

"Asri baru saja cerai, malam ini dia target kita Jo!"
Tejo Wakaseno, pemuda pengembala kambing yang hidupnya hanya berkutat di ladang. Setiap hari kegiatannya tertidur di atas rumput hijau sambil mengamati kambing-kambing yang berlarian mencari makan.
Di bawah terik matahari yang menyorot bumi, Tejo dihampiri temannya, Dudu dan Toro. Tejo baru saja mendapat laporan dari mereka. Sebagai tugas dari madam Che, dia akan membawakan janda segar malam ini.
Tejo bukan pengangguran, dia banyak kegiatan, tetapi ilegal. Upah dari juragan Soko tidak cukup untuk Tejo menghidupi diri, ibu, anak-anak asuhnya.
"Alasan cerai karena apa?" tanya Tejo.
"Tak tahu. Mungkin karena burung suaminya kecil!" celetuk Dudu.
"Bodoh, dia cerai karena suaminya selingkuh. Belum ada anak, dan yang paling penting dia cantik, Jo!" sahut Toro.
Tejo tersenyum, mendapatkan janda bukanlah suatu hal yang mudah, setiap hari dia berdoa akan selalu ada wanita-wanita tanpa anak yang bercerai. Selain janda dia juga menargetkan gadis perawan yang mungkin lebih mahal untuk diserahkan kepada germonya, akan tetapi terlalu sulit mendapatkan wanita bersegel.
"Sudah kalian pergi, aku jaga kambing dulu. Nanti malam hampiri aku di tempat biasa!"
"Jo kau ini masih saja betah momong kambing, memburu janda lebih menguntungkan!" Toro berujar. Tejo masih telaten mengembala kambing padahal menculik janda lebih beruang.
"Aku menyukai kambing!"
"Setress, aku curiga kambing-kambing hamil itu ulahnya," bisik Dudu.
Tejo menimpuk Dudu dengan rumput di sampingnya. "Mau kusuapi tahi kambing kau? Pergi kalian!"
Keduanya sudah kocar-kacir berlarian, mereka memang senang sekali mengganggu Tejo saat berkegiatan di ladang. Namun, hilang mereka berdua, kini berganti dengan kehadiran ibu-ibu yang berhenti tepat di dekat dia merebahkan diri di atas rumput.
"Tejo, Tejo, laki-laki lain seumuranmu sudah pada nikah, punya anak, punya aset banyak, lah kau? Masih saja main dengan kambing! Anakku loh sudah nikah punya istri cantik pula!"
Tejo mendapat cibiran dari seorang wanita yang berlalu lalang di kebun, tempat ia mengembala kambing milik juragan Soko. Sudah tak ayal lagi di telinga Tejo.
"Anak Ibu nikah karena menghamili anak orang bukan? Saya juga punya anak!" Tejo sangat santai menjawab, bahkan sambil mengunyah rumput di pinggir mulutnya.
"Yaa setidaknya anakku lebih makmur. Mana tunjukkan anak kau, mana?!"
"Nah di sana, sedang cari makan mereka!" Tejo menunjukkan anak-anak kambingnya yang sedang berlarian, sesekali mereka saling memaduk.
"Setress kau Tejo, terlalu sering makan rumput, tahi kau hijau!"
Melihat ibu-ibu itu pergi dengan perasaan dongkol, Tejo tertawa puas.
***
Langit mulai menghitam, tertanda akan berganti hari. Tejo biasanya sebelum melancarkan aksi dia lebih dulu mengecek anak-anak di rumah kecilnya yang hanya terbuat dari anyaman bambu. Di rumahnya itu ada anak-anak yang ditinggalkan orang tua mereka, ada pula yang lahir tidak sempurna lalu orang tuanya tidak bisa menerima.
Namun, anak-anak itu hidup sehat, tidak kelaparan, dan terurus. Banyak orang yang bergunjing dan bertanya-tanya bagaimana dia menghidupi mereka sementara si kepala pengurus hanya seorang penggembala kambing. Tejo selalu menjawab ada titipan dari Tuhan.
Anak-anak itu tidak dicari, anak-anak itu datang sendiri. Orang-orang tua mereka membuang selalu di depan rumahnya, jadi mau tidak mau dia turun tangan untuk mengurus.
"Om Tejo malam ini pergi lagi ya?" Gadis kecil berkulit putih bersih, memegangi kakinya mendongak menatap Tejo seperti menatap seorang ayah.
"Iya Ina, ada apa?"
"Ina mau main dengan Om Tejo!"
Tejo tersenyum, mengusap kepalanya lalu dia menggendong. "Nanti ya, hari ini Om mau cari uang dulu untuk Ina makan!"
"Oke deh!"
Tejo sudah puas melihat anak-anaknya, kini ia keluar untuk melancarkan aksi dengan Toro dan Dudu.
Dari jauh mata memandang, seorang kakek-kakek berbaju merah, memakai topi cheongsam menghampiri Tejo. Tampaknya dia menggendong anak di belakangnya. Ketika semakin mendekat, kakek-kakek itu menyerahkan anak yang dia gendong di belakang.
"Owe mau titip nih punya cucu, lu olang jaga dia baik-baik!"
Matanya sipit, kulitnya mengendur, bawah matanya memerah, bibirnya putih pucat, seperti ... ah tidak mungkin, tetapi dia terlihat bernyawa. Anak laki-laki yang diserahkan mungkin sekitar 6 tahunan, matanya sipit, pipinya tembam, kulitnya putih.
"Panggil owe Akong Feng-Feng. Jaga cucu owe, owe udah tua, owe mau bagi lu olang buat lawat dia!" Logat China-nya begitu kental, seperti baru masuk ke dalam negeri yang masih cadel berbahasa kita.
"Dilhat-lihat ini aki-aki macam tak hidup, tapi ... ah baiklah terima saja, tampaknya dia sudah tidak bisa merawat cucunya," batin Tejo.
"Baiklah Akong, saya terima, saya akan merawatnya seperti anak yang lain!"
"Tunggu-tunggu owe ada sesuatu!" Lelaki tua China itu mengambil tangan Tejo, lalu entah dari mana datangnya benda itu dia menyematkan sebuah gelang hitam dengan sambungan satu batu hijau menyala. Begitu dipasangkan, tubuh Tejo seperti tersengat listrik sebentar, dia sampai bergetar, bergelinjang menggigil. Seperti ada sesuatu yang masuk ke dalam badan.
"Owe punya jimat usia selatus tahun, ini bisa bikin lu olang melubah nasib, lu bisa dibikin kaya laya, dan banyak itu cewek-cewek pada suka sama lu oy. Nama dia Jade Long, punya makna giok naga. Lu halus jaga dia juga. Lu tinggal sebut mantla BLAKUTAK-BLAKUTEK, apapun yang mau lu olang pelbuat dikabul oy!"
Tejo sampai mengerutkan kening karena merasa aki-aki China itu melantur. Dia tidak percaya, hanya sebuah gelang hitam bercorak naga meringkuk dapat membuatnya merubah nasib. Namun, itu tidak ditolak karena gelang tersebut menawan di tangannya.
"Jade Long? Bagaimana bisa Kong?" tanya Tejo.
"Ingat, owe pesan. Jangan sampe bulu ketek lu botak, itu dia punya kekuatan bisa ilang. Oiya ini juga bikin lu menghilang oy kalo lu melasa bahaya taww! "
"Kenapa dia bisa tahu aku punya bulu ketiak? Ah, tapi tidak banyak, dan aku memang suka memelihara. Karena bulu ketiak menggambarkan kejantananku," ucap dalam hati Tejo.
"Kalau botak apa yang akan terjadi, Kong?" tanya Tejo.
Puk!
"Aduh!"
Tejo mendapat pukulan di kepalanya. "Sudah lu ikuti aja apa yang owe ucap tadi!"
"JOOO ...."
Tejo menoleh ke arah rumah, di sana ibunya berdiri setelah tadi berteriak memanggil. "Iya Buk ...?"
"Belum jalan?"
"Be—"
Tejo celingukan.
"Kong, Akong ... Akong ...."
Tejo memanggil-manggil dengan kepala menoleh kanan-kiri, tidak ada siapapun yang ada di hadapannya. Padahal baru beberapa detik dia menoleh, kakek China tua itu sudah menghilang, bahkan dengan cucu yang katanya ingin dititipkan pun ikut tiada.
"Terbang ke mana itu kakek? Ah, sepertinya dia memang hanya ingin memberikan gelang ini, bukan niat menitipkan cucunya. Astaga, aneh!"
Tejo tidak ambil pusing, dia memilih berjalan lagi, setelah Dudu dan Toro menghampiri barusan.
Mereka sudah siap menggeledah rumah janda yang bernama Asri. Alih-alih merampok hartanya, mereka justru mengambil orangnya.
"Jo, seperti biasa. Masuk, habis itu bekam mulutnya dengan sapu tangan bius ini. Sudah berhasil, telepon aku!" Toro membuat rencana.
Kini mereka sedang bersembunyi di balik pohon. Di teras sana ada Asri yang sedang selfi-selfi, tampak menggoda dan seksi.
"Berikan penutup mulutmu, supaya aku tidak ketahuan!"
"Buat apa? Justru wajah tampanmu yang akan memikat dia," sahut Dudu.
"Baru kali ini kau bilang aku tampan!" Tejo melirik sinis.
"Entahlah kutengok-tengok malam ini kau memang tampan!" balas Dudu.
"Aku pun melihatnya seperti itu Du!"
"Bulu kudukku kriting dengar kalian memuji. Aku masih menyukai tempe, bukan terong!" Tejo seperti menggigil mendapat pujian dari kawannya, seperti tidak biasa.
"Banyak bicara, cepat lancarkan aksimu, Jo!"
Tejo langsung berdiri. Baru kali ini dia berani menculik dengan terbuka, mukanya tidak ditutup, diumbar seakan menunjukkan pesonanya.
Benar saja, baru Tejo sampai depan teras. Janda baru itu langsung menghampiri.
"Kamu siapa?"
"Hmm, boleh aku meminta tolong?" Tejo berbasa-basi.
"Ayo masuk dulu ke dalam, kamu tampan banget!" ajaknya
"Memangnya selama ini aku tampan? Tapi dulu kenapa tidak ada perempuan yang mau denganku?" batin Tejo.