

“Kita putus, Arkan.”
Suara Nadira tidak hanya dingin, tapi juga mengandung rasa jijik yang tidak disembunyikan.
Arkan Wijaya berdiri mematung di depan gerbang Universitas Mahesvara yang megah. Di tangannya, sebuah helm murahan dengan kaca yang sudah baret terasa sangat berat.
Tiga tahun. Arkan sudah memeras otaknya habis-habisan. Siang hari ia kuliah, sore menjadi freelance data analyst yang mengurus ribuan baris data perusahaan kecil, dan malamnya masih menyambung shift di minimarket.
Semua uang hasil lembur dan proyek IT itu ia serahkan pada Nadira. Ia rela makan mi instan setiap hari agar biaya kuliah Nadira lancar dan gadis itu bisa tampil cantik di kampus. Tapi hari ini, semua dedikasi itu tidak ada harganya. Nadira membuangnya seperti sampah yang sudah tidak berguna.
“Kenapa, Nad? Aku kurang apa?”
tanya Arkan. Suaranya serak, tenggorokannya terasa seperti tercekik.
Nadira tertawa sinis. Tawa itu terasa seperti merobek harga diri Arkan. Matanya menyapu penampilan Arkan dari ujung kaki hingga kepala.
“Kamu tanya kenapa?”
ia mencibir.
“Lihat dirimu sendiri, Kan! Jaketmu pudar, jeans-mu sudah sobek di bagian bawah, dan lihat itu—”
Nadira menunjuk motor bebek Arkan yang terparkir di pojokan.
Arkan langsung menyela.
“Aku juga kerja freelance data analyst, Nad! Aku lembur setiap malam buat olah data perusahaan orang, demi bayar kuliah kita berdua! Aku rela makan mi instan telur ceplok setiap hari, biar kamu bisa tetap tampil cantik!”
Suara Arkan naik satu tingkat. Emosinya mulai tidak tertahan.
Namun Nadira tetap santai. Ia melipat tangan di dada, sama sekali tidak peduli.
“Hasil joki data itu cuma recehan, Kan,” ucapnya datar.
“Teman-temanku dijemput mobil mewah, makan di restoran bintang lima. Sedangkan aku? Kamu cuma bisa ajak aku naik motor butut yang suaranya memalukan.”
Belum sempat Arkan membalas, raungan mesin mobil sport V8 membelah suasana kampus.
Sebuah Porsche hitam mengkilap berhenti tepat di samping mereka.
Pintu terbuka.
Rafael Mahendra turun dengan santai.
Penampilannya langsung mencuri perhatian: kemeja sutra, jam tangan Rolex berkilau, dan sepatu kulit mahal yang mungkin setara dengan gaji Arkan setahun.
“Sayang, kenapa masih meladeni sampah ini?” ucap Rafael santai.
Ia merangkul pinggang Nadira dengan posesif. Nadira langsung bersandar di dadanya, berubah manja dalam sekejap.
Rafael melirik Arkan dengan tatapan meremehkan.
“Oh, jadi ini si miskin yang sering kamu ceritakan itu?”
ia menyeringai.
“Penampilannya lebih buruk dari yang kubayangkan.”
Rafael kemudian merogoh dompetnya. Ia mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan.
Tanpa ragu, ia melemparkannya ke aspal di depan kaki Arkan.
Uang itu berserakan di debu jalan.!!!
“Ini buat servis motor rongsokanmu,” ejek Rafael.
“Aku ragu benda itu bisa sampai ke kosanmu tanpa mogok. Anggap saja ini uang sedekah karena kamu sudah menjaga Nadira untukku selama ini.”
Tawa mahasiswa di sekitar mereka pecah.
Arkan mengepalkan tinjunya hingga kukunya menusuk telapak tangan dan mengeluarkan darah.
Namun ia diam.
Ia tahu, melawan Rafael sekarang sama saja bunuh diri.
Rafael punya segalanya—uang, kekuasaan, dan pengaruh.
Tak lama kemudian, Porsche itu melesat pergi, meninggalkan debu yang mengotori wajah Arkan.
Malamnya, Arkan mengendarai motornya dengan pikiran kacau. Hujan turun sangat deras.
Di jalanan yang licin, pikirannya terus terngiang ucapan Nadira.
Masa depanmu gelap.
Di sebuah persimpangan sepi, sebuah truk bermuatan logistik tiba-tiba oleng.
Lampu sorotnya terlalu terang.
BRAAAKKK!
Tubuh Arkan terpental belasan meter. Motor bebek tuanya hancur di tengah jalan.
Arkan terkapar di aspal dingin. Rasa panas membakar dadanya, tulang rusuknya seperti remuk, dan darah mengalir dari pelipisnya.
Ia mencoba menarik napas, tapi setiap tarikan terasa seperti ditusuk jarum.
“Sakit…” rintihnya pelan.
Kesadarannya mulai menghilang.
Tiba-tiba, cahaya biru muncul di depan matanya.
[Ding! Target dengan ambisi balas dendam terkuat ditemukan.]
[Memulai sinkronisasi…]
“Apa ini…? Virus? Malicious code?” batin Arkan.
Tiba-tiba, rasa sakit luar biasa menghantam kepalanya. Seolah ada ribuan gigabyte data dipaksa masuk ke dalam otaknya secara instan.
Arkan menahan teriakan.
Struktur data, fungsi sistem, dan algoritma aneh menyatu dengan kesadarannya.
[Sinkronisasi berhasil!]
[Selamat datang, User Arkan Wijaya.]
[Memulai restorasi tubuh.]
Cahaya biru menyelimuti tubuhnya.
Luka-lukanya menutup. Rasa sakit hilang, digantikan energi hangat yang mengalir.
Arkan membuka mata perlahan.
Ia bangkit.
Di hadapannya, layar transparan melayang, sebuah interface yang jauh lebih canggih dari program apa pun yang pernah ia buat.
Beberapa menit kemudian, pandangannya beralih ke sebuah mobil mewah sekitar lima puluh meter di depannya.
Sebuah Rolls-Royce Phantom hitam berhenti dengan kap mesin berasap.
Di sampingnya, seorang wanita berdiri memegang payung hitam.
Gaun merahnya kontras dengan malam. Rambut hitam panjangnya terurai. Aura otoritasnya terasa kuat bahkan dari kejauhan.
Sistem langsung menampilkan data.
[Target Potensial Terdeteksi!]
Nama: Elvina Pratama
Identitas: CEO Pratama Group
Kecantikan: 98/100
Status: Sangat frustrasi (mobil mogok & rapat penting dalam 10 menit)
Minat awal: 0%
Arkan menatap layar itu.
“Elvina Pratama…” gumamnya pelan.
[Misi Darurat Aktif: Bantu Elvina Pratama]
[Hadiah: 100.000 poin + Skill “Mata Analisis Bisnis”]
[Kegagalan: -20 Karisma]
Tanpa ragu, Arkan melangkah maju.
Di samping Arkan.!!!
Elvina menatap jam tangannya dengan gelisah.
“Sopir, berapa lama lagi?” tanyanya tajam.
“Maaf, Bu. Mesinnya seperti terkunci. Saya butuh montir,” jawab sopir tua itu gugup.
“Aku tidak punya waktu. Rapat dimulai sepuluh menit lagi,” kata Elvina kesal.
Arkan sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Hujan masih turun deras, membasahi pakaiannya.
Ia memperhatikan mobil itu sebentar. Dari tampilan luar, masalahnya terlihat biasa. Tapi sistem langsung menampilkan detail berbeda.
[Kerusakan: Sistem mesin terkunci (error elektronik)]
[Solusi: Override sistem]
Arkan mendekat.
“Anda tidak butuh montir,” ucapnya tenang.
“Anda cuma butuh orang yang paham sistemnya.”
Elvina menoleh. Tatapannya langsung tertuju pada Arkan.
Pemuda itu basah kuyup, pakaiannya sederhana. Tapi tatapannya tenang, tidak terlihat ragu.
“Siapa kamu?” tanya Elvina.
Arkan tidak menjawab. Ia langsung berjalan ke depan mobil.
Ia meletakkan tangannya di kap mesin.
[Sistem, gunakan 5.000 poin. Perbaiki.]
[Perintah diterima.]
Beberapa detik hening.
Klik.
Mesin mobil tiba-tiba menyala.
Lampu depan kembali terang.
Sopir itu langsung terkejut. “Hidup…?”
Elvina ikut terpaku. Ia jelas melihat Arkan tidak membuka apa pun, tapi mobil itu langsung normal.
Arkan menurunkan tangannya.
“Waktu Anda tinggal sedikit. Lebih baik segera berangkat,” katanya datar.
Elvina masih menatapnya. Ada sesuatu yang aneh dari pemuda ini. Cara bicaranya seperti orang yang terbiasa memegang kendali.
“Tunggu,” ucapnya cepat.
Arkan berhenti.
“Namamu?” tanya Elvina.
“Arkan Wijaya.”
“Berapa bayaranmu?”
Arkan menoleh sedikit.
“Tidak perlu sekarang,” jawabnya singkat.
“Nanti saja.”
Tanpa menunggu jawaban, Arkan langsung berjalan pergi di tengah hujan.
Elvina hanya bisa menatap punggungnya.
Beberapa detik kemudian, ia masuk ke mobil.
“Jalan. Sekarang!” perintahnya tegas.
Mobil itu melaju cepat meninggalkan lokasi.
Sementara itu, di kejauhan, Arkan menghentikan langkahnya.
[Ding! Misi berhasil.]
[Hadiah diterima.]
Arkan menatap layar sistem di depannya.
Matanya mulai berubah tajam.
Permainan baru saja dimulai.