

Reza Aksara Pragiwaksono, pemuda yang saat ini hanya bisa bertunduk pasrah disaat berhadapan dengan seorang pria paruh baya botak yang masih terus menghardiknya di hadapan orang-orang.
Ruangan tenaga pendidikan saat ini begitu panas, pria paruh baya yang adalah Rektor Universitas Jayalengkara nampak begitu murka. Dirinya yang mengetahui bahwa mahasiswa nya sangat berani untuk merampok ruangan arsip dengan tingkat kerahasiaan tinggi tersebut.
"Berani-beraninya kamu! Kamu tidak tahu betapa berbahayanya informasi sekarang di tengah ketegangan geopolitik global? Universitas Jayalengkara adalah universitas yang bertaraf internasional dan sesekali melahirkan alumnus cerdas yang bekerja di pemerintahan negara!"
"Bagaimana bisa kamu yang adalah mahasiswa universitas ini merampok ruangan arsip?" cecar Burhanuddin Tanudisastro, Rektor Universitas Jayalengkara.
"Tapi, Bapak, saya... Saya tidak merampoknya! Saya dijebak seorang mahasiswa lainnya! Saya... Saya bisa membela diri!" Reza mencoba untuk membela dirinya di tengah cecaran sang rektor.
Tenaga pendidik lainnya nampak saling bertukar pendapat, bisik-bisik begitu terdengar di telinga Reza yang makin panas. Bagaimana tidak, bisik-bisik sesama tenaga pendidik itu menyangkut persoalan menyayangkan bahwa mahasiswa yang mereka ajar selama ini ternyata adalah seorang perampok tidak tahu diri.
Siang yang harusnya menjadi istirahat makan siang bagi Reza, sekarang dia harus dihadapkan dengan pilihan untuk mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan dan memberikan uang damai sebesar dua ratus juta Rupiah bersamaan dengan surat pernyataan. Itu pilihan pertama, sementara itu pilihan kedua adalah jelas tetap mengakui perbuatannya dan mendekam di balik jeruji besi untuk waktu yang lama.
"๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข, ๐๐ข๐ฌ ๐๐ถ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ง๐ข๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ต๐ถ๐ข๐ด๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข..." batin Reza sambil memandang curiga ke arah Burhanuddin. "๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ๐ต ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ถ? ๐๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข!" lanjutnya dalam hati seraya mengutuk tindakan yang tidak suci di Universitas Jayalengkara.
"Hei, kenapa diam? Tentukan pilihanmu, dasar perampok tidak tahu diri!" cecar Burhanuddin tanpa memedulikan tenaga pendidik lainnya yang terus mendengar perdebatan itu.
"Tidak, Pak, tidak! Saya tidak akan mengakui perbuatan yang tidak saya lakukan sampai kapan pun! Kalian benar-benar biadab seperti negara ini!" teriak Reza sambil menunjuk Burhanuddin begitu membara. "Sekali pun kondisi dunia menjadi tidak pasti, saya akan benar-benar mengutuk bagaimana seorang tenaga pendidik seperti anda-anda sekalian yang dengan tanpa bukti menuduh orang tidak bersalah hanya berdasar dari pernyataan mahasiswa lain!"
Semuanya terdiam, bagaimana pun Reza adalah seorang mahasiswa yang terkenal sebagai mahasiswa penuh percaya diri. Reza sering mengikuti banyak kegiatan seminar, juga kegiatan ektra lainnya yang membuat dirinya dikenal banyak mahasiswa lainnya.
Namun seperti takdir berkata lain, Reza saat ini sedang dituduh atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Namun tentu saja pembelaan dari Reza menurut para dosen dan terutama rektor saat ini hanyalah bentuk ketidakstabilan mental karena perbuatannya telah diketahui meski sejatinya Reza tidak pernah melakukan hal buruk tersebut.
Burhanuddin sebagai Rektor Universitas Jayalengkara pun menggeram kesal, dia berbalik dan menuju ke meja miliknya, mengambil sebuah kertas yang bahkan sudah dibubuhi tanda tangan beserta cap universitas.
"Dengan ini, universitas menyatakan kamu telah di-DO!"
"HAH?"
***
"BAJINGAN TENGIK!" teriak Reza saat telah berada di luar gedung rektorat. Dirinya pun langsung ditatap tajam oleh orang-orang yang ada di parkiran rektorat.
"Dunia benar-benar tidak adil," gumam Reza yang akhirnya memilih melangkahkan kakinya meninggalkan universitas yang telah menerimanya selana tiga tahun ini. "Bagaimana pun, mahasiswa lain yang menuduhku itu adalah... Anak dari Pak Burhan yang adalah rektor, hahaha!" lanjutnya terus bermonolog membuat beberapa orang di sekitarnya merasa aneh.
Reza pun terus berjalan menuju parkiran yang terletak di sudut dan cukup terpencil dari parkiran lainnya. Di sana tidak ada satu pun kendaraan yang terparkir, selain motor matic karbu kesayangannya.
"Yah, mungkin hanya sisa matic karbu ini dan Cantika," ucap Reza sambil mengelus pelindung spedometernya yang sudah retak.
"Tidak lagi."
Dua kata yang langsung menghunjam dadanya layaknya peluru. Reza menoleh cepat, mendapati wanita yang telah menemaninya selama tiga tahun ini sejak dirinya menjadi Mahasiswa Baru. Wanita itu menatap sinis pada Reza sambil melipat kedua tangannya di depan dada, terlihat tidak nyaman.
"MaโMaksudmu, Sayang?"
"Hentikan. Itu menjijikkan!" hardik Cantika, wanita yang soal kecantikannya mungkin bisa diadu dengan para ๐จ๐ช๐ณ๐ญ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฅ yang ada di Korea Selatan, tetapi untuk Cantika adalah sosok alami dari keindahan itu sendiri.
Cantika menghela napas kesal, segera merogoh tas miliknya untuk mengambil sebuah boneka beruang seukuran kepalan tangan yang begitu imut. Itu adalah hadiah valentine dari Reza untuk Cantika sebulan yang lalu.
"Ini, dan terima kasih tiga tahun ini." Cantika memberikan boneka itu di tangan Reza yang hanya terdiam menatap boneka beruang putih tersebut.
Cantika yang akhirnya pergi meninggalkan Reza dalam kesendirian. Angin menerpa rambutnya memperlihatkan dengan jelas raut wajah kehilangan yang begitu mendalam, sorot matanya mulai bergetar dan nyaris tidak dapat membendung air mata.
"Ah... Sial..."
Reza menaiki motornya, menancapkan kunci motor dengan tangan gemetar, setelahnya menyalakan motornya dengan rasa keputusasaan. Hatinya yang telah menjadi rapuh sejak dirinya tertuduh dan malah di-DO secara sepihak oleh kampusnya, sekarang harus menerima pil pahit bahwa pacarnya selama tiga tahun ini menyatakan untuk mengakhiri hubungan itu.
Reza pun mengendarai motor meninggalkan parkiran... Dan juga boneka beruang putih yang tergeletak di tanah.
Saat Reza menjauh, seorang kakek tua datang menghampiri boneka beruang putih imut tersebut dan mengambilnya serta menepuk-nepuk dari debu.
"Aduh, sayang sekali."
Kakek itu menatap kepergian Reza, tersenyum penuh makna dengan mata biru langitnya. Sejenak jika diperhatikan, matanya sempat bergetar hebat, ruang seakan terdistorsi hingga pecah dan menelan sang kakek beserta boneka beruang putih tersebut meninggalkan angin yang berhembus menggoyangkan dedaunan.
"Hah?" Seorang pemuda yang baru saja lewat hanya bisa tertegun, menjatuhkan es kopi yang baru dia beli.
***
Flyover Jayalengkara Harpin, Reza mengendarai motornya dengan kecepatan 80 km/h. Setiap kendaraan dia dahului begitu frontal, sesekali teriakan demi teriakan dari para pengendara yang kesal dengan betapa agresifnya Reza dalam mendahului.
"๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ช๐ข๐ญ? ๐๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ช ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐จ๐ช?"
Hati Reza menghitam, tatapannya menjadi kosong. Dunianya seakan-akan telah runtuh dalam sekejap, kesialan yang datang bertubi-tubi menghunjam hatinya yang rapuh. Sejak dirinya kehilangan kedua orangtua lima tahun silam dalam sebuah kecelakaan tragis pesawat komersil yang tidak sengaja tertembak rudal negara Timur Tengah yang sedang berkonflik.
Sejak hari itu pun, Reza hanya bisa terus menjalani hidup dengan rasa kehilangan yang tidak pernah lenyap. Hari demi hari Reza menjalani hidup, beruntungnya dirinya mendapatkan uang asuransi dari kecelakaan itu, meski dia baru menggunakan sepuluh juta Rupiah dari seratus juta selama lima tahun ini.
Di tengah lamunannya dalam mengingat hari-hari kelamnya saat itu, Reza yang memilih mengganti jalur untuk turun ke jalan kolektor dari flyover, mendapati seorang kakek tua sedang berjalan sambil memegang boneka beruang putih yang membuat Reza salah fokus. Reza pun berhenti dan segera mendekati sang kakek.
"Emm... Kakek? Dari mana kamu dapat boneka ini?"
"Oh, ini dari Universitas Jayalengkara, ada pemuda yang meninggalkannya. Kasihan," balas Kakek tersebut membuat Reza tertegun sesaat.
"Ah, lebih dari itu, ayo naik. Di sini berbahaya, banyak kendaraan, nanti terjadi apa-apa. Aku akan menurunkannya di bawah sana," ucap Reza yang memilih untuk mengamankan sang kakek tersebut.
"Hoho, pemuda yang baik," celetuk Kakek itu seraya tersenyum dan menunjukkan mata biru langitnya.
Dalam sekejap, aura dingin datang menyelimuti seluruh tubuh Reza. Waktu seakan berhenti, Reza yang tidak bisa bereaksi cepat hanya bisa tertegun tidak berdaya apapun yang terjadi pada dirinya nantinya.
"Hoho... Ini dia," ucap Kakek itu seraya menggerakkan kedua tangannya ke arah matanya, terus bergerak hingga menusuk matanya.
Darah memuncrat ke mana-mana, darah mengalir di pipi kakek itu. Sementara tanpa ekspresi apapun, sang kakek memegang kedua bola matanya di telapak tangannya.