Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tangan Ajaib Manto

Tangan Ajaib Manto

xuxi law | Bersambung
Jumlah kata
58.2K
Popular
212
Subscribe
85
Novel / Tangan Ajaib Manto
Tangan Ajaib Manto

Tangan Ajaib Manto

xuxi law| Bersambung
Jumlah Kata
58.2K
Popular
212
Subscribe
85
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperHaremMengubah Nasib
Dari pembawa sial yang dijauhi semua orang, jadi orang yang paling beruntung dan paling dicari oleh tiga dunia. Tangan ajaib Manto merubah hidupnya 180 derajat. Namun dibalik kekuatan yang besar, ada resiko yang harus dihadapi. Hidupnya yang dulu diabaikan bagai tak pernah ada, kini menjadi incaran semua orang, termasuk para wanita. Bagaimana cara Manto agar terhindar dari masalah karena tangan ajaibnya? apa ini memang keberuntungannya? atau hanya kesialannya yang baru?
Bab 1 Tangan yang mengubah takdir

Dua warga desa berdiri di pinggir jalan tanah sambil berbisik.

“Eh, itu rumah Manto, kan?”

“Iya… rame banget. Katanya tangannya bisa nyembuhin orang.”

"Hah, masa sih? Bocah yang sering bawa sial itu?"

Lawan bicaranya mengangguk.

Di depan rumah reyot milik Manto, puluhan orang berdesakan, sebagian membawa buah tangan, sebagian lagi membawa harapan.

Ada yang pincang, ada yang batuk-batuk, ada juga yang cuma ingin memastikan kabar itu benar.

Rumah yang dulu selalu sepi kini seperti pasar pagi.

“Dulu mah dia anak yang paling sial,” bisik tetangga Manto yang sedang bergosip.

“Iya yak, sekarang malah jadi dukun emas. Beruntung banget dia!” jawab temannya.

Pintu rumah terbuka sedikit.

Sari keluar sambil mengipasi wajahnya dengan kain.

“Yang belum dipanggil, sabar ya! Satu-satu!” katanya tegas.

Lalu ia duduk di mejanya, menerima pasien di ruang tamu.

Tubuhnya kini langsing, wajahnya cerah, jauh berbeda dari dirinya yang dulu sering diejek warga.

Perubahan itu sendiri sudah menjadi bahan gosip satu desa.

"Neng Sari..." Pak budi sang duda genit memanggil dengan manja menggoda Sari.

*Cih, dulu sering menghina aku, sekarang malah gatel. Gak inget umur apa? Anakmu noh ingusnya belum dilap* Sari menggerutu di dalam hati.

"Pak Budi sakit apa?" Sari bertanya dengan malas.

"Hehe, anu... Nanti malam Sari ada waktu engga?" Pak Budi mendekatkan diri ke meja Sari.

Muka Sari terlihat muak.

"Hey Pak Budi!" Teriak nenek bungkuk yang mengantri di belakangnya.

"Kalau cuma mau ngerayu, pergi saja sana. Kami mengantri mau berobat!"

"Hah." Pak Budi menyeringai.

"Heh Nenek peyot! Coba aja kamu usir aku! Kau pun sekali ku dorong pasti langsung tersungkur!"

Di halaman rumah Manto, jauh beberapa langkah Pak Budi sudah tersungkur di jalanan.

Ternyata Pak Budi di usir ramai-ramai oleh pasien Manto.

Sari hanya bisa tertawa geli.

Di dalam kamar sempit, Manto berdiri di depan seorang nenek renta yang punggungnya membungkuk hampir sembilan puluh derajat.

“Nek, siap ya,” kata Manto pelan.

Tangannya yang kanan bukan lagi tangan manusia biasa, ia mulai memancarkan cahaya keemasan lembut.

Ia menepuk pelan punggung sang nenek.

Sring!

Keajaiban terjadi.

Cahaya keemasan menyebar sampai ke dinding kamar.

Udara terasa hangat, seperti disinari matahari pagi.

Bahkan tongkat kayu di tangan nenek berubah menjadi lebih halus dan kuat.

Cahaya itu merambat seperti air hangat.

Krek…

Suara tulang yang kembali pada tempatnya terdengar pelan.

Perlahan-lahan, tubuh nenek itu tegak.

Matanya membelalak.

Ia menepuk-nepuk pinggangnya, lalu berdiri lurus untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun.

“Lurus! Aku lurus! Manto, kamu ini bukan manusia, kamu malaikat!” teriaknya.

Manto tersenyum canggung.

“Iya, Nek… tapi jangan teriak-teriak.”

Nenek itu lalu mendekat, menatap Manto dengan mata berbinar.

“Kalau gitu… bisa sekalian bikin keperawanan nenek kencang lagi, gak?”

Manto hampir tersedak ludahnya.

“NGGAK BISA, NEK!” jawabnya cepat.

Nenek itu cemberut.

“Huh, apa ini? Pelayanannya setengah-setengah…”

Dengan senyum bisnis, Manto langsung membuka pintu.

“Silakan keluar, berikutnya!”

Sari yang sedang duduk di ruang tamu langsung menoleh dan menahan tawa.

“Gimana?” bisiknya.

“Haah, jangan tanya,” jawab Manto sambil menutup wajah.

“Itu yang keberapa sembuh hari ini?”

“Sudah lima orang! Tangan Manto benar-benar berkah kahyangan!” ucap warga yang semakin ramai.

Nama Manto kini menyebar dari mulut ke mulut, 'pemuda sial yang memiliki tangan pengabul keajaiban.'

Padahal…

Beberapa bulan lalu, hidupnya bahkan lebih buruk dari kata “sial”.

***

Hujan turun deras sore itu.

Manto kecil berdiri di depan rumah bambu yang hampir roboh, memeluk karung berisi singkong.

Ia terpeleset di lumpur.

Singkongnya jatuh ke selokan.

“Eh, anak sial!” teriak seseorang.

"Pungut singkongnya, nanti selokannya mampet!"

Dengan tangan kosong Manto meraih satu persatu singkong yang kotor penuh lumpur.

Orang-orang desa akan menuduhnya kalau terkena sial.

Padahal ia tidak melakukan apa-apa.

Sejak kecil, setiap kali ada sesuatu yang salah, entah bagaimana Manto selalu ikut disalahkan.

Ayam hilang? Manto dituduh.

Kendi pecah? Manto yang dimarahi.

Kerja di ladang? Pasti gagal.

Saat remaja, ia pernah diterima kerja di toko kelontong.

Hari pertama, rak beras ambruk.

Hari kedua, pelanggan terpeleset.

Hari ketiga, toko kebakaran karena lampu minyak jatuh.

Padahal Manto bahkan tidak menyentuhnya.

Ia dipecat sebelum sempat menerima gaji.

“Aku kan cuma pengen hidup tenang…” gumamnya waktu itu.

Tak ada orang tua, tak ada keluarga.

Hanya ada satu orang yang tetap mau bicara dengannya.

Sari.

Saat semua orang menjauh, gadis bertubuh gemuk itu duduk di sampingnya di pinggir sawah.

“Kamu gak sial, To,” katanya waktu itu.

“Kamu cuma… sering kena apes aja.”

Manto tertawa kecil.

Kalimat itu tidak mengubah nasibnya, tapi cukup membuatnya bertahan.

"Hey, lihat itu!" teriak salah satu anak memanggil gengnya, menunjuk Sari dan Manto yang sedang duduk.

"Si gendut jelek dan pembawa sial." ucap anak Pak Budi, yang jauh lebih muda dari mereka berdua.

Sontak ia dan teman-temannya menertawakan Sari dan Manto.

Mereka mulai melempari tanah, ranting, bahkan batu kerikil.

Kening Sari terluka karena lemparan batu.

"Hey berhenti!" teriak Manto.

"Kening Sari berdarah nih!"

"Terus kamu mau apa? Mau bales kami? Sini bales!" Anak Pak Budi menantang.

Manto meremas celananya, ia bangkit hendak menghampiri anak Pak Budi itu.

Langkahnya baru saja terangkat, tiba-tiba tersandung rerumputan panjang.

Geng anak nakal itu tertawa puas.

Sari membantu Manto berdiri, walaupun wajahnya mengalir darah dari keningnya.

"Hahaha, dasar pembawa sial."

Mereka pun pergi meninggalkan Manto dan Sari.

"Maaf ya Manto, gara-gara aku..."

"Engga," sela Manto.

"Ini bukan salah kamu. Mereka yang kurang ajar. Suatu saat aku akan membalas mereka, liat aja!" Manto bertekad.

Tak lama setelah ia mengucapkan tekad, kotoran burung jatuh tepat di pundaknya.

Sensasi hangat menjalar di bahunya, cukup untuk membuatnya rendah diri lagi.

"Haah, kenapa nasibku sial terus?"

Sari ingin menepuk pundaknya, namun tak jadi karena ada kotoran burung.

"Sabar ya to." ucap Sari melihat Manto menunduk lemas.

Manto melangkah pelan di jalan tanah yang becek.

Kakinya terasa seperti bukan miliknya sendiri, berat dan goyah.

Setiap langkah seolah menyeret sisa tenaga yang tinggal setetes.

Bahkan untuk mengangkat kepala pun ia tak sanggup.

Rumah reyotnya sudah terlihat di kejauhan,

namun jaraknya terasa seperti tak pernah mendekat.

Kehidupan itu berjalan selama sepuluh tahun.

Hingga suatu hari, karena tak punya uang untuk makan, Manto masuk ke hutan mencari jamur.

Ia tidak tahu bahwa langkah itu akan merenggut tangannya.

Dan… menggantinya dengan sesuatu yang bahkan para dewa tak sembarangan miliki.

Manto menatap tangan kanannya yang kini berkilau samar.

Dulu tangan itu hanya membawa kesialan.

Sekarang…

Tangan itu bisa mengubah takdir.

Namun satu hal yang Manto tahu pasti, keajaiban yang terlalu besar selalu datang bersama masalah yang lebih besar.

Di luar rumah, suara warga semakin ramai.

“Giliranku kapan?”

“Aku duluan!”

“Manto! Tolong anakku!”

Manto menghela napas panjang.

Hidup tenang yang ia impikan… sepertinya semakin jauh.

Di antara kerumunan, seorang wanita berpakaian rapi dari kota memperhatikan rumah Manto dengan tatapan tajam.

"Menarik..."

Lanjut membaca
Lanjut membaca