Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
CAKRA DEWA UNTUK REAGAN

CAKRA DEWA UNTUK REAGAN

Sung_A | Bersambung
Jumlah kata
65.5K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / CAKRA DEWA UNTUK REAGAN
CAKRA DEWA UNTUK REAGAN

CAKRA DEWA UNTUK REAGAN

Sung_A| Bersambung
Jumlah Kata
65.5K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
18+PerkotaanAksiHaremKekuatan SuperBisnis
Reagan Jeff tidak pernah tahu bahwa sebuah benda berkarat dari selokan akan menjadikannya raja dunia. Dalam semalam, kemiskinan berubah menjadi kemewahan, dan hinaan berubah menjadi puja-puji. Namun, di balik cahaya keberuntungan, bersembunyi kegelapan bernama Samuel yang siap memanen jiwa Reagan. Di antara penghianatan, gairah, dan perang saham yang mematikan, Reagan harus memilih, tetap menjadi bidak takdir yang beruntung atau menjadi dewa atas nasibnya sendiri?
1. Sampah yang Terbuang

Tumpukan kertas setebal kamus itu menghantam wajah Reagan Jeff sebelum kemudian berserakan di atas lantai marmer yang mengilap. Suaranya tidak terlalu keras, tetapi gema di dalam ruangan luas yang kedap suara itu terasa seperti ledakan bom bagi telinga Reagan. Dia tetap menunduk, tidak berani sedikit pun mengangkat wajah meski rasa perih mulai menjalar di ujung hidung dan keningnya akibat hantaman sudut kertas yang tajam. Aroma kertas baru yang dingin dan tinta printer yang pekat seakan mengejek kemiskinan yang ia bawa masuk ke ruangan mewah tersebut.

"Kau ini benar-benar manusia tidak berguna, Reagan! Berapa kali aku bilang, format laporannya harus sesuai standar kontrak! Kenapa angka di halaman empat belas ini berbeda dengan ringkasannya? Kau mau merusak reputasi perusahaanku hanya karena kemalasanmu yang kronis itu, hah?"

Suara berat dan penuh intimidasi itu milik Pak Franz. Pria berjas abu-abu merk ternama itu berdiri dari kursi kulitnya yang empuk, matanya membelalak lebar dengan urat leher yang menegang, memancarkan amarah murni yang ditujukan kepada pemuda di depannya. Reagan hanya mengenakan kemeja murah berkerah lusuh yang warnanya sudah mulai pudar karena terlalu sering dicuci secara manual.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Franz. Saya rasa ada sedikit kesalahan teknis saat proses pencetakan tadi malam. Saya mengerjakannya sampai pukul tiga pagi sendirian tanpa ada bantuan staf lain, jadi mungkin ketelitian saya menurun di jam-jam itu…."

"Kesalahan teknis?" Pak Franz tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar sangat merendahkan dan menusuk ulu hati. "Kesalahan teknis terbesar di perusahaan ini adalah keputusanku untuk mempertahankan orang bodoh sepertimu selama setahun ini. Hanya karena rasa kasihan melihat ibumu yang dulu datang memohon-mohon kepadaku untuk memberimu pekerjaan kasar, aku menerimamu. Tapi ternyata benar kata orang, bibit sampah tidak akan pernah bisa menjadi bunga."

Reagan meremas jemarinya yang mulai bergetar hebat di balik punggung. Kalimat tentang mendiang ibunya seakan menjadi silet yang menyayat langsung ke pusat jantungnya. Sejak ibunya meninggal dunia setahun yang lalu akibat sakit paru-paru yang parah, Reagan telah berjuang mati-matian di kota kejam ini, bertahan hidup di bawah telunjuk orang-orang sombong seperti Pak Franz hanya untuk melunasi sisa utang biaya pemakaman dan rumah sakit yang menumpuk.

"Tolong beri saya satu kesempatan lagi, Pak. Saya janji akan memperbaikinya sekarang juga. Saya akan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu jam dan menyerahkannya kembali ke meja Bapak," mohon Reagan dengan suara yang nyaris berbisik, matanya menatap nanar ke arah tumpukan dokumen yang kini mulai terinjak ujung sepatu kulit mahal milik bosnya.

"Memperbaiki?" Pak Franz berjalan perlahan memutari meja kerjanya yang luas, mendekat ke arah Reagan dengan langkah kaki yang teratur namun penuh ancaman. Dia kemudian menepuk-nepuk pipi Reagan dengan telapak tangan kirinya secara kasar.

"Tidak ada yang perlu diperbaiki karena hubungan kerja kita berakhir detik ini juga. Sekarang juga, kau keluar! Jangan ambil apa pun selain pakaian yang melekat di tubuhmu itu. Aku tidak mau virus kemiskinan dan ketololanmu mengotori ruanganku lebih lama lagi!"

"Tapi Pak, bagaimana dengan upah terakhir saya bulan ini? Tabungan saya sudah benar-benar kosong karena saya baru saja membayar cicilan tunggakan obat. Saya tidak punya pegangan hidup sama sekali jika hari ini diberhentikan tanpa uang sedikit pun!"

Pak Franz justru terbahak-bahak, suara tawanya memantul kasar di dinding kaca ruangan itu.

"Upah? Kau justru harus membayarku karena kau telah membuang-buang oksigen dan listrik berharga di gedung ini selama setahun! Satpam! Seret orang ini keluar dari sini sekarang juga! Aku mual melihat wajahnya!"

Dua orang pria bertubuh tegap berseragam safari segera merangsek masuk ke dalam ruangan. Tanpa basa-basi atau rasa hormat sedikit pun, mereka mencengkeram kedua lengan kurus Reagan dengan kekuatan yang membuat sang pemuda meringis kesakitan.

"Tunggu dulu! Tas saya ada di bawah meja! Kunci kontrakan dan dompet kecil saya ada di sana, Pak!" teriak Reagan meronta-ronta saat kakinya terseret paksa di atas lantai marmer lobi kantor.

"Biarkan saja tas busuk itu menjadi pajangan di tempat sampah! Anggap saja itu biaya sewa karena kau sudah menginjak marmer mahal di gedungku!" teriakan terakhir Pak Franz yang dibarengi bantingan pintu jati menutup perdebatan itu dengan kasar.

Di lorong kantor yang biasanya tenang, suasana kini dipenuhi oleh bisik-bisik yang merajam telinga. Reagan melihat orang-orang yang dulu sering meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas lembur tanpa dibayar, kini justru memalingkan muka seolah melihat seonggok daging busuk. Beberapa orang tertawa sinis di balik balik sekat meja mereka, dan ada yang dengan sengaja mengeluarkan ponsel pintar untuk mengabadikan momen pengusiran tragis tersebut ke media sosial.

Sesampainya di lobi utama yang megah, tubuh Reagan dilemparkan begitu saja ke arah trotoar jalan raya yang mulai basah oleh rintik hujan sore hari. Udara dingin seketika menyergap kulitnya yang tipis.

"Jangan pernah terlihat lagi di radius seratus meter dari gedung ini kalau kau masih sayang dengan nyawamu!" bentak salah satu satpam tersebut sebelum pintu kaca berputar otomatis itu terkunci rapat dari dalam.

Reagan Jeff terduduk lesu di atas aspal semen yang kasar. Hujan mulai turun semakin lebat, seakan alam ikut bersedih atau justru menertawakan kemalangannya. Dia merogoh kantong celananya dengan harapan kecil ada uang kembalian yang tertinggal, tapi tidak ada. Hanya ada selembar struk pembayaran apotek yang sudah basah dan koyak di tangannya. Air mata Reagan jatuh tak terbendung, menyatu dengan butiran hujan yang membasahi seluruh pakaiannya hingga tembus ke pori-pori.

***

Perjalanan panjang di tengah badai membawa Reagan menuju sebuah kawasan pemukiman padat dan kumuh di pinggiran kota saat langit sudah berubah menjadi hitam pekat. Tubuhnya bergetar hebat karena kombinasi rasa dingin yang menyengat dan perut yang terasa melilit tajam akibat ia belum sempat mencicipi sarapan pagi maupun makan siang. Sepatu kainnya yang sudah berlubang di bagian bawah kini berisi air lumpur yang keruh.

Saat ia sampai di depan gang yang sangat sempit menuju pintu kontrakannya, sesosok wanita paruh baya mengenakan daster motif bunga dan wajah yang terlihat menor akibat bedak yang terlalu tebal sudah menantinya. Itu adalah Ibu Tati, pemilik kontrakan yang dikenal tidak pernah mengenal kata toleransi soal keuangan.

"Bagus sekali! Akhirnya kau menampakkan muka juga, Reagan!" sapa Ibu Tati dengan suara melengking yang mampu meredam suara gemuruh hujan di langit.

"Ibu Tati... saya memohon bantuan, bisakah saya masuk sebentar untuk menghangatkan badan?"

"Jangan memohon-mohon jika tanganmu tidak memegang uang! Mana uang sewa yang menunggak selama tiga bulan itu? Katanya kau bekerja di perusahaan besar? Kenapa membayar uang sampah saja kau tidak becus?" Ibu Tati menjulurkan telapak tangannya yang kasar, tepat di hadapan hidung Reagan yang memerah.

Reagan menundukkan kepala sedalam-dalamnya, ia merasa martabatnya sudah hancur tak bersisa.

"Saya baru saja kehilangan pekerjaan, Bu. Seluruh barang-barang berharga saya tertinggal di kantor karena saya dipaksa keluar secara tidak terhormat. Tolonglah, berikan saya kesempatan satu hari saja untuk berpikir."

Ibu Tati tertawa meremehkan, suara tawa yang kering dan tajam.

"Kehilangan pekerjaan? Sudah miskin, yatim piatu, tidak punya teman, sekarang dipecat pula! Memangnya rumahku ini tempat penampungan gelandangan? Tidak ada uang, artinya tidak ada pintu yang terbuka untukmu!"

"Tolonglah, Bu... Hanya malam ini. Hujan di luar sangat badai, saya bisa jatuh sakit kalau tidak segera mandi dan mengganti baju," pinta Reagan dengan suara serak yang mulai serak.

"Sakit itu urusanmu dengan Tuhan! Bukan urusanku!" Ibu Tati berbalik masuk ke dalam teras rumahnya yang dikelilingi pagar kawat. Dengan cepat ia menggembok pintu besi tersebut dan melemparkan tatapan jijik.

"Semua pakaian burukmu sudah aku kumpulkan ke dalam plastik sampah hitam di pinggir selokan besar itu. Ambil dan jangan pernah menapakkan kaki di sini lagi, atau aku akan panggil polisi karena kau masuk tanpa izin!"

Reagan Jeff membatu di tengah derasnya air dari langit. Di sudut gang yang remang-remang, tepat di sisi selokan besar yang mengalirkan air limbah berbau busuk, ia melihat tiga kantong plastik hitam besar. Plastik-plastik itu sudah sobek di beberapa bagian karena tersenggol kaki pejalan kaki yang lewat. Di dalamnya ada bantal lepek, pakaian harian yang murah, dan sebuah foto ibunya yang bingkai plastiknya sudah retak terkena aspal.

Dia merangkak di atas tanah, memeluk plastik berisi barang-barangnya seolah barang itu adalah harta paling bernilai di dunia. Rasa hancur dalam hatinya belum sempat mengendap saat ia melihat bayangan tiga orang pria besar mendekat ke arahnya.

"Wah, sepertinya si pencundang ini sedang menggelar pesta sampah di pinggir selokan!" suara berat yang sangat familiar terdengar menyapa indra pendengaran Reagan.

Tiga pria mengenakan jaket kulit gelap dengan aroma alkohol yang menyengat segera mengitari posisi Reagan. Mereka adalah para penagih utang keliling suruhan Samuel yang sudah sejak berbulan-bulan mengejar sisa pinjaman ibunya.

"Samuel sudah mulai kehilangan kesabaran terhadapmu, Reagan. Kau selalu menghindar setiap kali kami datang ke kantormu," ujar pria yang memiliki bekas luka melintang di dagunya sambil menarik kerah baju Reagan dan mengangkatnya dari permukaan aspal.

"Saya benar-benar tidak memiliki uang saat ini, Bang. Berikan saya satu minggu, saya janji akan melamar pekerjaan baru dan langsung membayar separuh dari totalnya," Reagan berbicara terbata-bata dengan sisa tenaga yang ada.

"Seminggu? Di dunia ini tidak ada yang gratis, Bocah! Kalau kau tidak bisa membayar dengan kertas, maka kau harus membayar dengan rasa sakit agar kepalamu bisa bekerja lebih cerdas!" instruksi sang pemimpin preman itu pun langsung dieksekusi oleh kedua kawannya.

BUGH!

KRAKK!

Sebuah pukulan telak menghantam bagian ulu hati Reagan, disusul dengan tendangan keras yang mendarat tepat di tulang rusuknya. Ia terjerembap ke dalam genangan air di pinggir selokan, membiarkan pakaiannya kini bersimbah darah dari bibirnya yang sobek dan hidungnya yang berdarah. Setiap tendangan yang menghunjam tubuhnya seolah meremukkan sisa-sisa semangat hidup yang ia miliki.

"Hancurkan saja plastik-plastik ini agar dia tahu rasanya tidak punya apa-apa lagi!" ucap salah satu preman sambil menginjak foto ibu Reagan hingga kaca pelindungnya hancur total di bawah guyuran hujan.

Setelah merasa puas melihat Reagan tak lagi mampu bergerak selain hanya merintih kesakitan, ketiga preman itu pun meludahinya dan pergi menjauh. Tawa mereka yang sarkas perlahan hilang ditelan suara angin kencang.

Reagan terkapar, nyaris kehilangan kesadaran di dalam kubangan lumpur di samping selokan yang dalam. Pandangannya kabur karena air mata dan darah yang mengaburkan penglihatan. Ia merasa ini adalah saat terakhir dalam hidupnya. Namun, di saat ujung jemarinya mencakar lumpur karena menahan pedih, ia merasakan sebuah benda bulat berbahan logam di dasar selokan yang hitam.

Seolah memiliki kehidupannya sendiri, benda itu seperti mengalirkan hawa panas yang membimbing tangan Reagan untuk mengangkatnya keluar.

Sebuah cincin, materialnya tampak seperti perunggu yang berkarat, penuh lumut dan sisa lumpur. Tetapi di balik kekumuhan itu, ada pendaran cahaya berwarna ungu gelap dan perak yang keluar dari dalam sela-sela ukiran kunonya yang berbentuk seperti kelopak teratai yang tajam.

"Kenapa benda... sepertimu... tergeletak di tempat sehina ini?" Reagan bergumam dengan nafas yang satu-satu. Tanpa dia sadari sepenuhnya, saat ia mencoba membersihkan cincin itu dengan ujung jarinya, benda itu terpasang sempurna di jari manis tangan kirinya.

*BOOM!*

Detakan hebat merambas ke seluruh pembuluh darahnya. Cahaya yang luar biasa terang tiba-tiba menyembur keluar dari jari manis Reagan, meluas ke atas menyentuh awan dan merambat ke setiap sel ototnya. Ia tidak lagi merasakan dingin. Rasa panas yang teramat sangat menyelimuti wajahnya, tulang pipinya naik secara simetris, rahangnya yang tadinya kusam karena kurang gizi mendadak menguat dan memiliki garis tegas, hidungnya berubah menjadi proporsional seperti pahatan seni tertinggi dunia. Luka-luka memarnya menguap di bawah pendar cahaya tersebut, berubah menjadi kulit yang halus dan bercahaya.

Cincin itu telah aktif sepenuhnya. Cahaya tersebut menghisap semua unsur keberuntungan buruk dalam hidupnya dan mengubahnya menjadi akumulasi energi absolut yang memancar ke langit malam.

Perlahan, Reagan bangkit berdiri dengan tenang. Postur tubuhnya yang semula layu kini tegak penuh dengan martabat dan karisma yang membuat kegelapan malam sekalipun seolah merasa hormat kepadanya. Saat ia mendekati pantulan diri pada kaca toko yang tak jauh dari situ, ia terpana. Bukan hanya wajahnya yang berubah menjadi sangat tampan seperti sosok dewa kuno, namun matanya memancarkan sebuah aura keberanian yang sanggup meruntuhkan ego siapa pun yang menatapnya.

"Nasibku... akan berubah." bisiknya, namun suaranya tidak lagi cempreng. Suara itu kini rendah, merdu, dan penuh dengan vibrasi yang menenangkan sekaligus mengintimidasi.

Tanpa dia sadari, puluhan kilometer dari tempat itu, di dalam sebuah ruang kendali bawah tanah yang penuh dengan layar radar canggih, sesosok pria berambut putih dengan jas rapi menyesuaikan kacamata hitamnya.

"Deteksi sinyal keberuntungan mencapai level tak terhingga telah terjadi di sektor utara, Tuan Samuel," lapor salah seorang analis data kepada sang penguasa kegelapan.

Pria tua yang dipanggil Samuel itu menyeringai, ia menuangkan anggur merah ke dalam gelas kristalnya sembari menatap koordinat Reagan muncul. Senyumnya penuh dengan niat jahat yang sangat mengerikan.

"Artefak Cakra Dewa akhirnya menunjukkan inangnya. Reagan Jeff..." Samuel tertawa lirih, tawanya mengandung hawa kematian yang pekat.

"Anak manis, bersenang-senanglah dengan tampang barumu malam ini. Kau tidak akan pernah tahu, bahwa cincin itu sedang menyiapkan sebuah meja perjamuan berdarah untukmu di pagi hari nanti. Mari kita lihat, sejauh mana dewa keberuntungan bisa lari dari pisau takdirku."

Reagan mengepalkan tangannya. Di atas permukaan langit malam itu, badai seketika reda dengan tidak alami saat dia baru saja melangkah keluar dari gang. Dia menyadari ada kekuatan di balik tiap langkahnya, tetapi ada sebuah ketakutan besar yang merambat di jiwanya. Siapakah dia sebenarnya setelah keberuntungan ini mengambil segalanya darinya?

Lanjut membaca
Lanjut membaca