorong tubuh Daisha hingga terjatuh ke lantai. Pekiknya memecah udara.

"Rajash! Beneran gila kamu, ya?" teriak seseorang. "Nggak usah kasar juga kali, Jash! Gimanapun Daisha itu cewek. Pacarmu, brengsek!"

Namun Rajash tidak peduli. Oh, tentu saja karena dengungan di kepalanya semakin keras. Sisa-sisa syok dan kebingungannya juga sangat nyata sampai detik ini. Bahkan bayangan bagaimana detik-detik terakhir kehidupannya juga semakin jelas. Tawa para pengkhianat. Suara tembakan. Darah. Semua bercampur. Ia bangkit. Langkahnya oleng, tetapi tekadnya jelas.

Ia harus pergi. Menjauh dari lingkaran setan ini.

Satu langkah.

Dua langkah.

"Tunggu dulu, Jash. Mau kemana kamu?" suara Dikta menahan, tangannya mencengkeram lengan Rajash. Bahkan wajah Dikta juga sudah terkonfrotasi oleh kekacauan yang dilakukan Rajash. Laki-laki itu terbangun lalu menjadi aneh.

Namun bagi Rajash… sentuhan itu seperti api. Rajash berhenti. Perlahan menoleh. Tatapannya turun ke tangan itu… lalu naik ke wajah Dikta. Penuh dendam pekat.

"Lepas!" geramnya rendah. "Lepasin tanganmu, kalau kamu nggak mau mati sekarang juga!"

"Apa?" Dika tersentak kaget.

Seketika suasana pun jadi beku. Semua terdiam. Tidak ada yang pernah melihat Rajash menatap mereka seperti itu.

"Rajash… kamu kenapa sih? Apa yang terjadi? Kamu ada masalah?" komentar lagi dari salah satu 'temannya'.

Namun, sekali lagi, Rajash tidak peduli. Ia menepis tangan itu kasar, lalu kembali melangkah pergi. Sepatunya menginjak pecahan kaca, botol kosong, dan puntung rokok. Suara remukannya terdengar keras di tiap pijakan. Seolah ia sedang menghancurkan masa lalunya sendiri.

Dadanya bergemuruh. Pikirannya berputar liar. Semua ini… tidak masuk akal. Tetapi satu hal pasti. Ia telah kembali.

Kembali ke masa di mana semuanya belum terlambat. Dan kali ini, ia tidak akan hidup bodoh lagi. Ia tidak akan terjerumus ke dalam dosa dan penyesalan lagi. Ia tidak akan menjadi miskin, bodoh, dan mati mengenaskan seperti gelandangan preman yang tidak memiliki kehidupan.

"Sial!" umpatnya dengan kepala yang berdengung.

Lanjut membaca
Lanjut membaca