

Suara beep monoton itu seperti palu godam yang menghantam otak Dimas.
Beep... beep... beep...
Setiap bunyi terasa seperti hitungan mundur. Ia tahu ritme itu. Tiga tahun bekerja sebagai venture capitalist membuatnya akrab dengan dunia medis—karena setengah kliennya adalah startup kesehatan. Tapi tidak pernah ia bayangkan akan mendengar suara itu dari tubuhnya sendiri.
Beep... beep... bee—
Jeda sepersekian detik. Lalu bunyi itu kembali normal. Jantungnya masih berdetak. Masih hidup.
Dimas Suryanegara, 35 tahun, membuka mata seadanya. Silau. Lampu LED di atas kepalanya terlalu terang. Ia memicing, mencoba fokus pada langit-langit ruangan. Putih. Bersih. Ruang ICU kelas utama. Setidaknya uangnya masih berguna.
Selang oksigen menempel di hidung. Jarum infus tertancap di punggung tangan kiri. Ada sensasi dingin merambat di lengan—mungkin obat bius atau pelemas otot. Tubuhnya terasa seperti bukan miliknya sendiri.
Di mana aku?
Lalu ingatan itu datang bertubi-tubi seperti air bah.
Maret 2020. Pasien pertama COVID di Indonesia diumumkan. April. Mei. Juni. Angka kematian naik. Teman-temannya satu per satu tumbang. Bukan karena virusnya—tapi karena ekonominya. Startup bubar. Saham ambruk. Investor kabur.
Dimas bertahan. Ia selalu bertahan. Dari nol di 1998, dari krisis 2008, dari gejolak politik 2014, 2019. Ia punya naluri bisnis yang tajam, kata orang. Tapi naluri tak cukup saat virus tak terlihat.
September 2020. Ia terpapar.
Dua minggu isolasi mandiri. Satu minggu di rumah sakit biasa. Tiga hari di ICU.
Dan sekarang...
Beep... beep... be—
Jeda panjang. Dimas merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang menarik napasnya dari dalam.
Tidak. Jangan sekarang. Aku belum—
Pintu ruangan terbuka.
Seorang perempuan muda masuk dengan APD lengkap. Hazmat putih, masker N95, face shield, sarung tangan rangkap dua. Hanya matanya yang terlihat. Matanya lelah, merah, dengan lingkaran hitam di bawahnya—pemandangan umum di 2020.
"Dia sadar," kata perempuan itu, setengah berbisik ke arah luar.
Perawat lain masuk. Laki-laki. "Tekanan drop. Cepat."
Mereka bergerak cepat di sekelilingnya. Memeriksa monitor. Menyesuaikan selang. Dimas hanya bisa melihat dari balik kepalanya yang berat. Matanya mulai kabur.
"Pak Dimas... Pak Dimas, bisa dengar saya?"
Suara perawat perempuan itu terdengar jauh. Seperti dari ujung terowongan.
"Pak Dimas, coba buka mata. Jangan tidur."
Aku tidak tidur. Aku cuma... capek.
Dimas memaksakan mata. Wajah perawat itu lekat-lekat ia pandang. Matanya cokelat muda. Ada bintik kecil di dekat alis kanan. Mungkin tahi lalat. Mungkin bekas luka.
"Pak, ada keluarga yang bisa dihubungi?" tanya perawat laki-laki.
Keluarga.
Dimas tersenyum tipis. Atau hanya ia merasa tersenyum. Mungkin otot wajahnya sudah tidak bergerak.
Istri? Tidak punya. Pacar? Putus dua tahun lalu karena terlalu sibuk. Anak? Jangan mimpi. Adik?
Adiknya...
Lelaki itu, 32 tahun sekarang, tinggal di Bandung dengan istri dan dua anak. Mereka sudah seminggu tidak berkomunikasi. Terakhir chat hanya "Jaga diri, Mas." Dibalas stiker iya.
Orang tua?
Ibu meninggal 1998. Stres. Ayahnya bangkrut, utang di mana-mana, lalu meninggal 2000. Gagal jantung, kata dokter. Tapi Dimas tahu: ayahnya meninggal karena patah hati.
Ia sendiri di dunia ini. Sendirian.
Mungkin ini adil. Aku lahir sendiri, mati sendiri.
Tapi pikirannya melayang ke 1998. Ia ingat ibunya menangis di dapur. Ingat ayahnya duduk diam di teras, memandangi hujan. Ingat adiknya yang masih SMP bertanya, "Mas, kita jadi makan malam?" sementara tidak ada nasi di rice cooker.
Ia berjanji waktu itu. Berjanji pada diri sendiri: Aku akan bangkit. Aku akan kaya. Aku akan pastikan keluarga kecilku tidak pernah kelaparan lagi.
Janji itu ia tepati. Perlahan, susah payah, dengan darah dan keringat dan air mata yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Tapi di puncak kesuksesannya, di saat ia bisa membeli apa pun, virus ini datang dan mengambil semuanya.
Tidak adil.
"Pak Dimas, tahan... jangan..." suara perawat itu mulai pecah. Ia sudah lihat ini berkali-kali. Tangan pasien yang dingin. Mata yang mulai kosong.
Dimas merasakan tubuhnya melayang. Bukan sakit. Bukan panas. Hanya... ringan. Seperti beban 35 tahun lepas dari pundaknya.
Ia melihat ke bawah.
Tubuhnya terbaring di ranjang. Perawat-perawat itu masih berusaha. Perempuan itu menekan dadanya. Laki-laki itu menyuntikkan sesuatu.
Maaf, Bu. Pak. Kalian sudah berusaha. Tapi aku... aku harus pergi.
Lalu tiba-tiba—
TANGKEP!
Suara itu. Bukan dari ICU. Bukan dari dunia ini.
TANGKEP! GOBLOK! BOLA MATI SIH!
Dimas mengerjap. Atau setidaknya ia merasa mengerjap. Di sekelilingnya kini gelap, tapi suara itu... suara itu familiar. Suara itu dari masa lalu. Dari...
"DIMAS! BANGUN, CUK! UDAH JAM 7, KULIAH LO JAM 8!"
Ia merasakan sentakan. Kasar. Tangan seseorang mengguncang bahunya.
Dimas membuka mata.
Langit-langit putih berganti plafon kayu lapuk dengan noda air di sudutnya. Lampu LED berganti bohlam 15 watt yang menggantung kusam. Bau obat rumah sakit berganti bau kopi tubruk dan asap rokok.
Seorang laki-laki bertelanjang dada dengan rambut acak-acakan menatapnya dari atas. Kumis tipis, wajah berjerawat, bau keringat campur minyak kayu putih.
"LO TULI? UDAH GUE PANGGIL BERAPA KALI!"
Mulut Dimas terbuka. Tapi suara tidak keluar.
Ia menoleh pelan. Kamar kos 3x4. Dinding semen tanpa cat. Satu lemari pakaian dari kayu lapis. Meja belajar dengan tumpukan buku. Sebuah radio tape model lawas di pojok, dan dari sana suara Iwan Fals lirih:
"...dan kemesraan... janganlah cepat berlalu..."
Matanya jatuh ke dinding. Sebuah kalender tempel dengan gambar pemandangan alam. Di pojok kanan bawah, huruf besar:
AGUSTUS 1995
Tanggal 17. Lingkaran merah. Hari kemerdekaan.
Jantung Dimas berhenti.
Lalu berdetak seribu kali lebih kencang.
Ia meraih tangannya sendiri. Bukan tangan 35 tahun dengan kulit kasar dan urat menonjol. Ini tangan muda. Mulus. Jari-jari lentur. Tanpa bekas luka.
Ia meraba wajah. Halus. Tanpa kerutan. Tanpa jenggot yang sengaja dipelihara agar terlihat tua di mata investor.
Ia bangkit duduk. Tubuhnya ringan. Sendinya tidak sakit. Lututnya tidak ngilu.
Kepalanya berputar.
Semua ingatan—2020, ICU, virus, perawat dengan mata lelah—bercampur dengan ingatan lain. Ingatan lama. Ingatan yang ia kira terkubur 25 tahun lalu.
Kos ini. Tempat ia tinggal 1995-1998. Agus, teman sekamar yang sekarang telanjang dada. Kampus UI. Skripsi. Sarah. Rina. Krismon. Reformasi.
Dua memori bertabrakan, berputar, menyatu.
Ia ingat 1998. Kerusuhan. Ia ingat adiknya, hilang. Ibunya, meninggal karena stres. Ayahnya, patah hati.
Ia juga ingat 2020. Ia ingat menjadi kaya. Ingat kesepian. Ingat napas terakhirnya di ICU.
Agus menjitak keningnya. "LO PINGSAN? CEPET MANDI! GUE UDAH SIAPIN AIR PANAS!"
Dimas menatap Agus. Teman kosnya ini... di 1998, Agus ikut demonstrasi. Ditangkap. Dipukul. Tapi selamat. Sekarang dia juragan konveksi di Bandung. Punya pabrik 500 karyawan.
Di 2020, Agus telepon Dimas. Suaranya serak. "Mas, gue positif. Tolong... tolong istri gue, anak-anak gue..."
Dimas menangis saat itu. Agus selamat dari 1998, tapi kalah oleh 2020.
Dan sekarang... Agus di sini. Hidup. Berusia 20 tahun. Berjerawat. Bau keringat.
Dimas meraih bahu Agus. Kuat.
"Gus."
"Apa?"
"Tahun berapa sekarang?"
Agus menatapnya seperti melihat orang gila. "Lo... 1995. Lo lupa atau apa? Saking kebanyakan begadang baca buku?"
Dimas tersenyum. Lalu tertawa. Lalu menangis.
Agus mundur selangkah. "Anjir... lo kerasukan, Mas? Gue panggil pak RT?"
Dimas menggeleng. Napasnya tersengal. Ia memeluk Agus.
"Gus... lu masih hidup. Syukurlah... lu masih hidup."
"Ya iyalah hidup! Emangnya gue mau mati?" Agus bingung setengah mati.
Dimas melepas pelukannya. Ia melihat keluar jendela. Matahari pagi Agustus 1995 menyinari gang sempit kos-kosan. Seorang tukang sayur lewat dengan gerobak. Ibu-ibu belanja dengan bahasa Betawi kental.
Jakarta 1995. Tanpa mal raksasa. Tanpa tol dalam kota yang macet. Tanpa ojek online.
Tapi Jakarta yang akan berubah dalam dua tahun. Jakarta yang akan terbakar dalam tiga tahun. Jakarta yang akan melahirkan era baru.
Dimas tahu semuanya.
Ia tahu kapan krisis datang. Ia tahu perusahaan apa yang collapse. Ia tahu saham apa yang naik. Ia tahu siapa yang jadi presiden. Ia tahu siapa yang jadi koruptor. Ia tahu siapa yang jadi orang sukses.
Ia tahu kapan gempa bumi. Kapan tsunami. Kapan bom bunuh diri.
Dan ia tahu... 2020 akan datang. Dengan virusnya. Dengan kematiannya.
Tapi kali ini berbeda.
Kali ini ia tidak sendiri.
Kali ini ia punya 25 tahun untuk bersiap.
Dimas mengepalkan tangan. Tulang-tulang mudanya terasa kokoh. Jantung mudanya berdetak stabil.
"Gus."
"Apaan sih, lo bikin gue merinding aja!"
"Makasih udah bangunin gue."
Agus mengerutkan dahi. "Sama-sama? Lo aneh banget pagi ini."
Dimas berjalan menuju kamar mandi. Di ambang pintu, ia berhenti. Menoleh.
"Gus."
"Apa lagi?"
"Kalo nanti 2020 ada pandemi... lo jangan lupa vaksin, ya."
Agus melongo. "Lo ngomong ap—"
Dimas masuk kamar mandi. Menutup pintu.
Di depan cermin, ia menatap wajahnya sendiri. Wajah 19 tahun. Belum ada uban. Belum ada kerutan.
Ia tersenyum.
Air mata mengalir di pipi.
"Jakarta... I'm back."
BERSAMBUNG...