

Hujan turun perlahan sejak magrib, membasahi atap seng rumah kontrakan kecil itu hingga menimbulkan suara berisik yang berulang-ulang. Di dalam, lampu dapur yang redup menerangi sosok Raka yang duduk sendirian di meja makan kayu tua yang sudutnya sudah terkelupas.
Di depannya terhampar beberapa lembar uang kertas dan recehan logam yang ia susun dengan hati-hati.
Ialu ia menghitungnya sekali.
Satu juta dua ratus ribu rupiah.
Jumlah itu terasa begitu kecil dibandingkan daftar kebutuhan yang ada di kepalanya.
Cicilan motor sudah dipotong dari gaji bulan ini. Pinjaman online yang ia ambil dua bulan lalu juga sudah menggerus hampir setengah penghasilannya. Tagihan listrik belum dibayar. Uang sekolah Alya belum lunas. Dan pemilik kontrakan tadi siang mengirim pesan singkat, mengingatkan bahwa uang sewa bulan depan harus dibayar tepat waktu.
Raka mengusap wajahnya yang terasa panas.
Dari kamar kecil di ujung lorong, terdengar suara batuk pelan.
Batuk itu terdengar ringan, tapi cukup membuat dada Raka terasa diremas.
Alya.
Putri semata wayangnya yang baru berusia lima tahun itu sudah tiga minggu tidak benar-benar sembuh. Awalnya hanya demam biasa. Lalu batuk. Lalu tubuhnya sering lemas. Siang tadi, dokter puskesmas menyarankan pemeriksaan lanjutan ke rumah sakit kota.
“Lebih baik jangan ditunda, Pak,” kata dokter itu hati-hati.
Biayanya tidak disebut secara pasti. Tapi Raka tahu, “rumah sakit di kota” bukanlah sesuatu yang murah bagi orang sepertinya.
“Mas…”
Suara lembut itu membuatnya menoleh.
Sari berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan daster sederhana. Rambutnya diikat seadanya. Wajahnya pucat dan matanya sembab karena kurang tidur menjaga Alya hampir setiap malam.
“Uang sekolah bulan depan belum kita bayar,” katanya lirih.
“Dan tadi ibu pemilik kontrakan menelepon lagi.”
Raka menatap istrinya beberapa detik sebelum memaksakan senyum tipis.
“Aku akan cari tambahan,” jawabnya pelan.
Sari melangkah mendekat. “Kamu sudah kerja dari pagi sampai malam, Mas. Tubuhmu bukan mesin.”
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Ia melihat telapak tangannya sendiri. Kulitnya kasar. Ada beberapa goresan kecil yang belum sempat sembuh karena setiap hari ia mengangkat kardus berat di gudang tempatnya bekerja. Punggungnya sering terasa nyeri saat bangun pagi, tapi ia tak pernah mengeluh.
Karena mengeluh tidak akan mengubah apa pun.
“Kalau aku berhenti, kita makan apa?” katanya akhirnya.
Suasana menjadi hening. Hanya suara hujan dan batuk kecil Alya yang sesekali terdengar dari kamar. Sari menunduk. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Aku cuma takut kamu jatuh sakit,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Kalau kamu sakit… kita benar-benar tidak punya siapa-siapa.”
Raka bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat. Ia menggenggam tangan istrinya perlahan. Hangat, tapi gemetar.
“Aku tidak apa-apa,” katanya lembut.
“Selama kamu dan Alya ada di rumah ini, aku kuat.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi hanya Raka yang tahu betapa berat beban yang ia sembunyikan.
Ia kembali duduk dan menatap uang di meja.
Tidak cukup untuk pemeriksaan rumah sakit. Tidak cukup untuk menutup semua kebutuhan.
Malam itu, setelah memastikan Alya tertidur dengan napas yang sedikit lebih tenang, Raka berdiri lama di samping ranjang kecil putrinya. Ia membelai rambut Alya yang lembut.
“Ayah pasti cari cara,” bisiknya pelan.
Ia mencium kening anaknya, lalu mengambil jaket tipisnya.
“Ada lembur lagi?” tanya Sari dari ruang tengah.
Raka mengangguk tanpa menatap langsung ke arah istrinya.
“Iya. Ada tambahan kerjaan.”
Padahal bukan lembur di gudang.
Ia berjalan keluar rumah, membiarkan hujan mengenai wajahnya. Jalanan kecil di depan kontrakan becek dan gelap. Lampu jalan berkedip-kedip seolah ikut lelah.
Ia menuju kantor ekspedisi kecil di ujung jalan raya. Tadi sore ia melihat pengumuman lowongan kurir malam ditempel di kaca depan.
Kerja dari pukul sembilan malam sampai dua pagi.
Gajinya tidak besar.
Tapi setidaknya ada tambahan.
Raka tahu tubuhnya sudah kelelahan. Tapi setiap kali rasa lelah itu datang, ia teringat wajah pucat Alya di atas bantal tipisnya.
Ia tidak punya pilihan.
Karena bagi seorang ayah, lelah boleh.
Luka boleh.
Takut pun boleh.
Tapi menyerah… tidak pernah menjadi pilihan.