

Jam 17.30, kantor pusat Nusantara Inovasi Digital yang terletak di gedung pencakar langit kawasan bisnis utama Jakarta terpancar cahaya putih menyilaukan dari ribuan lampu neon. Di dalam ruang kerja departemen proyek, Rizky Pratama duduk dengan tubuh membungkuk di depan layar komputer yang menghijau, jari-jarinya melintas cepat di atas keyboard sambil mengoreksi angka-angka pada laporan keuangan proyek "Surya"—proyek utama perusahaan yang diharapkan bisa membawa keuntungan ratusan juta rupiah tahun ini.
Telah tiga hari berturut-turut ia tidak pulang ke kosannya yang sempit di daerah Cikarang. Kopi tanpa gula yang sudah dingin berdiri di sudut mejanya, diselingi beberapa bungkus roti bakar yang sudah mengeras. Rambutnya berantakan, mata merah karena kurang tidur, namun semangatnya masih menyala tinggi. Hari ini adalah tenggat akhir penyelesaian laporan, dan ia sangat yakin bahwa dengan hasil kerja yang optimal ini, Direktur Bambang akan memberikan promosi yang telah dijanjikan. Cukup dengan menjadi asisten manajer, ia bisa meningkatkan gajinya hingga dua kali lipat dan akhirnya bisa membujuk Dewi Lestari untuk menerima lamaran pernikahannya yang sudah ia siapkan selama beberapa bulan.
"Nanti sore ini aku akan membawakan cincin itu ke kosannya," pikir Rizky sambil tersenyum lembut, sambil menyimpan gambar cincin tunangan yang telah ia pesan di galeri ponselnya.
"Tuan Rizky, Direktur Bambang ingin melihat Anda di ruang kerjanya sekarang juga. Segera!"
Suara keras sekretaris Direktur Bambang, Siti, yang masuk dengan tergesa-gesa membuat Rizky terkejut hingga jempolnya menyentuh tombol salah dan menghapus satu baris data penting. Ia menghela nafas dalam-dalam, segera menyimpan file dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu berdiri dan menarik jas kerja yang sudah kusut di kursinya.
"Lakukan backup data kamu dulu, ya Tuan Rizky. Direktur Bambang tampaknya sedang dalam suasana hati yang tidak baik," bisik Siti dengan tatapan khawatir sebelum keluar dari ruangan.
Rizky mengangguk perlahan, merasa dada mulai terasa sesak. Ia menyusuri lorong yang dipenuhi dengan foto-foto prestasi perusahaan selama bertahun-tahun, menuju lantai atas yang menjadi wilayah eksekutif. Setiap langkahnya semakin berat saat mendekati pintu kantor Direktur Bambang yang terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi. Setelah mengambil napas dalam-dalam, ia mengetuk tiga kali dan masuk dengan izin yang datang dari dalam.
Di dalam ruangan yang luas dan mewah itu, tidak hanya Direktur Bambang yang sedang duduk di belakang mejanya yang besar, tetapi juga seorang pria yang mengenakan jas warna biru tua dengan kacamata bulat yang membuatnya terlihat tampan namun menyakitkan—Rio Lestari, kakak kandung Dewi Lestari yang juga menjabat sebagai kepala divisi keuangan perusahaan.
"Waduh, Rizky. Akhirnya kamu datang. Duduklah sana!" kata Direktur Bambang dengan nada yang dingin dan penuh dengan tuduhan, menunjuk pada kursi di depan mejanya tanpa melihat langsung ke arahnya.
Rizky segera duduk, tangan kiri menyentuh sakunya yang masih menyimpan kotak kecil berisi cincin tunangan. "Maafkan saya, Bapak Direktur. Saya baru saja menyelesaikan laporan akhir proyek Surya dan—"
"Tidak perlu bicara banyak tentang laporan itu!" Rio menyela dengan suara yang tajam, lalu berdiri dan mengeluarkan tumpukan dokumen tebal dari atas lemari besi di sudut ruangan. Ia menjatuhkan dokumen itu dengan keras di atas meja, membuat kertas berdebar-debar. "Kita sudah menemukan adanya penyimpangan dana sebesar 50 juta rupiah pada proyek yang kamu tangani. Bukti semua ada di sini—surat pernyataan dari vendor, bukti transfer bank dengan nama kamu, bahkan tanda tanganmu yang jelas terlihat di setiap berkas persetujuan!"
Rizky merasa darahnya membeku hingga ujung jari kakinya. Ia berdiri dengan tergesa-gesa, tubuhnya gemetar karena kemarahan dan kekaguman yang tak tertahankan. "Bapak Direktur, saya tidak melakukan apa-apa! Saya tidak pernah menyentuh dana proyek sedikitpun! Semua dokumen yang saya buat jelas dan sesuai dengan prosedur perusahaan! Ini pasti kesalahan atau—"
"Kesalahan? Atau kamu berpikir kita bodoh hingga tidak bisa membedakan antara bukti yang sah dan palsu?" Rio mengeluarkan sebuah amplop putih dari kantong jasnya, lalu melemparkannya ke arah Rizky. "Ini adalah foto-foto kamu bersama orang-orang dari perusahaan pesaing kita, Mahkota Teknologi, di luar kota tiga hari yang lalu. Bukankah kamu bilang sedang sakit dan tidak bisa datang ke kantor?"
Rizky membuka amplop dengan tergesa-gesa. Foto-foto itu memang menampilkannya bersama beberapa orang di sebuah kedai kopi, namun yang ia tahu adalah mereka adalah teman lama dari kampus yang baru saja kembali dari luar negeri dan ingin bertemu dengannya. Namun ia tahu bahwa saat ini tidak akan ada yang mau mempercayainya.
"Direktur Bambang, tolong percayalah padaku! Saya bisa menjelaskan semua ini—"
"Sudah cukup, Rizky!" teriak Direktur Bambang yang akhirnya menghadapinya dengan wajah merah karena kemarahan. "Berdasarkan peraturan perusahaan dan bukti yang telah kita kumpulkan, kamu dipecat dengan segera dan semua hak-hakmu sebagai karyawan akan dicabut. Selain itu, kami telah menghubungi pihak berwenang dan akan melaporkan kasus kecurangan ini besok pagi. Kamu hanya bisa mengambil barang-barangmu dalam waktu satu jam dan harus segera keluar dari gedung ini!"
Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, Rizky diantar keluar oleh dua petugas keamanan. Ia diizinkan untuk mengambil tas kerja dan kotak barang kecil dari mejanya, namun komputer dan akses kartu karyawannya langsung dicabut. Saat ia sedang berjalan menuju lift dengan kepala membungkuk, beberapa karyawan melihatnya dengan tatapan campuran rasa kasihan dan jijik. Beberapa di antaranya bahkan mengerumuni dan berbisik-bisik tentang tuduhan yang menimpanya.
Di parkiran bawah tanah yang lembap dan sepi, Rizky duduk di atas trotoar dengan tas kerja di pangkuannya. Hatinya seperti dihancurkan menjadi seribu keping—promosi yang diimpikan hilang, nama baiknya tercemar, dan masa depan yang sudah ia rencanakan dengan cermat lenyap begitu saja. Ia menarik kotak kecil berisi cincin tunangan dari dalam sakunya, mengeluarkannya dengan hati-hati dan melihatnya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Pada saat itu, ponselnya berbunyi dengan nada dering yang biasanya ia gunakan untuk Dewi Lestari. Ia dengan cepat menjawab, harapannya bisa menemukan tempat berlindung di pelukan pacarnya yang telah bersama selama tiga tahun lamanya.
"Rizky, saya sudah tahu tentang apa yang terjadi di kantormu. Semua orang sudah berbicara tentang itu," suara Dewi terdengar dingin dan tanpa emosi, seolah mereka bukanlah pasangan yang pernah berbagi mimpi dan suka duka bersama. "Saya tidak bisa terus bersama seseorang yang melakukan kejahatan seperti itu. Andaikan saja kamu bisa lebih baik, tidak selalu sibuk dengan pekerjaan yang tidak pernah memberikan hasil apa-apa!"
"Dewi, tolong dengarkan aku dulu. Aku tidak melakukan apa-apa—"
"Sudah cukup, Rizky. Saya tidak punya waktu untuk mendengar alasanmu lagi." Suara Dewi menjadi semakin dingin. "Selain itu, saya sudah menemukan orang yang lebih cocok untuk saya. Kakak saya, Rio, telah mengajukan diri untuk menikahi saya minggu depan. Dia bisa memberikan kehidupan yang stabil dan terjamin, sesuatu yang kamu tidak pernah bisa berikan padaku. Jangan hubungi saya lagi, baik melalui telepon, pesan, atau media sosial mana pun. Saya sudah memblokir semua nomor dan akun kamu."
Sebelum Rizky bisa menjawab atau meminta kesempatan untuk menjelaskan, panggilan sudah terputus dengan suara bip yang menusuk hati. Ia mencoba menghubungi kembali berkali-kali, namun semua panggilan tidak pernah terjawab dan akhirnya muncul pesan bahwa nomor tersebut sudah tidak dapat dihubungi.
Rasa sakit yang luar biasa menyambar seluruh tubuhnya. Ia meraih dada yang mulai terasa sakit parah, tubuhnya menurun ke tanah dengan lutut yang menekuk. Hujan deras tiba-tiba turun dari langit yang mendung, membasahi seluruh tubuhnya tanpa ia sadari. Air hujan dan air mata saling bercampur di wajahnya yang pucat dan penuh dengan keputusasaan. Kotak cincin tunangan terjatuh dari tangannya dan masuk ke dalam genangan air di tanah, namun ia tidak punya kekuatan untuk mengambilnya kembali.
Mengapa semua ini terjadi pada saya? pikirnya dalam hati, matanya menatap kosong ke arah langit yang gelap. Apa salah saya hingga harus menerima semua ini? Saya hanya ingin bekerja keras, membangun masa depan yang baik, dan mencintainya dengan sepenuh hati...
Pada saat itu, sebuah suara yang jelas dan terdengar seperti suara mekanis yang berasal dari dalam benaknya sendiri mulai mengisi kesunyian yang menyakitkan itu—suara yang tidak pernah ia dengar sebelumnya dalam hidupnya.
[SISTEM BISNIS S-LEVEL DETEKSI SUKSES]
[PENGENALAN SISTEM SEDANG BERLANGSUNG...]
[VERIFIKASI DNA PENGGUNA: 100% SESUAI]
[DATA PENGGUNA BERHASIL DIPROSES: RIZKY PRATAMA, USIA 25 TAHUN, LATAR BELAKANG PENDIDIKAN S1 MANAJEMEN BISNIS UNIVERSITAS INDONESIA, STATUS: TERPECAT & DIPUTUSKAN PACAR]
[SYARAT AKTIVASI SISTEM TERCAPAI: MENCAPI TITIK TERENDAH HIDUP]
[SISTEM BISNIS S-LEVEL AKTIF SEKARANG!]
Rizky mengangkat kepalanya dengan tatapan bingung. Di depannya muncul sebuah antarmuka transparan berwarna hijau yang hanya bisa dilihat olehnya saja—berisi baris-baris tulisan dengan font yang jelas dan beberapa ikon yang belum ia kenal. Antarmuka tersebut melayang di udara seperti sebuah layar hologram canggih, bahkan air hujan tidak bisa membuatnya luntur sedikit pun.
[MISI AWAL DIBERIKAN: BANGUN USAHA PERTAMA ANDA DALAM WAKTU 7 HARI]
[REWARD MISI AWAL: MODUL PERENCANAAN BISNIS DASAR + MODAL AWAL 10.000.000 RUPIAH]
[PETUNJUK: MODAL AKAN DITERIMA DI REKENING BANK ANDA DALAM WAKTU 5 MENIT]
"Apa ini... mimpi?" gumam Rizky dengan suara yang lemah, sambil menggosok matanya berkali-kali menggunakan lengan bajunya yang sudah basah kuyup. Namun antarmuka tersebut tetap ada di depannya, bahkan mulai menampilkan lebih banyak detail tentang misi yang harus ia selesaikan, termasuk peta lokasi sekitar tempat tinggalnya yang sudah dianalisis secara rinci.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan nada notifikasi dari aplikasi perbankan. Ia membukanya dengan tangan yang masih gemetar dan melihat bahwa ada transfer dana sebesar 10.000.000 rupiah masuk ke rekeningnya dengan keterangan "MODAL AWAL SISTEM BISNIS".
Rizky menatap layar ponselnya, kemudian kembali melihat antarmuka transparan yang ada di depannya. Hujan masih terus turun, namun rasa dingin yang sebelumnya menyelimuti tubuhnya mulai tergantikan dengan rasa hangat yang tidak bisa ia jelaskan. Meskipun masih bingung, terluka, dan tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi, ia tahu bahwa ini mungkin adalah kesempatan satu-satunya yang diberikan takdir untuk bangkit kembali dari kedalaman kegagalan yang telah ia alami.
Dengan kekuatan yang sedikit demi sedikit muncul kembali dalam dirinya, Rizky meraih kotak cincin tunangan dari dalam genangan air, membersihkannya dengan hati-hati menggunakan kain bajunya, lalu menyimpannya kembali ke dalam sakunya. Ia berdiri perlahan, menatap ke arah gedung pencakar langit Nusantara Inovasi Digital yang semakin jauh di balik hujan, dengan mata yang mulai kembali bersinar dengan semangat baru.
Saya tidak akan menyerah begitu saja, janjinya dalam hati. Baik Dewi Lestari, Rio Lestari, maupun Direktur Bambang—semua orang yang telah menyakiti saya akan melihat bahwa saya bisa meraih kesuksesan yang jauh lebih besar dari apa yang mereka bayangkan.
AKHIR BAB 1