Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Cinta yang Berjalan Tanpa Arah Pulang

Cinta yang Berjalan Tanpa Arah Pulang

Zahla | Bersambung
Jumlah kata
54.2K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / Cinta yang Berjalan Tanpa Arah Pulang
Cinta yang Berjalan Tanpa Arah Pulang

Cinta yang Berjalan Tanpa Arah Pulang

Zahla| Bersambung
Jumlah Kata
54.2K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeUrban
Di tengah riuhnya kota yang tak pernah benar-benar tidur, Arga selalu terlihat seperti lelaki yang tahu ke mana ia melangkah. Pekerjaan mapan, lingkar pertemanan luas, dan masa depan yang tampak terencana. Namun tak seorang pun tahu bahwa sejak kepergian seseorang dari hidupnya, ia berjalan tanpa benar-benar merasa pulang. Pertemuannya dengan Raya beberapa tahun lalu adalah satu-satunya hal yang membuat kota terasa hangat. Di antara lampu-lampu jalan, percakapan larut malam, dan mimpi-mimpi sederhana tentang masa depan, Arga percaya bahwa cinta bisa menjadi rumah. Tapi hidup di kota besar tak pernah sesederhana itu. Ambisi, jarak, dan pilihan-pilihan yang tak terucap perlahan merenggangkan mereka hingga suatu hari, Raya memilih pergi tanpa penjelasan yang utuh. Sejak saat itu, Arga tetap berjalan. Menyusuri jalan yang sama, kafe yang sama, bahkan senja yang sama berharap menemukan jejak yang tertinggal. Di balik wajahnya yang tenang, ada hati yang terus berdialog dengan kenangan. Haruskah ia menunggu? Haruskah ia mencari? Ataukah menerima bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk kembali? Ketika takdir mempertemukan mereka kembali di persimpangan hidup yang berbeda, Arga dihadapkan pada satu pertanyaan paling sunyi: apakah cinta yang pernah hilang masih memiliki arah untuk pulang, atau justru harus dibiarkan menjadi bagian dari perjalanan? Cinta yang Berjalan Tanpa Arah Pulang adalah kisah tentang lelaki yang belajar bahwa dalam kota yang penuh cahaya, kesepian bisa terasa paling terang dan bahwa terkadang, cinta bukan tentang menemukan jalan kembali, melainkan tentang berani melangkah meski tak tahu ke mana hati akan berlabuh.
Bab 1 Kota yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

Kota selalu punya caranya sendiri untuk membuat seseorang merasa kecil.

Lampu-lampu jalan menyala seperti bintang buatan manusia, kendaraan berderet tanpa jeda, dan gedung-gedung tinggi berdiri seolah menantang langit. Di antara semua itu, Arga berdiri di trotoar dengan kedua tangan di saku jaketnya, memandangi persimpangan yang tak pernah benar-benar sepi.

Jam di ponselnya menunjukkan pukul 22.47.

Waktu yang aneh untuk merasa sendirian.

Atau mungkin tidak.

Bagi Arga, malam adalah satu-satunya waktu ketika kota terasa jujur. Tidak ada tawa palsu rekan kerja. Tidak ada rapat panjang yang memaksanya tersenyum profesional. Tidak ada obrolan ringan yang harus ia balas dengan antusiasme pura-pura.

Hanya suara kendaraan yang lewat dan pikirannya sendiri.

Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya lelah.

Ia berjalan menyusuri trotoar Sudirman yang basah oleh sisa hujan sore tadi. Pantulan lampu kota di genangan air membuat segalanya tampak lebih indah dari kenyataan. Kota memang pandai berdandan. Seperti seseorang yang pernah ia kenal.

Raya.

Nama itu masih tinggal di kepalanya seperti lagu lama yang tak pernah benar-benar berhenti diputar.

Sudah dua tahun sejak perempuan itu pergi.

Dua tahun sejak percakapan terakhir mereka di sebuah kafe kecil di bilangan Kemang tempat yang kini selalu ia hindari, meski kadang tanpa sadar langkahnya mengarah ke sana.

“Aku capek, Ga,” kata Raya malam itu.

Hanya dua kata sederhana.

Tapi Arga tahu, kelelahan yang dimaksud bukan sekadar lelah fisik.

Ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang membuat Raya pergi. Ia hanya tahu, sejak malam itu, hidupnya berjalan—tapi tidak pernah terasa menuju ke mana pun.

Seperti judul lagu yang tak punya reff.

Seperti perjalanan tanpa alamat pulang.

Arga berhenti di depan halte bus yang hampir kosong. Seorang lelaki tua duduk di ujung bangku, memegang kantong plastik belanjaan. Di sisi lain, seorang perempuan muda sibuk mengetik di ponselnya, mungkin membalas pesan seseorang yang menunggunya di rumah.

Menunggu.

Kata itu terasa asing.

Tak ada yang menunggunya.

Apartemen lantai dua belas yang ia tempati lebih mirip ruang transit daripada rumah. Rapi, minimalis, bersih—tapi tanpa cerita. Tanpa suara lain selain dengung AC dan sesekali notifikasi email pekerjaan.

Ia pernah membayangkan tempat itu akan diisi dua cangkir kopi setiap pagi.

Nyatanya, hanya satu.

Angin malam berembus pelan. Arga menatap langit kota yang tak pernah benar-benar gelap karena cahaya lampu yang terlalu terang.

“Harusnya aku baik-baik saja,” gumamnya pelan.

Semua orang bilang ia beruntung. Pekerjaan mapan di perusahaan konsultan ternama. Gaji stabil. Karier menanjak. Bahkan orang tuanya jarang lagi menanyakan kapan ia akan menikah mungkin karena mereka pikir ia sedang fokus membangun masa depan.

Padahal yang ia bangun hanya dinding.

Dinding agar tak ada yang tahu bahwa sebagian dirinya tertinggal dua tahun lalu.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Dimas, sahabatnya sejak kuliah.

Dim:

Bro, nongkrong? Anak-anak kumpul di rooftop bar biasa.

Arga menatap layar itu beberapa detik. Rooftop bar biasa. Tempat dengan musik keras, lampu remang, dan tawa yang terlalu riuh untuk menyembunyikan kesepian.

Dulu, ia dan Raya sering tertawa melihat kota dari atas sana. Raya selalu bilang, “Dari sini, semua masalah kelihatan kecil.”

Arga baru sadar sekarang, jarak memang bisa mengecilkan masalah.

Tapi tidak dengan rasa kehilangan.

Ia mengetik balasan singkat.

Arga: Nanti nyusul.

Kebohongan kecil. Ia tahu kemungkinan besar ia tak akan datang.

Langkahnya kembali berjalan, kali ini tanpa tujuan jelas. Seperti biasanya.

Di perempatan lampu merah, ia berhenti lagi. Suara klakson saling bersahutan. Seorang pengamen kecil berjalan di antara mobil-mobil, menyanyikan lagu lama tentang perpisahan.

Arga tersenyum tipis.

Ironis sekali.

Seolah kota ini tahu persis bagian mana yang harus ditekan agar ia tetap teringat.

Ia menyeberang ketika lampu berubah hijau. Di seberang jalan, sebuah kafe baru berdiri—kaca besar, lampu hangat, interior kayu minimalis. Tanpa sadar, kakinya melangkah masuk.

Aroma kopi menyambutnya.

Hangat. Familiar.

Ia memilih duduk di dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat kendaraan berlalu-lalang. Hidup orang-orang yang terus bergerak.

Seorang barista menghampiri.

“Mau pesan apa, Kak?”

“Americano. Tanpa gula.”

Seperti biasa.

Sederhana. Pahit. Apa adanya.

Ia membuka laptopnya, mencoba menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Slide presentasi untuk klien besok pagi masih setengah jadi. Angka-angka, grafik, strategi pasar. Semua tampak logis. Terukur. Bisa diprediksi.

Berbeda dengan hati.

Pintu kafe berbunyi ketika seseorang masuk. Arga tak terlalu peduli hingga suara itu terdengar.

Suara yang pernah ia hafal intonasinya.

Suara yang dulu bisa ia kenali bahkan di tengah keramaian.

“Maaf, masih ada tempat duduk kosong?”

Tangannya membeku di atas keyboard.

Tidak mungkin.

Ia menatap ke arah pintu.

Dan dunia, untuk sesaat, terasa berhenti.

Raya berdiri di sana.

Rambutnya sedikit lebih pendek. Wajahnya tampak lebih dewasa. Tapi matanya—mata yang dulu selalu menyimpan cerita—masih sama.

Mereka saling menatap.

Tak ada kata.

Tak ada senyum.

Hanya jarak dua tahun yang tiba-tiba runtuh dalam satu detik.

Barista itu menunjuk ke arah meja kosong di dekat Arga. “Ada, Mbak. Di situ masih kosong.”

Raya berjalan pelan.

Setiap langkahnya seperti gema di kepala Arga.

Ia ingin berdiri. Ingin mengatakan sesuatu. Apa saja. Tapi kata-kata terasa terlalu kecil untuk dua tahun yang hilang.

Raya duduk di meja sebelahnya.

Begitu dekat.

Begitu jauh.

Aroma parfumnya samar tercium. Sama seperti dulu.

Arga menelan ludah. Jantungnya berdetak terlalu keras untuk ukuran kafe yang tenang.

Akhirnya, Raya yang berbicara lebih dulu.

“Halo, Ga.”

Sederhana.

Seolah mereka hanya tak bertemu seminggu.

Arga menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.

“Halo, Ra.”

Dan dalam satu kata itu, semua yang belum selesai kembali membuka diri.

Malam terasa lebih sunyi dari biasanya.

Kota masih bising di luar sana.

Tapi bagi Arga, hanya ada satu suara yang kini memenuhi ruang di antara mereka:

Pertanyaan yang tak pernah benar-benar ia dapatkan jawabannya.

Kenapa kamu pergi?

Dan yang lebih menakutkan

Kenapa kamu kembali?

Keheningan di antara mereka bukan jenis yang canggung.

Lebih seperti keheningan yang sarat.

Seperti ada ribuan kalimat yang ingin keluar, tapi semuanya memilih berbaris rapi di tenggorokan.

Raya memesan cappuccino. Tangannya tampak sedikit gemetar ketika menerima cangkir dari barista. Atau mungkin Arga hanya terlalu memperhatikan.

“Kamu masih suka Americano?” tanya Raya pelan.

Arga mengangguk. “Masih.”

Kata itu terasa seperti pengakuan kecil bahwa ada hal-hal yang tak berubah. Tapi mereka tahu, terlalu banyak yang sudah berubah.

“Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini,” lanjut Raya.

“Aku juga.”

Dan itu benar. Arga sering membayangkan bertemu Raya lagi. Di jalan, di mal, di undangan pernikahan teman. Tapi tidak pernah dalam keadaan seperti ini—tanpa persiapan, tanpa tameng.

“Apa kabar?” tanya Raya.

Pertanyaan paling klise di dunia.

“Baik,” jawab Arga otomatis.

Padahal ia tahu, “baik” hanyalah versi paling sederhana dari “aku masih bertahan.”

Raya tersenyum tipis. Senyum yang dulu selalu membuat Arga merasa pulang.

Lanjut membaca
Lanjut membaca