Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Si Culun Jadi Raja Kungfu

Si Culun Jadi Raja Kungfu

Alfisha Wulandari | Bersambung
Jumlah kata
28.7K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Si Culun Jadi Raja Kungfu
Si Culun Jadi Raja Kungfu

Si Culun Jadi Raja Kungfu

Alfisha Wulandari| Bersambung
Jumlah Kata
28.7K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurPendekar
Seorang pemuda culun yang seumur hidup hanya jadi bahan ejekan, tiba-tiba terbangun dengan kekuatan aneh di dalam tubuhnya setelah sebuah kejadian yang tak bisa ia jelaskan. Tanpa guru, tanpa kitab, tanpa tahu asal-usul ilmunya, ia justru mampu menumbangkan para pendekar yang jauh lebih berpengalaman. Namun saat namanya mulai dikenal di dunia kungfu, muncul satu sosok misterius yang memanggilnya dengan nama yang bahkan tidak pernah ia dengar sebelumnya, Dan berkata, “Kekuatan itu bukan milikmu, dan hari ini, aku datang untuk mengambilnya kembali.”
BAB 1: Masuk Padepokan

Aku datang terlalu pagi.

Kabut masih menggantung rendah di kaki bukit, seperti napas dingin yang malas pergi. Di hadapanku berdiri sebuah gerbang kayu besar, warnanya pudar, sebagian catnya terkelupas dimakan hujan dan waktu. Di papan atas, terukir tiga huruf besar yang sudah kusam.

PADEPOKAN

Tempat yang selama ini hanya kulihat dari cerita orang-orang di pasar,

Tempat para pendekar lahir. Dan orang sepertiku, seharusnya tidak datang.

Tanganku gemetar saat menarik napas, Bukan karena gugup, Lebih tepatnya—karena aku sadar, aku sedang melakukan sesuatu yang bahkan tidak berani kuimpikan sebelumnya.

Namaku? ah, tidak penting.

Di kampung, semua orang memanggilku si culun.

Dan aku sudah terlalu lama menerima itu.

Aku berdiri cukup lama di depan gerbang, sampai suara langkah tergesa terdengar dari belakang.

“Eh, kamu juga mau daftar?”

Aku menoleh.

Seorang anak lelaki seusia denganku, tubuhnya tinggi, bahunya lebar. Ikat kain di kepalanya masih baru, wajahnya penuh percaya diri, seperti seseorang yang tahu dunia akan membuka jalan untuknya.

“Iya,” jawabku pelan.

Ia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Bajuku terlalu sederhana, Sepatuku sudah tipis di telapak. Dan caraku berdiri,aku tahu—selalu sedikit membungkuk, seperti orang yang minta maaf.

“Oh,” katanya singkat.

Nada itu, seperti orang yang sudah menilai.

Lalu ia melangkah pergi begitu saja, tanpa menungguku.

Gerbang terbuka.

Dan sejak langkah pertamaku masuk ke halaman perguruan, aku tahu, tempat ini tidak pernah benar-benar menampungku.

Halaman dalam sangat luas,

Lebih luas dari yang kubayangkan.

Beberapa calon murid sudah berkumpul di tengah lapangan. Ada yang memanaskan tubuh, ada yang saling pamer jurus, ada pula yang tertawa keras seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.

Aku berdiri di pinggir,

“Lihat itu,”

Suara berbisik.

Aku tidak tahu mereka bicara tentang siapa,Tapi perasaanku sudah terlalu terlatih untuk tahu: arah bisik itu mengarah padaku.

“Serius? Dia mau masuk sini?”

“Kayak anak hilang,”

“Tulangnya kecil begitu, mau jadi pendekar?”

Tawa kecil menyusul.

Tidak terlalu keras.

Namun cukup menusuk,untuk sampai ke telingaku.

Aku menelan ludah,

Berpura-pura tidak mendengar adalah keahlian yang kupelajari sejak kecil.

Aku mengamati lantai tanah di bawah kakiku, mencoba menenangkan napas.

Mencoba untuk tenang, karena aku datang ke sini bukan untuk dipuji.

Aku datang ke sini karena,

Karena aku sudah tidak punya tempat lain untuk singgah.

Seorang pria tua berdiri di depan kami.

Jubahnya sederhana, Rambutnya sudah memutih, namun punggungnya tegak. Tatapannya tenang—dan entah kenapa, begitu ia melangkah ke tengah lapangan, suara kecil langsung mereda.

“Yang datang ke sini,” katanya, suaranya tidak keras, namun jelas, “datang dengan alasan masing-masing.”

Ia berhenti sejenak,

“Namun satu hal perlu kalian pahami sejak awal,Perguruan ini bukan tempat untuk mencari nama, Bukan pula tempat untuk lari dari hidup.”

Beberapa murid saling melirik.

Aku menundukkan kepala,

Kalimat itu terasa seperti ditujukan padaku.

“Kalian akan diuji hari ini.”

Beberapa wajah langsung bersinar.

“Akan disaring.”

Beberapa wajah langsung menegang.

“Dan hanya yang layak, akan tinggal disini.”

Kata layak itu.

Seolah-olah sejak lahir, dunia sudah punya daftar orang-orang yang berhak bermimpi.

Ujian pertama sederhana,

Lari keliling lapangan beberapa putaran.

Aku menarik napas saat aba-aba diberikan,

Lalu kami mulai berlari.

Awalnya, kakiku terasa ringan,

Angin pagi menyentuh wajahku.

Aku bahkan sempat berpikir,mungkin aku tidak seburuk itu.

Namun setelah putaran kedua, napasku mulai berantakan.

Putaran ketiga, dadaku terasa seperti ditarik dari dalam.

Putaran keempat, kakiku mulai berat.

Dan di sekelilingku, satu per satu, para calon murid menyalip.

Ada yang berlari sambil tertawa,

Ada yang bahkan sempat melirikku dengan kasihan.

Aku mengenali tatapan itu,

Tatapan yang tidak berniat jahat, tapi juga tidak berniat peduli.

Saat aku melewati garis akhir, aku hampir tersandung.

Lututku menyentuh tanah,beberapa orang terdiam,

Beberapa orang lain juga tertawa kecil.

“Baru segitu saja sudah mau mati?” seseorang berujar, tidak terlalu lirih,

Aku pura-pura tidak mendengar.

Ujian kedua adalah dasar-dasar pukulan,

Kami diminta berbaris.

Seorang senior memperagakan satu gerakan sederhana—pukulan lurus, tarikan bahu, hentakan kaki.

“Ulangi!”

Satu per satu, kami mencoba.

Aku menunggu giliranku.

Saat maju, aku merasa semua mata tertuju padaku.

Aku berdiri di posisi yang ditunjukkan,

Menarik napas, lalu mengangkat tangan.

Dan—

Puk.

Tinjuku terasa ringan, tidak ada suara tegas.

Tidak ada hentakan yang meyakinkan.

“…”

Senior itu menatap tanganku, lalu menatap wajahku.

“Kau pernah latihan sebelumnya?”

Aku menggeleng.

“Tidak, kak.”

Ia menghela napas kecil, lalu berkata,

“Ulangi!”

Aku mencoba lagi.

Puk.

Tetap sama,

Beberapa orang di barisan belakang tidak menahan tawa.

“Heh, tangannya kayak daun.”

“Kalau angin kencang, bisa terbang itu bocah.”

Aku menunduk,

Kupikir aku sudah kebal,

Ternyata masih saja Lemah.

Ujian ketiga adalah tanding ringan,

Pasangan ditentukan acak.

Namaku dipanggil,

Dan orang di depanku,

adalah anak lelaki berbahu lebar yang tadi menanyaiku di depan gerbang.

Ia tersenyum kecil,

Bukan senyum ramah.

Lebih seperti senyum orang yang yakin dirinya tidak akan kalah.

“Kita pelan-pelan saja,” katanya, seolah berbaik hati.

Aku mengangguk,

Kami berdiri saling berhadapan.

Aba-aba diberikan.

Dan…

Aku bahkan tidak sempat bereaksi.

Dor!

Tubuhku terdorong mundur, kakiku terpeleset,

Aku jatuh telentang.

Tawa kecil terdengar di sekitar,

Aku menahan napas.

Malu terasa panas di wajahku.

“Bangun,” katanya.

Nada suaranya tidak kasar,tapi ada sesuatu di situ.

Rasa yakin bahwa aku bukan ancaman,

Kemudian aku bangkit,

Aba-aba lagi.

Kali ini, aku mencoba mengangkat tangan untuk menahan.

Namun Terlambat.

Sikutnya mengenai bahuku,

Aku terhuyung.

“Sudah, sudah,” senior menghentikan.

Anak itu mengangkat tangan, seolah minta maaf.

“Maaf, refleks.”

Aku mengangguk.

Seolah-olah memang aku yang salah karena terlalu lambat.

Setelah semua selesai, kami dikumpulkan kembali.

Beberapa wajah penuh percaya diri.

Beberapa gelisah,

Dan beberapa, sudah pasrah.

Termasuk aku.

Pria tua itu berjalan perlahan di depan barisan.

Matanya mengamati satu per satu.

Saat ia berhenti di depanku, aku merasakan sesuatu yang aneh,

Bukan sebuah tekanan.

Bukan juga penilaian dingin,

Lebih seperti,

Ia benar-benar melihatku.

“Kau!” tujuknya.

Aku tersentak.

“Iya, Guru.”

“Kau tahu, kenapa kau ingin masuk ke sini?”

Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba.

Aku membuka mulut,

Namun tidak ada jawaban yang siap keluar.

Karena sejujurnya,

Aku tidak tahu bagaimana merangkai kalimat yang jujur tanpa terdengar menyedihkan.

“Aku…” suaraku tercekat.

Ia menunggu.

Akhirnya aku berkata pelan, “Aku tidak ingin,terus jadi orang yang terus di tertawakan.”

Beberapa murid melirik,

Beberapa tersenyum kecil.

Namun pria tua itu hanya mengangguk.

“Baik.”

Hanya satu kata.

Namun entah kenapa, dadaku terasa sedikit lebih ringan.

Pengumuman hasil seleksi dilakukan menjelang siang.

Nama demi nama dipanggil,

Beberapa bersorak.

Beberapa menepuk bahu teman mereka.

Dan beberapa menghela napas panjang, saat namanya tidak disebut.

Aku berdiri paling belakang, mendengarkan

Dan menunggu.

Saat nama terakhir dipanggil,

Namaku belum juga terdengar.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Sudah kuduga,

Aku menyiapkan diri berbalik

untuk pulang.

Untuk kembali menjadi bayangan yang tidak pernah benar-benar dicari.

Namun sebelum aku melangkah,

“Kau.”

Suara pria tua itu kembali memanggil,

Aku membeku.

Ia menatapku dari depan barisan.

“Kau ikut tinggal disini.”

Hening.

Beberapa kepala langsung menoleh,

“Tapi guru?”

Salah satu senior tampak terkejut.

“Nilainya—”

“Aku tahu nilainya,” potong pria tua itu pelan.

“Aku juga tahu apa yang tidak bisa diukur dengan lari, pukulan, dan tanding.”

Ia menatapku lagi.

“Kalau kau mau.”

Aku mengangguk cepat.

“Siap, Guru.”

Beberapa murid menahan senyum,

Beberapa tidak menahan sama sekali.

Sore itu, kami yang lolos dibawa ke asrama sederhana di sisi perguruan.

Aku mendapat ranjang paling ujung,

Tentu saja.

Saat aku menyusun barang-barangku yang hanya terdiri dari satu tas kain tipis, suara dari ranjang seberang terdengar.

“Serius deh,”

Aku tidak menoleh.

“Kalau bukan karena orang tua itu, dia sudah pulang dari tadi.”

Tawa kecil.

“Kasihan, sih. Tapi ya, percuma juga masuk kalau cuma jadi beban.”

Aku mengepalkan jemari,

Lalu melepaskannya lagi.

Aku tidak datang ke sini untuk membuktikan sesuatu pada mereka.

Setidaknya,

Aku mencoba meyakinkan diriku begitu.

Malam pertama di perguruan terasa asing dan sunyi.

Tidak seperti rumah, tapi juga tidak terasa seperti tempat baru yang ramah.

Aku berbaring menatap langit-langit kayu,

Tubuhku masih pegal,bahuku rasanya nyeri.

Dan pikiranku, terlalu ramai.

Apakah aku benar-benar pantas ada di sini?

Apakah keputusan pria tua itu hanya kesalahan?

Aku menutup mata mencoba tidur,

Namun entah kenapa, saat kelopak mataku hampir terpejam,

Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Bukan suara, bukan juga cahaya.

Lebih seperti,

Hangat dan Samar, muncul dari dalam dadaku.

Seperti bara kecil yang baru saja ditiup angin.

Aku membuka mata,

Napas terasa sedikit lebih dalam, dan lebih ringan.

Aku mengernyit, mungkin hanya lelah.

Aku mencoba memejamkan mata lagi.

Dan saat itu,

Hangat itu menyebar perlahan.

Menuruni perut,lalu naik ke bahu mengalir ke ujung jari.

Aku tersentak duduk,

Jantungku berdebar.

Apa ini?

Aku menatap kedua tanganku sendiri,

Tidak ada yang berubah tidak ada cahaya,

Tidak ada apa pun.

Namun di dalam tubuhku, ada sesuatu yang bergerak pelan dan tenang, seolah menemukan tempatnya.

Aku menelan ludah,

Perasaan itu terlalu nyata untuk diabaikan.

Dan entah kenapa,

di tengah rasa bingung dan takut itu,

satu pikiran tiba-tiba muncul begitu saja di kepalaku.

Bukan suara bukan sebuah bisikan,

Hanya kesadaran aneh yang muncul tanpa asal.

“Jangan keluarkan sekarang.”

Aku membeku.

Napas tercekat di tenggorokan.

Siapa yang barusan bicara?

Lanjut membaca
Lanjut membaca