

Malam itu, Satria keluar dari lorong IGD dengan langkah lunglai. Kakinya berat, dadanya kosong, kepalanya berdenyut, tapi bukan karena alkohol yang dia minum beberapa saat lalu ketika bersenang-senang dengan teman-teman, dan sekretaris.
Kali ini, Satria benar-benar takut kehilangan istri, dan anak di dalam kandungannya. Meskipun pikirannya kacau, dia harus tetap tegar, berjalan menuju bagian administrasi agar dokter bisa secepatnya melakukan tindakan.
“Pak, untuk tindakan operasi emergensi, kami butuh jaminan pembayaran dulu ya. Bisa dengan kartu atau transfer.”
Satria mengangguk cepat. Tangannya masih gemetar saat merogoh dompet. Dia menarik kartu di depan meja administrasi, lalu berkata, “Iya. Pakai kartu aja.”
Dia menyerahkan kartu pertama. Petugas kemudian menggesek. Namun, layar mesin EDC memunculkan tulisan merah.
TRANSAKSI DITOLAK.
Petugas mengernyit, mencoba lagi.
KARTU TIDAK DAPAT DIGUNAKAN.
Satria menatap layar itu, bingung.
“Coba sekali lagi."
“Baik, Pak.”
Petugas mencoba ulang, tapi tetap sama. Petugas tersebut akhirnya menatap Satria dengan tatapan yang mulai tidak enak.
“Pak kartu ini terblokir.”
Satria membeku.
“Apa? Nggak mungkin.”
Dia merogoh dompet lagi, mengeluarkan kartu kedua.
“Pakai ini.”
Petugas menggesek.
DITOLAK.
Satria mulai panik.
"Coba yang ini.”
Petugas mencoba kartu ketiga.
DITOLAK.
Satria menatap satu per satu kartu di tangannya.
"Kenapa bisa terblokir?”
Satria membentak, suaranya mulai pecah.
“Ini kartu saya! Saya nggak pernah telat bayar!”
Petugas administrasi itu tampak kikuk, tapi tetap menjaga nada.
“Mohon maaf, sistemnya memang menunjukkan statusnya blocked.”
Satria menatap kosong ke meja administrasi. Kartu-kartu itu masih di tangannya, tapi sekarang rasanya seperti tidak berguna.
Petugas administrasi menunggu, tapi Satria tidak langsung menjawab. Pikirannya berputar cepat, kacau.
"Pak Satria tolong diselesaikan administrasinya. Kalau tidak, kami tidak bisa melakukan tindakan operasi."
Satria mengusap wajahnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel. Tangannya gemetar saat membuka daftar kontak. Nama orang tuanya muncul. Satria menatapnya lama. Lalu menggeleng.
"Nggak bisa, mereka pasti marah kalau tahu tadi aku mengabaikan Nadia, dan memilih bersenang-senang di luar. Mereka pasti marah kalau tahu aku nggak bisa jaga Nadia."
Satria menelan ludah. Nama berikutnya di layar ponsel membuat dadanya mengencang, Siska, sekretaris, sahabat Nadia, sekaligus wanita yang kini menjadi selingkuhannya.
Satria menatap nama itu seperti satu-satunya pintu darurat. Dia tidak punya pilihan. Dengan napas berat, Satria menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar. Namun, tak ada jawaban.
"Aku harus ke rumah Siska sekarang, dia pasti masih punya uang cash. Beberapa hari yang lalu, aku transfer dua ratus juta ke dia."
Fajar mulai menyingsing ketika Satria memacu mobilnya seperti orang dikejar setan.
Langit di timur sudah berubah warna abu-abu muda, perlahan memudar jadi jingga pucat. Jalanan masih lengang, dan itu membuatnya semakin nekat.
Beberapa menit kemudian, mobil Satria berhenti di depan rumah Siska. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi rapi. Di halaman ada beberapa pot tanaman, dan pagar besinya tertutup rapat. Satria turun cepat, langkahnya tergesa.
Dia menatap rumah itu. Lampunya masih menyala. Satria menghembuskan napas lega.
"Bagus, dia sepertinya udah bangun."
Satria berjalan ke pintu dengan langkah cepat, tangannya sudah terangkat hendak mengetuk. Namun, aksinya seketika terhenti.
Dari dalam rumah, terdengar suara tawa. Satria membeku, karena bukan cuma tawa Siska yang terdengar. Ada tawa laki-laki.
Dari celah jendela yang tirainya tidak tertutup rapat, Satria melihat bayangan dua orang bergerak. Satria berdiri terpaku, darahnya mendadak panas, tenggorokannya tercekat. Suara tawa itu terdengar lagi, lebih jelas.
“Bagus sekali, sekarang semua harta Satria udah di tangan kita.”
Satria membeku. Jantungnya seperti berhenti sesaat. Di dalam, Siska tertawa lebih keras, bahkan terdengar puas.
“Ya jelas, laki-laki itu memang bodoh, asal tanda tangan.”
Satria menahan napas, tangannya mengepal sampai buku-bukunya memutih.
“Lu yakin semuanya aman? Kartu-kartu dia juga udah keblokir kan?”
Siska mendengus kecil, seperti jijik.
“Aman, gue udah atur.”
Satria menatap kosong ke pintu. Laki-laki itu tertawa.
“Dia pasti sekarang lagi sibuk urus istrinya di rumah sakit.”
Di dalam, suara gelas seperti diletakkan di meja.
“Ngomong-ngomong kamu bisa pastiin kan, si Nadia itu, nggak bakalan selamat?”
Ada jeda sebentar. Lalu laki-laki itu tertawa kecil.
“Nggak mungkin selamat dia, gue udah atur semua. Mobil anak buah gue, pepet taksi yang dia naiki sampai guling ke bawah flyover."
Satria membeku total. Dadanya seperti ditusuk. Pikirannya langsung meledak. Tak menyangka dia akan mendapat kejutan seperti ini saat hidupnya berantakan.
“Konyol banget nggak sih tu orang pas bininya lagi sekarat, setelah gue naruh racun di kue yang kemarin gue kasih ke Nadia, gue malah komporin dia kalau bininya ratu drama.”
"Dan Satria percaya."
Tawa keduanya kembali terdengar. Sedangkan Satria menutup mata, amarahnya kini memuncak, dan tak mampu lagi membendung emosinya.
Detik berikutnya, pintu rumah itu terbuka dengan hentakan keras. Satria masuk, wajahnya merah, napasnya berat, matanya menyala penuh amarah. Tangannya mengepal sampai gemetar.
Di ruang tamu, Siska dan seorang laki-laki duduk santai. Ada dua gelas di meja. Suasananya hangat, seperti pasangan yang baru selesai tertawa tentang lelucon.
Begitu melihat Satria, mereka berdua terkejut. Siska berdiri setengah, matanya melebar. Laki-laki itu ikut bangkit, refleks.
“SATRIA?”
Satria sudah maju beberapa langkah, suaranya meledak.
“JADI INI SEMUA PERMAINAN LO?”
Siska menatapnya beberapa detik, lalu perlahan tersenyum, senyuman penuh cemooh. Dia mendecak, menatap Satria dari atas ke bawah.
“Kasihan banget, kamu baru sadar sekarang?”
Siska melangkah pelan mendekat, sembari menatap Satria seperti menatap sesuatu yang memalukan.
“Kamu itu, bener-bener bodoh, ya."
Satria menggeram, lalu berjalan mendekat.
“Lo udah bikin Nadia kecelakaan? Lo gila ya? Dia sedang hamil, Siska!”
Siska mengangkat bahu.
“Ya terus? Lo yang jadi suaminya juga nggak pernah peduli. Istri lagi sekarat malah seneng-seneng di luar."
Satria tidak sanggup lagi menahan amarahnya. Dia langsung menghantam meja di sampingnya, membuat gelas yang ada di atas meja bergetar.
“ANJING!” teriaknya.
Laki-laki itu tertawa pendek, lalu maju setengah langkah.
“Jangan teriak-teriak di rumah orang. Lu pikir lu masih punya kuasa?”
Satria menoleh tajam, dan dalam sepersekian detik, dia menerjang. Pukulan pertama Satria melesat ke arah wajah laki-laki itu.
Dia sempoyongan, tapi tidak jatuh. Lalu, membalas cepat, menghantam rahang Satria. Satria tersentak, tapi dia bisa balik memukul lagi.
Keduanya langsung bergulat, meja bergeser. Gelas di atas mejah, jatuh, dan pecah. Suara benturan tubuh dan makian memenuhi ruangan.
Siska berdiri di dekat sofa, menatap dengan wajah datar, seolah itu bukan perkelahian, tapi tontonan yang dia nikmati.
Satria berhasil mendorong laki-laki itu ke dinding.
“BALIKIN SEMUA!”
Satria menggeram, menghantamnya lagi. Laki-laki itu memegang kerah Satria, mencoba menahan.
“Jangan mimpi!”
Satria mendorongnya lagi, napasnya tersengal, darah mulai terasa di bibirnya. Di tengah pergulatan itu, Satria mendengar langkah cepat di belakangnya. Namun, dia tidak sempat menoleh, lalu tiba-tiba, sesuatu yang berat menghantam kepalanya.
Satria langsung terhuyung. Pandangan matanya berkunang-kunang. Suara di sekelilingnya seperti mendadak jauh.
Dia mencoba berdiri tegak, tapi lututnya melemah. Lalu pukulan bertubi-tubi datang dari laki-laki itu.
Darah hangat mengalir dari pelipisnya. Dia menoleh pelan, dan di antara pandangan yang kabur, dia melihat Siska. Di tangannya, sebuah barbel kecil, alat olahraga, yang barusan dia ayunkan tanpa ragu.
Siska menatap Satria, lalu tersenyum tipis. Satria mencoba mengangkat tangan, tapi tubuhnya terasa berat.
Laki-laki itu mendekat, mengusap bibirnya yang berdarah, lalu menatap Satria dengan jijik sembari terus melayangkan pukulan pada Satria.
"Pukul terus sampai mampus. Dia harus mati."
Di saat itulah, tiba-tiba ponsel Satria bergetar. Gerakan tubuh Satria yang dipukul oleh kekasih Siska, tanpa sengaja menyenggol ponsel itu hingga layarnya bergeser. Tombol speaker pun menyala.
“Pak Satria, Bu Nadia meninggal.”
"Apa?" Satria terhenyak, ponselnya terjatuh tanpa sadar.
Air mata keluar dari sudut mata Satria, bercampur darah yang menetes. Lalu bibirnya bergetar sangat pelan.
“Na ....”
Nama tersebut belum selesai terucap, karena setelah itu, napas Satria berhenti. Suara di speaker masih terdengar memanggil namanya.
“Pak?"
"Pak Satria?”
Namun, kali ini Satria tidak akan pernah menjawab lagi.
Semuanya gelap dan bisu.
Hanya ada sekalimat kata yang terucap dalam hati sebelum Satria terkulai tanpa napas. "Nadia, maafin aku! Jika ada kesempatan kedua, aku akan menebus semua kesalahanku padamu ...."