Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pewaris Mata Keberuntungan

Pewaris Mata Keberuntungan

Pena Emas | Bersambung
Jumlah kata
139.8K
Popular
3.6K
Subscribe
630
Novel / Pewaris Mata Keberuntungan
Pewaris Mata Keberuntungan

Pewaris Mata Keberuntungan

Pena Emas| Bersambung
Jumlah Kata
139.8K
Popular
3.6K
Subscribe
630
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalPewarisSupernaturalHarem
Reza Aksara Pragiwaksono, seorang pemuda berusia 21 tahun yang baru saja di-DO dari Universitas Jayalengkara akibat kesalahan yang tidak dia perbuat. Belum usai di sana kesialannya, pacarnya yang menemani selama pendidikannya pun mencampakkannya. Reza yang merasa sudah tidak memiliki siapa-siapa karena kedua orangtuanya sendiri sudah tiada pun berniat mengakhiri hidupnya. Namun, tidak ada yang mengira seorang kakek yang tidak dikenalnya berusia 100 tahun memberikannya berkah. Inilah Perjalanan Reza setelah mendapatkan berkah Mata Keberuntungan dari sang kakek tanpa nama!
Bab 01 - Sungguh Sial

Reza Aksara Pragiwaksono, pemuda yang saat ini hanya bisa bertunduk pasrah disaat berhadapan dengan seorang pria paruh baya botak yang masih terus menghardiknya di hadapan orang-orang.

Ruangan tenaga pendidikan saat ini begitu panas, pria paruh baya yang adalah Rektor Universitas Jayalengkara nampak begitu murka. Dirinya yang mengetahui bahwa mahasiswa nya sangat berani untuk merampok ruangan arsip dengan tingkat kerahasiaan tinggi tersebut.

"Berani-beraninya kamu! Kamu tidak tahu betapa berbahayanya informasi sekarang di tengah ketegangan geopolitik global? Universitas Jayalengkara adalah universitas yang bertaraf internasional dan sesekali melahirkan alumnus cerdas yang bekerja di pemerintahan negara!"

"Bagaimana bisa kamu yang adalah mahasiswa universitas ini merampok ruangan arsip?" cecar Burhanuddin Tanudisastro, Rektor Universitas Jayalengkara.

"Tapi, Bapak, saya... Saya tidak merampoknya! Saya dijebak seorang mahasiswa lainnya! Saya... Saya bisa membela diri!" Reza mencoba untuk membela dirinya di tengah cecaran sang rektor.

Tenaga pendidik lainnya nampak saling bertukar pendapat, bisik-bisik begitu terdengar di telinga Reza yang makin panas. Bagaimana tidak, bisik-bisik sesama tenaga pendidik itu menyangkut persoalan menyayangkan bahwa mahasiswa yang mereka ajar selama ini ternyata adalah seorang perampok tidak tahu diri.

Siang yang harusnya menjadi istirahat makan siang bagi Reza, sekarang dia harus dihadapkan dengan pilihan untuk mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan dan memberikan uang damai sebesar dua ratus juta Rupiah bersamaan dengan surat pernyataan. Itu pilihan pertama, sementara itu pilihan kedua adalah jelas tetap mengakui perbuatannya dan mendekam di balik jeruji besi untuk waktu yang lama.

"๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข, ๐˜—๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‰๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ง๐˜ข๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข..." batin Reza sambil memandang curiga ke arah Burhanuddin. "๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข!" lanjutnya dalam hati seraya mengutuk tindakan yang tidak suci di Universitas Jayalengkara.

"Hei, kenapa diam? Tentukan pilihanmu, dasar perampok tidak tahu diri!" cecar Burhanuddin tanpa memedulikan tenaga pendidik lainnya yang terus mendengar perdebatan itu.

"Tidak, Pak, tidak! Saya tidak akan mengakui perbuatan yang tidak saya lakukan sampai kapan pun! Kalian benar-benar biadab seperti negara ini!" teriak Reza sambil menunjuk Burhanuddin begitu membara. "Sekali pun kondisi dunia menjadi tidak pasti, saya akan benar-benar mengutuk bagaimana seorang tenaga pendidik seperti anda-anda sekalian yang dengan tanpa bukti menuduh orang tidak bersalah hanya berdasar dari pernyataan mahasiswa lain!"

Semuanya terdiam, bagaimana pun Reza adalah seorang mahasiswa yang terkenal sebagai mahasiswa penuh percaya diri. Reza sering mengikuti banyak kegiatan seminar, juga kegiatan ektra lainnya yang membuat dirinya dikenal banyak mahasiswa lainnya.

Namun seperti takdir berkata lain, Reza saat ini sedang dituduh atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Namun tentu saja pembelaan dari Reza menurut para dosen dan terutama rektor saat ini hanyalah bentuk ketidakstabilan mental karena perbuatannya telah diketahui meski sejatinya Reza tidak pernah melakukan hal buruk tersebut.

Burhanuddin sebagai Rektor Universitas Jayalengkara pun menggeram kesal, dia berbalik dan menuju ke meja miliknya, mengambil sebuah kertas yang bahkan sudah dibubuhi tanda tangan beserta cap universitas.

"Dengan ini, universitas menyatakan kamu telah di-DO!"

"HAH?"

***

"BAJINGAN TENGIK!" teriak Reza saat telah berada di luar gedung rektorat. Dirinya pun langsung ditatap tajam oleh orang-orang yang ada di parkiran rektorat.

"Dunia benar-benar tidak adil," gumam Reza yang akhirnya memilih melangkahkan kakinya meninggalkan universitas yang telah menerimanya selana tiga tahun ini. "Bagaimana pun, mahasiswa lain yang menuduhku itu adalah... Anak dari Pak Burhan yang adalah rektor, hahaha!" lanjutnya terus bermonolog membuat beberapa orang di sekitarnya merasa aneh.

Reza pun terus berjalan menuju parkiran yang terletak di sudut dan cukup terpencil dari parkiran lainnya. Di sana tidak ada satu pun kendaraan yang terparkir, selain motor matic karbu kesayangannya.

"Yah, mungkin hanya sisa matic karbu ini dan Cantika," ucap Reza sambil mengelus pelindung spedometernya yang sudah retak.

"Tidak lagi."

Dua kata yang langsung menghunjam dadanya layaknya peluru. Reza menoleh cepat, mendapati wanita yang telah menemaninya selama tiga tahun ini sejak dirinya menjadi Mahasiswa Baru. Wanita itu menatap sinis pada Reza sambil melipat kedua tangannya di depan dada, terlihat tidak nyaman.

"Maโ€“Maksudmu, Sayang?"

"Hentikan. Itu menjijikkan!" hardik Cantika, wanita yang soal kecantikannya mungkin bisa diadu dengan para ๐˜จ๐˜ช๐˜ณ๐˜ญ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ yang ada di Korea Selatan, tetapi untuk Cantika adalah sosok alami dari keindahan itu sendiri.

Cantika menghela napas kesal, segera merogoh tas miliknya untuk mengambil sebuah boneka beruang seukuran kepalan tangan yang begitu imut. Itu adalah hadiah valentine dari Reza untuk Cantika sebulan yang lalu.

"Ini, dan terima kasih tiga tahun ini." Cantika memberikan boneka itu di tangan Reza yang hanya terdiam menatap boneka beruang putih tersebut.

Cantika yang akhirnya pergi meninggalkan Reza dalam kesendirian. Angin menerpa rambutnya memperlihatkan dengan jelas raut wajah kehilangan yang begitu mendalam, sorot matanya mulai bergetar dan nyaris tidak dapat membendung air mata.

"Ah... Sial..."

Reza menaiki motornya, menancapkan kunci motor dengan tangan gemetar, setelahnya menyalakan motornya dengan rasa keputusasaan. Hatinya yang telah menjadi rapuh sejak dirinya tertuduh dan malah di-DO secara sepihak oleh kampusnya, sekarang harus menerima pil pahit bahwa pacarnya selama tiga tahun ini menyatakan untuk mengakhiri hubungan itu.

Reza pun mengendarai motor meninggalkan parkiran... Dan juga boneka beruang putih yang tergeletak di tanah.

Saat Reza menjauh, seorang kakek tua datang menghampiri boneka beruang putih imut tersebut dan mengambilnya serta menepuk-nepuk dari debu.

"Aduh, sayang sekali."

Kakek itu menatap kepergian Reza, tersenyum penuh makna dengan mata biru langitnya. Sejenak jika diperhatikan, matanya sempat bergetar hebat, ruang seakan terdistorsi hingga pecah dan menelan sang kakek beserta boneka beruang putih tersebut meninggalkan angin yang berhembus menggoyangkan dedaunan.

"Hah?" Seorang pemuda yang baru saja lewat hanya bisa tertegun, menjatuhkan es kopi yang baru dia beli.

***

Flyover Jayalengkara Harpin, Reza mengendarai motornya dengan kecepatan 80 km/h. Setiap kendaraan dia dahului begitu frontal, sesekali teriakan demi teriakan dari para pengendara yang kesal dengan betapa agresifnya Reza dalam mendahului.

"๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช?"

Hati Reza menghitam, tatapannya menjadi kosong. Dunianya seakan-akan telah runtuh dalam sekejap, kesialan yang datang bertubi-tubi menghunjam hatinya yang rapuh. Sejak dirinya kehilangan kedua orangtua lima tahun silam dalam sebuah kecelakaan tragis pesawat komersil yang tidak sengaja tertembak rudal negara Timur Tengah yang sedang berkonflik.

Sejak hari itu pun, Reza hanya bisa terus menjalani hidup dengan rasa kehilangan yang tidak pernah lenyap. Hari demi hari Reza menjalani hidup, beruntungnya dirinya mendapatkan uang asuransi dari kecelakaan itu, meski dia baru menggunakan sepuluh juta Rupiah dari seratus juta selama lima tahun ini.

Di tengah lamunannya dalam mengingat hari-hari kelamnya saat itu, Reza yang memilih mengganti jalur untuk turun ke jalan kolektor dari flyover, mendapati seorang kakek tua sedang berjalan sambil memegang boneka beruang putih yang membuat Reza salah fokus. Reza pun berhenti dan segera mendekati sang kakek.

"Emm... Kakek? Dari mana kamu dapat boneka ini?"

"Oh, ini dari Universitas Jayalengkara, ada pemuda yang meninggalkannya. Kasihan," balas Kakek tersebut membuat Reza tertegun sesaat.

"Ah, lebih dari itu, ayo naik. Di sini berbahaya, banyak kendaraan, nanti terjadi apa-apa. Aku akan menurunkannya di bawah sana," ucap Reza yang memilih untuk mengamankan sang kakek tersebut.

"Hoho, pemuda yang baik," celetuk Kakek itu seraya tersenyum dan menunjukkan mata biru langitnya.

Dalam sekejap, aura dingin datang menyelimuti seluruh tubuh Reza. Waktu seakan berhenti, Reza yang tidak bisa bereaksi cepat hanya bisa tertegun tidak berdaya apapun yang terjadi pada dirinya nantinya.

"Hoho... Ini dia," ucap Kakek itu seraya menggerakkan kedua tangannya ke arah matanya, terus bergerak hingga menusuk matanya.

Darah memuncrat ke mana-mana, darah mengalir di pipi kakek itu. Sementara tanpa ekspresi apapun, sang kakek memegang kedua bola matanya di telapak tangannya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca