Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Politik

Sistem Politik

Sayap Uranus | Bersambung
Jumlah kata
92.3K
Popular
303
Subscribe
82
Novel / Sistem Politik
Sistem Politik

Sistem Politik

Sayap Uranus| Bersambung
Jumlah Kata
92.3K
Popular
303
Subscribe
82
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalBalas DendamSi GeniusSistem
Bagaimana rasanya mati, lalu terbangun di tubuh orang lain dengan waktu yang terus berdetak? Raka Pradana tahu jawabannya. Investigator veteran yang dibunuh jaringan korupsi bernama Lingkar Tujuh, ia bangkit bukan di akhirat, melainkan di tubuh Arjuna Sasrabahu, pemuda dua puluh empat tahun yang tidak tahu hidupnya baru saja menjadi medan perang antara dua dunia yang tidak pernah seharusnya bertemu. Sistem memberinya misi. Hadiah. Hukuman. Setiap kemampuan baru yang ia terima dibayar dengan umur yang tersisa. Setiap penjaga bayangan yang ia bangkitkan memotong waktunya di dunia ini. Dari dua puluh empat tahun yang tersisa, kini tinggal dua puluh satu. Namun, Raka yang sekarang hidup sebagai Arjuna bukan hanya menghadapi musuh yang bisa ditangkap atau dijatuhkan di pengadilan. Di balik korupsi yang terlihat, ada jaringan yang lebih tua. Di balik jaringan yang lebih tua, ada seseorang yang sudah tiga ratus tahun tidak selesai mati, yang namanya tidak ada di dokumen manapun, yang keberadaannya menjadi alasan semua kejahatan ini bisa terus hidup meski satu per satu orangnya jatuh. Arkhan Pratama. Sementara itu, Arjuna mencalonkan diri sebagai anggota DPRD bukan dengan baliho dan sembako, melainkan dengan membersihkan got yang mampet tiga bulan, memasang lampu gang yang mati delapan bulan, dan berdiri di depan bekas warung yang dibakar musuhnya dengan cara yang membuat lima ratus warga memilih untuk tidak pergi. Di sekelilingnya, orang-orang berkumpul bukan karena ia minta. Seorang hacker yang bekerja di bawah harga pasar karena tidak ada yang tahu cara menghargainya. Seorang arsitek keuangan yang dua tahun bersembunyi dari orang yang pernah mempekerjakannya untuk hal yang salah. Seorang mantan jaksa yang pindah haluan karena satu kasus yang ia menangkan namun tidak bisa ia maafkan. Seorang aktivis yang sudah dua tahun berjalan sendirian. Seorang Polwan yang menyimpan flashdisk terenkripsi di balik rompi dinasnya. Seorang adik yang dua belas tahun masuk ke dalam jaringan musuh untuk melindungi kakak yang sudah tidak ada. Semuanya datang bukan karena diminta. Semuanya datang karena pada suatu titik, mereka melihat seseorang yang melakukan sesuatu yang benar tanpa menunggu kondisi yang sempurna. Sistem Politik bukan cerita tentang pahlawan yang tidak bisa dikalahkan. Ini cerita tentang seseorang yang sudah mati satu kali, yang tahu persis betapa mahalnya setiap tahun yang tersisa, yang memilih menghabiskan waktunya untuk hal yang tidak akan selesai bahkan setelah ia pergi. Dua puluh satu tahun. Satu kota. Satu sistem yang retak dari dalam. Seberapa jauh seseorang bisa pergi ketika yang ia pertaruhkan bukan hanya nyawanya, melainkan satu-satunya kesempatan untuk menyelesaikan sesuatu yang belum pernah diselesaikan siapapun sebelumnya? --- Untuk mereka yang pernah lelah melawan sesuatu yang terlalu besar. Cerita ini untuk kalian.
Bab 1 Tragis, Yang Penting Mati Saja Dahulu

Raka Pradana sudah terbiasa dengan ancaman.

Tiga belas tahun bekerja di lembaga antikorupsi. Ia pernah menerima kepala kambing di depan pintu kantor, dan amplop berisi peluru.

Bahkan sekali waktu seorang pria berbadan seperti lemari es berdiri di depan mobilnya sambil memandang dengan tatapan lebih kosong daripada dompet mahasiswa akhir bulan.

Semuanya ia hadapi dengan senyum tipis, dan catatan kaki di laporan resmi bertanda tangan.

Namun, malam ini berbeda.

Mobil sedan hitam itu melaju di lajur tengah tol dalam kota. Lampu jauh menyinari aspal basah sehabis hujan.

Di kursi pengemudi, Raka menyandarkan siku ke pintu sambil memikirkan berkas yang baru saja ia selesaikan tadi sore. Tujuh nama. Tujuh institusi. Dua dekade penjarahan terorganisir yang dilapis rapi dengan bahasa hukum, dan senyum di podium kenegaraan.

"Lingkar Tujuh," gumamnya pelan, seperti mengeja nama penyakit.

Ponselnya bergetar di dasbor. Nama yang muncul di layar membuat sudut bibirnya bergerak sedikit, bukan senyum, lebih kepada seringai.

Gunawan Prakoso.

Ia biarkan bergetar tiga kali sebelum mengangkat.

"Selamat malam, Pak Ketua," ucapnya ramah, seperti menyapa tetangga yang baru pulang arisan. "Sudah larut, ada yang bisa saya bantu?"

"Raka." Suara di seberang berat, terukur. "Kamu tahu kenapa saya menelepon?"

"Wah, saya bukan cenayang, Pak. Mungkin soal laporan saya? Atau soal cuaca? Tadi hujan cukup deras, semoga tidak banjir di komplek bapak."

Hening sejenak. Raka membayangkan rahang Gunawan mengeras di balik sambungan itu.

"Berkas itu tidak boleh sampai ke meja jaksa."

"Berkas mana, Pak?" tanya Raka polos. "Saya punya banyak berkas. Lemari saya penuh sampai pintu susah nutup. Saya belum menikah, tapi kalau punya istri pasti sudah dimarahi gara-gara itu."

"Jangan bermain-main denganku."

"Saya serius, Pak. Lemari saya memang penuh. Tapi kalau Bapak maksud berkas dengan tujuh nama yang cukup terkenal di negeri ini, saya rasa besok pagi jaksa sudah membaca halaman pertamanya sambil sarapan."

Sambungan terputus.

Raka menurunkan ponsel, memandang sebentar ke kaca depan, lalu tertawa kecil sendirian. Bukan karena situasinya lucu. Lebih karena ia tahu betul apa artinya telepon semacam itu di jam sekian malam.

Sebuah perpisahan yang sopan.

Lampu di spion tengah menyilaukan tiba-tiba, cahaya dua sorot dari belakang yang terlalu dekat, dan terlalu cepat untuk disebut kebetulan.

Raka menggenggam setir lebih erat, matanya bergerak ke kaca samping, ke spion. Lalu ke jalan di depan yang mulai menurun menuju tikungan.

Ia tidak panik. Ia menghitung.

Kecepatan mereka sekitar seratus dua puluh. Ia delapan puluh. Bahu jalan kanan tertutup pembatas beton. Kiri ada truk tangki yang melambat.

Sempit. Terlalu sempit untuk kebetulan, terlalu rapi untuk amatir.

Benturan pertama datang dari belakang, keras dan terukur, bukan untuk menghancurkan tapi untuk mendorong.

Sedan Raka oleng ke kiri, ban kiri depan menyentuh marka putih. Ia kontra setir dengan tenang, tapi benturan kedua datang lebih cepat, dan lebih keras dari yang pertama.

Kali ini dari samping.

Sedan itu jebol keluar lajur, menembus pembatas beton, dan untuk sepersekian detik Raka merasakan sesuatu yang aneh.

Bukan takut. Semacam ketenangan yang tidak pada tempatnya, seperti otak yang akhirnya berhenti berpura-pura terkejut.

"Ah," ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Jadi begini caranya."

Gelap.

Yang pertama ia rasakan bukan cahaya, bukan suara, melainkan bau.

Tanah basah. Sabun murah. Sesuatu yang digoreng dengan minyak sudah terlalu lama dipakai.

Raka membuka mata.

Langit-langit yang ia tatap bukan langit-langit ruang perawatan dengan lampu putih steril. Melainkan triplek coklat dengan noda bocor berbentuk seperti peta pulau antah berantah, dan seekor cicak yang memandangnya dengan penghakiman tinggi.

Ia duduk. Atau mencoba duduk, karena tubuh yang bergerak terasa seperti milik orang lain, lebih ringan, lebih muda, dengan lutut yang tidak berbunyi ketika ditekuk.

"Hah?"

Tangannya terentang di depan wajah. Tangan yang ia kenal selama empat puluh lima tahun punya urat menonjol di punggung, dan luka kecil di ibu jari kiri bekas pisau waktu masak tahun lalu.

Tangan yang sekarang ia lihat mulus, lebih gelap sedikit, dengan kuku belum dipotong cukup lama.

Bukan tangannya.

Dari sudut ruangan sempit itu, cermin retak bersandar miring di dinding. Raka berdiri, berjalan dua langkah, lalu berhenti di depannya.

Wajah yang menatap balik bukan wajahnya.

Lebih muda. Rahang lebih tegas. Rambut acak-acakan seperti baru bangun dari tidur seminggu. Tampan dengan cara yang bahkan Raka sendiri dalam segala kenetralannya, tidak bisa diperdebatkan.

Ia mengangkat tangan kanan. Pantulan di cermin mengangkat tangan kanan.

Ia menjulurkan lidah. Pantulan menjulurkan lidah.

"Oke," gumamnya pelan, masih dalam nada yang sama seperti ketika mengomentari laporan keuangan fiktif. "Ini menarik."

Tepat saat itu, sesuatu menyala di sudut penglihatannya, bukan di dunia nyata. Melainkan di lapisan yang lebih dalam, seperti tulisan yang diukir langsung di dalam kepala.

[Sistem politik aktif]

[Selamat datang pengguna baru]

[Misi pertama tersedia]

Raka menatap tulisan yang hanya bisa dilihat itu cukup lama. Cicak di langit-langit masih memandangnya dengan ekspresi yang kalau boleh ditafsirkan, terasa seperti kasihan.

"Kamu juga bisa lihat ini?" tanyanya pada cicak.

Cicak tidak menjawab. Tentu saja.

Di luar dinding tipis itu, suara ribut mulai terdengar. Teriakan warga bercampur dengan suara megafon yang cempreng, memekakkan, milik seseorang yang tampaknya sangat menikmati pekerjaannya malam ini.

"Perhatian seluruh warga Blok C! Pengosongan lahan dilaksanakan malam ini! Harap kumpulkan barang bawaan, dan keluar dengan tertib dalam waktu dua jam!"

Tulisan di sudut penglihatannya berubah, bergerak seperti air yang mengalir, lalu memadat menjadi baris-baris baru.

[Misi darurat aktif]

[Selamatkan warga blok C dari penggusuran ilegal]

[Batas waktu: 2 jam]

[Hadiah: Dirahasiakan]

[Catatan tambahan: Ini misi pertamamu. Jangan mati lagi]

Raka membaca baris terakhir itu dua kali.

Lalu ia mendengus pelan, antara kesal dan geli. Kemudian meraih baju lusuh yang tergantung di balik pintu.

Saat lengannya masuk ke dalam baju itu, sesuatu terasa berbeda dari tubuh yang ia kenakan, ototnya lebih keras dari yang terlihat, tulang-tulangnya ringan tapi kokoh. Seperti seseorang yang terbiasa bekerja keras sejak muda.

Tubuh ini punya sejarahnya sendiri.

Raka yang kini hidup di dalam tubuh Arjuna Sasrabahu, berdiri tegak di depan cermin retak itu sekali lagi. Wajah tampan itu memandang balik, datar, dingin, dan menghitung.

Kemudian sesuatu berubah di wajah itu.

Senyum. Lebar, dan cerah, seperti pemuda kampung yang tidak punya beban apa-apa di dunia ini selain memikirkan apa yang akan ia makan besok pagi.

Sandiwara yang sempurna.

Ia melangkah keluar ke dalam keramaian, tangan di saku, dan langkah santai. Seolah ia hanya pemuda penasaran yang ikut berkerumun, karena tidak ada tontonan lain malam ini.

Di antara puluhan warga yang panik mengangkat barang, menggendong anak, dan berteriak satu sama lain.

Tidak ada yang memperhatikan satu pemuda biasa yang berjalan menuju pusat keributan dengan mata yang sudah selesai membaca seluruh peta situasi sejak tiga langkah pertama.

Di dalam kepalanya. Raka Pradana, mantan kepala divisi investigasi yang resmi mati di tol dalam kota dua jam lalu sudah menyusun empat skenario sekaligus.

Di wajah Arjuna Sasrabahu, yang terlihat hanyalah senyum polos seorang pemuda yang mau ikut ramai.

[Waktu tersisa: 1 jam 57 menit]

[Selamat berjuang pengguna]

Lanjut membaca
Lanjut membaca