

3 November 2024
02.34 WIB
Kontrakan baru, Jalan Melati Gang 3 No. 17
Hujan deras di luar. Atap bocor. Rokok tinggal dua.
---
Hari ini saya mati.
Mungkin lebay. Mungkin cuma efek mabuk. Tapi begitulah rasanya ketika dalam satu minggu kamu kehilangan segalanya.
Senin: Saya dipecat.
Selasa: Saya menggugat cerai.
Rabu: Saya dicerai.
Kamis: Saya mengemasi barang dari rumah kontrakan lama.
Jumat: Saya pindah ke sini.
Sabtu? Sabtu saya mabuk sendirian sambil nunggu Minggu tiba.
---
Kontrakan baru ini terletak di ujung Gang 3, jalannya sempit, cuma muat motor. Lampu jalan mati sejak bulan lalu kata tetangga. Kalau malam begini, gelap gulita. Saya tadi jatuh dua kali cari kontrakan ini karena GPS error dan nggak ada orang yang bisa ditanyain.
Ukurannya 3x4 meter. Dinding triplek yang di beberapa bagian udah bolong. Lantai semen, kotor, ada bekas noda hitam di pojok—saya nggak mau mikir itu noda apa. Bau apek campur bekas orang mabok—mungkin penghuni lama juga punya nasib mirip saya.
Satu-satunya furnitur: lemari kayu tua di pojok. Catnya mengelupas, pintunya miring, kalau dibuka bunyinya kreeeeek panjang kayak orang kesakitan.
Saya buka lemari itu. Kosong. Tapi di rak paling bawah, ada sesuatu.
Buku.
Tebal. Sampul cokelat tua, kulit sintetis yang mulai mengelupas di pinggirnya. Sudah lusuh, tapi masih utuh. Kayak baru keluar dari tumpukan barang bekas di loak. Mungkin emang dari loak. Mungkin juga peninggalan penghuni lama. Saya nggak tahu. Yang jelas, buku itu ada di sana, dan entah kenapa saya ambil.
Saya buka halaman pertamanya.
Kosong.
Halaman kedua, ketiga, keempat—semuanya kosong.
Kosong murni. Nggak ada coretan. Nggak ada tulisan. Nggak ada tanda tangan pemilik lama. Seperti sengaja dikasih kosong buat saya.
Atau mungkin ini cuma kebetulan.
Tapi saya—dalam keadaan mabuk dan setengah sadar—milih buat percaya ini bukan kebetulan.
---
Saya duduk di lantai.
Lantainya dingin. Basah di beberapa tempat karena bocor. Botol miras murahan—anggep aja ciu—di samping kiri. Harganya 15 ribu per botol, saya beli dua tadi sore sebelum pindah. Satu udah habis. Satu lagi setengah.
Buku ini di pangkuan.
Rokok tinggal dua dari bungkus terakhir. Saya ambil satu, nyalakan. Hisap dalam-dalam. Asapnya hangat di tenggorokan, beda sama udara dingin yang masuk lewat celah-celah dinding.
Di pojok kanan, atap bocor. Bunyinya tik... tik... tik... bikin orang makin enggak bisa tidur. Saya udah dengar bunyi itu selama tiga jam terakhir. Mungkin lebih. Waktu mulai kabur setelah botol pertama habis.
Saya ambil pulpen dari saku celana.
Pulpen murahan, warna biru transparan, tutupnya udah hilang. Dapet gratis dari kantor dulu. Pas masih ada kantor. Pas masih ada masa depan.
Saya buka halaman pertama buku itu.
Dan mulai menulis.
Bukan diary. Bukan catatan harian biasa.
Ini catatan pertama dari rencana yang belum jelas bentuknya.
---
Hari ini saya pindah ke kontrakan baru. Jalan Melati Gang 3 No. 17. Kontrak 6 bulan, bayar di muka 1,8 juta. Uang terakhir saya.
Lebih kecil dari kamar mandi rumah dulu. Lebih kumuh dari kandang ayam. Tapi sudahlah. 300 ribu sebulan di Jakarta, nggak ada yang bisa protes. Bahkan itu murah. Mungkin karena hantunya banyak. Atau karena bekas TKP. Entah. Yang penting ada atap. Walau bocor.
Saya nulis ini dalam keadaan mabuk. Tapi pikiran saya jernih. Aneh, ya. Mabuk tapi jernih. Mungkin karena selama ini saya hidup sadar tapi linglung.
Selama 32 tahun saya hidup dengan resep: sekolah, kerja, nikah, punya rumah, punya anak—eh yang terakhir belum kesampaian. Syukur. Minimal nggak ada anak yang harus lihat bapaknya jatuh.
Saya ikutin semua aturan main. Saya sekolah rajin. Saya kerja keras. Saya setia sama istri. Saya baik ke semua orang.
Hasilnya?
Saya dipecat via telepon. "Maaf Mas Rama, efisiensi." Efisiensi. Padahal baru minggu lalu saya lembur 3 hari berturut-turut buat tutup laporan. Dua bulan sebelum itu, Handoko bilang saya "karyawan teladan". Teladan apa? Teladan dibodohi?
Saya cerai. Istri saya, Ririn, orang yang saya kenal 7 tahun, nikah 5 tahun, tiba-tiba minta cerai. Katanya: "Aku nggak bahagia, Ram." Waktu saya tanya kenapa, jawabnya: "Kamu terlalu baik. Nggak ada tantangannya."
Terlalu baik. Jadi alasan.
Besoknya saya lihat foto di Instagram. Dia di restoran mahal. Bareng Handoko. Bos saya. Cowok 45 tahun yang udah cerai dua kali dan terkenal suka ganti pasangan.
Saya nggak tahu mana yang lebih menyakitkan: dia pergi, atau dia pergi sama orang yang pecat saya.
Mungkin dua-duanya.
Besok saya harus cari kerja. Atau cari cara bertahan hidup. Yang penting jangan mati dulu.
Masih ada setengah bungkus rokok. Masih ada mie instan 3 bungkus—indomie goreng dua, rasa kari satu. Masih ada motor tua di luar—Honda Supra 125 tahun 2010, bisa digadaikan 2 juta mungkin kalau darurat.
Saya masih hidup. Dan selama masih hidup, saya bisa balas.
---
Di tengah menulis, kilas balik datang tiba-tiba.
Ibu.
Ibu almarhumah. Wafat pas saya semester akhir kuliah. Kena stroke. Waktu itu saya pulang kampung, lihat beliau di rumah sakit, masih sempat senyum.
Saya ingat waktu kecil, saya pernah nangis karena dipukul teman. Ibu duduk di samping tempat tidur, elus kepala saya, dan bilang, "Rama, kalau kamu baik sama orang, orang bakal baik sama kamu. Ingat itu, Nak."
Saya percaya itu. Saya jalani itu. Selama 32 tahun.
Saya baik ke teman: teman pinjam uang, saya kasih. Teman minta tolong, saya bantu. Teman butuh koneksi, saya kenalin.
Saya baik ke atasan: lembur tanpa dibayar. Ambil alih tugas orang. Nggak pernah protes soal gaji.
Saya baik ke istri: bangunin pagi, masakin sarapan, anter jemput kerja, ingat tanggal anniversary, beli bunga tiap bulan, nggak pernah marah kalau dia belanja.
Hasilnya?
Teman: Sekarang pada menghilang. Chat dibaca nggak dibales. Telepon nggak diangkat. Pas saya butuh pinjaman 5 juta aja buat bayar kontrakan, 20 orang saya chat, 0 yang respon.
Atasan: Handoko, yang sekarang tidur di ranjang saya. Dengan istri saya. Di rumah yang saya cari pakai KPR.
Istri: Ririn. Wanita yang dulu bilang "aku nggak akan ninggalin kamu, Ram". Sekarang ninggalin saya buat cowok tua botak yang suka pake jam Rolex palsu.
Saya tarik napas panjang. Hembuskan perlahan.
Ibu salah.
Maaf, Bu. Ibu salah.
Orang baik selalu kalah. Saya buktinya.
Maka mulai besok, saya berhenti jadi orang baik.
---
Hujan makin deras. Atap makin bocor.
Sekarang udah dua titik bocor. Satu di pojok kanan, satu di dekat pintu. Saya harus milih posisi duduk yang aman biar nggak kena air.
Saya geser ke tengah. Pantat dingin kena lantai semen. Nggak apa-apa. Lebih baik dingin daripada basah.
Saya lanjut nulis.
Besok: cari kerja.
Target minggu ini: dapet 500 ribu. Minimal buat makan, rokok, dan bayar Bono.
Bono? Siapa Bono? Belum tahu. Baru denger namanya dari Jarot. Tapi itu cerita besok. Atau lusa.
Caranya? Nggak tahu. Cari tahu besok.
Yang jelas: nggak bakal balik ke Sinar Mas. Nggak bakal minta-minta ke mantan teman. Nggak bakalan minta tolong ke Ririn—apalagi dia. Gue rela mati kelaparan daripada minta ke dia.
Saya akan mulai dari nol. Bener-bener nol.
Karena dari nol, saya bisa ukur semuanya dari awal. Siapa teman beneran. Siapa musuh. Siapa yang bisa dipercaya. Siapa yang cuma numpang hidup.
Saya akan jadi orang baru. Versi upgrade.
Versi yang nggak bisa diinjak.
---
Tiba-tiba perut saya bunyi.
Lapar.
Saya lihat jam. 3 lewat. Udah 8 jam nggak makan. Terakhir makan siang tadi jam 11: nasi padang di pinggir jalan, cuma lauk telur.
Saya bangun, jalan ke pojok kontrakan tempat saya taruh kardus berisi belanjaan.
Isinya: indomie 3 bungkus, telur 2 butir (satu udah retak), gas LPG 3 kg yang tinggal dikit, panci kecil, kompor portable.
Saya masak air. Sambil nunggu mendidih, saya buka jendela kecil—satu-satunya ventilasi di kontrakan ini.
Udara luar dingin. Hujan sudah reda, tinggal gerimis. Bau tanah basah masuk ke dalam. Anehnya, enak. Lebih enak dari bau apek kontrakan.
Saya hisap rokok terakhir.
Satu batang. Tinggal satu lagi di bungkus.
Nanti pagi harus beli. Atau pinjam ke tetangga. Tapi mana ada tetangga yang mau pinjemin rokok ke orang baru?
Mie matang. Saya tuang ke piring. Tambah telur setengah matang. Makan sambil berdiri di depan jendela.
Di luar, gang mulai kelihatan. Lampu jalan mati, tapi ada lampu dari rumah-rumah di ujung gang. Orang-orang mulai bangun. Suara azan subuh dari masjid jauh.
Saya habiskan mie. Minum air putih langsung dari galon.
Kembali duduk di lantai. Buka buku lagi.
---
Halaman pertama sudah penuh tulisan. Saya lanjut ke halaman kedua.
Subuh, 4 November 2024.
Mie hangat, rokok tinggal satu, dan tekad yang mulai terbentuk.
Tadi waktu makan, saya lihat ke luar jendela. Ada bapak-bapak jualan asongan sudah berangkat. Ada ibu-ibu mau ke pasar. Ada anak kecil pakai seragam SD, naik angkot sendirian.
Hidup terus berjalan. Nggak peduli saya hancur atau nggak.
Dan itu bagus. Karena berarti saya juga harus jalan.
Nggak ada yang bisa bantu saya selain diri sendiri.
Besok—eh hari ini—saya akan mulai. Cari kerja. Cari teman baru. Cari cara.
Tapi yang paling penting: cari alasan buat bangun pagi.
Alasan itu nggak muluk-muluk. Bukan buat balas dendam. Bukan buat jadi kaya. Bukan buat buktiin sesuatu ke Ririn atau Handoko.
Cuma buat bertahan hidup.
Karena dengan bertahan hidup, saya menang.
---
Saya tutup buku. Letakkan di samping botol kosong.
Rokok terakhir saya nyalakan. Hisap dalam-dalam. Rasanya beda. Entah karena ini rokok terakhir, atau karena saya udah mutusin sesuatu.
Saya pandangi kontrakan ini.
Dinding kusam. Lantai kotor. Atap bocor. Bau lembab. Tikus lewat di balik lemari. Kecoak di pojok.
Tapi anehnya... saya senyum.
Mungkin karena saya udah nggak punya apa-apa lagi.
Dan dari titik nol, satu-satunya arah adalah naik.
Iya kan?
Dari nol, kalau naik dikit aja, udah untung. Dibanding dari puncak terus jatuh.
Saya buang puntung rokok ke luar jendela. Tutup jendela. Gelap lagi.
Saya berbaring di lantai beralaskan kardus bekas. Memejamkan mata.
Tubuh lelah. Pikiran penuh. Tapi hati... entah kenapa enteng.
Mungkin karena saya sudah putuskan sesuatu. Mungkin karena saya sudah nulis. Atau mungkin karena efek mabuk belum hilang total.
Tapi sebelum tidur, satu kalimat terlintas di kepala.
Saya buka buku lagi. Tulis di halaman paling bawah dengan tulisan paling jelek:
---
Besok saya akan cari kerja.
Atau cari musuh.
Tergantung siapa yang lebih dulu kutemui.
---
Saya taruh buku di bawah bantal kardus. Tutup mata.
Dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, saya tidur tanpa mimpi buruk.
Mungkin karena mimpi buruk terbesar sudah terjadi.
Atau mungkin karena besok adalah hari pertama dari sisa hidup saya—yang baru.
---