Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
ZAQQY DAN AJIAN BRAJAMUSTI

ZAQQY DAN AJIAN BRAJAMUSTI

Hadijah_Editri | Bersambung
Jumlah kata
31.6K
Popular
100
Subscribe
41
Novel / ZAQQY DAN AJIAN BRAJAMUSTI
ZAQQY DAN AJIAN BRAJAMUSTI

ZAQQY DAN AJIAN BRAJAMUSTI

Hadijah_Editri| Bersambung
Jumlah Kata
31.6K
Popular
100
Subscribe
41
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalDunia GaibSpiritualKekuatan Super
Zaqqy hanyalah seorang security biasa. Ia tidak kaya. Tidak berkuasa. Tidak punya Kekuatan. Sampai siang itu, ia memilih melawan. Melawan tuannya sendiri demi menyelamatkan seorang wanita dari kehinaan. Keputusan itu membuatnya dipecat, dikeroyok, lalu dibuang ke hutan untuk mati. Namun takdir belum selesai dengannya. Di bawah pohon beringin tua, saat nyawanya berada di ambang batas, sesuatu yang kuno dan terlarang membangkitkannya. Roh Seorang Ksatria, menatap Zaqqy dan memilih memberikan kekuatan untuk kedua tangannya. Sejak saat itu, tangan Zaqqy tidak lagi sekadar tangan manusia. Satu pukulan mampu meremukkan tulang. Satu amarah bisa menghancurkan nyawa. Tapi kekuatan selalu datang dengan harga. Diburu oleh manusia kejam dan makhluk tidak kasat mata, Zaqqy harus belajar mengendalikan energi yang bisa membakarnya dari dalam. Di sekelilingnya, para wanita dengan takdir berbeda mulai terikat pada aura kekuatan itu, cinta, cemburu, dan pengkhianatan saling bertaut. Ketika masa lalu Roh Ksatria terkuak dan ramalan kelam tentang Ajian Kuno kembali bergaung. Zaqqy dihadapkan pada pilihan? Menjadi pelindung atau menjelma menjadi badai yang menghancurkan segalanya. "Karena ketika takdir memilihmu, tidak ada jalan untuk kembali."
Bab 1: Dipecat

"Zaqqy, apa kamu sudah ada uangnya? Kita harus membawa Bapak berobat," tanya sang Ibu dengan suara penuh kekhawatiran.

Saat itu Zaqqy sedang mengenakan seragam security miliknya yang sudah agak kusam karena sering dipakai bekerja. Pemuda berusia dua puluh delapan tahun itu menoleh dan tersenyum tipis.

"Ibu tenang saja. Hari ini aku akan menemui Pak Darwin. Kemarin sudah aku telepon untuk pinjaman, sudah di-ACC. Nanti aku ambil setelah sampai di kafe. Sabar ya, Bu," jawab Zaqqy dengan nada meyakinkan.

Ia sedang berusaha menenangkan hati ibunya walau di dalam dirinya sendiri sebenarnya penuh kegelisahan.

"Ibu harap benar-benar dikasih ya, Zaq. Apa kamu tidak mau mencari pekerjaan lain? Masalahnya gaji kamu di sana sebagai security sepertinya tidak pernah cukup untuk semua kebutuhan kita..."

Zaqqy menghela napas kecil, lalu tersenyum lagi meskipun senyuman itu terasa dipaksakan.

"Ya mau kerja apa, Bu? Usia 28 tahun, cuma tamatan SMA seperti ini, sudah dianggap expired sama banyak tempat kerja," katanya sambil tertawa kecil mencoba mencairkan suasana. "Nanti kalau ada kesempatan aku cari lagi. Tanya-tanya sama teman mungkin. Yang penting sekarang kita fokus dulu bawa Bapak berobat."

Sang Ibu menunduk. Wajahnya tampak sedih dan penuh rasa bersalah.

"Iya... maaf ya Ibu malah menyusahkan kamu. Harusnya di usia kamu seperti ini kamu sudah menikah, punya kehidupan sendiri. Tapi sekarang malah harus menanggung semua beban keluarga kita. Sedangkan abangmu sendiri entah ke mana perginya."

"Ah, Bu... tidak apa-apa. Jangan bahas Bang Riski lagi," kata Zaqqy cepat, tidak ingin ibunya semakin sedih.

Ia kemudian berdiri dan mengambil kunci motor yang tergantung di dinding.

"Ya sudah ya Bu, aku berangkat kerja dulu. Doakan saja semuanya lancar. InsyaAllah uangnya bisa langsung aku ambil hari ini."

Zaqqy menyalami tangan ibunya dengan penuh hormat.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," jawab sang Ibu lirih.

Wanita itu memandang kepergian putranya dengan tatapan sendu. Hidup mereka memang tidak pernah mudah. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil empat pintu yang sempit dan sederhana.

Kemiskinan seperti bayangan yang terus mengikuti keluarga itu ke mana pun mereka pergi.

Ayah Zaqqy sedang sakit parah dan membutuhkan pengobatan. Kakak pertamanya menghilang tanpa kabar selama bertahun-tahun. Kini hanya Zaqqy yang menjadi tulang punggung keluarga.

Ia harus membayar kontrakan, memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sekaligus mencari uang untuk biaya pengobatan ayahnya.

Zaqqy keluar rumah dan mengambil sepeda motor tuanya. Motor keluaran lama itu mungkin tidak berharga bagi orang lain, tetapi bagi Zaqqy kendaraan itu sangat berarti. Tanpa motor itu, ia bahkan tidak tahu bagaimana harus pergi bekerja setiap hari.

"Halo, Bang Zaqqy! Mau kerja ya?"

Saat hendak menyalakan motor, Zaqqy menoleh ketika mendengar suara seorang wanita. Ia tersenyum kecil ketika melihat siapa yang memanggilnya.

Di sana berdiri Rahayu, seorang gadis muda dengan penampilan rapi dan wajah cerah.

"Iya, mau kerja seperti biasa. Kamu mau ke mana, Rahayu? Kok tumben penampilan kamu rapi sekali seperti itu?" tanya Zaqqy.

Rahayu tersenyum sedikit malu.

"Oh iya Bang. Aku diajak makan siang sama Bos. Katanya sih mau ngobrol sesuatu. Katanya juga ke kafe, cuma aku belum tahu kafe yang mana. Bentar lagi katanya dijemput."

Belum lama mereka berbicara, sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Rahayu langsung menunjuk mobil itu.

"Oh itu Bang, mobilnya sudah datang. Aku berangkat dulu ya." Ia melambaikan tangan. "Daah, Bang Zaqqy!"

Zaqqy hanya mengangguk dan membalas lambaian tangan gadis itu.

Beberapa detik kemudian mobil hitam tersebut melaju pergi membawa Rahayu.

Zaqqy kemudian menyalakan motornya dan segera berangkat menuju tempat kerjanya, sebuah kafe besar yang cukup terkenal di kota itu. Tidak lama kemudian ia sampai di sana.

Begitu memarkirkan motornya, salah satu rekannya langsung melambaikan tangan.

"Zaqqy! Cepat sini!" teriak Tono sambil berlari kecil mendekatinya. "Gantian jaga ya! Kamu lama sekali datangnya. Kalau sampai Pak Darwin lihat kamu telat, bisa-bisa kamu dimarahin lagi."

Zaqqy tersenyum canggung.

"Iya iya, maaf. Tadi harus menenangkan Ibu dulu di rumah."

"Oh yang masalah ayah kamu sakit itu ya?" tanya Tono.

Zaqqy mengangguk kecil penuh beban.

"Ngomong-ngomong Pak Darwin sudah datang. Itu lagi di kantornya di atas. Kamu kan mau ambil uang pinjaman katanya sudah di-ACC. Mending langsung saja temui dia sekarang."

"Iya benar juga. Makasih ya Ton."

Ia pun berjalan menuju tangga yang mengarah ke lantai dua tempat kantor Darwin berada.

Namun saat melangkah menuju tangga, pandangan Zaqqy tertuju pada sebuah mobil hitam yang terparkir di area khusus. Keningnya sedikit berkerut.

"Itu... mobil yang tadi menjemput Rahayu," gumamnya pelan. "Oh ternyata mereka makan siang di sini."

Zaqqy tidak terlalu memikirkan hal itu dan langsung melanjutkan langkah menuju kantor Darwin. Disana juga terdapat 7 anak buah Darwin yang biasa berjaga di sekitar pintu.

Tok... tok... tok...

Ia mengetuk pintu kantor tersebut dengan sopan.

"Masuk!" terdengar suara Darwin dari dalam ruangan.

Zaqqy membuka pintu dan menunduk sedikit.

"Selamat siang Pak. Maaf mengganggu."

Darwin yang duduk di kursinya hanya melirik sekilas.

"Oh kamu. Mau menanyakan pinjaman uang kemarin ya?"

"Iya Pak," jawab Zaqqy penuh harap.

Darwin menghela napas, sambil fokus dengan layar laptopnya.

"Belum ada. Seminggu lagi saja kamu datang lagi."

"Apa?.." Zaqqy langsung tertegun. "Tapi Pak... kemarin di telepon kata anda sudah di-ACC dan bisa langsung diambil."

Darwin langsung mengibaskan tangannya dengan kesal.

"Ya bukan sekarang! Lagian kamu itu kebanyakan utang. Kerja di sini paling banyak pinjaman ya kamu. Sudah sana keluar! Saya sebentar lagi ada tamu."

Nada suaranya terdengar dingin dan merendahkan.

Zaqqy menunduk pelan. Kekecewaan jelas terlihat di wajahnya. Janji kepada ibunya pagi tadi sepertinya tidak akan bisa ia tepati. Namun ia tidak berani membantah.

"Baik Pak," ucapnya lirih.

Zaqqy pun keluar dari ruangan itu. Namun begitu pintu terbuka, ia justru melihat Rahayu berdiri di depan bersama dua orang lain.

"Eh Bang Zaqqy!" sapa Rahayu dengan ramah. "Ternyata Aku di ajak makan siang di sini. Tapi katanya mau ngobrol dulu sama pemilik kafe."

"Oh," Zaqqy hanya mengangguk kecil. "Iya... silakan."

Ia kemudian berjalan pergi meninggalkan tempat itu, sementara Rahayu masuk ke dalam ruangan Darwin bersama kedua orang tadi. Zaqqy kembali menuju pos jaganya.

"Loh kok sudah kembali?" tanya Tono heran.

"Katanya uangnya belum ada," jawab Zaqqy yang kecewa.

"Hah? Bukannya kamu bilang sudah di-ACC?"

"Iya... tapi katanya belum ada uangnya."

"Ya Allah..." Tono menggeleng pelan.

Namun saat mereka sedang berbicara, Zaqqy melihat dua orang yang tadi datang bersama Rahayu justru keluar dari kafe dan pergi menggunakan mobil mereka. Keningnya langsung berkerut.

"Hei! Kenapa kamu melihat mobil orang segitunya" tegur Tono

"Itu loh. Mobil Yang datang sama Rahayu temanku, ke kantor pak Darwin. Kok mereka malah pergi berdua?"

Tono langsung menatap Zaqqy dengan wajah berubah.

"Kamu serius?" Bisik Tono

"Iya."

Tono langsung menepuk jidatnya.

"Astaghfirullahaladzim, Zaqqy!"

"Ada apa Ton?" Zaqqy bingung sendiri.

"Kamu tahu kan Pak Darwin itu laki-laki hidung belang?"

"Astaghfirullah.. "

Mata Zaqqy langsung membesar. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menuju lantai dua.

Namun di depan ruangan Darwin masih berdiri beberapa anak buahnya yang bertugas berjaga tepat didepan pintu ruangan itu.

"Ada apa?" tanya salah satu dari mereka dengan tatapan tajam.

Zaqqy mencoba bersikap tenang.

"Itu... HP saya ketinggalan di dalam."

"Jangan Pak! Tolong jangan seperti ini!" Suara Rahayu, terdengar dari dalam.

"Tidak apa-apa, hanya kita berdua disini" Suara Darwin terdengar begitu keras.

Darah Zaqqy langsung mendidih, karena tentu paham arah pembicaraan itu.

"Minggir!" Pintanya pada anak buah Darwin

Brugh!!

"Eh! Apa maksud kau! Pergi!" Sentak anak buah Darwin, mendorong tubuh Zaqqy, hingga mundur beberapa langkah.

"Brengsek!!"

Bugh!

Zaqqy yang kesal, mengepal kedua tangan, emosinya memuncak, langsung menarik dan membalas mendorong anak buah Darwin, hingga terjatuh di lantai.

Zaqqy bukanlah orang yang suka mencari masalah, tetapi di masa sekolah, ia pernah belajar dasar taekwondo, meskipun tidak terlalu hebat, namun cukup untuk membuat tubuhnya terbiasa melawan cepat saat keadaan memaksa.

BRAAkk!

Pemuda itu langsung mendobrak pintu, dengan begitu keras. Matanya menajam melihat apa yang sedang terjadi,

Di dalam ruangan terlihat Rahayu yang berusaha menghindar dari Darwin yang hendak menyentuhnya.

"Hei! Ngapain kamu masuk ke sini?!" bentak Darwin marah. "Kurang ajar! Kamu tidak punya sopan santun! Rinto! Malik! Masuk! Seret dia keluar!" Teriak Darwin memanggil anak buahnya .

Dua anak buahnya langsung masuk mencoba menarik Zaqqy.

"Lepas!!!" sentak Zaqqy, menepis tangan mereka dan berjalan mendekati Rahayu. Baju gadis itu sudah sedikit terbuka. "Enggak begini caranya, Pak," kata Zaqqy tegas.

PLAK!!

Tamparan keras mendarat di wajahnya.

"Kurang ajar!" bentak Darwin. "Pergi dari sini atau kamu akan saya pecat!" ancam Darwin.

Namun Zaqqy tidak peduli, menatap sinis Darwin. Napasnya tersenggal menahan amarah, kemudian melihat Rahayu, menarik gadis itu.

"Ayo Rahayu. Kita pergi dari sini." ujarnya.

Rahayu yang gemetar langsung memperbaiki bajunya dan memegang erat tangan Zaqqy.

"Awas kalian semua!!" Sentak Zaqqy, yang sudah benar-benar kesal.

Mereka berjalan keluar ruangan, dengan cepat menerobos dua anak buah Darwin yang ada disana.

"Zaqqy! Kalau kamu bawa dia, tamat riwayatmu!" teriak Darwin marah.

Zaqqy berhenti sebentar dan menoleh.

"Saya tidak takut. Yang Anda lakukan itu salah, Pak." sahut Zaqqy tanpa rasa takut

Ia kemudian melanjutkan langkahnya.

"Kau dipecat!" teriak Darwin penuh amarah.

"Saya terima pemecatannya!"

Zaqqy menjawab tanpa menoleh sedikitpun. Sementara itu Darwin memandang punggung Zaqqy dengan mata penuh kebencian. Ia kemudian menoleh ke arah Rinto.

"Habisi dia," katanya dingin. "Berani sekali dia melawanku."

Brak!!

Lanjut membaca
Lanjut membaca